
Saat melihat wajah memerah Alesha, tapi saat tidak menjawab ketika ditanya, tentu saja membuat Rafael kesal. Ia ingin mengetahui apa yang ada di dalam pikiran seorang Alesha saat wajahnya memerah ketika ia mengungkapkan hal yang sebenarnya.
"Sepertinya kamu tidak ingin mengakui kenyataan bahwa tidak ada pria sebaiknya aku yang bisa menahan diri saat bersama seorang wanita di dalam kamar."
"Kamu tidak tahu bahwa aku dulu sering menidurkan ashar di ranjang yang sama dengan Aealeasha, tapi sama sekali tidak ada yang terjadi di antara kami. Di mana ada pria seperti ini? Hanya ada satu di hadapanmu."
Rafael ingin mendapatkan sebuah pengakuan dari wanita yang sudah melihat kebenaran mengenai dirinya, tapi seolah merasa gengsi mengakuinya dan hal itu membuatnya kesal.
Saat Alesha tidak ini berdebat untuk mencari pembenaran dengan mengatakan hal yang sesungguhnya terjadi di malam pengantin, kini hanya menganggukkan kepala.
"Iya, aku percaya pada semua yang kau katakan. Apa sekarang kamu puas mau mendengarnya? Tingkahmu seperti seorang anak kecil saja yang tidak tahu arti mengalah." Alesha akan menjawab dengan menghembuskan napas seolah membuktikan bahwa saat ini tengah kesal.
Hingga ia pun berjenggit kaget ketika mendengar suara seorang wanita paruh baya yang baru saja membuka pintu gerbang.
"Siapa kalian? Apa kalian ingin mesum di sini? Jangan macam-macam di tempat ini karena akan melaporkan kalian jika sampai melakukannya!" sarkas pria dengan mengenakan daster kedodoran berwarna hijau.
Bahkan mengarahkan tatapan tajam pada pria dan wanita yang duduk bersebelahan serta melirik koper di dekat pintu.
Alesha yang sangat terkejut, seketika berangkat berdiri dan ini menjelaskan bahwa tuduhan wanita itu tidak benar. Ia pun langsung mengulurkan tangan untuk memberitahu semuanya.
"Anda pasti adalah pemilik dari tempat kos ini. Perkenalkan! Saya adalah teman Aila yang tinggal di kamar ini. Saya di sini karena ada urusan dengannya, tapi Aila sedang keluar."
Saat Alesha ingin mendengar tanggapan dari sang pemilik tempat kos tersebut, seketika mendengar suara dari Rafael yang ternyata sudah berdiri di dekatnya.
"Saya tidak mungkin berbuat mesum di sini, Nyonya." Kemudian Rafael yang tadi langsung mencari foto-foto mengenai pernikahannya, seketika menunjukkan sebagai bukti perkataannya.
"Kami bahkan sudah menikah, Nyonya. Lagipula bisa memastikannya sendiri di media sosial Anda." Kini, Rafael mengeluarkan kartu nama setelah wanita paruh baya tersebut tidak lagi berbicara dengan nada suara tinggi seperti beberapa saat yang lalu.
"Ini adalah kartu nama yang bisa dicek keasliannya dan bisa Anda pegang apa yang saya katakan tadi benar. Seperti yang dibilang istri saya, tengah menunggu teman baiknya karena ada urusan."
__ADS_1
Saat baru saja Rafael menutup mulut, di saat bersamaan mendengar pintu gerbang yang dibuka dari luar dan menimbulkan suara.
Ia melihat sosok wanita dengan penampilan memakai dress di bawah lutut berwarna hitam dan mengetahui siapa, sehingga kini merasa lega karena tidak akan lagi dituduh sebagai pasangan mesum yang berbuat tindak asusila.
"Ibu kos Reni ada di sini?" tanya Aila yang baru saja tiba.
Ia tadi hanya mengikuti acara sebentar dan beruntung karena tidak terlalu lama melayani pria yang menyuruhnya pulang. Jadi, pulang ke tempat kos tanpa mampir ke mana-mana karena khawatir pada sahabat baiknya sudah menunggu terlalu lama.
Kini, ia melihat ada aura penuh ketegangan di antara tiga orang yang ada di hadapannya. Hingga melirik ke arah sahabatnya untuk meminta jawaban dan mengetahui apa yang sedang terjadi.
Penjelasan dari wanita paruh baya dengan tersebut membuat Ayla mengerti dan ingin membela sahabatnya.
"Benar mereka temanmu?" tanya Reni yang sebenarnya merasa curiga ketika melihat ada sebuah koper yang menandakan milik salah satu diantara wanita atau pria di hadapan.
