
Tentu saja melihat jawaban penuh keyakinan dari sang menantu kesayangan, membuat Tiana tersenyum lebar.
Seketika menatap ke arah putranya yang hanya terdiam seperti orang bingung karena tidak langsung menyambut ataupun membalas ungkapan cinta seorang istri pada suami.
"Wah ... kamu dengar itu, Rafael? Bahkan istrimu tidak malu-malu ketika menyatakan cinta padamu. Seharusnya sebagai seorang suami, kamu lebih peka. Bukan malah diam seperti itu. Dasar pria tidak peka!"
Sementara itu, Rafael yang sebenarnya tengah mencari kejujuran di mata Alesha, tapi tidak bisa melakukannya saat wanita itu memalingkan wajah dan melanjutkan ritual makan.
Namun, saat sibuk mencari tahu, mendengar suara sang ibu yang mengungkapkan ada protes padanya dan seketika membuatnya langsung membalas tanpa berpikir.
"Aku juga sangat mencintai istriku, Ma. Jika tidak mencintainya, mana mungkin menikahinya. Aku hanya ingin tahu seberapa besar cintanya padaku karena mengetahui bahwa ia dulu sangat mencintai pria lain. Bahkan aku seperti mengumpankan istriku pada pria itu karena menjadi dosen di tempat kuliah."
Entah mengapa perkataan dari Rafael seketika memantik amarah Alesha karena ia tidak menyangka jika ungkapan cintanya malah disangkut pautkan dengan Alex.
Padahal ia rela mengambil cuti kuliah agar tidak bertemu dengan Alex demi mematuhi perintah Rafael yang tidak ingin nama baiknya tercemar.
Seolah usahanya sama sekali tidak dihargai dan membuatnya merasa sangat kesal hari ini.
'Dasar berengsek! Kenapa harus menyebut nama Alex di depan mama. Padahal tadi baru saja membicarakan perceraian di dalam kamar,' gumam Alesha yang saat ini tengah mengepalkan tangan kiri yang berada di bawah meja untuk mencoba menormalkan puncak amarah yang bergejolak di dalam hati.
Padahal sebenarnya ia ingin sekali menggebrak meja tersebut, tapi berpikir bahwa hal itu akan menjadikan masalah besar dan menyakiti perasaan wanita yang sangat disayanginya tersebut.
Kini, ia berakting layaknya tidak terjadi apapun dengan mengulas senyuman pada pria yang sangat ingin diberikan sebuah bogem mentah dari tangannya yang mengepal.
"Sayang, itu adalah masa lalu karena semua orang memilikinya. Bukankah kamu juga memiliki masa lalu dengan Aealeasha? Jadi, tidak perlu membahas masa lalu dan mementingkan masa depan kita."
Rafael merasa tertampar dengan perkataan dari sang istri yang terlihat menahan diri agar tidak murka. Ia kini merutuki kebodohannya sendiri karena mengungkit hal yang tidak perlu dibahas di depan sang ibu.
'Kenapa aku tiba-tiba menyebutkan nama Alex saat ada mama? Dasar bodoh!' umpat Rafael yang saat ini menatap ke arah sang ibu yang juga mengarahkan sebuah tatapan tajam dan kembali mengomel padanya.
Tiana yang awalnya merasa sangat bahagia melihat pemandangan penuh kebahagiaan dari putra dan menantunya, seketika membuatnya berubah masam karena menganggap Rafael berbicara hal yang tidak berfaedah.
Bahkan ia sempat geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya yang dianggap sangat kekanakan.
"Dasar suami tidak peka yang sangat kekanakan! Pantas saja Aealeasha tidak bisa mencintaimu dulu. Sekarang Mama tahu jawabannya setelah melihatmu seperti ini pada istrimu. Awas saja jika sampai kamu mengulanginya lagi, Mama benar-benar akan membuat telingamu memerah."
