
Berharap perbuatannya tidak membangunkan pria yang terlihat masih tertidur pulas tersebut.
Namun, meskipun ia berusaha berhati-hati agar pergerakan tidak membangunkan pria yang masih terus memeluk, usahanya sia-sia karena kini indra pendengaran menangkap suara bariton yang menyebut namanya.
Arsenio yang tadinya masih tertidur pulas, merasakan sebuah pergerakan dan membuat alam bawah sadar seketika kembali, sehingga kini ia perlahan membuka mata dan bisa melihat wajah bangun tidur wanita yang masih dipeluk.
Seolah ia tidak ingin melepaskan kuasa dari wanita yang terlihat salah tingkah itu.
"Kamu sudah bangun, Sayang? Ini masih terlalu awal, lebih baik kita lanjutkan tidur." Arsenio semakin mengeratkan pelukan dengan sudut bibir melengkung ke atas karena merasa sangat senang sekaligus bahagia saat bisa tidur dengan wanita yang sangat dicintai.
Sementara itu, hal berbeda dirasakan oleh Aeleasha saat menahan perut yang sudah tidak tahan lagi.
Pada akhirnya, ia lebih memilih mendorong dada telanjang Arsenio untuk menciptakan sebuah jarak. Bahkan ia berusaha untuk mundur ke belakang, meskipun perbuatannya itu hanya sia-sia belaka karena sang suami terus maju dan mengungkungnya.
"Lepaskan tanganmu! Aku mau ke kamar mandi. Aku harus bersiap karena kita hari ini kembali ke New York."
Arsenio yang sama sekali tidak berniat untuk membuka mata dan masih terus memeluk erat tubuh sang istri, hanya berkomentar seadanya.
"Ini masih gelap, Honey. Kamu berbohong ingin pergi ke kamar mandi."
Arsenio merasa bahwa perkataan Aeleasha yang membuatnya bisa menghirup aroma khas strawberry itu hanyalah sebuah kebohongan semata. "Jangan berpikir aku adalah pria yang bodoh!"
Merasa sudah tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi, Aeleasha refleks langsung mencubit dengan keras perut sixpack pria yang enggan melepaskan dekapan.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi!
"Aku tidak bercanda!"
Arsenio yang tadinya sedikit meringis menahan rasa nyeri di perut, kini membuatnya membuka mata dan bisa melihat wajah pucat Aeleasha yang tengah memegangi perut.
"Kamu serius?"
Mendengar pertanyaan Arsenio yang dianggap sangat konyol, membuat Aeleasha langsung berteriak cukup kencang, "Sayang, Cepat! Aku ingin kencing! Astaga!"
Tidak ingin ranjang nyamannya dibasahi oleh air kencing wanita yang sibuk memegangi perut, kini Arsenio melepaskan kuasa dengan membebaskan sosok wanita yang terlihat buru-buru bangkit dari ranjang.
__ADS_1
Begitu Aeleasha turun dari ranjang dan langsung berlari ke kamar mandi, Arsenio hanya diam mengamati siluet wanita yang telah menghilang di balik pintu itu.
Namun, saat mengingat sesuatu yang tadi disampaikan oleh detektif, membuatnya mengarahkan tangan untuk mengambil ponsel.
Kini, jemari dengan buku-buku kuat itu telah lihai mengetikkan pesan di layar.
Sebelum pria itu belum ditemukan, jangan pernah berhenti untuk mencari. Pria itu mungkin merupakan kunci utama yang mengetahui kejadian kecelakaan orang tuaku.
Kemudian Arsenio mengirim pesan tersebut dan masih menunggu hingga dibaca karena setelah itu berniat untuk menghapus.
Namun, belum sempat ia menghapus karena masih belum dibaca, melihat sang istri keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahnya.
Tentu saja ia tidak ingin membuat Aeleasha melihat ponsel di tangan, sehingga langsung menaruh di bawah bantal dan tersenyum.
"Sudah selesai, Honey?"
Sementara itu, Aeleasha hanya mengangguk perlahan dan tersenyum simpul. "Aku akan memeriksa pelayan. Apakah pekerjaan mereka untuk mengemas semua oleh-oleh yang akan kita bawa ke New York sudah selesai atau belum."
