
Dengan mata penuh dengan kilatan amarah serta rahang yang mengeras, Arsenio berjalan masuk dan langsung berlari ke arah sosok pria yang juga tengah menampilkan wajah memerah setelah mendengar ejekannya.
Arsenio sudah tidak bisa lagi untuk menahan diri lebih lama lagi karena saat ini tidak bisa menguasai amarah yang membuncah di dalam hati. Saat melihat Nick, ia selalu mengingat nasib rumah tangganya yang diujung tanduk untuk melayangkan tinjunya.
"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Berengsek! Aku tidak akan pernah merasa iba hanya karena kau adalah keponakan dari ayahku!"
Arsenio sudah berlari ke arah pria yang sangat dibencinya karena telah berani mengusik kehidupannya. Itu ia anggap sama saja dengan mengganggu ketenangan wanita yang sangat dicintainya.
Dengan tangan yang mengepal, ia langsung melayangkan tinjunya ke arah wajah pria yang berada semakin dekat dengannya itu.
Sementara Nick hanya tersenyum tipis dengan seringai jahatnya, secepat kilat tangan kokohnya langsung menangkis pukulan Arsenio dan mengarahkan tendangan kaki kanannya ke arah perut berotot pria di depannya.
Mendapat serangan tiba-tiba dari Nick, tentu saja membuat Arsenio sedikit terhuyung ke belakang. Namun, itu tidak sampai membuatnya jatuh terhempas ke lantai.
Dengan tatapan mata tajam, Arsenio berubah beringas dan kembali berjalan cepat menuju ke arah Nick seraya melakukan pukulan ke arah pria itu.
Berkali-kali Nick berhasil menangkis serangan dari Arsenio yang membabi buta. Namun, pukulan yang tak disangkanya telah mendarat ke arah wajahnya di bagian kiri karena pria di depannya membuat gerakan tipuan untuk mengecoh arah pergerakan tinjunya.
Sontak saja pukulan sangat kuat itu mampu membuat sudut bibir bawah Nick robek dan lebam di bagian bawah matanya.
Lalu Nick mengusap darah yang mengalir di bibirnya, secepat kilat ia langsung maju ke depan dengan mengepalkan kedua tangan untuk membalas perbuatan Arsenio.
Kini, keduanya terlihat sama-sama beringas dan saling menyerang satu sama lain.
Arsenio pun sempat terkena tinju dari Nick yang mendarat di bagian perut, dada dan tendangan pria itu di kaki kanannya.
__ADS_1
Hingga membuat Arsenio sedikit meringis saat merasakan tulang kaki yang terasa nyeri. Meski ia berjalan agak sedikit tertatih, tetapi tetap tidak berhenti untuk berniat kembali melayangkan pukulan demi pukulan pada wajah Nick yang terlihat membiru.
Bahkan saat ini, Arsenio berhasil merubuhkan Nick hingga terlentang di atas lantai yang dihiasi oleh barang porak poranda akibat perbuatan pria dengan rambut keemasan tersebut beberapa saat yang lalu.
"Aku kali ini tidak akan melepaskanmu, berengsek! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di penjara!"
Arsenio saat ini melayangkan tinju pada bagian kiri wajah pria yang ada di hadapannya tersebut. "Ini untuk kebohonganmu yang menyuruh wanita murahan itu menjebakku."
Kemudian Arsenio kembali melayangkan tinjunya untuk kedua kali. "Sedangkan ini, untuk rumah tanggaku yang kau hancurkan!"
Dengan kekuatan penuh, Arsenio seolah menumpahkan semua kemurkaan pada pukulan yang diarahkannya. Ia sama sekali tidak peduli jika nasib pria yang berada di bawahnya tersebut akan mengalami pendarahan karena perbuatannya.
Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah memberikan hukuman pada Nick karena telah mengusik ketenangan rumah tangga serta hidupnya. Karir dan juga kehidupan pribadi dipertaruhkan karena keserakahan dari pria tersebut.
Ia saat ini merasakan nyeri luar biasa pada wajah yang baru saja dihantam sangat kuat dari tangan yang mengepal tersebut.
