I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ungkapan cinta


__ADS_3

Saat ini, Aeleasha benar-benar merasa bagaikan petasan yang meledak saat pria itu semakin liar.


Suasana ruangan kamar bernuansa pink itu kini dipenuhi oleh suara ******* dan lenguhan dari pasangan suami istri yang semakin memporak-porandakan ranjang.


Arsenio benar-benar membuktikan kekuatannya karena ia tidak sedetik pun membiarkan sang istri diam dengan tubuh meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.


"Sayang, aku lelah. Kapan kamu akan berhenti menyiksaku," lirih Aeleasha yang kini sudah pasrah karena tubuhnya benar-benar terasa remuk redam.


"Ini adalah bulan madu kedua kita. Jadi, aku ingin ini menjadi sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan untukmu. Kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya selama Arza berada di tempat kakeknya."


Setelah mengungkapkan keinginannya, Arsej' mulai kembali memuaskan hasrat yang hari ini seolah berkumpul menjadi satu.


Seolah ia sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitar atau pun orang lain saat bercinta dengan wanita yang sangat dicintai sekaligus membuatnya gila.


Sementara itu, Aeleasha kini hanya bisa menelan ludah dengan kasar melihat sikap sang suami yang hanya memperdulikan nafsu.


Hal itu berhasil membuat Aeleasha semakin gila karena kembali merasakan kenikmatan yang hakiki saat lonjakan kenikmatan mengalir di setiap aliran darah.


Entah sudah berapa lama Arsenio memuaskan hasrat tanpa mempedulikan apapun di sekitarnya. Ia merasa akan mencapai puncak yang dari tadi didaki.


Beberapa saat kemudian, suara rahang mengeras dan tatapan tajam, serta lenguhan dengan geraman lolos dari bibir Arsenio saat ini memenuhi ruangan tersebut.


Di saat bersamaan, sudah meledakkan benih ke rahim wanita yang sangat dicintai dengan memeluk erat tubuh Aeleasha. Beberapa saat kemudian, jatuh terkulai lemas dengan napas yang memburu setelah percintaan panas yang berlangsung selama satu jam tersebut.


Masih mencoba untuk menormalkan deru napas, Arsenio yang masih enggan mengangkat kepala, kini meluapkan perasaan yang dirasakan.


"Aku sangat mencintaimu, Honey," ucap Arsenio yang kini mengarahkan bibir untuk mengecup lembut kening wanita yang masih memejamkan kedua mata tersebut.


Di sisi lain, Aeleasha yang sudah berhasil menormalkan deru napas, membuka mata dan tersenyum tipis pada pria yang tak berhenti mencium.


Namun, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena benar-benar merasa bingung dengan kejadian begitu cepat hari ini.


Kegilaan yang dilakukannya hari ini benar-benar diluar batas karena dengan mudahnya menyerahkan tubuh hari ini pada sang suami.


"Kau sedang merayuku?" ucap Aeleasha yang saat ini mendorong tubuh kekar berotot pria di atasnya.


Kemudian meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos karena ingin pergi ke kamar mandi. Membersihkan sisa-sisa perbuatan pria yang baru saja membuatnya gila karena berkali-kali merasakan puncak kenikmatan sambil merutuki kebodohannya.

__ADS_1


'Dasar wanita bodoh!' umpat Aeleasha yang kini sibuk merutuki kebodohannya sendiri karena tidak bisa menolak sang suami yang berkali-kali membuatnya ke puncak hari ini.


Sementara itu, Arsenio yang sudah jatuh terjungkal di sisi kiri ranjang, mengacak frustasi rambut begitu melihat ekspresi dari Aeleasha yang seolah menganggap adalah seorang penipu.


'Astaga! Apa istriku berpikir aku hanya pria pembohong setelah bercinta dengannya. Padahal aku benar-benar sangat mencintainya dan hanya dia satu-satunya wanita yang selama ini kuinginkan.'


Arsenio yang ingin kembali menggoda sang istri, kini hanya memijat pelipis melihat wanita itu melarikan diri ke kamar mandi.


"Aeleasha, dia hanya milikku dan tidak akan pernah kubiarkan ada yang mengusik ketenangan kami karena aku telah memilihnya untuk menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Arsenio yang saat ini masih menatap ke arah kamar mandi di sudut ruangan sebelah kiri ranjang.


Semenjak ia memutuskan untuk bersedia hamil lagi, seolah melihat sang suami bertambah besar hasrat seksual dan melakukan apapun dengan bebas, termasuk memberikan jejak kepemilikan di setiap sudut tubuhnya.


Aeleasha bahkan meraba seluruh tubuhnya yang kini memerah dan tidak hanya itu saja, ia bahkan merasakan bukti kenikmatan Arsenio dan membuatnya menunduk menatap ke bawah.


Ia lagi-lagi menelan ludah dengan kasar karena mengingat jika pria yang tak lain adalah suami tersebut mungkin sebentar lagi akan benar-benar membuatnya hamil karena dulu selalu menyuruh memakai pengaman.


Bahkan saat ini ia tahu sedang dalam masa subur dan bisa saja langsung hamil.


Aeleasha yang saat ini tengah mengusap lembut perut, mengamati pantulan wajah di cermin.


"Mungkin sebentar lagi, aku akan hamil benih suamiku dan jika benar, semoga anak perempuan yang akan hadir di sini. Rasanya aku sudah tidak sabar mempunyai anak perempuan. Pasti sangat cantik sepertiku," ucap Aeleasha yang saat ini terkekeh geli mendengar kalimat pujian sendiri.


Hingga sudut bibir melengkung ke atas karena merasa senang dan bahagia ketika membayangkan anak perempuan.


