
Rafael yang tersenyum menyeringai saat mendadak mendapatkan sebuah ide di kepala untuk membuat Alex tidak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa pria itu adalah jodoh Alesha.
Dengan melangkahkan kaki mendekati Alesha, Rafael langsung menarik pergelangan tangan wanita itu dan beralih menahan tulang rusuk. Kemudian langsung mencium bibir sensual Alesha yang dari tadi seolah memanggil untuk segera menyesap dan ******* di sana.
Tanpa membuang waktu, ia sudah mendaratkan bibir tebalnya di sana dan di saat bersamaan, seperti yang diinginkan, Rafael kini melihat ekspresi wajah Alex seketika memerah. Tentu saja ia tahu apa artinya. Bahwa Alex saat ini merasa marah karena cemburu.
Kelopak mata Alesha beberapa kali mengerjap karena sangat shock dengan apa yang dilakukan oleh Rafael. Bahkan ia saat ini berniat untuk mendorong dada bidang Rafael untuk menghindar. Namun, tangannya ditahan oleh pria itu.
Bahkan ia ber-sitatap dengan netra pekat Rafael. Rasa terkejut yang terlihat sangat jelas dari wajah Alesha, tapi tidak bisa berpikir jernih saat ini. Satu-satunya hal yang terlintas saat ini hanyalah tanda tangan di atas surat perjanjian.
Hal itulah yang membuat Alesha tidak bisa berkutik saat ini untuk menolak perbuatan dari Rafael saat ini.
'Rafael benar-benar sudah gila! Apa dia melakukan ini karena marah pada perkataan Alex? Ia merasa malu dan merasa terhina harga diri begitu Alex mengatakan jika aku bukanlah kekasih seperti yang disebutkan?'
Saat ia sibuk bergumam di dalam hati saat bibir dibungkam oleh pria yang tiba-tiba mencium tanpa izin, di sisi lain terlihat Alex mengepalkan kedua tangan begitu melihat pemandangan intim tersebut.
Ingin sekali ia mengarahkan pukulan pada wajah pria yang tiba-tiba mencium Alesha, tapi merasa tidak mempunyai hak saat melihat wanita itu hanya diam dan sama sekali tidak menolak.
'Alesha ... kenapa kamu hanya diam saja? Kenapa kamu tidak menolak perbuatan bajingan ini? Jika benar ia bukan kekasihmu, lalu kenapa kamu tidak marah saat dicium?'
Saat Alex berpikir tentang semua kemungkinan mengenai interaksi intim tersebut, hal berbeda saat ini tengah dirasakan oleh Rafael.
Rafael kini tersenyum smirk saat berhasil membuat Alesha diam dan langsung ******* bibir merah jambu tersebut.
'Akhirnya aku bisa menunjukkan kuasa pada bajingan berengsek itu! Bahwa dia bukan siapa-siapa untuk Alesha.'
Berbeda dengan yang dirasakan oleh Rafael, Alesha yang awalnya berusaha untuk menghindar, kedua tangan dengan kuat mendorong dada bidang itu, agar menjauh darinya.
Namun, tidak seperti yang diharapkan, justru pria yang sudah menguasai bibirnya, sama sekali tidak melepaskan kuasa.
Awalnya, Rafael hanya ingin membuat Alex sadar posisi, tetapi begitu merasakan sensasi kelembutan dari bibir lembut wanita yang berusaha menghindar itu, semakin membuat ia ingin menguasai. Kini, tangannya menahan kedua tangan Alesha agar tidak menghalangi niat untuk mencium.
'Hanya sebuah ciuman, ini bukan masalah besar,' batin Rafael yang sudah ******* bibir lembut yang menurutnya terasa sangat manis dan juga seperti candu.
__ADS_1
Hingga tidak bisa membuat ia berhenti untuk menyesap sari kemanisan yang terkandung di sana.
Dengan sangat posesif, Rafael menyesap dan ******* bibir Alesha. Namun, ia harus merasa kecewa saat wanita yang dicium sama sekali tidak membalas karena hanya diam tanpa membalas.
'Dia hanya diam saja. Kenapa tidak membalas ciumanku dan membuat Alex segera pergi dari sini?' lirih Rafael yang saat ini bisa melihat pergerakan Alex saat berjalan pergi.
Tidak hanya itu, bisa dirasakan olehnya bulir bening yang lolos dari bola mata wanita yang dicium tersebut jatuh dan sampai ke bibirnya.
Kali ini, Alesha sudah tidak bisa lagi menahan rasa hancur yang dirasakan olehnya saat dicium oleh pria yang dianggap tidak mempunyai hati tersebut.
Ia benar-benar merasa sangat terhina oleh pria yang dari tadi sibuk menyesap bibirnya. Karena tidak bisa menahan diri lagi, ia sudah menangis untuk mengungkapkan perasaan yang hancur berkeping-keping.
'Kenapa semua ini terjadi padaku? Nasib sial selalu mengelilingiku setelah bertemu dengan si berengsek ini. Aku adalah seorang sugar baby, tapi tidak pernah merasa terhina seperti ini,' lirih Alesha di dalam hati.
Refleks Rafael langsung melepaskan kuasa yang dari tadi menikmati kelembutan bibir wanita yang saat ini sudah menangis tersedu-sedu di hadapannya.
Pertama kali melihat seorang wanita menangis saat dicium, membuat ekspresi wajahnya keheranan dan membuat Rafael kini tertawa terbahak-bahak.
