
Saat ini, Adelardo tengah berdiri di depan cermin yang ada di toilet dan ia menatap pantulan wajah di cermin setelah mencuci muka. Benar-benar terlihat sangat mengenaskan.
"Aku harus melindungi Arsenio karena bisa saja dia akan dikalahkan oleh Nick yang bersatu dengan ayahnya dan tak lain adalah adik kandungku sendiri. Kekuatan Arsenio adalah anak dan istrinya, tetapi itu sekaligus menjadi kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh musuh."
"Akan lebih baik jika Aeleasha dan Arza tidak di sini karena hanya akan disakiti oleh orang-orang serakah. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Adelardo saat ini terdiam sejenak dan merasa bingung harus berbuat apa untuk melindungi Arsenio. Ia sama sekali tidak memikirkan diri sendiri. Padahal pembicaraan tadi sudah jelas. Bahwa ayah dan anak itu sedang merencanakan sesuatu hal yang jahat padanya untuk menyingkirkannya.
Namun, karena nyawanya hanya beberapa bulan lagi, sehingga sama sekali tidak membuatnya takut.
"Aku harus memberitahu Aeleasha? Dia harus tahu apa yang terjadi pada Arsenio. Bahwa semua yang terjadi merupakan tipu muslihat dari Nick. Semoga menantuku bisa memahami posisi Arsenio saat ini."
Adelardo saat ini sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar dan kembali ke ruangan operasi. Ia kembali mendaratkan tubuhnya di kursi dan menatap ke arah pintu yang dari tadi masih tertutup itu.
Hingga ia memilih untuk merehatkan matanya yang terasa lelah demi sekedar menenangkan pikiran.
Selama setengah jam telah berlalu dan ia mendengar suara bariton dari seseorang yang sangat dihafalnya dan membuatnya serasa ditusuk tombak tajam begitu membuka mata.
"Brother!" seru sosok pria yang saat ini tengah duduk di kursi roda dan didorong oleh seorang wanita.
Seulas senyuman penuh kepalsuan ditangkap oleh Adelardo saat ini ketika pasangan suami istri yang merupakan adik dan iparnya datang mendekat.
Ia bersikap tenang dan memilih untuk mengikuti alur yang diciptakan oleh saudaranya tersebut. "Kalian sudah di sini rupanya. Apa Nick baik-baik saja?"
__ADS_1
Sementara pria yang duduk di atas kursi roda, saat ini tengah mengulas senyuman pada saudaranya tersebut. "Maafkan perbuatan putraku, Brother. Nick memang salah, tapi jangan biarkan dia berakhir di penjara."
"Nick adalah putraku satu-satunya. Jika sampai dia dipenjara karena melakukan kekhilafan, nama baik keluarga besar kita bisa tercemar. Maafkan Nick, Brother. Bukankah kamu sangat menyayanginya dari dulu?"
Pria itu memilih untuk berdiri dari kursi roda dan berlutut di hadapan saudara laki-lakinya. Ia merendahkan harga diri demi putranya tidak dijebloskan ke penjara.
Apalagi tadi ada para polisi yang menginterogasi putranya begitu dipindahkan ke ruangan kamar terbaik di rumah sakit.
Sementara wanita bernama Angeline Kyle yang merupakan sang istri tersebut menahan rasa kesal dan amarah yang membuncah di hati ketika melihat suaminya tengah berlutut.
'Jika bukan karena demi putraku, mana mungkin aku kuat melihat perbuatan suamiku yang rela merendahkan harga diri di depan pria tua gila itu,' umpat Angeline yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang langsung menyuruh suaminya kembali berdiri.
"Aku sudah memaafkan Nick. Jadi, jangan merendahkan harga dirimu di depanku seperti itu." Adelardo saat ini menepuk pundak yang tak sekokoh dulu karena saudaranya tersebut sudah sakit-sakitan semenjak lama.
