
'Sial! Gara-gara aku sangat mengkhawatirkan keadaan Alex, hingga lupa jika ada mak lampir ini.'
Alesha yang baru saja masuk dan berjalan mendekat karena terpaksa dan tidak mungkin bisa mundur lagi setelah bertemu dengan pria yang sangat dikhawatirkan terbaring di atas ranjang perawatan dan di sekolahnya ada wanita yang paling dibenci.
Bahkan ia sampai berpikir sangat jauh, yaitu jika sampai menjadi menantu di keluarga Claire, otomatis wanita yang dipanggilnya mak Lampir itu akan menjadi mertuanya dan tidak bisa membayangkan akan seperti apa mereka bertemu setiap hari.
'Mungkin jika kami tinggal dalam satu rumah saat menjadi menantu dan mertua, yang terjadi adalah saling menarik rambut dan selalu bertengkar satu sama lain tanpa ada yang mengalah,' gumam Alesha yang saat ini melirik ke arah sahabatnya dan sedikit merasa lega karena tidak datang ke rumah sakit sendirian.
Jadi, begitu mendengar kebohongan dari Alex yang mengatakan bahwa Stella juga merupakan mahasiswi di kampus, sehingga saat ini mengikuti akting pria itu yang seolah ingin membohongi sang ibu.
Alesha melirik sahabat dan memberikan kode agar mengikuti sandiwaranya. Kemudian ia membungkuk hormat dan memberikan salam pada wanita yang sebenarnya ingin sekali dia maki karena tatapan dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah meskipun saat ini statusnya sudah bukan lagi seorang sugar baby.
Bahkan perkataan dari wanita yang menatap sinis padanya tersebut seolah menyindir bawa statusnya saat ini sudah menjadi seorang istri. Seolah ingin mengingatkan agar ia tidak mendekati Alex meskipun berstatus sebagai seorang mahasiswi di kampus.
"Anda benar, Tante. Saya memang istri dari pengusaha Rafael Zafran sekaligus mahasiswi dari Mr. Alex." Alesha saat ini menaruh keranjang buah yang dibawa ke atas laci karena sengaja tidak memberikan pada wanita paruh baya tersebut.
Sebelum merasa sakit hati karena ditolak, jadi tidak memberikan buah tangan yang dibawa karena pasti hanya akan ditaruh di tempat sampah. Meskipun pasti akan berakting seperti seorang ibu yang baik bak malaikat di depan putranya, tetap saja tidak bisa menyembunyikan tatapan penuh kebencian padanya.
Sementara itu, Alex yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang dengan satu kaki terangkat ke atas karena digantung, mencoba untuk mengalihkan suasana penuh ketegangan karena ia tahu bahwa sang Ibu dari dulu tidak menyukai Alesha dan menyuruh untuk menjauhi.
Hal itulah yang membuatnya tidak mengatakan pada sang ibu Bahwa saat ini mengingat semua kepingan memori yang sempat hilang.
Ia hanya mengatakan pada Alesha saja karena berpikir bahwa itu sangat penting karena meskipun sudah mengingat semuanya, tidak ada yang berubah atas perasaan yang dimiliki untuk wanita itu.
__ADS_1
Karena dulu Alesha selalu menolaknya saat ia mengungkapkan perasaan dengan alasan menjadi pria lain yang tidak sama dengan yang dulu, ketika belum mengalami kecelakaan.
Jadi, ingin membuat wanita yang dicintai tersebut meyakini bahwa ia benar-benar sangat mencintainya dan tidak ada yang berubah sama sekali begitu ingatannya sepenuhnya pulih setelah kecelakaan.
"Terima kasih karena kalian sudah datang." Alex sengaja tidak menyebut nama karena tidak mengetahui siapa nama sahabat Alesha dan akan ketahuan oleh sang ibu bahwa wanita itu bukanlah mahasiswi di kampus.
