
Setelah istrinya keluar, Arsenio buru-buru berjalan ke lantai tiga untuk menyembunyikan diri di sana. Ia semalam sudah menyuruh semua pelayan untuk liburan dengan memberikan bonus.
Semua itu karena ia hari ini ingin fokus berduaan dan bermesraan dengan sang istri. Menganggap hari ini adalah bulan madu untuk program kehamilan Aeleasha yang menginginkan anak kedua.
Bahkan hari ini ia sengaja mengambil libur dan menyerahkan semuanya pada asisten pribadinya. Ia ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena Arza saat ini sedang tinggal di rumah sang kakek.
Hal itulah yang membuat pagi ini rumah mereka sangat sepi karena pagi sekali sudah berangkat pergi liburan ke villa yang merupakan milik keluarga Adelardo .
Arsenio memilih untuk melepaskan kaos casual dan melempar ke sembarang arah. Ia melanjutkan untuk melepaskan semua penutup tubuhnya karena ingin mandi di bawah guyuran air dingin.
Ia sudah menyiapkan ruangan khusus di lantai paling atas sebagai tempat untuk ia bercinta dengan Aeleasha. Ruangan itu sudah dihiasi dengan segala pernak-pernik lucu khas bayi perempuan dan didominasi oleh warna pink.
Beberapa menit kemudian, ia sudah terlihat sangat segar dan mengenakan jubah handuk berwarna hitam. Bahkan bulir air masih menetes di wajahnya dan malah memperlihatkan seperti pria paling bahagia hari ini.
Arsenio melihat penampilannya di depan cermin dan sudut bibirnya melengkung ke atas begitu melihat wajah yang berbinar. Bahkan ia menyadari bahwa sudut bibir melengkung ke atas dari tadi menghiasi wajahnya.
Kini, masih membiarkan penampilan rambutnya yang berantakan dan tidak berniat untuk menyisir.
Ia merasa jauh lebih memesona dan seksi dengan penampilan berantakan daripada kesan rapi tapi membosankan yang selalu dikatakan oleh sang istri.
Ruangan itu memang sudah disulap olehnya tanpa sepengetahuan Aeleasha karena menyuruh para pelayan mengerjakan setiap malam.
Ia beralasan Aeleasha tidak boleh masuk karena beralasan bahwa itu adalah ruangan sang ayah yang mempunyai banyak kenangan dan tidak ada yang diizinkan masuk ke dalam selain kepala pelayan yang membersihkan.
Padahal ruangan itu dulunya merupakan tepat ia menyimpan rahasia besar yang selama ini disembunyikan. Di sana, ada pakaian milik Aeleasha yang beberapa tahun lalu ditinggalkan setelah ia memperkosa.
Ya, sudah bertahun-tahun, tapi masih menyimpan itu di dalam gantungan lemari kaca di sudut ruangan itu.
__ADS_1
Nasib baik sang istri percaya dan tidak pernah membahas tentang ruangan kamar tersebut. Ia kini sudah mengamati ruangan dengan nuansa pink yang ada di hadapannya. Ada banyak foto-foto bayi perempuan di dinding dan beberapa pakaian lucu dan cantik dengan warna terang yang menggemaskan.
Arsenio kini menatap ke arah ranjang yang belum pernah dijamah tersebut, tapi hari ini akan ia habiskan waktu untuk mengungkapkan perasaannya melalui setiap sentuhan. Bukan lagi bualan atau rayuan karena tindakan akan jauh lebih bermakna saat proses untuk menghamili sang istri.
Kemudian berjalan menuju ke arah laci besar yang jauh lebih tinggi darinya dan di sana ada banyak sekali perlengkapan bayi perempuan dan akan digunakan untuk membuat sang istri semakin bertambah bersemangat untuk segera hamil anak perempuan.
"Aku ingin kamu bersemangat untuk hamil lagi, Sayang. Bahkan aku diam-diam konsultasi dengan dokter mengenai tentang membuatmu hamil anak perempuan."
