
"Ini yang terakhir," ucap Rafael pada akhirnya. "Kita akan membeli semua ini."
Alesha hanya mengernyitkan alisnya. "Apaaa? Untuk apa semua pakaian norak ini?"
Rafael kini mengangkat alisnya. "Kamu harus menggunakan pakaian-pakaian ini! Setidaknya saat bertemu denganku. Statusmu di ruang publik itu menjadi kekasih CEO Rafael Zafran. Kamu tidak boleh menggunakan pakaian kurang bahan seperti tadi."
Zaara merotasikan bola matanya jengah mendengar pernyataan Rafael yang stagnan dan berulang-ulang.
Sampai kemudian lelaki itu kembali menyerahkan sepasang pakaian pada Zaara. Itu adalah pakaian pertama yang dipilihnya.
"Sepertinya yang ini lebih cocok dipakai hari ini," ucap Rafael sambil menyodorkan pakaian itu pada Alesha.
Melihatnya, Alesha hanya bisa mematung sambil memberikan tatapan nanar pada Rafael.
"Ayo ambil dan ganti!" Rafael mendesak. "Aku sudah mencabut labelnya. Jadi, aku akan membayarnya terlebih dahulu. Kamu tunggulah di sini."
Dengan terpaksa, Alesha mengambil pakaian itu. Ia lantas kembali menuju ruang ganti dengan langkah gontainya.
Sementara itu, Rafael bergegas menuju kasir untuk membayar pakaian-pakaian itu.
Berapa menit berlalu, Alesha akhirnya kembali dari ruang ganti itu.
Alesha hanya bisa mengomel di dalam hati melihat penampilannya di depan cermin besar yang disediakan di gerai baju yang ada di Mall.
Wanita itu tidak mengerti mengapa Rafael begitu ingin mengubahnya menjadi sosok seburuk itu. Rambutnya yang semula pirang dan lurus, kini berubah menjadi hitam legam dan keriting. Bajunya yang semula seksi, kini menjadi seperti pakaian anak sekolah.
Terlebih lagi, satu hal yang paling ia benci adalah bagaimana Rafael menyuruhnya menghapus seluruh riasannya. Wajahnya jadi terlihat bulat, bibirnya menjadi pucat.
Sementara eyeliner pada matanya yang sangat ia sukai dan membuatnya tampak lebih berani, kini telah dihapus dan membuatnya terlihat seperti bayi. Alesha melihat dirinya sendiri seperti orang sakit yang habis hujan-hujanan sekarang. Sangat mengenaskan.
Alesha sangat marah tentu saja, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah diam menahan diri sambil diam-diam menggerutu.
Mengingat Rafael yang akan selalu mengancamnya jika ia tidak mau menuruti apa yang ingin pria itu lakukan.
Alesha selalu saja hampir lupa akan apa yang tertulis di kontrak itu, di mana Rafael memintanya untuk selalu membantunya, serta menuruti apa yang diperintahkan.
Beruntung saja otak pintar Alesha dapat memikirkan tindakan preventif untuk mencegah hal-hal yang bisa saja membahayakan masa depannya.
Ia nyaris saja menandatangani surat kontrak itu secara cuma-cuma tanpa persyaratan tambahan yang tentu saja akan membuat kekuasaan sepenuhnya dilakukan oleh Rafael secara semena-mena.
Namun, bagaimana pun keadaannya, baginya sekarang yang terpenting adalah kesembuhan ibunya. Ya, anggap saja ia sedang bekerja keras mengais upah demi biaya operasi yang gila-gilaan itu.
Alesha duduk di kursi yang ada di gerai baju itu sambil menunggu Rafael mengurus pembayaran.
Suasana yang sepi, tiba-tiba saja membawa lamunannya untuk memikirkan kesehatan ibunya secara lebih mendalam. Alesha masih ingat betul ucapan dokter tadi siang. Tiba-tiba saja apa yang diucapkan dokter itu terngiang-ngiang di telinganya.