"Astaga! Reaksi macam ini?" Rafael yang merasa sangat terganggu dengan suara tangisan dari Alesha, berteriak pada wanita di hadapannya sudah berjongkok sambil membenamkan wajah di antara kedua lutut.
'Kenapa dia menangis? Padahal hanya sebuah ciuman. Tingkahnya seperti seorang gadis polos yang belum pernah berciuman saja. Konyol sekali!' lirih Rafael yang saat ini tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling area taman rumah sakit dan melihat beberapa orang melihat.
"Dia adalah calon istriku yang sedang merajuk. Jadi, jangan salah paham." Rafael berusaha untuk menjelaskan, agar beberapa orang yang menatap aneh dan mengintimidasi tersebut tidak menyalahkannya.
Perkataan Rafael berhasil membuat beberapa orang itu tidak lagi memperhatikan dan memaklumi.
Sementara itu, Alesha yang masih menangis, berjenggit kaget begitu mendengar suara teriakan Rafael saat mengarang sebuah kebohongan. Namun, sialnya ia bisa berbuat apa-apa karena terikat oleh surat perjanjian.
Alesha kini mengangkat pandangan dan menatap ke arah sosok pria yang sudah memunggunginya.
'Sebenarnya apa yang diinginkan si berengsek itu? Bukankah seharusnya aku yang harus marah? Kenapa malah dia yang sekarang ini murka? Ya Tuhan, sampai kapan aku harus bersabar menghadapi sikap arogan pria sialan ini?"
Alesha mengambil tisu dalam saku baju. Tisu itu bukan ia gunakan untuk menghapus bulir bening yang menghiasi wajah, tetapi sudah diarahkan pada bibir.
__ADS_1
Kini, ia sibuk membersihkan bibir dari bekas ciuman pria yang telah mencium tanpa izin.
Sementara itu, Rafael yang merasa badmood dengan reaksi Alesha saat dicium, tengah menyesap rokok untuk menghilangkan rasa stres.
Sebenarnya Rafael dulu bukanlah seorang pria perokok. Namun, saat ia berpisah dengan Aeleasha, memilih untuk melampiaskan patah hati saat merasa hancur dengan menghisap benda yang mengandung nikotin itu selain menyibukkan diri gila bekerja.
Rafael yang baru beberapa kali menyesap rokok, kini berbalik badan. Tentu saja untuk mengecek apakah Alesha masih menangis tersedu-sedu karena sudah tidak mendengar suara.
Ia memicingkan mata saat melihat pergerakan Alesha yang kini sibuk mengarahkan tisu pada bibir dan membuat Rafael mengetahui alasan wanita itu melakukan hal tersebut.
Seketika ia merasa murka dan langsung berteriak untuk meluapkan amarah yang membuncah.
"Apa kamu merasa jijik setelah aku menciummu? Apa kamu tidak akan menghapus bekas ciuman yang dilakukan oleh si berengsek itu?"
Alesha yang masih memegang tisu, kini langsung mendongak menatap ke arah sosok pria di hadapannya. Ia bahkan bisa melihat ekspresi wajah memerah yang menandakan sedang dikuasai oleh kemurkaan tersebut.
Tentu saja ia tidak terima dengan tuduhan dari Rafael karena meskipun Alex adalah sugar daddy-nya, tetapi pria itu tidak pernah menciumnya. Hal itulah yang membuat ia merasa sangat kagum pada Alex dan jatuh cinta pada pria itu karena tidak pernah memaksa.
Bukan seperti Rafael yang malah tiba-tiba mencium tanpa izin. Apalagi melakukan itu di depan Alex dan membuat ia merasa sangat marah dan terluka karena sangat mencintai pria itu.
Pasti Alex akan berpikir jika ia benar-benar adalah calon istri Rafael. Padahal itu hanyalah sebuah sandiwara.
"Jangan menyebut Alex untuk membela diri. Itu adalah tindakan seorang pengecut! Asal kau tahu, Alex Clarkson adalah seorang pria terhormat! Dia sama sekali tidak pernah memaksaku, seperti perbuatanmu yang mencium tanpa izin."
Alesha berbicara dengan suara bergetar dan tertahan saat mencoba untuk menahan diri agar tidak berteriak di tempat umum. Bahkan bola mata berkaca-kaca masih terlihat di sana.
Sementara Rafael yang kini sama sekali tidak percaya akan perkataan dari Alesha, kini melakukan hal sama, yaitu menyadarkan wanita itu agar tidak selalu memuja Alex.
"Konyol sekali! Aku sama sekali tidak percaya pada perkataanmu yang membela Alex. Asal kamu tahu! Kamu adalah seorang wanita beruntung yang merasakan ciuman pertama dari seorang CEO perusahaan besar. Dasar bodoh! Seharusnya kamu bangga karena aku baru saja menyerahkan ciuman pertama padamu!"
Alesha yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan tanggapan dari Rafael mengungkapkan hal menakjubkan, membuat bibirnya menutup rapat dan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengungkapkan di dalam hati.
'Bangga karena mendapatkan ciuman pertama dari seorang pria yang pernah menikah? Konyol sekali. Apa dia sedang bercanda denganku? Mana mungkin pria yang dulu sudah menikah belum pernah berciuman? Tidak mungkin.'
__ADS_1
To be continued...