"Iya, Ibu kos. Ini adalah Alesha dan di sebelahnya merupakan suaminya yang menjadi pemimpin perusahaan besar." Saat Aila mencoba untuk membela serta membenarkan, kini melihat wanita paruh baya tersebut menunjuk ke arah koper di sebelah pintu.
Diandra kali ini benar-benar terlihat seperti seorang pencuri yang takut ketahuan. Penjelasan mengenai ia adalah istri dari Rafael membuatnya bingung menjawab masalah koper miliknya dan berniat untuk tinggal di tempat sahabatnya untuk sementara waktu.
Karena tidak ingin sahabatnya terkena masalah karena dirinya, sehingga saat ini Alesha berbohong meskipun akan merasa malu di depan Rafael.
"Itu adalah milik kami, Nyonya karena baru pulang liburan dan ada hadiah untuk Aila." Kemudian ia beralih menatap ke arah Rafael untuk mencari pembelaan. "Iya, kan, Sayang?"
Bahkan Alesha yang mengarahkan tatapan mata untuk memberikan sebuah kode pada Rafael agar segera mengiyakan perkataannya demi melengkapi aktingnya.
Hingga ia melihat seulas senyuman dari bibir pria yang kini malah merangkul pundaknya dan menganggap bahwa saat ini mencari sebuah kesempatan dalam kesempitan.
'Licik sekali si berengsek ini. Kenapa pakai pegang-pegang segala? Apa bicara tanpa melakukan itu tidak bisa?' gumam Alesha yang seketika terkejut saat sesuatu hal yang tidak pernah diduga ataupun dipikirkan baru saja tertangkap indra pendengaran dan membuatnya kebingungan.
Mendengar kata hadiah, membuat Reni merasa tertarik dan seketika mengungkapkan keinginannya karena berpikir bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
__ADS_1
"Wah ... apa ada hadiah untukku juga? Bukankah selain memberikan sebuah hadiah untuk temanmu, ibu kos biasanya juga kebagian dapat jatah?" Reni kini tersenyum simpul dan berharap jawaban iya dari pasangan suami istri di hadapannya.
Sementara itu, Aila yang melihat ada sesuatu hal yang tidak beres terjadi pada sahabatnya karena ia sangat mengenal Alesha, kini segera memberikan paper bab di tangannya.
"Itu pasti, Ibu kos. Tenang saja, nanti kuantarkan ke rumah. Ini ada sesuatu dari saya. Hanyalah hal kecil," ucap Aila yang tadi mendapatkan sebuah souvernir di acara pesta yang dihadiri dengan sugar daddy-nya.
Melihat paper bag yang tidak tahu apa isinya, kini Reni mengintip sesuatu di dalamnya dan tersenyum senang.
"Wah ... terima kasih, Aila. Kalau begitu nanti antarkan saja hadiah dari temanmu ini ke rumah. Sekarang kalian bicara saja, aku tidak akan menggangu." Kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat kos setelah memberikan kode pada pria dan wanita itu.
Begitu melihat siluet belakang wanita yang sudah pergi dari hadapannya, seketika membuat Alesha mengempaskan tangan dari pundaknya.
"Tidak perlu merangkul segala untuk berakting di depan orang lain. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya! Sekarang pulanglah! Aku akan ada di sini bersama Aila." Alesha mengibaskan tangannya karena jujur saja saat Rafael merangkulnya tadi, merasa jantungnya seperti hendak keluar dari tempatnya.
"Paling tidak jangan permalukan aku di depan temanmu!" ucap Rafael yang kini melihat Aila. "Jaga temanmu baik-baik!" Rafael tahu bahwa endingnya wanita yang dirangkulnya akan kesal.
Hingga ia pun berbicara dengan sinis dan tidak panjang lebar langsung pergi dari hadapan dua sahabat itu menuju ke arah mobilnya.
Kali ini ia berpikir mungkin tidak akan kembali melihat lagi sosok wanita yang lagi tinggal di kamarnya seperti beberapa minggu terakhir ini.
Sementara saat ini Alesha dan Aila sama-sama bersitatap ketika melihat sikap dingin seorang pria yang baru saja menghilang di balik pintu gerbang.
Kemudian Aila membuka suara setelah dirasa aman untuk meyakinkan diri sendiri tentang pemikirannya. "Apa kalian sudah bercerai?"
"Buka pintunya! Aku sangat lelah," ucap Alesha yang ingin segera mengistirahatkan otak dan tubuh di atas kasur lantai sahabatnya.
Ia kali ini tidak ingin menceritakan tentang semua hal mengenai hubungannya dengan Rafael yang kandas di depan pintu karena sangat lelah.
To be continued...
__ADS_1