I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Harapan palsu


__ADS_3

Arsenio memang tidak menghindar ketika melihat tangan dengan buku-buku kuat itu mengepal dan mendarat secepat kilat pada perutnya. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika sang asisten juga terkena imbasnya.


Tentu saja ia tahu jika asistennya tersebut sama sekali tidak bersalah karena membantunya untuk berangkat. Apalagi ia memang memaksa dan tidak mempedulikan apapun. Meskipun Rey sudah berulang kali menasihatinya macam-macam tadi.


Satu-satunya hal yang ada di pikirannya tadi hanyalah ingin segera menyusul sang istri yang diam-diam kabur darinya membawa putra satu-satunya. Apalagi saat ia berpikir jika Aeleasha nanti kemungkinan besar bisa dirayu oleh Rafael lagi, sehingga membuatnya merasa sangat khawatir.


Hingga ia mengingat jika Rafael beberapa hari lagi akan menikah dan memang rencananya tidak akan datang, tetapi semuanya berubah ketika sang istri ternyata kembali ke negara asal dan pastinya bisa menghadiri pernikahan mantan suami.


'Jalan satu-satunya agar Rafael tidak menggangu istriku adalah membuat ia menghamili wanita bernama Alesha itu. Aku akan tetap melanjutkan rencanaku untuk memberikan obat perangsang pada saat malam pertama mereka nanti. Ada banyak orang yang bisa kusuruh.'


Saat Arsenio sibuk memikirkan tentang pria di masa lalu sang istri yang ia khawatirkan bisa merebut Aeleasha, sebuah tepukan pada pundaknya dan seketika lamunannya buyar.


Apalagi ketika melihat suara bariton bernada penuh ketegasan dari sang ayah, menyadarkan ia dari kebodohan karena sibuk mengkhawatirkan sang istri jika sampai direbut oleh Rafael.


"Sadar dari kebodohan dan kelemahanmu, Arsenio! Cepat masuk ke dalam mobil! Daddy mau bicara!" umpat Adelardo yang saat ini tidak bisa menahan kekesalan saat melihat putranya banyak melamun.


Apalagi di saat keadaan perusahaan yang mengalami banyak masalah, dibutuhkan konsentrasi penuh untuk menyelesaikan. Namun, melihat Arsenio lebih banyak diam, membuat Adelardo ingin membuat Arsenio kembali menjadi seorang pria hebat seperti dulu lagi.


Ia berjalan masuk ke dalam mobil setelah sang supir membuka pintu dan melihat Arsenio melakukan hal sama, lalu duduk di sebelahnya.


"Kita langsung ke perusahaan karena satu jam lagi akan diadakan meeting penting!"


"Baik, Tuan," sahut sang supir yang saat ini sudah menyalakan mesin dan mengemudikan mobil menuju ke arah jalan keluar.


Arsenio hanya diam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh sang ayah. Ia memilih untuk pasrah dan patuh karena memang tidak ada yang bisa dilakukan ketika merasa sangat terpuruk.


Jika dulu ia gila kerja saat kehilangan Aeleasha yang pergi tanpa pesan, tapi hari ini ia tidak yakin bisa melakukannya.

__ADS_1


'Apa aku bisa bekerja saat sudah tidak bersemangat untuk hidup karena tidak ada anak dan istri?' lirih Arsenio yang saat ini menoleh ke arah sang ayah ketika pria itu mengatakan sesuatu.


"Daddy sudah menemukan jalan keluar untuk masalah yang kau hadapi. Mengenai masalah istri dan anakmu, tidak perlu khawatir karena aku yakin jika mereka akan baik-baik saja. Tugasmu hari ini adalah ...."


Adelardo menjeda ucapannya karena ingin melihat respon dari Arsenio yang langsung tertarik untuk mendengarkan dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.


Arsenio awalnya sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan pembicaraan dari sang ayah yang membahas tentang perusahaan saat pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yaitu anak dan istri.


Namun, ia tadi mengingat jika ada meeting penting yang akan dilakukan tanpa sepengetahuannya, sehingga berpikir jika hari ini sang ayah turun tangan langsung untuk membantunya menghadapi tatapan penuh penghakiman dari para pemegang saham di perusahaan.


"Apa yang harus kulakukan, Dad?"


"Tugasmu hari ini adalah mengambil kepercayaan dari semua orang dengan ini!" Adelardo meraih tablet di dalam tas kerja dan menyerahkan pada Arsenio.


"Pelajari itu selama dalam perjalanan dan kau harus menjelaskan semua yang tertera di sana saat meeting nanti!"


