I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Merasa bersalah


__ADS_3

Detik-detik jam berbunyi, menunjukkan pukul delapan pagi. Ruangan sunyi, kamar yang telah kosong dan rapi. Hanya Aeleasha sendiri, berdiri di depan jendela yang menyuguhkannya udara segar, serta mentari pagi yang menembus pepohonan, melintasi gorden-gorden tipis dan lubang ventilasi kamarnya.


Aeleasha terus memikirkan permintaan Tiana padanya untuk membujuk Rafael. Dua tahun telah berlalu sejak ia memutuskan hubungan dengan pria itu.


Rafael memilih untuk tidak menghubunginya lagi. Mereka berdua sama-sama memutuskan untuk menjadi orang lain yang hidup dalam dunia masing-masing.


Sulit baginya memilih satu di antara dua keputusan. Apapun yang dipilihnya pada akhirnya membuat ia menjadi seperti orang yang jahat.


Aeleasha seakan selalu kehilangan kesempatan untuk berterima kasih pada Rafael.


Dulu, Rafael telah menyelamatkan hidupnya, hingga kemudian menikahinya untuk menyelamatkan masa remaja yang hancur karena diperkosa.


Pria itu telah menyelamatkan hidupnya berkali-kali. Ia memberi perlakuan baik, memberi perlindungan, memberi sebuah keluarga yang hangat, dan kemudian memberinya cinta.


Akan tetapi, tak pernah bisa membalas cintanya karena dalam hatinya sudah terpatri satu nama yang pasti, bagai prasasti yang sudah terukir ratusan tahun lalu dan tidak mau mereka lebih saling menyakiti dari itu.


Ia ingin Rafael melepas wanita yang hanya akan memberi luka dan perih sepanjang harinya karena sebuah pernikahan tidak bisa dilakukan secara sepihak. Aeleasha tidak mau terus memberinya harapan kosong.


Wanita itu menarik napasnya selama beberapa detik.


Mengembuskan napasnya selama beberapa saat. Kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding.


Beberapa lama waktu bergulir, Aeleasha mencoba meyakinkan dirinya. Wanita itu segera mengambil benda pipih di atas meja dan menekan nomor ponsel dalam pencarian untuk melakukan panggilan.


Aeleasha rasa, hal ini harus segera ia selesaikan, agar semuanya semakin jelas. Agar masa lalunya menemukan kata tuntas.


Hal terakhir adalah agar mereka bukan hanya hidup dalam dunia masing-masing, tetapi juga hidup dalam batas. Batas yang seharusnya saling memberi arah untuk hidup lebih baik.


"Halo," sapa Aeleasha ketika panggilan itu terangkat.


Ragu dan cemas menjadi satu. Sapaannya bagai sebuah kata yang diucap dalam ruang non gravitasi dan tak berudara. Teredam begitu saja begitu keluar dari mulutnya.


Hening menahan keduanya dalam detik-detik yang kosong.


Sementara itu di seberang telepon, Rafael tergeming. Tahu dengan pasti suara wanita di seberang sana, mantan istrinya. Ada gentar yang mengungkung hatinya kala suara itu terdengar.


Hatinya berdesir hingga kalang kabut seperti ranting-ranting pohon maple yang ditiup badai musim dingin. Meski Rafael sudah menghapus nomor wanita itu, tetapi ia ingat betul suaranya.

__ADS_1


Suara wanita yang dua tahun lalu selalu mengisi hari-harinya bagai kejora yang selalu mendampingi baskara. Wanita yang selalu berhasil menyebabkan ribut-ribut dan gemuruh dalam dadanya.


Akan tetapi, sayangnya, mencintai Aeleasha bagaikan merawat kepompong. Sekian banyak waktu bergulir, menghabiskan hari demi hari untuk memahami, menjaganya, merawatnya.


Akan tetapi, pada suatu pagi, kepompong itu telah berubah menjadi kupu-kupu.


Kupu-kupu itu terbang mengepakkan sayapnya dengan indah. Rafael ingin menangkapnya, tetapi tidak bisa menangkapnya. Nanti kupu-kupu itu akan terluka.


Hal yang paling menyedihkan adalah kupu-kupu itu tak bisa selamanya menemaninya.


Kupu-kupu itu harus pergi untuk menemukan taman bunga, untuk menemukan dunianya sendiri.


Lelaki itu menghela napas sesaat, berusaha untuk tidak emosional.


