I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Memilih untuk tidak menceritakan


__ADS_3

Aealeasha yang merasa sangat terkejut dengan pemikiran sang suami memang benar adanya seperti yang dirasakan olehnya, seketika membekap mulutnya karena saat ini bulir air mata sudah lolos tanpa seizinnya.


Ia tidak ingin terdengar menangis oleh sang suami yang ternyata bisa memahami isi hatinya selama ini. Seolah menunjukkan bahwa apa yang dipikirkannya bisa dibaca oleh sang suami yang sangat dicintainya tersebut.


Hingga ia merasa sangat yakin jika pria itu sangat mencintainya dan merupakan jodohnya di dunia. Apalagi mengetahui bahwa jodoh itu selalu bisa merasakan apa yang dipikirkan oleh pasangan.


Seolah memiliki ikatan batin yang sangat kuat dan membuat mereka saling memahami. Saat Aealeasha menahan sekuat tenaga agar suara tangisannya tidak terdengar oleh sang suami, tapi gagal melakukannya karena tubuhnya lunglai dan berjongkok di lantai.


Ia pun sudah menangis tersedu-sedu karena merasa sangat terharu atas apa yang dirasakan oleh pria yang sangat dicintai.


"Maafkan aku, Sayang. Jangan menangis lagi. Aku sangat takut hal seperti ini terjadi dan melihat wajah sembabmu yang selalu saja merasa bersalah atas perbuatan orang lain."


Arsenio bahkan saat ini mengempaskan tangan karena bisa merasakan kesedihan dari sang istri. Apalagi sangat tahu seperti apa yang dirasakan oleh wanita yang mempunyai usia jauh lebih muda darinya itu.


"Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kita bercerai ataupun hidup terpisah seperti ini. Aku mohon kembalilah ke New York bersama daddy. Kita lupakan semua hal yang berhubungan dengan masa lalu dan memperbaiki hubungan kita dengan memikirkan masa depan."


Aealeasha yang saat ini menangis tersedu-sedu karena merasa terharu saat bahagia karena akhirnya mengetahui seperti apa perasaan suami, kini seketika menoleh ke arah belakang begitu mendengar suara bariton dari sang ayah.


"Apa yang kamu lakukan, Sayang? Jangan menyiksa dirimu karena masa lalu. Jika Arsenio ingin bercerai denganmu, kamu bisa tinggal bersama dengan Papa. Masih ada Papa di sini, Sayang." Cakra saat ini berjongkok di sebelah putrinya dan memeluk erat tubuh yang bergetar karena efek menangis.


Ia yang merasa sangat bersalah karena gagal menyembunyikan hal paling menyakitkan itu, sehingga berpikir akan menebus kesalahan dengan selalu ada untuk putrinya.


Bahkan ingin sekali marah pada menantu yang telah membuat putrinya menangis, tapi juga menyadari bahwa Arsenio tidak bersalah dalam hal ini.


Aealeasha masih tidak bisa menghentikan tangisannya meskipun sudah membuat kesalahpahaman diantara sang ayah dan menantu yang dianggap menyakitinya.


Ia kini menggelengkan kepala untuk menjawab sang ayah. "Aku akan kembali ke New York secepatnya, Pa. Aku tidak ingin tersiksa seperti ini karena hidup jauh dengan suami. Suamiku ingin aku kembali ke sana dan memulai hidup baru tanpa memikirkan masa lalu."


Tentu saja mengetahui hal tersebut, seketika membuat Cakra langsung memeluk putrinya untuk mengungkapkan rasa haru yang dirasakan.


"Alhamdulillah. Akhirnya kamu tidak menjadi korban dari perbuatan ibumu, Sayang." Mengusap lembut punggung putrinya dan berteriak agar terlihat di seberang telpon tersebut mendengar suaranya.

__ADS_1


"Aku sangat bangga sekaligus salut padamu, menantuku. Aku tidak menginginkan apapun selain kau membahagiakan putriku selamanya," ucap Cakra yang saat ini tengah menatap ke arah ponsel di tangan putrinya.


Hingga suara bariton dari seberang telpon kembali terdengar seperti seseorang yang menahan tangis karena sangat serak.


"Aku ingin hidup bahagia bersama Aealeasha tanpa tersiksa dengan masa lalu karena dari dulu sudah merasakannya. Aku ingin membebaskan dendam yang tidak akan pernah membuat orang tuaku bahagia di surga sana. Aku akan selalu mencintai istri dan anakku. Jadi, cepat kembalilah ke sini, Sayang."