Dulu, ia berpikir adalah pria dengan pola hidup sehat dan tidak pernah sakit. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka saat tiba-tiba divonis dengan penyakit kanker otak. Pastinya lebih parah dari adiknya yang gagal ginjal dan jantung.
'Dasar bodoh! Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika semuanya semudah itu untuk mengubah keputusannya. Tinggal berpikir menyingkirkannya dan juga anak angkat tidak berguna itu,' gumamnya yang saat ini terlihat berbinar.
Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika senyuman yang terpatri di bibirnya tersenyum seketika pudar begitu mendengar pernyataan dari saudara yang membuatnya merasa sangat emosi.
"Aku memang sudah memaafkan Nick, tetapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hukum tidak bisa selesai hanya dengan permintaan maaf, bukan? Kau bukan seorang anak kecil yang harus kujelaskan tentang sebuah pertanggungjawaban."
Adelardo dari dulu adalah seorang pria yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan ia tidak pernah bisa mentolerir siapapun yang melakukan kesalahan besar.
__ADS_1
Meskipun ia berpura-pura tidak tahu apa-apa, tetapi untuk kasus yang berhubungan dengan perusahaan dan nama baik Arsenio yang melibatkan banyak orang, harus diselesaikan dengan melibatkan para penegak hukum. Apalagi tadi wanita yang sudah dibawa oleh para polisi akan bersaksi bahwa yang menyuruh adalah Nick.
"Apa kau sama sekali tidak menyayangi atau berbelas kasih pada keponakanmu sendiri, Brother? Bukankah dari dulu, kamu sangat menyayanginya?"
"Semenjak kedatangan pria bernama Arsenio itu, membuatmu berubah. Sepertinya kamu telah mendapatkan hasutan dari putra angkatmu itu untuk memusuhi kami," umpat Fernando yang saat ini merasa sangat marah karena tidak berhasil meloloskan putranya dari jerat hukum.
Masih seperti biasa, Adelardo terlihat tenang karena tidak ingin terpancing emosi. Ia sebenarnya merasa seperti orang bodoh saat berhadapan dengan saudaranya tersebut karena berakting menjadi orang yang tidak tahu apapun tentang kejahatan.
"Justru karena aku sangat menyayangi Nick. Jadi, aku melakukan hal ini padanya. Mungkin, dengan merasakan dinginnya sel penjara, ia bisa berubah menjadi orang yang baik."
"Sebagai orang tua yang baik, bukankah kita harus bertanggungjawab untuk menjadikan keturunan sukses dari segala aspek? Jika terus dibiarkan, Nick bisa hancur karena gemar minum-minuman beralkohol, berjudi dan masih banyak keburukan lainnya."
Saat ini, Adelardo mengatakan semuanya karena ia ingin adiknya itu sadar jika cara mereka memanjakan Nick dari dulu salah, sehingga membuat pria itu tersesat.
"Nick saat ini tengah tersesat dan sudah merupakan tugas kita untuk membawanya kembali pulang ke jalan yang baik."
Sosok ayah itu saat ini hanya diam dan menyembunyikan kemurkaannya, tetapi tidak untuk Angeline yang langsung meledakkan amarah.
"Apa, Brother? Tersesat? Bukannya kau yang sedang tersesat sekarang? Kau lebih membela orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga. Mendorong Nick untuk melakukan semua ini. Apakah Brother sama sekali tidak tahu jika penyebab Nick melakukan semua itu karena perbuatanmu?"
Refleks sang suami saat ini langsung menarik pergelangan tangan kanan sang istri. Tentu saja ia tidak ingin jika rencana yang sudah disusun matang, dikacaukan.
"Sayang! Jangan bersikap tidak sopan pada Brother!"
__ADS_1
"Lebih baik kau diam!" sarkas Angeline yang saat ini tengah menatap kesal pada sosok pria yang masih duduk di kursi roda itu.
To be continued...