
Masih mendengar suara teriakan bernada kemurkaan dari ayah angkatnya, Arsenio saat ini dikuasai oleh kebimbangan karena ia ingin sekali menyusul sang istri dan anak.
Namun, saat ini perkataan dari sang ayah memang ada benarnya karena pada kenyataannya, ada ratusan orang yang bergantung pada perusahaan.
Jika sampai bangkrut gara-gara masalah yang mengaitkan nama baiknya, akan ada banyak orang yang dipecat dan pastinya tidak akan bisa menjadi pemimpin keluarga yang harus menanggung kebutuhan anak dan istri.
Hingga ia ikut membuka suara dengan sangat menyayat hati ketika menyatakan bahwa nasib rumah tangganya sedang tidak baik. Bahkan bagaikan telur diujung tanduk yang bisa kapan saja pecah jika sampai tidak segera diselesaikan.
Apalagi besar kemungkinan jika ia memilih untuk menunda-nunda menyelesaikan kesalahpahaman diantara ia dan sang istri, risiko terbesarnya adalah bisa kehilangan wanita yang sangat dicintai.
Benar seperti yang dikatakan oleh sang asisten bahwa seseorang akan terlihat jauh lebih berharga ketika sudah pergi meninggalkan.
Jika ia awalnya ingin menceraikan sang istri karena merupakan putri dari wanita yang telah membuat orang tuanya meninggal, kini berubah pikiran setelah menyadari tidak bisa hidup tanpa anak dan istri.
"Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi nasib para pegawai perusahaan? Apa tidak bisa Daddy saja yang mengambil alih perusahaan karena aku ingin mengundurkan diri dan hidup sebagai manusia biasa saja. Aku ingin kembali ke negara asalku saja dan hidup bersama anak dan istri dengan damai."
"Aku ini hanyalah pria bodoh dan lemah seperti yang Daddy katakan karena tidak bisa melawan Nick. Bukankah Daddy tahu kalau dalam dibalik semua ini adalah dia?"
Arsenio saat ini memilih menyingkir untuk menepi ketika berbicara dengan sang ayah karena butuh tempat yang sedikit lebih tenang dan jauh dari kebisingan. Ia memberikan kode pada sang asisten agar membawa semua kelengkapannya untuk terbang ke luar negeri.
Kini, Arsenio memilih untuk pergi ke toilet dan mendengarkan kalimat panjang kali lebar dari sang ayah yang mengeluarkan petuah dan membuat ia merasa tidak berkutik.
"Kau bukanlah seorang pengecut saat kukenal pertama kali ketika menolongku. Dulu, kamu rela mengorbankan nyawamu hanya untuk bisa menolongku. Lalu, kenapa setelah mempunyai anak dan istri, berubah menjadi lemah seperti ini?"
"Jika kau adalah Arsenio yang merupakan seorang pegawai biasa, aku tidak akan pernah mempermasalahkan jika berbuat sesuka hati."
"Namun, Arsenio yang sekarang mempunyai tanggung jawab yang besar dengan memiliki banyak pekerja yang menggantungkan nasib dari keluarga mereka padamu. Ingat itu baik-baik, Arsenio. Aku sangat yakin jika Aeleasha mengerti semua itu dan bisa memaklumi. Jadi, kau harus menyelesaikan sendiri dan melawan Nick yang ingin menghancurkan karena mengincar hartaku."
__ADS_1
Arsenio saat ini terdiam dan hanya bisa mengacak frustasi rambut hingga terlihat berantakan. Ia berdiri di depan cermin dan bisa melihat seperti apa keadaannya saat ini yang sangat kacau.
Wajah penuh kantong mata karena kurang tidur ketika memikirkan istri dan anak yang sudah pergi dan juga memikirkan nama baik yang sudah tercemar karena foto-foto palsu hasil rekayasa tersebut.
Ditambah lagi tentang petuah dari sang ayah yang menyuruh untuk memikirkan nasib banyak orang yang bergantung padanya. Ingin sekali ia merasa egois dan langsung pergi tanpa memikirkan apapun.
Ia ingin hanya memikirkan nasib sang istri yang kabur darinya membawa putranya, tetapi tidak bisa melakukannya karena perkataan dari sang ayah sangat mengganggu pikiran, yaitu nasib dari orang-orang yang bekerja di perusahaan terancam dipecat karena harga saham semakin anjlok.
