I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Sebuah penghinaan


__ADS_3

Alesha tak bisa menghindari keterkejutannya. Tubuhnya tiba-tiba saja membeku, mendadak kaku ketika pandangan matanya bersitemu dengan lelaki itu.


Bahkan ia kini menahan napasnya sendiri, takut paru-parunya tiba-tiba saja meledak karena goncangan masif yang menggegerkan seisi dadanya.


Alesha yakin penglihatan dan ingatannya tidak salah kali ini. Lelaki itu benar-benar mantan sugar daddy-nya. Ia mana mungkin lupa dengan postur tubuh itu.


Wajahnya masih ia ingat dengan jelas, sama persis dengan yang dulu diketahui. Bahkan suara baritonnya dan cara bicaranya sama persis.


Alex Claire. Itulah namanya. Mustahil ia melupakan lelaki yang pernah membuatnya nyaman dan jatuh cinta padanya.


Namun, ada yang aneh. Melihat lelaki itu hanya diam dengan wajah datarnya, sungguh aneh bagi Alesha.


Alesha tidak dapat mendefinisikan dengan pasti apa itu, tetapi dibandingkan dengan mengingat-ingat dan terus menatap lelaki ini, yang terpenting baginya sekarang adalah kabur karena keadaan sangat gawat baginya.


Lelaki itu mengetahui aibnya, tentang masa lalunya dan kehidupan gelapnya. Alesha benar-benar takut kalau-kalau lelaki itu bisa saja menyebarkan aibnya di kampus ini.


Padahal ia baru saja mendapat kehidupan baru yang baik dan tenang tanpa memikirkan ada orang-orang yang dikenalnya yang biasa menanyakan ini itu.


Selain tidak suka membuka diri mengenai permasalahan pribadinya pada orang lain, ia juga takut kalau aibnya akan diketahui orang-orang.


Alesha seakan kehabisan kata-kata dan tenaga hanya dengan memikirkannya saja. Kalau ia terus berada di sini, keadaannya berada dalam situasi yang berbahaya. Ia harus meminta Rafael untuk pindah dari kampusnya setelah pulang dari sini juga.


Setelah tersadar, Alesha seketika berdiri. Ia dengan tergesa langsung berlari kabur dari hadapan lelaki itu. Entah ke mana arah Alesha berlari, asalkan bisa cepat-cepat menjauh dari jangkauannya. Setelah dirasa cukup jauh, wanita itu berhenti dengan napas terengah-engah.


Ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan, lantas melihat ke sekitar.


Kebetulan sekali, ia menemukan toilet di depan sana. Wanita itu lantas mengembuskan napasnya lega.


Kemudian langsung masuk dan berhenti di depan wastafel. Kini, Alesha menatap cermin, lantas kembali merapikan penampilannya yang berantakan akibat berlari-lari.


Wanita itu kemudian melihat lututnya yang basah. Celana jeans-nya kini kotor ternodai oleh tumpahan minumannya. Ia mendesah gelisah.


Alesha langsung mengambil tisu yang masih ada dari dalam tas, lantas membasahinya sedikit dengan air keran. Setelah itu, ia menggosokkan pada celananya yang kotor.


Sembari membersihkan celananya, ia kembali memikirkan beberapa hal tentang Alex— sosok pria yang masih tersimpan dalam ingatannya.

__ADS_1


Beberapa hal yang ia ketahui tentang Alex Claire, yang paling utama adalah, pria itu mantan sugar daddy-nya, sedangkan yang kedua, ia sempat merasa nyaman dan jatuh cinta padanya.


Akan tetapi, masa lalu tentangnya dengan pria itu bukanlah masa lalu yang cukup baik untuk diingat. Kecuali mengingat tentang perasaannya pada lelaki itu, sisanya adalah sesuatu yang mengerikan seperti reka adegan dalam drama percintaan di televisi yang berakhir kandas tuntas.


Hal lain yang Alesha ketahui tentang Alex adalah pria itu merupakan seorang duda dan bagian terpentingnya, ia merupakan putra dari keluarga pengusaha sukses di bidang konsultan.


Kalau melihat runtutan garis hubungannya, ia memiliki kesimpulan kalau keluarga Alex merupakan keluarga yang cukup ketat dan berprinsip kuat.


Karena ia sendiri pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan menghadapi keluarga itu.


Pernah pada suatu hari, entah mendapatkan nomor ponselnya dari mana, orang tua Alex mengajaknya bertemu. Ia dibuat kesulitan, bahkan ketika baru saja mencari lokasi tempat pertemuan mereka yang sama sekali tidak pernah dikunjungi.


Bagaimana Alesha bisa tahu, tempat pertemuan yang dipilih orang tua Alex merupakan restoran yang sangat mewah. Saking mewahnya, ia sampai sekarang masih ingat betul aroma bagaimana yang menyambutnya ketika ia baru saja menjejaki pintu restoran itu.


