
Melihat mantan istrinya masih baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun meski wajahnya terlihat sangat sembuh, Rafael merasa sangat lega karena tidak terjadi hal buruk seperti yang ditakutkan dari tadi.
"Syukurlah kamu tidak melakukan hal buruk di dalam kamar mandi karena aku dari tadi sangat khawatir jika kamu menyayat nadi dengan benda tajam." Rafael berjalanan mengekor di belakang wanita yang kini mendaratkan tubuh di atas sofa empuk berwarna coklat tua.
"Aku sebenarnya ingin melakukan itu tadi, tapi setelah mengingat bahwa aku memiliki Arza dan janin di dalam rahimku, jadi tidak bisa melakukan hal buruk seperti dulu." Aealeasha saat ini menatap ke arah mantan suaminya yang duduk di sebelah kiri tengah melakukan hal yang sama sepertinya.
"Aku memang masih Aealeasha, tapi tidaklah selemah Aealeasha yang masih berusia 19 tahun saat hendak bunuh diri karena kecewa dengan pria yang dicintai." Aealeasha bahkan saat ini tertawa ketika mengingat masa lalunya.
"Kalau dipikir-pikir, aku dulu adalah seorang gadis yang sangat bodoh serta lemah. Padahal hidup terlalu indah jika harus diakhiri sebelum waktunya. Bahkan orang yang sudah meninggal saja ingin hidup lagi karena ingin melakukan hal baik agar bisa berada di surga."
Rafael saat ini mendengar ada nada kegetiran defensif yang mewakili perasaan terluka wanita dengan paras sangat cantik dan memesona tersebut meskipun sudah mempunyai dua anak.
Ia saat ini hanya mengikuti alur yang dibuat oleh mantan istrinya karena tidak ingin paruh dalam kesedihan, sehingga berakting tertawa mengingat masa lalu saat pertama kali bertemu dengan wanita itu di taman.
"Iya, kamu benar. Aku dulu juga berpikir bahwa kamu adalah seorang wanita yang bodoh karena mengakhiri hidup dengan bunuh diri memakai obat sakit kepala serta minuman bersoda."
Rafael kini mengingat sang sopir taksi yang dulu meminta tolong padanya untuk mengejar Aealeasha karena mendengar ingin bunuh diri.
"Oh ya, kira-kira bagaimana kabar sopir taksi yang menjadi dewa penyelamat sesungguhnya itu?" tanya Rafael yang sejenak ingin mengalihkan pembicaraan agar Aealeasha tidak terlalu stres memikirkan mengenai kenyataan buruk yang dialami.
Sebenarnya Aealeasha ingin membahas mengenai sang ayah, tapi tidak jadi begitu mengingat seorang pria yang membuatnya masih bisa bernapas sampai sekarang.
"Oh iya. Gimana kabar supir taksi itu, ya?" Aealeasha akan melupakan orang yang telah menjadi Dewa penyelamatnya karena meminta tolong pada Rafael untuk menyelamatkan nyawanya.
Rafael saat ini tertawa karena telah mengerjai Aealeasha. Ia sebenarnya dulu mencari pria itu begitu memiliki kekuasaan dengan menyuruh detektif. Hingga begitu menemukan keberadaan supir taksi tersebut, memberikan uang sekaligus pekerjaan yang lebih layak di kantor tanpa sepengetahuan Aealeasha.
"Apa kamu ingin bertemu dengan sopir taksi itu?" Rafael memang sengaja menceritakan sesuatu yang selama ini disembunyikan karena untuk mengalihkan perhatian Aealeasha agar tidak bersedih lagi.
Tentu saja tanpa pikir panjang, Aealeasha langsung menganggukkan kepala tanda setuju. "Memangnya Brother tahu di mana tempat tinggal supir taksi itu?"
Rafael seketika mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan beberapa foto saat ia bersama dengan pria paruh baya di sebuah restoran karena sempat mengajak makan di sana saat jam istirahat.
"Lihatlah!"
Aealeasha seketika membulatkan mata begitu melihat layar ponsel yang menunjukkan dua pria menyelamatkan hidupnya.
