I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Galau


__ADS_3

Angin bertiup pelan. Udara beriak begitu tenang. Setenang legamnya malam, tapi juga setenang rawa yang yang menyimpan segala bahaya di dalamnya.


Diam-diam mengintai, menelisik, menenggelamkan hingga ke dasar yang dingin. Sama seperti presensi Rafael sekarang.


Lelaki yang tampak tenang tak bersuara itu menyimpan jerat yang begitu dalam. Hingga pikirannya sendiri pun tenggelam.


Lalu lalang orang yang ada di taman rumah sakit itu bagai angin lalu bagi Rafael yang kini sibuk dengan isi kepalanya. Ada pasien yang sedang berjalan-jalan dalam masa pemulihan, ada juga para pembesuk yang duduk-duduk tanpa kepentingan, seperti mereka saat ini.


Namun, meski kehadirannya tampak tak berkepentingan bagi wanita di sampingnya itu, tetapi setidaknya bagi Alesha saat ini adalah hal yang genting baginya.


Waktu begitu menyiksanya dengan kejam yang dengan kurang ajarnya membawa penderitaan itu kembali menghancurkan dunia Rafael seperti ini tanpa kasihan.


Namun, alih-alih meringkuk di pojok ruangan sendirian dengan tangis gersang penuh rasa frustasi, lelaki itu merasa sangat marah. Ia sungguh sangat muak dengan perasaan yang tak bosan-bosan menyiksanya.


Meski begitu, Rafael ingin menghentikan waktu sejenak dan meredam sisa-sisa amarah yang menguar dalam hati.


Rafael lagi-lagi tidak habis pikir dengan tindakan ibunya yang bisa-bisanya menyuruh mantan istrinya yang masih ia cintai itu untuk menyuruhnya menikah.


Padahal, segala keraguan yang menguasainya tidak lain disebabkan oleh perasaannya pada wanita itu yang masih tak menemukan titik simpulnya untuk lepas.


Rafael selalu menghindari apapun yang berhubungan dengan wanita itu.


Lelaki itu akan langsung menghindari pertemuan yang melibatkan mereka saja.


Seperti sedang menghindari sesuatu yang harus dibicarakan dengan wanita itu.Ia juga menghindari ketidaksadaran untuk menghubunginya sampai harus menghapus nomor wanita yang sudah dua tahun ini tidak bisa dilupakan dari ponselnya.


Rafael sengaja pindah rumah, bukan hanya untuk memberikan tempat tinggal yang lebih baik untuk ibunya, tetapi juga untuk menghapus sisa-sisa kenangan bayangan Aeleasha di dalam rumah.

__ADS_1


Rafael telah melakukan segalanya, hingga banyak sekali yang berubah begitu cepat dalam kehidupannya. Sampai hanya satu yang tersisa, yaitu foto pernikahannya yang tersimpan dalam dompetnya.


Rafael tak pernah bisa, bahkan hanya untuk menyentuh foto itu. Ia ingin sekali membuangnya dari hadapannya, tetapi tangannya selalu berhenti membeku ketika sampai di jarak satu terakhir.


Rafael hanya bisa memandangi foto itu dengan sendu dan pilu yang semakin lama akan semakin menguncinya. Hingga lelaki itu tak berdaya dan akan kembali menutup dompetnya tanpa melakukan apa-apa.


Dulu sekali, pernah meminta Aeleasha—mantan istrinya, untuk tidak menghubunginya lagi. Lelaki itu terpaksa melakukannya agar dapat melupakannya.


Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Rafael tak pernah berhasil melupakan meski berkali-kali dan berbagai cara telah ia coba. Sampai akhirnya perempuan itu malah menghubunginya lagi. Rafael merasa segalanya semakin kacau sekarang.


Ketika mendengar wanita itu mengucapkan sapa pada detik-detik panggilan pertama, seharusnya mematikan panggilan itu saja, tetapi sayangnya, pikirannya seakan tiba-tiba membeku.


Isi kepalanya yang ramai dan selalu berjalan dengan rapi pada garis edarnya, saat itu juga seakan berhenti berotasi.


Suara Aeleasha adalah salah satu suara yang sangat ia sukai dari segala bentuk eufoni yang ada di dunia. Pikirannya hampir saja terhanyut. Dibalik suara itu, Rafael masih dapat membayangkan dengan baik raut wajahnya.