Tempat yang dipilih orang tua Alex itu bukanlah tanpa alasan. Mereka sengaja memilih restoran semewah itu untuk memamerkannya pada Alesha, untuk memberitahu jarak antara mereka dengannya, dan yang paling penting adalah untuk mempermalukannya.


Saat itu, pertemuan hanya didatangi oleh orang tua Alex dan Alesha saja. Ia yakin mereka dengan sembunyi-sembunyi tidak memberitahukan rencana pertemuan itu pada Alex.


Akhirnya Alesha hanya bisa duduk diam dengan kikuk, mengamati kedua orang tua itu memamerkan harta dan derajat mereka dan menanggapi seadanya.


"Hei, wanita muda. Apakah kamu merasa pantas berada di sisi anak kami—Alex Claire?" Sang ayah mulai membuka suara.


Alesha sebenarnya sungguh tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan ini. Kalau dibilang pantas, rasanya ia terlalu percaya diri. Kalau dibilang tidak pantas, rasanya seperti terlalu merendahkan harga dirinya.


Namun, Alesha juga memiliki prinsip yang bisa ia junjung, mengatakan suatu kebenaran yang sebenar-benarnya.


Akhirnya wanita itu hanya menjawab dengan santai. "Mohon maaf, Tuan dan Nyonya Claire, tetapi putra kalian sendiri yang meminta saya berada di sisinya. Saya harus bagaimana?"


Ucapan telak yang sontak membuat kedua orang tua Alex naik darah.


Sepertinya, selain pandai mengarang cerita, bakat lain yang dimiliki Alesha sedari dulu adalah menyulut sumbu emosi.


"Kamu sungguh tidak punya tata krama berbicara dengan orang yang lebih tua, ya?" Sang ibu kini menimpali.


Alesha hanya bisa menghela napasnya diam-diam. Ia berpikir yang dimaksud tata krama yang diinginkan mereka itu pasti berharap kalau hanya akan tunduk, menunduk dan mengalah, lalu pergi karena diusir.

__ADS_1


Ia tidak mau diperlakukan seperti itu. Meski tahu bahwa ia tak sebanding dengan keluarga mereka, bukan berarti bisa direndahkan seenaknya.


"Sekali lagi, mohon maaf, Nyonya. Saya hanya menjawab yang sebenarnya," ucap Alesha dengan wajah datar dan menegakkan tubuh, serta pandangan.


"Astaga, aku tak menyangka ternyata kamu benar-benar bermuka tebal dan tidak tahu diri." Si nyonya kini menatapnya dengan sengit.


"Sudahlah!" Sang tuan besar itu kembali bersuara. "Tidak ada gunanya kamu marah-marah kepada orang tidak bermartabat seperti dia."


Alesha mengeraskan rahangnya. Permisi? Sepertinya ada orang yang hatinya sudah buta dan tuli karena tenggelam dalam pangkat dan kekayaannya sendiri. Bagi Alesha, menurutnya itu sangat mengerikan.


Padahal ia belum juga melakukan hal tidak senonoh dan sejenisnya, tetapi sudah mengatainya tidak bermartabat. Kalau sampai ia melakukannya, mungkin saja bisa langsung dikatai binatang buas.


Lelaki itu kemudian terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas istrinya. "Sayang, lebih baik kamu langsung saja mengeluarkan ini tanpa berbelit-belit. Orang miskin sepertinya pasti tidak akan menolak jika diberi uang, bukan?"


Alesha yang melihat dan mendengar itu, kini menggertakkan geliginya, merasa ucapan lelaki itu semakin keterlaluan.


Sampai kemudian lelaki itu menyodorkan selembar kertas ke hadapan Alesha. Kertas yang begitu khas, terdapat logo suatu bank, angka, tulisan dan unsur penting lainnya. Kertas itu adalah sebuah cek yang berisi lima ratus juta.


Namun, alih-alih merasa senang seperti saat-saat biasanya ketika ia mendapatkan uang, sekarang Alesha justru merasa sangat terhina.


Terdengar suara embusan berat dari si nyonya. Sebelum kemudian ia kembali membuka suaranya, "Yah … seharusnya dari tadi," keluhnya seraya merilekskan kedua alis, lantas kembali menatap wanita yang ingin disingkirkan dari putranya.


"Bagaimana? Kami akan memberikanmu uang ini dan kamu harus menjauhi Alex—anak kami."


Sebuah negosiasi penuh penekanan dilontarkan. Intonasinya tak bersahabat, lebih terdengar seperti ancaman.


Alesha lalu hanya menatap cek itu dengan pandangan miris. Wanita itu kemudian menatap kedua orang tua Alex tepat di mata mereka dengan berani.


Ia kemudian mengambil cek itu, lantas kembali menatap keduanya dengan senyuman tersungging miring.


Keduanya lantas berdecih, semakin menatapnya dengan tatapan remeh.


"Sudah kuduga. Ini, kan yang sedari awal kamu inginkan?" Sang nyonya berkata dengan sinis.


"Tentu saja. Apa lagi yang diinginkan wanita itu dari Alex kita selain uang?" Sang tuan menimpali, kini tertawa sinis.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2