
Berbohong lagi untuk kesekian kalinya pada sang ibu karena saat ini Alesha tidak punya nafsu makan. Alih-alih mencari makanan, ia duduk di kursi di depan ruangan, melamun tentang banyak hal.
Alesha saat ini tengah berpikir, bagaimana ia akan memberi tahu ibunya saat akan menikah nanti?
Bagaimana reaksi ibunya?
Lalu, bagaimana pernikahan itu akan berlangsung?
Ini hanya kontrak pernikahan. Itu hanya sandiwara dan statusnya palsu, tetapi untuk beberapa alasan, Alesha merasa itu lebih merepotkan dari pada pernikahan biasa.
'Aku belum memikirkan isi kontrak dan detailnya, lalu harus memikirkan bagaimana menghadapi ibuku. Setelah itu, aku masih harus memikirkan sandiwara sepanjang waktu.'
Saat masih asyik melamun, tiba-tiba dari lorong sebuah suara memanggilnya.
"Alesha!"
Panggilan itu datang dari seorang wanita yang sedang berjalan dengan seorang pria yang seperti biasa, mengenakan pakaian yang begitu rapi.
Siapa lagi kalau bukan Rafael dan ibunya.
Wanita yang duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat inap, seperti biasa, menoleh. Pupil matanya melebar, matanya bekerja untuk memastikan pemandangan itu.
"Mama? Rafael?"
Alesha bergumam pelan. Kepalanya sedikit bergerak, menoleh ke arah ibu dan anak itu yang berjalan beriringan mendekatinya. Kemudian ia mengangkat tubuhnya, bangkit dari kursi.
Wanita paruh baya tersebut menatapnya dengan mata sedih.
Alesha sekarang menggigit bibir bagian dalam sambil menebak isi pikiran wanita itu.
Ia kemudian menyadari dan mengambil langkah untuk mendekat. "Mama mungkin sudah tahu. Maafkan aku. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak gegabah dan berbohong pada Mama."
__ADS_1
Refleks Tiana menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah, Sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf lagi." Wanita itu kemudian mengambil satu atau dua langkah lebih dekat dan menarik Alesha ke dalam pelukannya.
Alesha kini membalas pelukan ibu Rafael. Matanya sekarang bertemu dengan tatapan tajam Rafael yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih. Seolah sedang bermain sandiwara.
Alesha sekarang membalas tatapannya dengan beberapa kali mengerjap untuk memberikan sebuah isyarat bernada perintah, yaitu agar tenang dan menyerahkan semua padanya.
Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan itu. Alesha segera memintanya untuk duduk. Ia kemudian dengan hati-hati menjelaskan status ibunya saat ini kepada wanita paruh baya yang memintanya untuk mengatakan secara detail.
Alesha bercerita tentang kondisi ibunya, mulai dari penyakit, kondisinya yang harus dioperasi, hingga saat ini mengalami kekakuan otot hingga tidak bisa berbicara. Percakapan panjang dan keadaan yang diceritakan Alesha berkali-kali berhasil menyentuh hati Tiana.
Tiana kini menatap Alesha dengan kasihan. Sensasi berdenyut menyentuh hatinya. Betapa disayangkan, pikirnya, tetapi malah mendesak wanita malang itu untuk menikah di saat seperti ini. Ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
Wanita itu kemudian menyentuh tangan Alesha setelah sebuah keputusan terlintas di benaknya.
"Alesha, jika kamu mau, tidak perlu terburu-buru."
Sementara itu, Alesha sekarang mengerutkan kening, tidak mengerti arti dari kata-kata wanita itu yang tiba-tiba.
"Tentang pernikahan. Maaf karena memaksakan kehendak demi ambisi pada putraku."
Seperti mendapat kode dari Alesha, Rafael yang juga tidak tahu apa-apa, hanya mengangkat bahu pada wanita itu karena jujur saja, saat ini pikirannya benar-benar bingung dan tidak ada di sana karena tengah memikirkan sosok wanita lain, yaitu mantan istri yang selama ini berada di London.
Memikirkan apakah mantan istrinya akan sangat senang mengetahui bahwa ia akan menikah, membuat Rafael merasa frustrasi dan hancur lagi.