Rafael yang bisa melihat tatapan tajam dari dua wanita berbeda generasi tersebut, dikeroyok dan membuatnya hanya bisa merutuki kebodohan dengan menelan saliva kasar.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku tadi keceplosan karena tiba-tiba merasa cemburu saat memikirkan masa lalumu bersama dengan dosenmu itu."
Alesha yang saat ini tidak berniat untuk membuka suara karena asyik menikmati makanan kesukaan dan menyerahkan komentar penghakiman pada ibu mertua yang diketahuinya selalu membelanya daripada sang putra.
'Jika saat ini aku berbicara, mungkin akan mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan menyakiti hati mama. Jadi, lebih baik cari aman dengan diam dan membiarkan mama memarahi putranya yang memang sangat kekanakan.'
Alesha yang saat ini mengunyah makanan, merasa heran kenapa tiba-tiba Rafael bertanya konyol dan membuatnya menjawab hal konyol juga, lalu malah berakhir pada nama mantan sugar daddy-nya.
Mengingat itu semua, membuatnya saat ini mengingat pertemuan pertama dengan Rafael yang menawarkan
untuk menjadi sugar daddy, tapi berakhir di pelaminan.
'Aku tidak pernah menyangka akan mencintai sugar daddy keduaku dan merupakan sugar daddy pertamaku. Sial! Ternyata rasa sakitnya jauh lebih besar ketika mencintai Rafael daripada saat dihina oleh mamanya Alex yang memberikan sebuah dengan nominal luar biasa.'
Embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Alesha saat ini karena sangat mengingat nasibnya tidak pernah beruntung dalam hal asmara, membuatnya menyadari bahwa ia tidak ditakdirkan bahagia bersama orang yang dicintai.
Meskipun menyadari bahwa Alex saat ini mencintainya dan menunggu ia kembali, tapi perasaannya sudah menghilang tanpa bekas hanya gara-gara Rafael.
Alesha yang hanya diam saja tanpa berniat untuk menanggapi karena asyik menikmati sarapan, seketika membuat Rafael ingin mengakhirinya dengan bangkit berdiri setelah menghabiskan makanan tanpa tersisa.
"Lebih baik kita sudahi perdebatan tidak penting ini. Maafkan aku karena membahas masa lalu dan benar apa yang kamu katakan bahwa yang terpenting adalah menatap masa depan kita. Ayo, Sayang, antarkan aku ke depan karena akan berangkat bekerja sekarang."
Alesha bangkit berdiri dan menoleh ke arah mertuanya. "Aku antarkan suami ke depan dulu, Ma. Mama lanjutkan saja makannya."
Tiana saat ini hanya menganggukkan kepala tanpa berkomentar karena mengetahui bahwa suasana hati menantunya sedang tidak baik. Ia saat ini mempunyai ide untuk mengajak menantunya tersebut pergi shopping.
'Sepertinya suasana hati menantuku sedang tidak baik gara-gara ulah putraku yang tidak peka. Baiklah, hari ini kami akan menghabiskan uang yang diberikan oleh Rafael dan bersenang-senang.'
Rafael seketika memeluk erat pinggang ramping wanita yang berjalan di sebelahnya untuk membuat sang ibu tidak merasa curiga karena selama ini selalu bersikap romantis.
"Sayang, maafkan aku. Jangan marah lagi," ucap Rafael yang sengaja mengeraskan nada suara agar sang ibu mendengarnya dan saat ini berjalan menuju ke arah pintu utama.
Sementara itu di sisi lain, Alesha hanya diam saja tanpa menjawab karena jujur saja ia merasa sangat kesal karena Rafael malah menyebut nama Alex ketika ia menyatakan cinta.
Susah payah ia menata hati dan memberanikan diri mengungkapkan kejujuran, meskipun sama sekali tidak dianggap ataupun dipercayai oleh Rafael, tetap saja ia merasa sangat kesusahan saat mengungkapkan hal itu.
Namun, tanggapan dari pria yang dicintai malah membuatnya emosi karena mengungkit masa lalu yang bahkan sudah dilupakan. Bahkan ia berpikir tidak akan kembali pada Alex meskipun sudah bercerai dengan Rafael.
