
Tiana merawat Rafael, membesarkan dan merawat sendirian. Namun, tidak pernah lupa untuk memperlakukannya dengan cinta. Mungkin itu juga yang terjadi pada ibu Alesha. Ia merasakan kesamaan dalam sebuah ikatan yang kini terasa lebih dekat dengannya.
Tiana harus mengakui bahwa ibu Alesha telah merawat seorang putri dengan sangat baik. Meski ia baru saja bertemu Alesha, tahu jika merupakan wanita yang baik.
Setelah datang ke rumah sakit ini, Tiana melihat lebih banyak sisi Alesha yang tidak diketahui sebelumnya.
Setelah bertemu dengan kepribadian yang menyenangkan, Alesha juga merupakan anak yang penurut.
Anak yang bertanggung jawab, wanita dewasa dan wanita yang mampu bersikap tenang.
Kecintaan Tiana pada Alesha telah meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Ia tidak ingin melepaskannya lagi. Tiana semakin ingin menjadikan Alesha menantu, membawanya ke rumah dan memperlakukannya seperti putrinya sendiri.
Ia kini menatap wajah Alesha dari samping, dengan ekspresi bangga, kagum dan gembira. Betapa beruntungnya putranya bisa menikahi wanita yang baik hati.
Rafael, yang baik hati seperti malaikat dan Alesha, yang mulia seperti peri. Wanita itu tidak bisa membayangkan betapa sempurnanya jika kedua kombinasi itu disatukan dalam sebuah pernikahan.
Namun, mengingat ibu Alesha yang sedang sakit, rasa bersalah itu kembali menghampirinya.
__ADS_1
Tiana merasa bersalah karena beberapa kali, bahkan sejak pertemuan pertama mereka, ia telah meminta mereka berdua untuk menikah.
Ia bahkan tidak tahu pasti seperti apa kondisi Alesha atau keluarganya dalam situasi yang mustahil ini.
Tiana terlalu berambisi ingin segera melihat pernikahan anaknya secepat mungkin, tapi sekarang, mungkin ia harus meredam niatnya dengan kesabaran.
Memikirkan bagaimana ia sendiri sangat ingin melihat pernikahan putranya, ibu Alesha pasti menginginkan hal yang sama.
Pernikahan seorang anak adalah momen yang sangat penting bagi orang tuanya. Ia tidak mau mengambil kesempatan sendirian dan mengabaikan ibu Alesha begitu saja.
Tiana mengatakan menyesal, setelah berpikir sejenak, meraih tangan Alesha yang duduk di depannya sambil menunjukkan ekspresi bersalah.
Refleks Alesha tiba-tiba melebarkan pupilnya, merasa kaget dengan ucapan Tiana yang tiba-tiba. "Ah ... tidak perlu merasa seperti itu, Ma. Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti kekhawatiran Mama."
Alesha akhirnya menanggapi hanya dengan satu kalimat yang dimaksudkan untuk menenangkan diri.
Refleks Tiana menggelengkan kepalanya, ingin menjelaskan kesalahan yang bisa membuat Alesha tidak bisa bernapas karena beratnya masalah yang dipikirkan.
__ADS_1
"Tidak. Ini salahku karena terlalu tergesa-gesa. Lagipula, aku mengatakan ini bukan hanya karena rasa bersalah, tapi juga ingin menebus kesalahan."
Alesha kini memegang tangan wanita itu. "Ah ... Mama. Tidak perlu merasa seperti itu. Aku baik-baik saja, sungguh."
Tiana sekarang hanya bisa bernapas. "Tidak apa-apa? Ibumu dalam keadaan seperti itu. Bagaimana aku bisa egois dan terus memaksakan pernikahan? Itu juga tidak adil bagi ibumu."
Alesha sekarang menahan napas, mencoba mencerna kata-kata wanita itu dengan baik dan menarik kesimpulannya sendiri.
"Maksud Mama?" Kini tatapan wanita itu perlahan beralih ke sosok yang mendekat di belakang Tiana.
Rafael yang baru saja pergi entah kemana, kini kembali dengan tatapan bertanya.
"Aku akan menunda pernikahanmu."
Ungkapan yang keluar dari bibir Tiana membuat Rafael yang baru saja muncul di belakangnya mengerutkan kening.
To be continued...
__ADS_1