Tidak ingin ketahuan oleh sang ibu, Rafael menepuk bahu sang ibu lembut dan mengatakan akan pergi ke toilet.
Begitu melihat sang ibu menganggukkan kepala, buru-buru Rafael berjalan menuju ke arah kamar mandi karena ingin menenangkan diri. Semenjak kemarin, tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan mantan istri yang harusnya tidak boleh dipikirkan.
Sementara bau tajam rumah sakit menembus indra penciuman. Di dalam gedung berwarna terang, ada banyak cerita memilukan seperti halnya cerita yang mengharukan.
Mereka telah melewati lorong-lorong yang jika dijelaskan satu per satu akan membuat beberapa cerita. Dari pasien yang baru masuk UGD karena kecelakaan, pasien yang lama dirawat di rumah sakit karena koma, hingga kisah mengharukan dari bayi yang baru lahir menangis dan mewarnai seluruh dunia.
__ADS_1
Tak terkecuali kisah yang tersimpan di balik kamar ibu Alesha.
Tiana tak kuasa menahan rasa kasihan saat mendengar cerita calon menantunya.
Alesha telah membohonginya, tapi Tiana tidak peduli. Mengetahui bahwa wanita muda itu berbohong kepadanya bahwa ibunya sedang dalam perjalanan bisnis untuk menutupi kebenaran.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sang ibu dirawat di rumah sakit dan harus dioperasi, yang membuatnya merasa bersalah sekarang.
Setidaknya di mata Tiana, Alesha adalah wanita yang terlihat sangat dewasa, meski usianya masih muda. Wanita itu bahkan menyembunyikan kondisi keluarganya yang sedang tidak baik hanya agar tidak membuat khawatir orang lain tentang masalahnya.
Namun, melihat kedewasaan wanita itu juga membuat Tiana sangat sedih. Alesha adalah seorang wanita yang sangat muda, tetapi sekarang tampaknya ia telah kehilangan kesempatan masa mudanya untuk bersenang-senang seperti gadis-gadis lain seusianya.
Melihat Alesha sendirian, sudah pasti wanita itu berjuang sendirian dan menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari biaya pengobatan dan perawatan medis untuk ibunya.
Ada rasa bangga dan salut di hati Tiana saat melihat bagaimana wanita itu begitu gigih dan tidak pernah menyerah dengan keadaannya.
Padahal, dalam situasi seperti ini, orang lain mungkin acuh dan memilih untuk meninggalkan semua masalah yang membebani hidupnya sendiri.
Namun, melihat Alesha, ada getaran berbeda yang menyentuh hati Tiana. Wanita itu begitu tegar menghadapi situasi dan kondisi.
Baik keadaan maupun masalah yang menggoyahkan hidupnya.
Ibu Alesha telah sakit selama setahun dan sekarang terbaring sakit parah di ranjang rumah sakit itu. Sementara itu, Alesha harus mencari uang untuk membayarnya.
Alesha bahkan melewatkan kesempatan pendidikannya tahun ini.
Sebagai seseorang yang telah menjalani kehidupan yang sulit dalam kemiskinan, Tiana tentu bisa merasakan bagaimana rasanya berada dalam situasi itu, tetapi begitu ia menjadi seorang ibu, seorang wanita dewasa, merasakan pahit manis kehidupan.
Pengalamannya dalam menghadapi bagian hidup yang pahit dan manis, tentu tidak pantas dijadikan tolak ukur dibandingkan dengan kehidupan Alesha, di mana perempuan tersebut masih sangat muda dan baru menginjak usia dewasa.
Hal itulah yang sangat menyentuh hati Tiana. Di usia yang masih sangat muda, Alesha sudah dipaksa menghadapi semuanya sendirian. Bahkan, ia berbohong kepada orang lain agar orang tidak perlu tahu tentang masalahnya.
__ADS_1
Melihat Alesha sekarang, setidaknya mengingatkannya pada diri sendiri. Saat ditinggal suaminya, ia juga merasa kesulitan karena harus menjalani hidup ini tanpa pasangan di sisinya di masa lalu saat menjadi orang miskin.
To be continued