Apalagi kasus sebelumnya sudah membuat beberapa investor ragu untuk menanamkan modal di perusahaannya. Hingga kasus terakhir yang hari ini mencuat, semakin memperburuk keadaan.
"Daddy, aku tidaklah sehebat itu. Mana mungkin bisa menyelesaikan masalah sebesar ini yang diciptakan oleh Nick. Seharusnya dia harus dijebloskan ke penjara untuk bertanggung jawab atas semua yang dilakukan."
Embusan napas kasar terdengar jelas dari bibir Arsenio saat mendengar suara dari sang ayah dan semakin membebaninya.
"Lakukan apapun yang menurutmu benar, Arsenio. Aku percaya padamu. Bahkan kau bisa menjebloskan keponakan tidak tahu diri itu ke penjara, tapi sebelum itu, dia harus melakukan konferensi pers untuk membersihkan nama baikmu. Keluarlah! Aku sudah ada di depan bandara."
Arsenio mengerjapkan mata begitu mendengar kalimat terakhir dari seberang telpon dan di saat bersamaan panggilan terputus.
Arsenio memilih untuk memasukkan ponselnya ke saku celana dan mencuci muka yang sangat kacau. Berharap bisa lebih segar setelah melakukan itu.
Tidak mungkin ia menemui sang ayah dalam keadaan kacau dan berantakan karena wajah penuh kantong mata. Hingga beberapa saat kemudian, ia mengangkat pandangan dan melihat wajah di cermin.
"Ini sedikit lebih baik daripada yang tadi."
Kemudian ia yang merasa lebih baik perasaannya, kini sudah melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar. Di sana, ia melihat sang asisten sudah berdiri di luar toilet dan hendak membuka mulut.
Namun, ia langsung memotongnya. "Aku tahu! Kau tidak perlu mengatakan jika ayahku sudah ada di depan."
__ADS_1
Rey yang saat ini refleks mengangguk perlahan dan tersenyum simpul, kini menyerahkan paspor dan beberapa dokumen lain.
"Sepertinya ini harus disimpan lagi, Tuan Arsenio. Bukankah Anda akan tetap stay di sini setelah dijemput oleh tuan Adelardo?"
Rey tadi memang ditelpon oleh Adelardo yang menyuruhnya untuk segera membawa keluar bandara. Ia tadi mengetahui jika bosnya memilih untuk masuk ke toilet setelah salah satu pengawal memberitahu.
Jadi, ia tidak perlu susah payah untuk mencari keberadaan pria patah hati yang hancur lebur ketika ditinggalkan anak dan istri.
Sementara itu, Arsenio sama sekali tidak menjawab dan membuatnya merasa sangat kesal sekaligus marah karena tidak bisa berbuat apapun saat ini untuk menyelesaikan masalah dengan sang istri.
Hingga ia yang berjalan ke arah depan, sekilas menoleh ke arah sang asisten untuk meminta pendapat.
"Apa aku tidak boleh jika lebih mementingkan nasib rumah tanggaku dibandingkan dengan para pegawai perusahaan yang terancam dipecat?"
Rey saat ini tidak menahan diri untuk mengungkapkan semuanya, sehingga memilih untuk berbicara jujur.
"Jika boleh jujur, saya langsung menjawab tidak boleh karena tuan Adelardo benar. Anda harus menyelesaikan masalah yang terjadi sebelum pergi. Bahkan nona Aeleasha pun bisa mengerti posisi suami yang memang merupakan seorang pemimpin perusahaan besar dan tidak bisa berbuat sesuka hati."
Saat Rey baru saja menutup mulut, ia melihat sosok pria paruh baya dengan tubuh masih tegap berjalan mendekat. Refleks ia mengulas senyuman dan membungkukkan badan sebagai bentuk tanda penghormatan.
"Selamat datang, Tuan Adelardo."
"Aku sama sekali tidak butuh penghormatanmu karena hanya ingin kau bisa bekerja dengan baik bersama putraku."
Adelardo saat ini masih menatap tajam ke arah dua pria di hadapannya yang berhasil menguji kesabaran dan membuat ia ingin sekali mengarahkan kepalan tangannya.
Hingga ia pun benar-benar melakukannya dan membuat Arsenio serta Rey meringis menahan rasa nyeri pada bagian perut.
__ADS_1
"Dasar bodoh dan tidak berguna! Kalian benar-benar membuatku marah!"
To be continued...