Aealeasha bahkan saat ini menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Ia seolah melupakan bahwa sang suami tidak akan bisa melihatnya.


Hingga ia pun mendengar suara bariton dari Rafael yang datang dari belakang dan terlihat merekam wajahnya yang sembab dan pasti sangat jelek hari ini.


"Alhamdulillah mantan istriku kini kembali hidup bahagia. Aku ikut senang dan pastinya istriku juga merasa bahagia melihatmu kembali bersama Arsenio."


Rafael berencana untuk langsung menunjukkan video yang diambilnya karena tadi diam-diam merekam semua pembicaraan antara 3 orang itu.


"Arsenio, aku salut dan sangat menghormatimu!" teriak Rafael saat ini mulai mengagumi pria yang dulu telah merebut Aealeasha darinya.


Jika dulu hanya kebencian yang dirasakan pada pria itu, sekarang ia merasa sangat salut pada kebesaran hati seorang Arsenio yang tidak mempermasalahkan mengenai masa lalu menyakitkan yang dialami.


Sementara itu di New York sana, Arsenio tersenyum simpul dan merasa lega karena semua masalah yang menimpanya kini sudah bisa diselesaikan.


'Masa lalu yang kelam tidak akan menghalangi kebahagiaan kami di masa depan. Karena aku lebih memilih masa depan daripada masa lalu karena ibu dan ayahku pasti akan berkata seperti itu juga.'


'Karena tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin anaknya hidup menderita,' gumam Arsenio yang saat ini memilih untuk bertahan pada masa depan demi bisa membahagiakan istri dan anaknya.


Ia tidak ingin putranya menjadi korban dari keegoisan orang tua dan mengalami nasib yang sama sepertinya karena tidak merasakan keluarga yang lengkap.


"Terima kasih, Rafael. Oh iya, kamu harus berterima kasih padaku karena akhirnya bersatu dengan istrimu," teriak Arsenio yang kini tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, Rafael kini mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Arsenio. "Apa maksudnya?" Menatap ke arah Aealeasha.


Aealeasha yang saat ini bisa mendengar suara bariton dari sang suami, hanya diam saja karena sibuk membersihkan bulir air mata di wajahnya.

__ADS_1


"Ceritakan mengenai ideku yang mendapatkan dukungan darimu, Sayang. Aku harus meeting sekarang. I love you."


"I love you too." Aealeasha kini mematikan sambungan telpon.


Ia bangkit berdiri dari posisinya yang berjongkok dan sang ayah melakukan hal sama sepertinya.


"Cepat jelaskan apa maksud suamimu itu, Aealeasha!" tanya Rafael yang kini sudah tidak sabar ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


Bahkan saat ini ia merasa ada sesuatu yang sangat mencurigakan dan berharap bisa segera mengetahuinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Putriku? Kenapa Arsenio berbicara sangat tidak jelas?" Cakra bahkan saat ini juga merasa penasaran dan ingin mengetahui semuanya.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Aealeasha menceritakan mengenai ide dari sang suami dan juga mendapatkan persetujuan darinya mengenai menaruh obat perangsang di minuman agar keduanya melakukan hubungan suami istri meskipun melakukan sebuah pernikahan kontrak.


Beberapa saat kemudian, ia mengakhiri ceritanya dan menata intens wajah pria dengan rahang tegas tersebut. "Jadi, begitu ceritanya, Brother. Bisa dibilang, semua ini kami lakukan demi kebaikan kalian. Akhirnya rencana kami sukses membuat kalian hidup bahagia."


Aealeasha pun bertepuk tangan dan tertawa. Seolah langsung melupakan jika ia baru saja menangis tersedu-sedu. Namun, ia melihat respon dari Rafael yang sangat berbeda.


Rafael yang tadinya menyalahkan diri sendiri karena mabuk, sehingga melakukannya pada Alesha, seketika kini tertawa terbahak-bahak.


Ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata semuanya adalah perbuatan mantan istri dan suaminya.


"Wah ... luar biasa. Ternyata aku dan Alesha kalian anggap hanya orang-orang bodoh, ya. Aku sangat yakin jika istriku tahu, ia pasti akan marah pada kalian."


Namun, Rafael menyadari jika ia tidak melakukan itu di malam pertama, Alesha benar-benar akan bersatu dengan Alex dan sama sekali tidak mencintainya.


'Aaah ... lebih baik aku tidak mengatakan ini pada istriku daripada nanti marah. Apalagi hubungan kami sangat baik sekarang. Aku tidak ingin ada masalah yang menimpa keluarga kami.'


To be continued...


"

__ADS_1


__ADS_2