Kondisi ibunya sekarang belum stabil. Tentu saja masih memerlukan waktu untuk operasi itu. Ia jadi bertanya-tanya tentang pernikahan kontrak yang akan dilakukannya dengan Rafael. Kapan itu akan dimulai?
Jangan sampai perjanjian konyol yang dilakukannya demi keselamatan ibunya ini justru menghalanginya untuk merawat ibunya yang akan dioperasi.
__ADS_1
Alesha tiba-tiba saja ragu.
Beberapa lama terlalu asyik dengan lamunannya, ia tidak sadar akan kehadiran Rafael yang kini sedang memandangnya aneh.
"Hey, ayo pergi!" ucap Rafael yang menatap heran pada wanita dengan tatapan kosong yang seolah sedang menanggung beban berat.
Alesha tersentak, sampai ia memegang dadanya sendiri. Wanita itu lantas membuang napas kecil ketika menyadari bahwa itu adalah Rafael.
Rafael kemudian mengajaknya keluar dari area Mall.
Mereka memasuki mobil. Meski masih penasaran, Alesha malas banyak bertanya akan tujuan mereka karena ia masih menyimpan amarahnya sekarang.
Rafael kemudian menyalakan mesin mobil. Pria yang duduk di belakang kemudi itu membawa mobilnya ke arah utara.
Selama beberapa menit waktu bergulir, Alesha hanya melemparkan pandangannya ke luar jendela. Melalui berbagai ruko dan bangunan-bangunan tinggi yang beberapa kali sering ia lewati.
Mobil Rafael lalu melalui berbagai liku dan belokan-belokan yang semakin sulit diingat.
Sampai kemudian mobil menuju ke suatu tempat, di mana jalannya belum pernah Alesha lewati sama sekali. Wanita itu seketika tersentak.
"Kita mau ke mana?"
"Sebentar lagi sampai." Rafael menjawab sekenanya, membuat Alesha semakin gelisah.
Tidak lama kemudian, mulai terlihat gerbang yang menunjukkan nama sebuah perumahan di depan.
Alesha bahkan tercengang dan tidak berkedip saat menatap.
Rafael mengangkat sebelah alisnya. "Masih saja bertanya?"
"Hey, kamu sendiri sedari tadi tidak mengatakan apa-apa padaku. Bagaimana bisa aku tahu?" Alesha kini bersuara dengan intonasi kesal.
Alesha bukan hanya kesal, tapi benar-benar marah. Sialnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana tidak? Ia masih mengingat jelas bagaimana Rafael menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan menyebalkan sambil bersikap sok misterius.
Sekarang ia jadi panik sendirian.
"Baiklah, aku akan membawamu ke rumahku." Rafael akhirnya memberitahu Alesha. "Untuk menemui mamaku," lanjutnya.
"APA?" Alesha sontak berteriak saking terkejutnya.
Mobil Rafael pun tiba-tiba saja mengerem mendadak, membuat keduanya terhempas ke depan.
Rafael menahan napasnya, kemudian menatap Alesha dengan sengit. Ia yang terkejut akibat suara teriakan wanita itu, tiba-tiba tanpa sadar mengerem mobilnya. Untung saja jalanan di perumahan sedang sepi.
"Kenapa kamu tiba-tiba berteriak?" bentaknya kesal.
"Kamu masih bertanya kenapa? Tentu saja aku terkejut!" Alesha balas membentak. "Kenapa tiba-tiba membawaku ke rumah orang tuamu, hah? Kenapa baru bilang sekarang?" Alesha meluapkan amarahnya yang sedari tadi ia tahan.
Rafael kini menurunkan intonasinya. "Keadaanku sangat mendesak sekarang. Kalau tidak melakukannya sekarang, sebuah bencana akan terjadi."
__ADS_1
Alesha berdecih. "Setidaknya kalau kamu bicara lebih awal, aku juga bisa menyiapkan diri lebih awal, bukan?"
