
Arsenio yang menyadari telah menjadi seorang pria yang serakah karena ingin Aeleasha hanya melihat, memikirkan dan tidak mengingat Rafael yang selalu dipuji adalah seorang pria berhati malaikat.
Akan tetapi, ia menyadari tidak mungkin akan membahas hal itu karena sedang berakting menjadi seorang pria bodoh yang naif karena tidak membahas mengenai pria yang menghinanya pria tua dan tidak pantas untuk Aeleasha yang berjarak 12 tahun tersebut.
Ia benar-benar sangat marah jika Rafael selalu mengungkit masalah umur dan mengejeknya pria tua. Hal itulah yang membuatnya tidak rela jika harus kehilangan Aeleasha yang masih sangat muda.
Bersikap naif di depan sosok wanita yang baru saja menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan memang membuatnya merasa bodoh pada diri sendiri, tapi menjadi seorang pria yang dicintai oleh Aeleasha.
Ia lebih memilih poin terakhir dan membuatnya ingin menjadi seorang pria yang sangat dicintai oleh Aeleasha—wanita yang merupakan istri dan menjadi satu-satunya tujuan hidup.
Arsenio kali ini benar-benar telah berubah menjadi seorang pria yang jauh lebih bersemangat untuk menjalani hidup saat dulu selalu kesepian setelah orang tua meninggal karena kecelakaan bersama wanita yang berhasil mengubah dari seorang pria dingin menjadi pria romantis.
Ia kini baru saja melepaskan ciuman lembut yang baru saja dilayangkan pada sosok wanita yang tak lain adalah sang istri dengan wajah merona tersebut.
Wanita dengan tubuh polos tanpa selembar benang pun dan berendam bersamanya di dalam bathtub untuk merilekskan otot-otot tubuh yang beberapa saat lalu diforsir terlalu berat ketika bercinta.
"Apa kamu lelah, Honey?"
Sementara di sisi lain, Aeleasha yang kini mengerjapkan kedua mata karena merasa kebingungan kala pertanyaan yang mewakili perasaan saat ini sudah dilayangkan oleh pria dengan iris tajam mengintimidasi yang mengunci tatapannya.
Aeleasha yang memilih untuk menormalkan perasaan, kini hanya bisa menelan ludah dengan kasar agar bisa kembali membuka bibir yang tadi baru saja dilumat oleh pria itu.
Ia memilih untuk berdehem sejenak sebelum berkomentar, "Ya, tentu saja aku lelah. Apa kamu baru menyadari telah menghajarku selama satu jam?"
Kini, ia masih mengarahkan tatapan tajam karena ingin pria yang duduk tepat di hadapannya tersebut tidak bertanya tentang hal konyol.
Jujur saja saat ini di hati Aeleasha ingin sekali mengetahui sesuatu mengenai keperkasaan sang suami yang akhir-akhir ini terlihat sangat kuat dan membuat ia kewalahan dalam menghadapi, tetapi malu untuk bertanya atau membahas hal itu.
Apalagi hari ini ketika pria itu berhasil membuat ia berkali-kali mencapai *******. Namun, ia ragu dan terlihat sibuk menimbang keputusan.
__ADS_1
Apakah ia akan bertanya pada sang suami atau hanya menyimpan di dalam hati?
'Tidak, lebih baik aku diam. Dari pada membahas tentang kekuatan suamiku akhir-akhir ini,' gumam Aeleasha yang kali ini memilih untuk diam dan memendam pertanyaan di dalam pikiran.
Namun, ia kali ini berubah pikiran saat ada yang terlintas di pikiran. "Kamu tidak minum obat penambah stamina saat kita bercinta, kan?"
Selama beberapa saat Arsenio terdiam dan masih belum ada pergerakan dari bibir untuk membuka mulut demi menjawab pertanyaan yang menurutnya menyangkut tentang harga diri sebagai seorang laki-laki dipertaruhkan.
Namun, ia berpikir bahwa tidak menyembunyikan sesuatu akan membuatnya merasa sangat lega jika berbicara tanpa ada rahasia apapun di antara mereka.
