
'Alesha saat ini seperti kehilangan akal karena membuat masalah. Aku jangan yakin jika pria bernama Rafael saat ini menunggu di hotel dan akan murka begitu mengetahui bahwa Alesha berbohong karena ingin bertemu dengan Alex,' gumam Stella yang saat ini sudah berada di luar ruangan..
Ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang tersedia di depan ruangan terbaik Rumah Sakit tersebut. Saat ini, melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Sudah setengah jam semenjak Alesha mendapatkan telpon dari suaminya. Mungkin jika setelah satu jam belum tiba juga di hotel, pasti akan dicurigai. Kenapa aku malah setuju jika Alesha bersama dengan pria bernama Rafael itu?'
'Mungkin karena hubungan antara Alex dan Alesha memiliki jurang pemisah yang sangat dalam, yaitu Restu orang tua. Harusnya Alesha tahu bahwa hidup berumah tangga akan tidak tenang dan mendapatkan masalah jika orang tua tidak setuju. Apalagi wanita yang selalu disebut mak Lampir itu sangat membenci Alesha.'
Stella benar-benar sangat pusing memikirkan keadaan yang menimpa sahabatnya dan hanya bisa berdoa agar mendapatkan yang terbaik.
Meskipun ia sangat setuju jika Alesha bersama dengan Rafael yang memiliki seorang ibu yang menyayangi dan juga bisa menerima sahabatnya tersebut sebagai menantu.
'Sebenarnya masalah ini akan selesai jika Alesha jujur pada Rafael dan menuntut pertanggungjawaban karena telah merenggut kesucian. Meskipun terdengar konyol karena apa yang dipertanggungjawabkan saat status mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.'
Stella berpikir bahwa sahabatnya tersebut terlalu menjadikan masalah sepele menjadi rumit, tapi tidak bisa berbicara selantang itu karena mengetahui bagaimana perasaan Alesha yang sampai sekarang masih sangat mencintai pria di dalam ruangan tersebut.
"Alex juga sangat mencintai Alesha, tapi sepertinya takdir sama sekali tidak berpihak pada hubungan mereka karena Tuhan yang lebih berkuasa atas semuanya dan bisa saja menghancurkan hubungan siapapun, termasuk sahabatku."
Tidak ingin mengambil pusing masalah yang dihadapi oleh sahabatnya, saat ini Stella memilih untuk memeriksa media sosial miliknya dan menyibukkan diri agar tidak bosan ketika menunggu sahabat tengah berduaan dengan kekasih gelap saat status sudah sah menjadi istri pria lain.
Meskipun status mereka berdasarkan surat perjanjian semata, tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan yang terjadi kemarin sudah sah.
Sementara itu, Alesha yang saat ini melihat Alex melambaikan tangan agar ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, kini menuruti perintah pria yang sangat dicintai tersebut.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Alex yang saat ini meraih telapak tangan Alesha dan mencium punggung tangan dengan jemari lentik itu.
__ADS_1
Sementara itu, Alesha hanya membiarkan perbuatan Alex karena jujur saja ingin sekali menghambur memeluk tubuh pria yang sangat dikhawatirkan tersebut, tetapi sekuat tenaga menahan diri agar tidak melakukannya.
'Jika aku memelukmu, tidak akan bisa menahan perasaanku dan pasti menangis tersedu-sedu dipelukanmu, Alex,' gumam Alesha yang kini hanya bisa berakting seperti tidak terjadi apapun antara ia dan Rafael.
"Kenapa kamu selalu tidak berhati-hati saat mengemudi? Bahkan mengalami kecelakaan dan berakhir amnesia disosiatif dan sekarang kakimu seperti ini." Alesha mengangkat tangan untuk menyentuh kaki Alex. "Pasti sakit sekali."
"Tidak sesakit saat kamu meninggalkanku menikah dengan pria itu." Alex yang masih tidak melepaskan genggaman tangan sambil menatap dengan intens wanita yang sangat dicintai.
"Aku sudah mengingat semuanya dan perasaanku padamu sama sekali tidak berubah, Sayang. Kamu masih ingat janjimu padaku, bukan? Satu bulan ... aku akan menunggumu berstatus janda." Alex berbicara sambil mengusap lembut punggung tangan Alesha.
Alesha yang mendengar kalimat terakhir dari pria dengan perban di dahi tersebut, hanya bisa menelan kasar saliva dan merasa sangat bingung harus bagaimana. Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya setelah hari ini.
Apalagi jika harus menjawab pertanyaan dari Alex. Namun, karena tidak ingin membuat pria itu khawatir ketika kondisi sedang tidak baik-baik saja, akhirnya berakting tersenyum dan menganggukkan kepala untuk membenarkan.
