I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Momen kecil


__ADS_3

Suara dentingan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri Rafael yang saat ini menguraikan suasana keheningan malam di salah satu ruangan kamar hotel bintang lima.


Saat ini sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, waktu yang banyak dimanfaatkan oleh semua mayoritas orang untuk beristirahat. Merehatkan tubuh dan otak setelah seharian memforsir diri, mulai dari bekerja atau melakukan kewajiban dan rutinitas sehari-hari.


Namun, berbeda dengan dua orang yang saat ini sudah kembali duduk di balkon hotel. Mereka adalah Aeleasha dan Alex yang tengah menikmati pemandangan malam ibu kota dengan jutaan lampu yang seolah berlomba untuk menunjukkan keindahan dengan kelap-kelip bintang di langit.


Bahkan sinar rembulan yang masih setia menampakkan senyuman pun tak lupa menemani orang-orang yang belum larut dalam bunga tidur.


Beberapa saat lalu, ia memang sudah tidak lagi menangis tersedu-sedu karena sudah meluapkan semua perasaan di ruangan kamar sebelah. Hingga ia yang merasa sangat khawatir pada Arza, memilih untuk kembali ke kamar sendiri.


Berpikir jika akan beristirahat di kamar karena malam telah larut, tetapi yang terjadi adalah malah mengekor di belakangnya dan mengikuti masuk ke dalam ruangan super mewah di hotel itu.


Mereka memang sama-sama tidak bisa tidur dan akhirnya memilih untuk kembali memanjakan mata dan membiarkan kulit ditusuk oleh udara malam yang dingin.


Namun, Rafael tadi sudah membongkar koper milik Zaara dan mencari baju hangat, agar wanita itu memakainya. Jika tidak, bisa jadi besok pagi akan demam karena mengetahui jika imunitas Aeleasha tidaklah sekuat dirinya.


"Tadi kamu bilang masih belum tahu apa yang akan dilakukan di sini, kan? Juga mengenai nasib rumah tanggamu pun tidak bisa memutuskan akan lanjut atau berhenti. Kamu lebih memilih untuk bersembunyi dari orang-orang dan kenyataan. Apakah itu jalan paling terbaik versimu?"


Ramalanku saat ini masih tidak puas dengan jawaban dari Aeleasha, jadi ketika di kamar lain. Menurutnya, itu bukanlah jalan keluar, tetapi hanya akan menambah masalah karena banyak orang yang mencari wanita itu jika sampai menghilang tanpa kabar.


"Ya, hanya itu jalan terbaik bagiku, Brother. Aku ingin tenang selama beberapa waktu tanpa ada yang mengetahui keberadaanku. Ia tidak akan memberitahu atau bertanya pada ayahku jika aku tidak pulang ke rumah. Aku sangat yakin itu," sahut Aeleasha tanpa berniat untuk menoleh pada sosok pria yang berdiri di sebelahnya.


Ia bahkan sampai sekarang sama sekali tidak mengantuk. Padahal sudah hampir pagi, seolah takut jika memilih untuk memejamkan mata, yang terjadi malah membuatnya bermimpi buruk.

__ADS_1


Itu selalu terjadi padanya, saat sedang merasa sedih, pasti akan selalu mimpi buruk dan membuatnya terbangun tengah malam dan berakhir menangis penuh kesedihan.


Ia tidak yakin, apakah terhindar dari kebiasaan itu hari ini karena baru kali ini merasakan kesedihan luar biasa setelah menjadi istri dari Arsenio.


Begitu melihat sosok wanita yang bicaranya seperti akan melakukan hal sama padanya, Rafael kini tidak ingin sibuk bertanya di dalam hati karena sangat ingin tahu bahwa ia tidak termasuk dalam daftar orang yang dihindari wanita itu.


"Apa kamu berpikir untuk menghindar dariku juga? Kamu berpikir bisa hidup sendiri karena sudah menjadi wanita dewasa dan punya banyak uang? Bukan Aeleasha berusia 19 tahun yang pertama kutemui dulu di taman saat ingin bunuh diri."