Ya, sekarang ini sudah menegaskan jika wanita itu adalah sebagian hidupnya dan merasa sangat perlu untuk menceritakan perihal yang selama belakangan ini menganggu pikiran.
"Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu. Ini mengenai aku dan sangat privasi. Jadi, lebih baik aku mengatakan ini padamu mulai dari sekarang, agar kamu tidak salah paham padaku."
Aeleasha penasaran dan ingin segera tahu apa yang dimaksud oleh pria dengan kalimat ambigu tersebut.
"Setelah kita resmi menikah, kamu hanya milikku. Aku tidak akan pernah melepaskan ini!" Arsenio menunjukkan tangannya yang masih menyatu dengan jemari dengan buku-buku kuat itu.
Sementara Aeleasha yang masih kebingungan untuk menjawab, kini hanya diam saja dan sama sekali tidak membuka suara karena asyik mencerna perkataan dari pria yang terlihat sangat serius tersebut.
Meskipun ia kali ini benar-benar sangat khawatir jika pria yang ada di hadapan tersebut membuatnya tidak bisa pergi. Menyadari bahwa kekuatan dan kekuasaan seorang suami akan merantai begitu kalimat sakral pria itu lolos dari bibir tebal itu.
'Kamu adalah milikku'.
Kalimat itulah yang membuat Aeleasha kali ini memilih untuk memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar semua cerita Arsenio tanpa ada yang terlewat.
Kemudian Arsenio mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali dan melihat ekspresi wajah wanita yang seketika terlihat murung dan ia tahu bahwa saat ini sedang dipenuhi rasa bersalah seperti biasa.
Arsenio kini mengakhiri cerita dengan kata-kata mutiara yang dianggapnya adalah sebuah rantai yang mengikat tangan dan kaki istrinya agar tidak akan pergi darinya.
__ADS_1
"Aku selama ini sudah puas dan bosan menderita. Jadi, sekarang sudah saatnya aku mendapat sebuah penghargaan dari penderitaan itu dengan hidup bahagia bersamamu."
***
Saat ini, Aeleasha sudah berada di atas ranjang king size yang ada di ruangan dengan dominasi warna pink di hadapannya. Ya, ia dan sang suami saat ini masih berada di tempat yang sama, yaitu di ruangan kamar yang baru saja menjadi tempat percintaan panas mereka beberapa jam lalu.
Setelah Arsenio menjelaskan semua mengenai Rafael yang mengejek suaminya pria tua, kini merasa gelisah. Ia benar-benar tidak bisa melupakan ekspresi wajah Arsenio tadi ketika di dalam bathtub.
Ekspresi pria yang menegaskan bahwa ia adalah penyebab sang suami sampai mengonsumsi obat penambah stamina agar terlihat kuat saat bercinta. Bahkan kata-kata pria yang tadi menatapnya tajam itu benar-benar terngiang-ngiang di telinga saat ini.
Kamulah satu-satunya wanita yang membuatku sangat takut kehilangan.
Kamulah satu-satunya wanita yang membuatku ingin menjadi pria sejati.
Kamulah satu-satunya wanita yang membuatku ingin memiliki keturunan.
Semuanya hanya karenamu, Aeleasha.
Jadi, aku tidak mau kehilanganmu dan mungkin akan hancur jika kamu pergi dariku dengan kembali pada Rafael yang lebih muda itu.
Kata-kata mutiara yang tidak akan pernah bisa dilupakan olehnya. Apalagi ketika menatap Arsenio dengan sorot mata tajam penuh keseriusan itu, kini mengganggu pikirannya.
Ya, saat ini Aeleasha benar-benar sedang dikuasai oleh gundah gulana ketika memikirkan pernyataan Arsenio ketika berpikir ia akan mencari pria muda setelah bosan.
'Astaga! Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika suamiku sangat takut hanya karena perkataan Rafael.'
'Suamiku takut kehilangan dan berpikir sejauh itu. Dasar Rafael! Dia membalas dendam pada suamiku dengan menyerang titik terlemah, yaitu usia. Awas saja kamu jika aku nanti ke sana. Beberapa hari lagi, aku akan membuat perhitungan padanya.'
To be continued...
__ADS_1