"Pagi ini, aku akan membuatmu menjerit tanpa menahan diri saat aku membuatmu mencapai puncak, Sayang karena di rumah ini tidak ada siapapun dan membuatmu bebas mengekspresikan diri sepuasnya saat kita meledak dalam ledakan gairah bersama."
Arsenio kini mengambil pengharum ruangan dan memasang di beberapa sudut ruangan, lalu menyalakan pendingin ruangan. Kemudian mulai memilih sesuatu yang nanti akan ia gunakan untuk menyiksa istrinya sebelum melakukan hal paling inti.
Sementara itu di sisi lain, Aeleasha yang semakin ketakutan, kini merasa ingin khawatir jika ada penculik atau perampok yang tiba-tiba datang ke rumah. Kemudian berbuat jahat padanya dan mungkin akan menyakitinya dan juga menghabisi sang suami karena tidak ada di dalam setiap ruangan.
"Astaga! Ke mana sebenarnya dia? Apakah dia sengaja melakukan ini padaku untuk menakutiku?"
"Iya, Nyonya. Apa ada yang Anda butuhkan?"
"Astaga! Kau sekarang ada di mana? Kenapa semua pelayan menghilang dari rumah ini? Suamiku juga tiba-tiba menghilang!" umpat Aeleasha dengan perasaan berkecamuk dan penuh kemurkaan.
Ia kali ini tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah karena butuh pelampiasan untuk meluapkan kekesalannya. Hingga suara jawaban dari seberang telepon membuatnya membulatkan mata.
"Tuan Arsenio menyuruh kami untuk libur hari ini, Nyonya. Tuan pasti ada di salah satu ruangan. Anda bisa mencarinya."
Aeleasha yang kali ini mengerjapkan kedua mata berkali-kali karena merasa sangat terkejut dengan perkataan dari kepala pelayan.
"Apa? Libur? Baiklah kalau begitu, aku akan mencarinya. Bersenang-senanglah hari ini bersama yang lain. Aku akan bertanya apa maksud dia menyuruh pelayan libur semua hari ini."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Aeleasha yang kini langsung mematikan sambungan telpon begitu mendengar jawaban dari kepala pelayan. Saat ini langsung berjalan menyusuri lantai dingin dengan kaki telanjang.
Tentu saja istana yang begitu besar tersebut memiliki banyak ruangan dan membuatnya agak kesusahan untuk mencari keberadaan dari sosok pria yang membuatnya merasa sangat kesal hari ini.
Ia sengaja tidak berteriak untuk memanggil karena ingin melihat sedang apa pria itu. Hingga satu persatu ruangan ia masuki, tetapi tidak menemui sosok pria yang dicari.
Naik turun anak tangga membuat deru napas memburu terdengar dari mulutnya saat ini. Kali ini bertambah kesal karena tidak kunjung menemukan pria yang dicarinya.
"Ada di mana dia? Kenapa tidak ada di lantai satu hingga dua?"
Aeleasha yang saat ini berdiri di anak tangga lantai tiga, berniat untuk meneruskan pencarian ke lantai paling atas dan mengingat sesuatu.
"Apa ia sedang berada di ruangan itu? Ruangan yang menyimpan semua kenangan mengenai daddy? Iya, sepertinya ia saat ini ada di sana."
Aeleasha yang saat ini tengah menatap ke arah lantai atas, kini memilih untuk kembali menaiki anak tangga menuju ke lantai tiga dan sibuk bertanya-tanya di dalam hati.
"Apa ia tidak marah jika aku masuk dan melihatnya?"
Berbagai macam pertanyaan yang kini menari di pikiran Aeleasha dan sekaligus rasa khawatir jika sang suami nanti marah karena ia masuk ke dalam, sehingga merasa sangat ragu.
'Lebih baik aku nanti mengetuk pintu dulu, agar dia tahu kedatanganku dan bisa memutuskan aku boleh masuk atau tidak.'
Kini, ia kembali melanjutkan langkah dan memantapkan hati untuk melihat Arsenio di ruangan yang dilarang untuk dimasuki oleh orang lain kecuali kepala pelayan.
To be continued...
__ADS_1