Itu karena ia ingat bahwa sahabat dari Alesha itu merupakan sugar baby juga. Alex beralih menatap pada sang ibu. "Apa Mama bisa membelikan aku makanan di kantin dan juga minuman untuk mereka?"
"Aku sangat yakin jika sebentar lagi akan ada banyak mahasiswa dan juga beberapa rekan dosen yang datang menjengukku. Jadi, lebih baik jika menyiapkan minuman, bukan?"
Ana Maria yang saat ini benar-benar sangat kesal pada putranya yang menganggapnya seperti pelayan karena diperintah untuk pergi ke kantin.
"Sebenarnya di mana pelayan yang merawatmu? Kenapa dari tadi kamu sendirian dan tidak ditemani oleh pelayan yang kusuruh untuk menjaga selama Mama pulang ke rumah, tapi tidak jadi."
Alex tadi sengaja menyuruh pelayan yang menjaganya untuk membelikan beberapa barang di Mall, agar cukup lama pergi karena memang berpikir akan bertemu dengan Alesha dan hanya ingin berduaan.
"Aku tadi menyuruh untuk pergi ke suatu tempat, Ma. Aku membutuhkan sesuatu karena tidak ada di rumah sakit ini." Alex berharap jawabannya akan membuat sang ibu bangkit berdiri dari kursi dan meninggalkannya.
'Semua rencanaku gagal karena ada mama di sini,' gumam Alex yang saat ini menunggu hingga saat ibu memberikan jawaban.
Namun, suasana penuh keheningan di antara mereka seketika teralihkan atas suara dering ponsel.
Ponsel yang berada di dalam tas berbunyi dan itu adalah milik Ana Maria. Wanita paruh gaya tersebut seketika mengambil tas yang tadi ditaruh di kertas lemari karena mengetahui siapa yang menghubungi.
__ADS_1
Begitu melihat jika ada kontak dari salah satu sahabat sosialita, seketika menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo."
"Bagaimana keadaan putramu? Kami mendengar jika putramu mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, kami saat ini berkumpul karena akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk putramu."
Refleks Ana Maria terlihat berbinar wajahnya karena merasa senang saat sahabatnya akan datang. Ia saat ini berpikir untuk mengacaukan Alesha yang datang.
Karena tidak ingin pembicaraan didengar oleh putranya, akhirnya ia berani menatap ke arah Alex. "Mama keluar dulu untuk berbicara dengan para sahabat yang hendak datang ke sini. Sekalian akan membeli minuman dulu."
Kemudian berjalan menuju ke arah pintu tanpa menatap ke arah dua wanita yang sama sekali tidak disukai karena berpikir sama-sama merupakan wanita murahan yang hendak merayu putranya.
Kini, Alex merasa sangat lega begitu melihat sang ibu sudah menghilang di balik pintu dan seketika menatap ke arah Alesha. "Syukurlah mamaku sudah keluar. Pasti kamu merasa sangat kesal apa sikap kasar mamaku?"
Alesha yang dari tadi mengkhawatirkan keadaan Alex dan menatap ke arah kaki yang digantung ke atas tersebut, beralih pada sosok wanita yang ada di sebelahnya.
"Aku ingin berbicara dengan Alex berdua. Kamu tidak keberatan keluar sebentar untuk berjaga di depan, bukan?"
Dengan tangan membentuk simbol oke dan merasa tidak keberatan karena memang tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara sahabat dan juga pria itu, sehingga berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Saat nanti wanita itu datang, kamu segera masuk saja," seru Alesha yang melupakan sesuatu dan menoleh ke arah sahabatnya ketika hendak membuka pintu..
"Oke, aku mengerti. Tenang saja," sahut Stella yang sebenarnya sangat khawatir jika sahabatnya terkena masalah jika berhubungan dengan pria bernama Alex tersebut.
__ADS_1
Apalagi mengetahui bahwa pria itu mempunyai seorang ibu yang sangat jahat karena mendengar sendiri cerita dari sahabatnya yang dulu ditawarkan sejumlah uang dan ditolak karena harga diri.
To be continued...