Hingga ia yang masih berusaha memulihkan tenaga, kini berjenggit kaget begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka dan sosok pria yang beberapa saat lalu membuatnya sibuk menjerit dan mendesah dalam ledakan gairah, terlihat berjalan mendekatinya dengan terburu-buru.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" teriak Aeleasha yang kini masih berjongkok untuk menutupi bagian-bagian sensitif miliknya yang tidak ingin dilihat pria yang langsung menyamakan posisi dengan berjongkok di hadapannya.


"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi? Aku menunggumu dari tadi, tapi tidak keluar juga. Jadi, aku memeriksamu. Apa yang terjadi? Apakah kau kesakitan karena perbuatanku tadi?"


Arsenio yang masih menatap penuh khawatir, kini sudah berpikir macam-macam karena ia takut jika perbuatannya tadi yang cukup lama bercinta, membuat sang istri kesakitan, sehingga ingin memastikannya.


Sementara di sisi lain, Aeleasha yang sibuk merutuki kebodohan sendiri karena ceroboh saat tidak mengunci pintu tadi. Efek gugup dan sangat lelah, membuatnya lupa dan kali ini menyadari kecerobohannya.


Refleks ia mengangkat pandangan dengan menatap sosok pria dengan wajah penuh kekhawatiran tersebut.


"Tenanglah. Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Aeleasha kini mengibaskan tangan untuk mengusir, agar segera keluar meninggalkannya. Namun, tidak seperti yang dipikirkan, ia melihat Arsenio berdiri dan menuju ke arah bathtub, sehingga membuatnya mengerutkan kening.


Ia yang kali ini merasa sangat kebingungan karena tubuhnya sudah berpindah ke atas tangan kekar nan kokoh Arkan dan menurunkannya secara berhati-hati ke dalam bathtub.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?" Aeleasha yang dari tadi sibuk bertanya di dalam hati mengenai perihal Arsenio yang memilih untuk bercinta di dalam ruangan kamar dengan desain interior bayi perempuan, tidak ingin tersiksa dengan berbagai macam hal di otaknya.


Ia memutuskan untuk mencari tahu kapan sang suami menyiapkan semua itu tanpa sepengetahuannya.


"Bertanya tentang apa? Katakan saja?" Arsenio yang kini ingin mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh sosok wanita yang mulai bergerak untuk menghadapnya.


'Apa yang ingin ditanyakan istriku? Apa ingin membahas mengenai kegiatan panas dan liar tadi yang berlangsung sangat lama? Dia tidak mengetahui kalau aku tadi minum obat penambah stamina, kan?'


Arsenio yang sebelumnya minum obat penambah stamina agar terlihat kuat dan gagah perkasa di atas ranjang, sehingga sang istri semakin memuja dirinya.


Semenjak ia bertengkar dengan Rafael karena pria itu masih mencintai Aeleasha. Mengatakan bahwa ia adalah pria tua yang hanya akan membuat Aeleasha bosan dan akan kembali pada Rafael yang sangat percaya diri karena merupakan pria muda.


Hal itulah yang membuat Arsenio tidak ingin terlihat lemah di mata sang istri, sehingga memilih untuk minum obat penambah stamina. Bahkan ia selalu ingin terlihat romantis agar tidak terlihat kaku seperti pria tua.


Mengingat tentang umpatan Rafael saat ia menelpon dan selalu terngiang-ngiang di telinga.


Aeleasha akan bosan pada pria tua membosankan sepertimu suatu saat nanti dan akan menyadari bahwa pria muda jauh lebih menggoda.


'Sialan, Rafael! Hanya karena dia berkata seperti itu, aku sampai tidak bisa hidup tenang karena berpikir jika istriku akan bosan padaku dan pergi dengan kembali pada Rafael. Awas saja nanti saat aku ke sana, akan membuat pria berengsek itu babak belur!'


Saat Arsenio sibuk dengan pikirannya dan juga bertanya-tanya tentang hal yang akan ditanyakan oleh Aeleasha, kini terjawab sudah begitu mendengar pertanyaan wanita yang menatapnya dengan tatapan intens.


"Sayang, semenjak kapan kamu menyiapkan kamar ini? Kenapa aku sama sekali tidak tahu? Padahal aku sama sekali tidak keluar dari rumah ini. Aku bahkan 24 jam berada di rumah bersama Arza, tapi tidak tahu jika ruangan ini ternyata kamu siapkan untuk calon putri kita."


"Semoga saja aku benar-benar hamil anak perempuan setelah berkali-kali kamu menghajarku tanpa pengaman."


Sementara itu, Arsenio yang kali ini dihujani banyak pertanyaan dari sang istri, kini hanya terkekeh geli mendengar hal itu, sehingga tidak membuang waktu, ingin memberitahukan hal itu pada Aeleasha.


"Aku menyuruh para pelayan mengurus semuanya saat malam ketika kalian sudah tidur. Setiap jam satu malam, mereka bekerja, mulai dari mengecat dinding, menghias dengan segala pernak-pernik lucu dan foto-foto bayi perempuan dan terakhir pakaian dan segala peralatan bayi.


"Apakah kamu menyukai kejutan dariku? Aku sengaja memberikan kejutan hari ini karena berpikir ini adalah saat yang tepat. Apalagi Arza sedang bersama kakek, jadi tidak akan pernah mengganggu kegiatan kita yang sedang membuat adik untuknya."


Arsenio yang saat ini menatap intens wajah cantik di hadapannya tersebut, langsung meraih telapak tangan dengan jemari lentik itu.

__ADS_1


"Aku harap harapan kita sebentar lagi akan menjadi kenyataan," ucap Arsenio yang saat ini langsung meraup bibir sensual wanita cantik di hadapannya tersebut untuk menyalurkan ungkapan cinta.


To be continued...


__ADS_2