Ia tahu jika jauh di sana, wanita itu banyak mengerutkan alis ketika mengatakan sesuatu yang tidak biasa.


Dulu, mereka selalu dapat berbicara dengan leluasa. Rafael sudah menjadi sandaran bagi wanita itu dan dengan senang hati akan mendengarkan apapun yang ingin dikatakan.


Entah itu cerita tentang kebahagiaan, keluh kesahnya, atau bahkan hal-hal tidak penting yang diucapkan asal. Rafael akan selalu bersedia mendengarnya bagai lagu-lagu klasik yang disuguhkan di restoran bintang lima.


Akan tetapi, sekarang, keadaan sudah sangat berubah. Sapaan ringan yang biasa diucapkan setiap pagi, kini seolah berubah menjadi sebuah tekanan.


Percakapan-percakapan yang biasanya bisa dilakukan dengan leluasa, kini berubah menjadi tabu dan menuntut mereka untuk saling melarikan diri.


Setelah mengetahui bagaimana maksud wanita itu menelpon, membuat Rafael nyaris tak bisa menahan diri.

__ADS_1


Kalau boleh dibilang, Rafael sangat marah sekarang. Ia merasa seperti setitik api yang ada di dalam hatinya, dipantik, lantas disulut oleh emas hitam dan membuatnya berkobar-kobar hingga menghasilkan detonasi yang sempurna.


Aaleasha menyuruhnya untuk menikah.


Itu merupakan satu kesatuan yang sama sekali tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Lelaki itu bisa gila karena terus-terusan memikirkannya. Sekarang, apa yang harus dilakukan?


Perasaannya terasa benar-benar hancur, tetapi masih saja terbelenggu, seakan tak bisa melakukan apapun dengan tenaganya sendiri. Akan tetapi, ada saatnya ia ingin memberontak dari perasaan yang telah menyiksanya itu.


Rafael ingin melampiaskan rasa muaknya, hingga ia lupa bahwa ada luka menganga yang telah kembali dirobek tanpa belas kasihan. Ia ingin melampiaskan kemarahannya hingga lupa bahwa ia tak pernah mengalah sebelumnya.


"Sekarang karang entah apa yang membawanya sini dan mengungkapkan segala keluh kesahnya. Rafael tanpa sadar membutuhkan teman untuk mendengarkannya.


Ia tanpa sadar membutuhkan teman untuk menenangkan amarah dalam hatinya. Rafael membutuhkan seseorang. Setidaknya untuk memastikan bahwa tidak akan kehilangan kendali dan meledak-ledak sendiri.


Setelah mengatakan semuanya pada Alesha ada rasa lega yang tersisa di hatinya. Rasa marah yang sejak sekian lama selalu ia tahan, setidaknya kini bisa ia keluarkan dan tenangkan meski hanya dengan kata-kata.


Sebelum sampai dan akhirnya duduk-duduk di rumah sakit ini. Dalam ekspektasi Rafael, mungkin ia akan melampiaskan kemarahannya dengan pertengkarannya bersama Alesha.


Namun, tidak disangka. Wanita itu malah menghadapi dengan sangat tenang. Padahal ia sudah menunggu saat Alesha akan meraihnya karena sudah lancang mengikuti dan mengetahui kebohongannya.


Alesha merupakan wanita yang benar-benar tidak bisa ia tebak. Segala analisis, segala prediksi, segala dugaan dan spekulasi yang ia tujukan benar-benar seperti membidik semut dari kejauhan. Selalu saja meleset.


Sekarang, wanita itu duduk di sampingnya, menemaninya meluapkan emosi dan saling berbagi cerita. Benar-benar fenomena yang sulit dipercaya.


Dalam tebakannya tempo hari, Alesha merupakan seseorang yang sangat tertutup.


Namun, sekarang ia malah mengaku sering menceritakan cerita tentang ayahnya yang sudah meninggal kepada penjaga toko bunga untuk mendapatkan harga murah setelah menceritakan itu padanya dan membuatnya merasa tak enak.

__ADS_1


Namun, mungkin ada satu penilaiannya yang benar, bahwa wanita itu tidak suka dikasihani. Alesha adalah wanita yang terlihat selalu ingin menunjukkan kekuatannya sejak pertama kali Rafael melihatnya.


To be continued...


__ADS_2