__ADS_1
Karena tidak bisa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintai. 'Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan masuk ke lubang yang salah.'
'Cukup satu kali aku terluka karena mencintai seorang pria yang tidak pernah mencintaiku karena hanya memikirkan mantan istrinya tanpa memperdulikanku.'
Begitu berada di luar rumah dan menuju ke arah mobil yang sudah terparkir rapi di halaman depan, Rafael merasa suasana sangat canggung karena dipenuhi keinginan saat wanita yang dipeluknya seolah tidak berniat untuk membuka suara.
Akhirnya ia menipu Alesha untuk membuat wanita itu berbicara. Kini, ia menoleh ke belakang sekilas dan berbiji di dekat daun telinga wanita dengan wajah masam dan bibir mengerucut tersebut.
"Ada mama yang mengintip di di belakang pintu. Jadi, jangan bersikap sinis dan cemburu seperti itu saat suamimu sudah meminta maaf."
Alesha berniat untuk memastikan perkataan dari pria yang membuat bulu kuduknya meremang saat berpikir di dekat daun telinganya, tapi ditahan oleh Rafael yang langsung bergerak mencium keningnya untuk berpamitan.
"Jangan menoleh ke belakang karena nanti ketahuan oleh mama, sehingga curiga pada kita." Rafael berbicara lirih untuk menipu wanita dengan wajah cemberut tersebut.
Kemudian ia mencium kening Alesha untuk kedua kali. Jika dulu ia tidak pernah bisa melakukan hal seperti itu pada mantan istri saat masih menikah, tapi sekarang seolah menjadi rutinitasnya setiap pagi ketika berangkat bekerja dengan mencium kening Alesha.
Jadi, seolah merasa kurang jika tidak melakukan itu. Kemudian tersenyum simpul pada wanita yang kini menganggukan kepala.
"Hati-hati di jalan, Sayang," jawab Alesha dengan singkat meski wajahnya masih diliputi kekesalan, mencoba untuk menyembunyikan karena khawatir jika mertuanya mengetahui.
Kini, Rafael tersenyum lebar dan mengusap lembut pipi putih wanita di hadapannya. "Baik-baik di rumah dan temani mama."
Kemudian Rafael berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi karena memang selama ini tidak memakai jasa supir.
Begitu menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, tak lupa melambaikan tangan begitu kendaraan yang dikemudikan melaju menuju ke arah pintu gerbang utama.
Sementara itu, Alesha juga melambaikan tangan untuk mengikuti sandiwara dari pria yang sudah mulai menghilang di balik pintu gerbang tinggi rumah, kini kembali meremas kedua sisi pakaian untuk menahan amarah yang membuncah di dalam hati.
Bahkan embusan napas kasar terdengar mewakili perasaannya yang kacau balau saat ini. 'Satu minggu lagi. Bertahanlah satu minggu lagi karena setelah ini kau bisa melakukan apapun sesuka hati, Alesha.'
'Meskipun akan terluka karena tidak lagi bersama dengan pria yang kau cintai, tapi akan lebih baik tidak melihat si berengsek itu daripada harus setiap hari bersama suami palsu yang ingin memikirkan mantan istri.'
Setelah menormalkan perasaan, kini Alesha berbalik badan dan kembali berjalan menuju ke arah pintu utama. Ia kita akan mencari keberadaan sang mertua.
Saat tidak menemukannya, berpikir bahwa wanita paruh baya tersebut sudah kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapan.
'Arrrh ... aku tidak berselera makan sekarang. Bagaimana harus mengatakan pada mama?' gumam Alesha menuju ke arah ruang makan dan seketika mengulas senyuman begitu mendengar yang dikatakan oleh mertua.
__ADS_1
"Sayang, bersiaplah karena hari ini kita habiskan uang suamimu. Kamu beli saja apapun yang disukai tanpa menahannya. Itu adalah cara terbaik untuk menyembuhkan rasa kesal karena perbuatan suamimu."
To be continued...