"Wah ... jadi kalian sempat bertemu dan makan bersama di restoran? Aku suka ingin bertemu dengan pria ini untuk mengucapkan terima kasih karena berkat kebaikannya, sampai sekarang masih bisa bernapas dan akan melahirkan anak kedua."
__ADS_1
Rafael kini tersenyum simpul dan menyetujui keinginan mantan istrinya. Ia mengembalikan mendampingi tersebut di saku jas miliknya.
"Kamu bisa datang ke kantor jika ingin menemuinya karena sekarang bekerja di perusahaan. Aku yang secara langsung merekrutnya agar bekerja sebagai orang yang khusus melayaniku untuk membuatkan minuman serta membelikan makanan."
Sebenarnya pekerjaan pria itu tidak dibutuhkan di perusahaan, tapi Rafael sengaja memperkerjakan secara khusus agar tidak bekerja terlalu berat karena tidak tega jika menyuruh untuk menjadi cleaning service.
Kini, wajah wanita yang duduk di sebelahnya seketika berbinar. Seolah baru saja mendapatkan sebuah kabar yang sangat baik.
"Syukurlah kalau bekerja di sana. Besok, aku akan datang berkunjung ...." Aealeasha saat ini mengingat bahwa status dari Rafael bukan lagi single seperti dulu.
Jadi, ia tidak bisa tiba-tiba datang ke kantor dan khawatir akan menimbulkan gosip buruk dan berakibat pada rumah tangga mantan suaminya tersebut.
"Aaah ... tidak jadi. Aku akan menunggunya di restoran saja karena tidak ingin ada banyak staf perusahaan yang melihatku. Apalagi aku datang sendiri tanpa pria itu, pasti banyak yang berpikir macam-macam."
Aealeasha sengaja beralasan seperti itu dan tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa ia khawatir dengan nasib rumah tangga Rafael. Karena jika mengatakan hal yang sebenarnya, yang terjadi adalah pria itu akan berkata tidak masalah.
Nasib baik Rafael tidak berkomentar apapun karena hanya mengangguk setuju dan ia kembali membahas mengenai rencananya setelah mengetahui bahwa almarhum ibunya yang menjadi penyebab kematian orang tua sang suami.
"Aku akan menghubungi papa dan mengatakan bahwa hubunganku dengan Arsenio sudah tidak bisa diselamatkan. Jadi, setelah melahirkan nanti, mau minta tolong papa untuk mengurus perceraian."
Rafael yang merasa khawatir untuk bertanya mengenai keputusan Aealeasha setelah mendengar cerita sesungguhnya, kini menatap intens wajah wanita yang masih terlihat sembab tersebut.
Namun, ia berharap jika kali ini Aealeasha benar-benar bercerai dengan sang suami, ingin kembali rujuk dan mengisi hati yang terluka itu.
Saat ini, Aealeasha tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat mencintai sang suami meskipun mengetahui sudah pernah mengkhianatinya. Hanya saja, ia berpikir tidak berhak memiliki pria itu setelah kebahagiaan seorang Arsenio direbut oleh sang ibu yang telah meninggal.
Namun, Aealeasha tidak ingin menanggapi pertanyaan Rafael karena khawatir jika pria tersebut memupuk harapan dan nanti akan terluka untuk kesekian kali. Ia tidak ingin membuka hati pada siapapun karena hanya ingin fokus pada kedua anaknya.
Meskipun tidak tahu dengan masa depan, tapi yang jelas saat ini merasa yakin tidak akan pernah menerima Rafael meskipun selalu berbuat baik padanya.
"Pulanglah, Brother. Selama ini kamu sering menghabiskan waktu di sini hingga larut malam dan menyia-nyiakan istrimu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena kehilangan wanita sebaik Alesha."
Bahkan Aealeasha sudah mengibaskan tangan agar pria itu segera pergi dari hadapannya karena ia ingin menenangkan diri.
Tentu saja mendapatkan kalimat pengusiran dari wanita di sebelahnya tersebut, membuat Rafael merasa sangat kesal. "Kamu selalu saja seperti pepatah 'habis manis sepah dibuang'."