"Baiklah, tapi rasanya sekarang tenggorokanku sangat kering. Aku ingin minum air hangat. Apa kamu bisa mengambilkannya untukku, Honey?" Arsenio sengaja berbohong karena ingin membuat Aeleasha pergi untuk sementara dari kamar.
Tanpa membuang waktu, Aeleasha langsung melaksanakan perintah. "Air putih, kan? Aku juga kebetulan haus sekali."
"Iya, air putih saja, Honey. Aku mau ke kamar mandi dulu, jadi merepotkanmu." Berakting sangat menyesal atas perbuatannya dengan menampilkan wajah memelas.
Aeleasha yang merasa bahwa pria itu sangat berlebihan, membuatnya hanya menggerakkan tangan ke hadapan sang suami.
"Tidak masalah, itu hanya hal sepele. Tunggu sebentar, aku ambil dulu minumannya."
"Baiklah, aku ke kamar mandi dulu." Arsenio bangkit dari posisinya dan saat dua langkah menuju kamar mandi, melihat Aeleasha baru saja keluar dari ruangan.
Refleks ia berbalik badan dan kembali mengambil ponsel miliknya. Wajah Arsenio seketika berubah masam karena pesannya belum dibaca maupun dibalas juga.
Tidak ingin asyik menebak-nebak, kini Arsenio langsung memencet tombol panggil dan menunggu hingga beberapa detik dengan sabar. Hingga pada detik-detik terakhir mendengar suara bariton dari seberang telepon yang sangat dihafalnya.
"Halo, Tuan Arsenio."
__ADS_1
"Ke mana saja kamu? Apa kamu dari tadi tidak membuka ponselmu?" sarkas Arsenio dengan ekspresi wajah masam.
Sementara di seberang telepon, pria tersebut hanya memijat pelipis karena pusing karena baru bangun. "Maaf, Tuan Arsenio karena baru bangun, tapi satu yang pasti. Ada kabar yang ada kaitannya dengan pria itu."
"Kabar apa? Cepat katakan!" Arsenio saat ini berbicara dengan suara pelan karena tidak ingin sampai terdengar dari luar.
Apalagi ia tahu bahwa Aeleasha bisa masuk kapan saja. Ia tidak ingin membuat sang istri mendengar pembicaraannya dengan detektif.
"Katakan sekarang."
"Ternyata pria itu merupakan saudara jauh keluarga mertua Anda. Apakah ada kemungkinan mertua Anda mengetahuinya? Atau tidak?"
Kini, Arsenio hanya bisa menggertakkan rahang begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon yang berhasil membuat ia merasa sangat shock.
"Apa kamu yakin itu? Siapa nama pria yang meracau tidak jelas di Club malam dengan mengatakan kejadian tabrak lari?"
Di saat bersamaan, Arsenio seketika menoleh ke arah meja begitu mendengar suara pintu terbuka dan langsung berakting di depan Aeleasha.
"Aku tidak akan pernah membiarkannya bisa bekerja sama dengan perusahaan lain karena tiba-tiba membatalkan kerja sama. Kamu urus semua hingga beres dan kabari aku saat ada perkembangan dari si berengsek yang sangat ingin kuhancurkan hingga menjadi debu!"
Arsenio yang kini melihat Aeleasha masuk dan meletakkan minuman di atas meja. Bahkan ia melihat wanita itu sudah mendaratkan tubuhnya di sofa yang cukup jauh dari tempat berdiri. Seolah tidak ingin mengganggu berbicara serius.
"Baik, Tuan Arsenio Saya mengerti."
Tanpa berniat untuk menanggapi, Arsenio mematikan sambungan telpon karena perhatiannya jatuh pada sosok wanita yang tengah menikmati minuman.
Bahkan saat ini sang istri melambaikan tangan untuk membentuk sebuah kode agar datang mendekat.
'Mertuaku masih ada hubungan dengan pelaku penabrakan orang tuaku? Apakah saat aku bertanya, dia mau menjawabnya?'
Kini, rasa khawatir benar-benar membuat Arsenio tidak bisa mengalihkan pandangan dari sosok wanita yang menunjuk gelas. Ia kini hanya bisa diam dan membuatnya memilih untuk mengungkapkan perasaan di dalam hati.
'Semoga Aeleasha tidak membenciku jika nanti aku membuat perhitungan dengan pelaku yang masih ada hubungan persaudaraan dengan keluarganya.'
'Stay with me, honey. Don't even think about leaving me.'
__ADS_1
To be continued...