"Kamu tidak perlu menyiapkan apa-apa. Aku sudah menyiapkan semuanya, sesuai rencanaku." Rafael bermaksud membela diri, sekaligus membela Alesha.
Namun yang terjadi, wanita itu malah semakin kesal dibuatnya.
"Kamu benar-benar tidak mengerti maksudku. Dengan cara seperti ini, kamu yang ingin melepaskan desakan sendiri malah mendorong desakan itu pada orang lain." Alesha menatap Rafael dengan tatapan nanar.
"Apanya yang mendesakmu? Kamu hanya perlu diam mengikuti arahanku." Rafael membalas tatapannya.
"Hey, Tuan Rafael. Apakah kamu menaruh otak dalam tumpukan berkas-berkas perusahaanmu? Kamu tidak berpikir betapa paniknya aku memikirkan apa yang akan kulakukan dan apa yang akan kukatakan di depan mamamu nanti?"
"Bahkan sampai sekarang pun, kamu tidak mengatakan apa-apa. Oh ... Apakah kamu menyuruhku berpura-pura menjadi gadis bisu?" Alesha mengeluarkan emosinya bertubi-tubi, bersuara dari intonasi rendah ke tinggi.
"Nona Alesha, bicaramu sudah keterlaluan." Rafael kini menatapnya lurus.
"Keterlaluan? Tidak. Inilah sifat asliku." Wanita itu menjawab tegas.
Rafael kini mengalihkan pandangannya dengan sangat kesal.
"Baiklah. Maaf."
Ia lalu kembali menatap Alesha. "Dengar! Kamu hanya perlu bersikap sewajarnya. Peranmu adalah seperti penampilanmu sekarang."
"Jangan sampai membuat mamaku tidak suka ataupun terlalu suka. Saat dia menanyakan tentang kehidupanmu, jawablah seadanya dan ketika dia menanyakan pertemuan pertama kita, ceritakan saja saat aku menyelamatkanmu di Mall."
Alesha membuang mukanya ke depan, mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Baik."
Rafael kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya. Hanya beberapa bangunan rumah lagi sampai menuju rumahnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gerbang yang perlahan dibukakan oleh satpam. Rafael membawa mobilnya masuk, hingga ia berhenti di tengah-tengah halaman rumahnya.
"Keluarlah dan tunggu di sini. Aku akan memarkirkan mobil terlebih dahulu," titah Rafael kepada Alesha kemudian.
Alesha mengembuskan napasnya dengan gusar. Ia bisa benar-benar gila di tempat itu. Meski ia pandai berakting atau mengarang sekalipun, tetap belum menyiapkan skenario apa-apa untuk situasi-situasi tak terduga yang akan dihadapi nanti.
Alesha keluar dari mobil Rafael dengan ragu. Menutup pintu mobilnya dan berdiri mematung.
Mobil Rafael perlahan meninggalkan presensi Alesha sendirian, melihat pemandangan rumah milik tuan muda itu.
Pelataran rumah yang begitu asri itu tersaji secara cuma-cuma di depan matanya. Alesha seolah bisa meraup beratus-ratus sentimeter kubik oksigen di sini. Namun, sedari tadi napasnya tertahan seolah ada hantu yang sedang menjegalnya sekarang.
Alesha begitu gugup. Ia kemudian melangkahkan tungkainya maju dengan pelan.
Sampai sedetik kemudian, dari pintu rumah berbahan kayu jati itu keluar seorang wanita yang sedang membawa sekardus sampah. Wanita itu tampak ingin membuangnya ke tempat sampah yang berada di samping rumah.
Alesha yang memperhatikannya diam-diam menjadi kaku. Tubuhnya bingung harus bagaimana. Diam, mendekat, atau lari kabur dari sini dan kemudian wanita itu mendongak.
__ADS_1
Pandangan mereka bertemu, dan napas Alesha seolah seketika terhenti.
To be continued...