"Apa semuanya sudah dihubungi?"


"Sudah, Tuan Adelardo. Semua mengatakan akan hadir karena Anda sendiri yang menyuruh dan datang langsung untuk memimpin meeting hari ini."


"Baiklah! Lakukan persiapan sesuai yang kukatakan tadi!"


"Baik, Tuan," sahut seorang wanita yang merupakan sekretaris perusahaan.


Adelardo saat ini menutup panggilan dan tersenyum simpul ketika melihat pria di sebelahnya sudah sibuk mempelajari tentang ide besarnya yang diyakini akan bisa menyelesaikan permasalahan perusahaan.


Hal itulah yang ia sukai dari Arsenio dari dulu karena selalu bisa melakukan apapun hanya dengan sekilas membaca. Adelardo tahu jika putranya itu memiliki otak brilian yang dengan gampang diasah dan menyelesaikan segala permasalahan dengan kepintaran yang dimiliki.

__ADS_1


Hanya saja, kepintaran putranya bisa tiba-tiba menghilang saat memikirkan tentang sosok wanita yang dicintai. Terkadang, wanita memang bisa menjadi penyemangat hidup, tetapi tidak sedikit pula bisa menyebabkan kehancuran.


'Aku tidak ingin kau hancur pada titik terendah karena masalah sepele ini. Akan ada banyak badai yang menghantam kehidupanmu ketika suatu saat nanti kau semakin besar dengan menjadi orang hebat dan lebih dari ini.'


'Sebelum aku mati, kau harus menjadi pria hebat yang tidak gampang dihancurkan. Aku akan mempercayakan semuanya padamu, jadi kau harus bisa mengelola dengan baik karena ada nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan yang sudah susah payah kurintis.'


Adelardo yang hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati, menatap Arsenio yang masih berkosentrasi. Memberikan waktu agar putranya membaca semuanya, sehingga ia saat ini memilih untuk menyandarkan kepalanya pada punggung jok mobil.


Adelardo saat ini mengingat tentang perkataan dari sang dokter yang mengatakan jika nyawanya mungkin tinggal beberapa bulan saja karena ia memiliki kanker stadium akhir.


Awalnya, ia merasa aneh pada tubuhnya yang mengalami perubahan sistem kekebalan tubuh. Hingga tiba-tiba mengeluarkan darah dari hidung dan akhirnya ia memeriksakan diri. Ternyata ia mengalami kanker otak dan harus segera dirawat, tetapi tidak bisa melakukannya saat perusahaan terancam bangkrut.


Jadi, ia memilih untuk meminta obat pereda nyeri dan memperlambat efek dari penyakit yang diderita.


Hingga ia pun menoleh pada Arsenio yang baru saja selesai memeriksa projek besar yang akan menjadi secercah harapan bagi para pekerja di perusahaan.


"Aku sudah mempelajari semuanya, Dad. Aku benar-benar sangat kagum pada Daddy karena bisa mempunyai ide luar biasa seperti ini. Aku yakin mereka akan menyetujui ini. Apalagi ini adalah ide dari pemilik perusahaan sendiri, pasti para pemegang saham akan membatalkan niatnya untuk pergi."


Arsenio yang kali ini sedikit merasa lega karena ternyata ada sebuah ide besar dari sang ayah yang akan membantunya untuk keluar dari permasalahan besar itu. Apalagi ia tadi melihat ada sebuah foto menarik di akhir file penting berisi projek besar itu.


"Nanti, katakan saja pada mereka jika itu adalah ide darimu dan menyerahkan padaku cukup lama untuk dipertimbangkan. Jadi, aku akan memberitahu mereka jika butuh waktu setengah tahun untuk menyelesaikan itu."


Adelardo yang saat ini mengerti arti tatapan putranya, beralih membahas poin penting lainnya. "Mengenai foto wanita yang menjebakmu itu, aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku sudah menyuruh pihak IT untuk menyebarkan rekaman video tentang perkataan wanita itu saat mabuk."


Arsenio yang sama sekali tidak mengerti maksud dari sang ayah, kini memilih untuk membuka suara, tapi di saat bersamaan, mendengar suara notifikasi dari ponsel yang ada di saku jas. Ia memberikan sebuah kode pada sang ayah untuk memeriksa pesan terlebih dahulu.


Arsenio berharap ia mendapatkan pesan dari sang istri, tetapi perkataan sang ayah membuatnya menyadari jika itu hanyalah harapan palsu semata.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2