Namun, ia yang mengenai kejadian di restoran dan juga teleponnya sama sekali tidak diangkat oleh Alesha, kini bangkit berdiri dari sofa karena merasa sangat lega setelah melihat respon dari Aealeasha yang tidak lemah seperti beberapa tahun silam.
__ADS_1
"Karena kebetulan aku pun ada hal penting yang harus diselesaikan, jadi akan pergi. Lebih baik kamu ke kamar dan beristirahat." Kemudian ia melambaikan tangan dan pacaran keluar dari ruangan khusus untuk bermain Arza.
Sementara itu, Aealeasha yang sama sekali tidak menyangka jika mantan suaminya akan langsung menuruti perintahnya, seketika bangkit berdiri dan berteriak.
"Brother, tunggu!" Aealeasha bahkan berjalan cepat untuk mengejar pria yang baru saja melewati pintu.
Rafael yang ingin segera pulang ke rumah untuk bertemu Alesha, kini berbalik badan dan melihat wanita yang sudah mendekat ke arahnya.
"Ada apa? Apa kamu masih rindu padaku dan tidak menginginkan aku pulang?"
"Iish ... bukan itu. Sebenarnya aku ini mengatakan sesuatu hal yang penting." Aealeasha saat ini berdiri di depan pria yang mempunyai postur tubuh jauh lebih tinggi darinya.
Rafael saat ini hanya memicingkan mata karena merasa penasaran dengan apa yang ingin diungkapkan oleh wanita dengan mata memerah karena efek menangis.
Namun, ia seketika mendesah begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Aealeasha.
"Jangan bercerai untuk kedua kalinya, Brother. Jaga baik-baik istrimu dan pertahankan rumah tanggamu. Aku berharap pria sebaik dirimu hidup bahagia dan memiliki keturunan yang akan meneruskan keluarga Zafran."
Rafael hanya diam dan tidak berniat untuk menanggapi karena ia bertambah kesal pada waktu yang dianggap sangat egois.
"Aku pulang!" Bahkan dengan wajah masam Rafael berlalu pergi tanpa memikirkan apapun karena jujur saja jika saat ini pikirannya dipenuhi oleh amarah kala mengingat Alesha.
Sementara itu, Aealeasha kini mengembuskan napas berat begitu melihat sosok wanita yang saat ini berjalan semakin menjauh dan menghilang di balik pintu utama.
"Sampai kapan kamu akan menjadi seorang pria bodoh karena mencintai wanita yang tidak berharga sepertiku, brother. Alesha berhak mendapatkan cintamu karena aku tahu adalah seorang wanita yang baik."
Aealeasha sebenarnya mengingat tentang rencananya dengan sang suami untuk memberikan obat perangsang saat hari pernikahan. Semenjak Rafael menikah, ia bertanya-tanya tentang hal itu.
Namun, tidak tahu jawabannya dan harus bertanya pada siapa, sehingga memendam sendiri di dalam hati. "Jika pria itu melancarkan rencana tanpa sepengetahuanku, bukanlah brother dan istrinya sudah melakukannya?"
"Atau tidak ada obat perangsang dan mereka masih belum melakukannya. Sayangnya aku tidak mungkin bertanya mengenai hal yang bersifat privasi pada brother."
'Aku pun tidak mungkin tiba-tiba meminta bertemu dengan Alesha dan menanyakan apakah mereka sudah berhubungan intim.'
Merasa jika itu terlalu ikut campur pada urusan privasi, Aealeasha menepuk jidat berkali-kali. "Lupakan itu dan lihat saja nasib pasangan suami istri itu. Semoga mereka selalu bersama hingga ajal menjemput."
"Aku akan selalu mendoakanmu, brother, agar bisa hidup bahagia bersama istrimu selamanya. Itu adalah doa tulus dariku."
__ADS_1
Aealeasha lalu naik ke lantai atas karena hari ini ia ingin menghabiskan waktu dengan tiduran di kamar dan mungkin akan menangis di bawah bantal saat putranya belum pulang.
To be continued...