I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menenangkan diri


__ADS_3

Keesokan paginya, Alesha terbangun dari alam bawah sadar ketika merasakan bahwa kantong kemih seperti penuh dan harus dikeluarkan. Meskipun sebenarnya kelopak mata terasa sangat berat seperti dilapisi lem dan masih sangat mengantuk, tetapi terpaksa harus bangun ketika ingin ke kamar mandi.


Hingga begitu ia membuka kedua mata, melihat langit-langit ruangan kamar dengan lampu gantung indah dan membuatnya seketika mengerutkan kening dan mencoba untuk mengingat di mana keberadaannya.


Hingga ketika ia sampai pada saat mengingat potongan kejadian ketika Rafael membuka kimono handuk yang membalut tubuhnya setelah mandi, refleks langsung membekap mulut.


Tidak hanya itu saja, kini Alesha menyadari ada tangan yang melingkar di perut datarnya dan refleks langsung menolehkan kepala ke arah sebelah kirinya. Di mana di sana ada sosok pria dengan rahang tegas dan pahatan sempurna masih menutup kedua mata.


Alesha yang seketika menelan saliva dengan kasar begitu mengingat semua hal yang dilakukan oleh pria yang masih tertidur pulas di sebelahnya tersebut, seketika merutuki kebodohannya sendiri karena tidak bisa menolak perbuatan intim pria yang semalam merenggut kesuciannya.


Tidak tahu harus bagaimana karena saat ini Alesha merasa sangat marah pada diri sendiri dan juga Rafael yang telah mengingkari janji untuk tidak menyentuhnya, membuatnya frustasi.


'Ya Tuhan, kenapa semua ini bisa terjadi? Apa yang harus kulakukan? Bahkan pernikahan kami terjadi hanya karena sebuah sandiwara. Namun, kenapa berakhir seperti sepasang suami istri yang benar-benar menikah karena melakukan malam pertama?'


Alesha merasa sangat bingung dengan apa yang harus dilakukan. Apalagi ia tahu jika semalam pria yang telah merenggut kesuciannya tersebut dibawah pengaruh minuman beralkohol.


'Rafael melakukan itu karena mabuk, sedangkan aku yang masih sadar, malah tidak menolak dan menikmatinya.'


Alesha mengepalkan kedua tangannya untuk menahan semua rasa yang membuncah di dalam hati.


Tidak tahu harus menanggapi seperti apa, kini ia memilih untuk bangkit berdiri dari posisinya yang dari tadi telentang di atas ranjang king size dengan hiasan kelopak bunga mawar yang telah berantakan tersebut.


Ia sama sekali tidak tahu jika benar-benar akan menghabiskan malam panjang setelah menikah dengan Rafael di atas ranjang yang dihiasi kelopak bunga mawar tersebut.


Setelah perlahan menyingkirkan tangan Rafael dari atas perutnya, Alesha manga berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, ia benar-benar merasa kesakitan ketika berjalan.


'Sakit sekali,' gumam Alesha yang kini merasakan rasa nyeri luar biasa pada bagian inti dan menyadari jika itu semua terjadi pada para wanita perawan yang baru pertama kali bercinta.


Apalagi ia masih ingat bagaimana Rafael semalam membuatnya merintih dan mendesah, hingga mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kali.

__ADS_1


Bahkan ia saat ini berdiri di bawah shower dengan bulir air mata yang sudah menganak sungai di wajahnya. Alesha memukuli diri sendiri karena menyesali perbuatannya semalam yang tidak bisa menjaga satu-satunya harga diri dan menjadi kebanggaannya.


'Hancur sudah hidupku. Semuanya tidak tersisa sekarang karena saat ini aku sudah tidak lagi perawan. Rafael pasti akan menyalahkanku dan tidak mau bertanggungjawab dan menceraikanku satu bulan lagi.'


'Lalu, bagaimana dengan Alex? Aku sudah berjanji padanya bahwa akan kembali satu bulan lagi untuk bersamanya. Namun, sekarang semua rencanaku hancur hanya dalam waktu satu malam.'


Masih tidak berhenti menangis di bawah guyuran air shower, Alesha benar-benar merasa seperti seorang wanita murahan sekarang. Bahkan ia merasa sangat malu jika bertemu dengan Alex nanti.


'Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Alesha yang kini sibuk membersihkan diri karena lama-lama berada di bawah guyuran air shower membuatnya menggigil.


Ia memang sengaja tidak memakai air hangat karena ingin mendinginkan kepala saat ini ketika merasa dipenuhi oleh beragam kekalutan dan beban.


Hingga beberapa saat kemudian, Alesha memilih untuk memakai kimono handuk dan melangkahkan kaki telanjangnya keluar dari kamar mandi.