"Bahkan ada Arza yang menjadi penyemangat hidup untukmu, aku yakin jika kamu tidak akan berbuat nekad seperti dulu karena. masih tidak mengalihkan perhatian dari Aeleasha yang juga kini langsung menoleh ke arahnya.


"Kau memang benar pada poin terakhir, Brother. Asalkan ada Arza di sisiku, aku tidak akan pernah menyerah untuk berjuang membesarkan putraku." Zaara terdiam sejenak karena tengah memikirkan sesuatu hal.


'Aku hamil dan nanti harus membesarkan dua anak. Jadi, aku harus punya usaha karena tidak mungkin bekerja saat masih memiliki anak masih kecil.'


Saat Aeleasha mencari ide akan membuka usaha baru yang berbeda, tapi tidak tahu apa yang kira-kira akan laris dijual. Hingga ia meringis menahan rasa nyeri pada dahi begitu mendapatkan sebuah sentilan dari Rafael.


"Katakan padaku apa yang kamu pikirkan!" Rafael dari tadi tidak berkedip menatap intens wajah cantik yang semakin terlihat dewasa dan kasih lebih seksi tersebut.


Jadi, ia merasa penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Aeleasha karena berpikir jika wanita itu sedang mencari sebuah jalan keluar dari masalah, tanpa menyusahkan orang lain.


"Bahkan aku mengenalmu melebihi siapapun. Jika boleh, aku mau bersaing dengan tukang selingkuh itu untuk mengungkapkan apa saja yang diketahui tentangmu. Pasti saat ini kamu sedang berpikir untuk tidak menyusahkanku, kan?"


Kemudian mereka hanya bisa mengerjapkan mata dan merasa sangat tertampar dengan tebakan Rafael yang benar adanya tersebut. Ya, ia kali ini tidak bisa mau jika harus menggantungkan hidup pada pria di hadapannya tersebut.

__ADS_1


Akhirnya, tidak ada pilihan lain baginya selain mengungkapkan ide di kepala. "Aku ingin membuka usaha, agar setiap hari ada pemasukan, Brother. Tidak mungkin aku menggunakan kartu kredit milik ...."


Aeleasha seolah tidak kuasa untuk menyebutkan kata 'suamiku' dengan mudah seperti biasa karena ada rasa sakit yang menancap di hatinya saat ini. Kemudian memilih untuk melanjutkan perkataannya untuk membahas idenya


"Bahkan kalau memungkinkan, tidak ingin selalu meminta uang padamu untuk kebutuhanku dan Arza. Jadi, aku berencana membuka toko, tapi kira-kira paling laris apa, ya?"


"Toko bunga?" ucap Rafael yang langsung terlintas akan hal itu. "Nanti aku setiap hari akan membeli bunganya."


"Lalu kamu akan memberikan padaku." Aeleasha sudah bisa menebak apa yang saat ini ada di pikiran Rafael dan seketika ia terkekeh geli melihat ekspresi wajah pria itu ketika terkejut.


"Astaga! Aku seperti seorang pencuri yang ketahuan. Kenapa aku tidak pintar mencuri? Belum apa-apa saja, kamu dengan mudahnya tahu." Rafael yang merasa kesal, kini berakting bertambah masam wajahnya saat melihat sosok wanita yang masih sangat dicintai itu terkekeh.


Meskipun tidak tertawa lepas, tetapi paling tidak, bisa membuat urat-urat syaraf yang tegang selama beberapa saat lalu kembali seperti semula.


Bagi Rafael, tidak ada hal yang lebih indah di dunia ini selain bisa melihat wanita pujaan hati tertawa.


"Kalau toko kue?"


Selama beberapa detik tertawa dan kini Aeleasha kembali menggelengkan kepala, tanda tidak setuju.


"Kue tidak awet dan saat tidak laku, pasti akan bangkrut, Brother karena uang untuk membeli bahan dan yang dihasilkan tidak seimbang. Mungkin kalau sudah mempunyai nama, akan gampang, tapi toko baru masih susah untuk mencari pelanggan."


Kemudian kembali berpikir keras, kira-kira apa toko yang bisa diserbu oleh banyak orang dari semua kalangan. Hingga ia tersenyum, begitu mendapatkan sesuatu hal.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2