"Satu bulan lagi, kamu sudah bisa berjalan, kan? Bagaimana mungkin aku meninggalkan seorang pengusaha sukses demi pria cacat sepertimu?" Alesha sengaja bercanda untuk menguraikan suasana di dalam ruangan perawatan tersebut.
"Jaga bicaramu, Sayang!" Alex sama sekali tidak menyangka jika Alesha akan berbicara seperti itu dan tentu saja membuatnya merasa sangat marah sekaligus kesal, sehingga tidak bisa menahan diri.
Bahkan ia sudah melingkarkan tangan pada punggung serta pinggang ramping wanita yang sudah terjatuh di atas tubuhnya. "Aku seperti ini karena ingin melihatmu. Jadi, kamu harus bertanggung jawab padaku dan tidak boleh lari. Apalagi jika sampai tetap bersama pria itu."
Alesha hanya bisa terdiam dan bisa mendengarkan detak jantung yang melebihi batas normal tersebut karena dikuasai oleh kekesalan. Ia ingin sekali menangis di sana untuk mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakan, tapi lagi-lagi menyadari bahwa tidak ingin menambah beban pria yang dicintai.
"Sepertinya kamu benar-benar sangat mencintaiku dan takut kehilangan wanita yang merupakan bekas sugar baby ini. Padahal ada banyak pria yang mengatakan bahwa aku tak lebih dari wanita murahan. Namun, sepertinya kamu adalah satu-satunya pulau bodoh di dunia ini karena sangat mencintaiku."
Alesha tidak pernah bisa melupakan penghinaan dari Rafael yang dulu menyebutnya tak lebih dari seorang pelacur, tapi selalu menjadi seorang wanita yang istimewa di depan pria yang seolah tidak mau melepaskan dekapan tersebut.
__ADS_1
Alex yang saat ini masih memeluk erat wanita di atasnya, sangat tidak suka dengan perkataan tersebut, sehingga kini mengusap beberapa kali punggung Alesha.
"Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu. Jangan mengulanginya lagi. Bagiku, Alesha Indira tetaplah wanita yang kucintai. Bukan seorang wanita murahan seperti yang kamu bilang."
Tentu saja saat ini sudut bibir Alesha melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman manis. Ia selalu merasa menjadi ratu saat bersama Alex. Sebenarnya ia ingin lebih lama bersama pria itu, tapi menyadari bahwa waktunya tidak banyak karena Rafael pasti akan sangat marah padanya dan kembali menghinanya karena bertemu dengan Alex.
"Baiklah. Aku tidak akan berbicara seperti itu lagi karena tadi hanya mengungkapkan apa yang selama ini kualami, agar kamu mengerti bahwa ada banyak pria yang menganggapku adalah seorang wanita ...."
Alesha tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya sudah dibungkam oleh tangan Alex yang seolah mengetahui akan berbicara apa.
"Hiduplah tanpa perlu memenuhi semua ekspektasi orang lain karena mereka tidak akan puas atas apapun yang terlihat darimu. Fokus pada kebahagiaan diri sendiri tanpa memikirkan pandangan orang lain yang sangat tidak penting itu."
Alex yang baru saja menutup mulut, melepaskan tangan yang tadi digunakan untuk membungkam bibir sensual yang selama ini menjadi candunya. Namun, ia beralih meraba setiap sudut bibir yang ingin diciumnya.
"Rasanya aku ingin menciummu, Sayang. Bukankah kamu menikah dengan Rafael hanya demi mengelabui publik, kan?"
Alesha seketika mengangkat tubuhnya dengan kini menarik diri dan menatap arah pria yang baru saja mengatakan hal yang selama ini dirahasiakan.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan Rafael dan ia pernah dikaitkan dengan penyuka sesama jenis. Setelah gosip itu, ia meresmikan hubungan denganmu. Aku aku sangat yakin jika Rafael membayarmu untuk bekerja sama demi membersihkan nama baiknya."
"Itulah kenapa kamu menyuruhku untuk menunggu satu bulan karena memiliki perjanjian atau kontrak selama itu, bukan? Jadi, meskipun kalian berdua sudah menikah, sama sekali tidak terjadi apapun dan akan bercerai setelah satu bulan."
Alesha ingin sekali membenarkan perkataan dari Alex karena memang sebagian benar meskipun tidak sepenuhnya. Namun, setelah melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri, Alesha merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
'Apa yang harus kulakukan sekarang, Alex? Apakah kamu akan tetap mencintaiku setelah aku jujur padamu?' gumam Alesha yang saat ini tengah mempertimbangkan apakah ia harus jujur atau menyembunyikan semuanya dari pria yang saat ini masih menatap dengan intens dan menunggu jawaban darinya.
To be continued...