Pandangan pertama tertuju pada sofa, di mana semalam Rafael menyiksanya ketika berbuat liar. Bahkan tidak puas di sofa, Rafael menggendongnya dan berpindah ke atas ranjang king size yang sekarang menjadi tempat ternyaman pria di bawah selimut tebal tersebut.


Tidak kuat melihat pria yang hanya melakukan pernikahan atas dasar perjanjian itu, Alesha segera mengambil pakaian ganti miliknya di dalam koper yang kemarin memang sudah disiapkan oleh ibunya.


Kemudian buru-buru berpakaian karena tidak ingin berhadapan dengan Rafael. Ia tidak cukup kuat untuk bisa berhadapan dengan Rafael saat terbangun nanti. Pikirannya seolah buntu karena belum tahu apa yang akan dilakukan setelah kejadian semalam.


Tanpa menunggu pria yang masih pada posisi sama dari tadi, Alesha meraih tas selempang miliknya di atas meja dan berjalan keluar dari ruangan kamar hotel terbaik tersebut.


Saat berjalan menuju lift, ia mengambil ponsel untuk memeriksa apakah ada yang menghubungi. Bahkan ia tertawa miris karena sama sekali tidak ada yang menghubungi. Padahal sebelum pernikahan, Alex menelpon dan mengatakan akan menculiknya.


"Sekarang, aku menyesal kenapa melarang Alex semalam. Seharusnya aku membiarkannya menculikku saat hari pernikahan. Jadi, hal buruk tidak akan terjadi padaku."


Alesha kini memencet tombol lift dan begitu menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka. Kemudian ia menghubungi seseorang, yaitu teman baiknya ketika menjadi sugar baby dulu.


"Apa kamu sekarang di kosmu?" tanya Alesha yang mendengar suara serak menandakan baru bangun tidur.

__ADS_1


"Astaga, Alesha! Mengganggu saja. Mentang-mentang baru menjadi pengantin baru, bangun pagi sekali untuk membangunkanku. Aku di kos, memangnya kenapa?"


Alesha yang dari tadi tidak menyadari waktu, kini mengecek pada ponsel dan melihat masih pukul enam pagi.


"Sorry mengganggu tidur nyenyakmu. Aku sekarang sedang dalam perjalanan ke sana. Jadi, jangan pergi keluar sebelum aku datang!"


Tanpa menunggu jawaban dari teman baiknya tersebut, Alesha sudah menutup telpon dan berpikir jika ia akan menjelaskan jika berada di kosan.


Selama ini, ia tidak menceritakan pada siapapun mengenai perjanjiannya dengan Rafael. Berpikir jika semuanya akan berjalan lancar seperti rencana sebelumnya.


Namun, setelah kejadian semalam, ia butuh teman untuk berbagi keluh kesah dan bercerita. Berpikir jika menanggung semuanya sendiri, akan stres dan tidak bisa berpikir jernih, sehingga melakukan kesalahan.


"Aku bisa gila jika menanggung semuanya sendiri," lirih Alesha yang kini menghapus bulir kesedihan yang membasahi pipi putihnya.


Bahkan ia tadi bisa melihat jika bola mata memerah karena terlalu lama menangis sambil berdiri di bawah shower. Ingin sekali ia berteriak untuk meluapkan perasaan membuncah yang dirasakan.


Namun, tidak ingin dikira gila dan mencemarkan nama baik dari seorang CEO perusahaan besar seperti Rafael. Apalagi pria itu telah beberapa kali memberikan ultimatum untuk menjaga sikap dan nama baik Rafael setelah berstatus sebagai istri.


Kini, Alesha merasa sangat bersalah pada Alex karena berpikir telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan pria itu. "Bahkan aku tidak bisa menepati janjiku pada Alex."


"Alex benar-benar menuruti perintahku setelah aku mengancamnya. Bahkan sekarang ia sama sekali tidak menghubungiku atau mengirimkan pesan. Apakah ia merasa yakin jika aku akan kembali padanya setelah satu bulan?"


Bunyi denting lift berbunyi dan Alesha saat ini sudah berjalan menuju lobi hotel. Tadi ia sudah menghubungi taksi dan tidak perlu menunggu waktu lama, kendaraan sudah datang.


Meskipun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman ketika tadi mendapatkan tatapan dari beberapa staf hotel yang pastinya mengetahui bahwa ia adalah mempelai pengantin wanita yang baru semalam melakukan resepsi pernikahan di ballroom hotel.


Tentu saja ia memilih untuk tidak peduli atau memusingkan hal itu karena satu-satunya yang ingin dilakukan hari ini adalah menenangkan diri di tempat kos teman baiknya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2