"Salah sambung?" tanya lelaki itu akhirnya, mencoba memastikan.


"Ah, tidak-tidak! Aku ingin bicara denganmu," sangkal Aeleasha untuk menghentikan Rafael memutuskan sambungan telpon.


Wanita itu sebisa mungkin terdengar tidak terlalu panik. Tak ingin keadaan menjadi lebih canggung dan dingin.


"Brother." Zaara menggigit bibirnya sesaat untuk menahan ragu. "Kudengar kamu akan segera menikah."


Rafael seketika mengatupkan rahangnya. Kepalanya sekarang dipenuhi tanya. Apa saja yang telah ia lewatkan seharian ini?


Hanya terlintas satu orang dalam pikirannya, yaitu mamanya. Tidak ada orang lain lagi yang bisa melakukan ini.


Rafael menahan napasnya, meredam marah yang tertahan. Ia lebih tak menyangka Aeleasha akan menghubunginya dengan cara seperti ini.


"Siapa yang bilang aku akan menikah?" Rafael bertanya memastikan.


Zaara bergumam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. "Mama."


"Itu tidak benar." Rafael menjawab tegas.


Atmosfer di antara mereka tiba-tiba hening. Aeleasha kebingungan mencari-cari kalimat seperti apa untuk menimpali, sedangkan Rafael terhanyut dalam pikirannya sendiri.


Bodoh. Bodoh sekali, Rafael. Memangnya siapa dirinya bagi Aeleasha, sehingga harus menyangkal setegas itu. Ia hanyalah mantan suami sirinya.

__ADS_1


Mantan suami yang tidak pernah Aeleasha cintai. Aeleasha seharusnya menyadari dan tahu diri. Akan tetapi, di saat seperti ini, mendengar suara Aeleasha lagi.


Rafael bicara dengan Aeleasha lagi, tanpa sadar membuat hatinya goyah.


Susah payah berusaha disembunyikan, tetapi perasaanya selalu saja memberontak minta ditemukan. Rafael seolah tak punya kendali atas hatinya sendiri.


Wanita di seberang sana terkekeh. "Kudengar kamu sudah memiliki calon istri. Kalau begitu, kapan kamu akan menikahinya?"


Kekehan ringan yang terdengar dipaksakan. Rafael tahu betul itu. Ia hafal setiap kebiasaan, suara ketika sedang sedih, marah, kecewa, atau bahagia. Pria itu masih mengingat dengan baik.


Rafael hanya bisa tersenyum miris sekarang. Menyedihkan. Mendengar suara Aeleasha saat ini.


Ia menyadari kalau ada jarak tersirat yang sedang ia coba bangun. Suaranya sama persis seperti suara yang ia dengar terakhir kali. Saat wanita itu menyampaikan perpisahan padanya.


Rafael susah payah mengatur napasnya supaya tenang.


"Benar," jawabnya singkat, dengan intonasi tertahan. "Tidak tahu kapan aku akan bisa memulai hubungan baru."


Rafael terkadang ingin memukul mulutnya sendiri. Sekarang apa lagi yang ia katakan. Lelaki itu merasa sudah sangat berantakan. Ia bahkan tak sempat memikirkan apa yang akan dipikirkan Aeleasha setelah mendengar perkataannya.


Jeda yang cukup lama itu seolah memberitahu Rafael serta menghukumnya. Dalam kepala wanita di seberang sana, pasti sedang bercampur-aduk.


Aeleasha hanya bisa menahan napasnya. Gugup setengah mati. Canggung yang begitu sulit untuk dihindari.


"Brother," panggil Aeleasha tertahan.


"Semuanya masih sama di sini, Aeleasha." Rafael memotong ucapannya.


Aeleasha seketika memejamkan matanya. Ia menggigit kukunya sendiri. Situasi macam apa lagi ini? Mungkin itu kira-kira yang dipikirkan keduanya. Akan tetapi, kekacauan kini seakan telah menguasai pikiran Rafael


"Aku sudah mencoba meninggalkan kenangan-kenangan itu di rumah lamaku, tetapi mereka tetap memaksa ikut di dalam kepalaku." Suara Rafael terdengar putus asa. Hampa.


Terdengar jelas ketidakberdayaannya, dan ketidakmampuannya untuk rela begitu kentara.


Zaara kini hanya bisa membasahi bibirnya sendiri, tak mampu bersuara. Bingung, merasa bersalah, semuanya bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang seolah mencekik lehernya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2