
'Bahkan meskipun dia amnesia, tidak menghilangkan sifat aslinya yang selalu saja menyentil keningku jika diam saja tanpa menjawab pertanyaannya,' gumam Alesha yang kini masih meringis menahan rasa nyeri sambil mengusap bekas perbuatan Alex.
Tentu saja saat ini tengah mengingat segala kenangan di masa lalu bersama pria yang dari sulu telah menggetarkan hatinya. Bahkan sampai sekarang pun sama.
Sementara itu, Alex yang merasa kesal karena wanita di hadapannya hanya diam membisu, merasa geram. Saat ia refleks mengarahkan tangan untuk menyentil kening, ada rasa aneh yang dirasakan.
Seperti ada sesuatu yang membuatnya melakukan itu. Padahal ia baru mengenal Alesha yang merupakan mahasiswi baru di kampus, tapi merasa seperti sudah lama mengenal.
Ia bahkan tidak pernah melakukan hal seperti ini pada mahasiswi lain ketika melakukan kesalahan. Mungkin hanya menghukum dengan memberikan tugas lebih banyak dari pada yang lain. Namun, ia tidak sempat memikirkan itu karena sudah mengungkapkan kekesalannya.
"Kenapa tidak menjawab? Apa kamu sedang sakit gigi? Atau sariawan? Hingga tidak mau membuka mulutmu saat aku bertanya."
Alex Clarkson masih tidak berkedip menatap wajah cantik wanita di hadapannya. Apalagi, jarak mereka terlihat begitu dekat karena hanya berjarak beberapa centi saja, sehingga sangat jelas pahatan sempurna yang membuatnya merasa tidak bosan untuk memandang Alesha.
'Kenapa rasanya sangat aneh? Seperti aku sudah lama mengenalnya. Apakah wanita ini mempunyai hubungan denganku di masa lalu? Baru kali ini aku merasa dekat dengan seorang wanita dan hanya dia yang bisa melakukannya.'
'Semenjak aku melihatnya pertama kali di kantin, rasanya seperti sangat aneh. Aku benar-benar seperti tidak asing dengan wajah ini,' gumam Alex yang kini mendengar suara bariton dari sosok wanita di hadapannya.
Alesha memilih untuk mundur satu langkah agar posisi mereka tidak terlalu berdekatan. Ia ingin menghindar dari sosok pria yang memiliki sejuta pesona tersebut dan menyadari bahwa semua itu berhasil meluluhlantakkan hatinya.
Kemudian setelah berhasil menormalkan perasaannya, memilih untuk membuka mulut dengan beralasan penuh kebohongan.
"Maaf karena tadi tidak melihat karena sedang banyak beban pikiran. Saya tadi melamun dan saat ditanya, masih belum fokus karena memikirkan tentang sesuatu."
__ADS_1
Saat Alex berniat untuk menanggapi, indra pendengarannya menangkap suara denting lift yang menandakan pintu kotak besi tersebut terbuka dan tentu saja membuatnya merasa sangat kecewa karena Alesha terlihat buru-buru keluar.
Ia merasa sangat aneh untuk kesekian kalinya saat melihat wanita itu yang seolah ingin menghindar darinya, sedangkan para mahasiswi lain tidak pernah berbuat seperti itu padanya karena selalu mencari perhatian.
Ia hanya diam saat melihat Alesha membungkuk hormat dan meninggalkannya. Padahal tujuan mereka sama, tapi terlihat sangat terburu-buru.
Masih tidak berkedip menatap siluet dari Alesha yang seperti menghindar darinya, ia kembali berucap lirih, "Aku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita itu. Aku harus mencari tahu semuanya."
Alex Clarkson melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah kantin dan membeli pesanan sang ibu. Di saat ia sudah tiba di sana, melihat Alesha yang menghampiri pria di sudut ruangan.
'Jadi ia mencari pria itu? Sepertinya buru-buru pergi dariku karena tidak ingin terlihat oleh kekasihnya,' gumam Alex yang saat ini memilih untuk mengalihkan perhatian dan membeli pesanan sang ibu.
Sementara itu, Alesha yang tadi buru-buru berjalan keluar dari lift dan meninggalkan Alex, masih berusaha untuk menormalkan perasaan sekaligus tidak ingin Rafael melihat jika ia bersama dengan Alex di dalam lift.
Saat ia mencari keberadaan Rafael di kantin dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, merasa lega saat melihat punggung lebar pria yang sangat dihafalnya tengah duduk sambil menundukkan kepala.
Ia buru-buru melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Rafael dan saat ia menepuk pundak pria itu, merasa sangat terkejut saat melihat raut wajah memerah dengan bola mata berkaca-kaca.
Ya, Alesha sangat terkejut saat pertama kali melihat seorang pria seperti hendak menangis, tapi sedang berusaha keras agar bulir air yang memenuhi mata tidak terjatuh membasahi pipi putih dengan rahang tegas itu.
"Aku mencarimu. Kenapa tidak kembali dari tadi?"
Saat Alesha menutup mulut, ia tidak berani bertanya pada sosok pria yang terlihat langsung memalingkan wajah dan terlihat buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Kau benar-benar mengejutkanku!" umpat Rafael yang kini merasa sangat terkejut saat bersitatap dengan bola mata Alesha.
'Sial! Kenapa ia harus melihatku saat sedang terpuruk seperti ini? Aku yakin Alesha melihat mataku yang penuh dengan bulir kesedihan,' umpat Rafael di dalam hati dan membuatnya tidak bisa menahan diri beberapa saat lalu.
Alesha yang kali ini refleks langsung duduk di hadapan Rafael, masih mengerutkan kening dan tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Aku benar-benar sangat penasaran tentang hal yang membuat seorang CEO perusahaan besar meneteskan air mata. Apakah ini karena wanita yang namanya sama denganku?"
Sementara Rafael yang kali ini tidak menjawab karena memilih untuk menyembunyikan kesedihan dengan tertawa terbahak-bahak. Meskipun ia tertawa sambil menyingkirkan air mata yang dianggapnya sangat tidak tahu diri karena tiba-tiba hadir dan lolos dari bola matanya.
Rafael mengarahkan jari telunjuknya pada mie instan yang ada di hadapannya. "Aku makan mie yang rasanya sangat pedas dan membuat lidah serasa terbakar. Juga bola mata ini menghasilkan bulir air mata yang hadir tanpa seizinku," ucap Rafael dan kemudian meneguk air mineral.
Ya, ia merasa bersyukur karena bisa membuat menjadikan mie instan sebagai alasan untuk menipu Alesha. Memang tadi ia pergi ke kantin untuk menikmatinya karena sudah lama tidak memakan makanan tidak sehat itu.
Semua itu karena sang ibu melarang dengan alasan memakai pengawet dan tidak baik untuk kesehatan. Selain itu, ia memang selalu melampiaskan rasa kesal dengan cara makan makanan yang sangat pedas.
Sementara itu, Alesha yang masih belum puas dengan jawaban Rafael, merasa curiga jika alasan pria itu karena ada sesuatu yang ada di ponsel karena melihat langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana begitu ia sapa.
"Kenapa aku tidak percaya dan berpikir kamu sedang membohongiku? Jika memang benar apa yang kau katakan, apa aku boleh melihat ponselmu?"
Rafael yang saat ini terlihat mengerjapkan kedua mata, tidak pernah menyangka jika Alesha mencurigainya. Bahkan mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan dari tadi karena di sana, ada hal yang membuat hatinya bagai ditusuk tombak tajam.
To be continued...
__ADS_1