Namun, Nick sama sekali tidak merasa takut, ataupun menyesal telah membuat Arsenio mendapatkan pandangan buruk dari para pemegang saham yang hampir saja melengserkan pria itu.
Ia saat ini malah tertawa terbahak-bahak untuk mengungkapkan kekesalannya karena gagal menghancurkan Arsenio. Meskipun sebenarnya merasa sangat nyeri pada wajahnya.
"Apakah seorang pria hebat sepertimu takut kehilangan harta yang bukan hakmu dan juga istri mudamu itu? Jika kau takut, berarti aku telah berhasil membuatmu terpuruk, kan? Aku tidak akan pernah berhenti sampai kau enyah dari hadapanku."
"Kau hanyalah seorang pria miskin yang tidak punya apa-apa dan bermimpi untuk bisa menjadi kaya raya dengan mencuci otak pamanku. Sekarang kau telah berhasil melakukannya. Apakah kau merasa sangat senang sekarang setelah pria tua tidak berguna itu memberikan semua hartanya padamu?"
Arsenio yang kali ini semakin merasa marah atas jawaban dari Nick yang sudah babak belur karena perbuatannya malah membahas tentang harta warisan yang sama sekali tidak ia inginkan.
__ADS_1
Apalagi hal yang terpenting baginya hanyalah bisa kembali berkumpul sebagai keluarga yang bahagia dengan anak dan istri. Bukan sebagai seorang konglomerat yang mempunyai aset fantastis seperti perkataan bernada penghinaan dari Nick.
"Kau memang bukan manusia, Nick! Apa yang ada di otakmu hanyalah uang dan uang? Apa tidak ada perikemanusiaan di dalam hatimu saat membuat seorang wanita membawa putranya pergi dari suami secara diam-diam?"
"Mungkin kau tidak akan bisa merasakannya karena belum menikah. Atau selamanya kau tidak akan berumah tangga karena harus mendekam selamanya di penjara. Aku akan membuatmu menyesal karena mengusik rumah tanggaku!"
Arsenio saat ini semakin murka begitu melihat senyuman menyeringai dari Nick. Ia tidak bisa lagi mentolerir perbuatan pria yang sudah mengusik hidupnya yang bahagia.
Tanpa membuang waktu, Arsenio sudah mengarahkan kedua tangan untuk mencekik leher Nick. Bahkan wajahnya merah padam ketika mengungkapkan kalimat yang mewakili perasaannya ketika sedang marah.
"Aku akan membunuhmu, berengsek! Jadi kau tidak akan pernah bisa lagi menghancurkan hidup orang-orang karena ulahmu yang tidak berperasaan. Selain istri dan anakku yang saat ini harus hidup tanpaku, juga banyak nasib para staf perusahaan yang hampir saja dipecat jika bangkrut."
Dengan sangat kuat, Arsenio masih terus memutuskan pasokan oksigen yang mengalir dari tenggorokan pria di bawahnya. Ia seolah tidak memperdulikan apapun lagi karena seperti dirasuki oleh setan.
Seolah ia saat ini hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melihat pria yang dicekiknya kehilangan nyawa. Tanpa menyadari bahwa perbuatannya tersebut bisa menghancurkan diri sendiri.
Sementara itu, Nick saat ini semakin kesulitan untuk bernapas dan merasakan bahwa cekikan di lehernya sangat kuat. Hingga lama-kelamaan ia hampir kehabisan pasokan oksigen.
'Sial! Apa aku harus mati di tangan pria tidak berguna ini?' umpat Nick di dalam hati dan masih berusaha untuk menyelamatkan diri dengan mengangkat tangan untuk mendorong dada bidang Arsenio, agar melepaskan kuasa.
Hingga Nick mendapat angin segar saat indra pendengarannya menangkap suara dari pria paruh baya yang baru saja masuk bersama Zea.
"Arsenio, hentikan!" teriak Adelardo yang membulatkan mata begitu melihat apa yang dilakukan oleh Arsenio.
To be continued...
__ADS_1