
"Benarkah, Aealeasha? Wah ... ternyata aku mempunyai seorang suami yang sangat setia dan sangat mencintaiku. Mendengar kejujuranmu, sekarang membuat keraguan yang ada di hatiku mulai pudar. Aku sekarang sangat yakin jika Rafael sangat mencintaiku."
Bahkan Alesha berbicara dengan suara serak karena menahan tangis. Ia benar-benar merasa sangat terharu atas semua yang didapatkannya. Bahwa ia mempunyai seorang suami yang sangat setia dan baik hati.
Di sisi lain, Rafael saat ini tidak berhenti tertawa ketika mendengar nada suara sang istri menunjukkan rasa terharu yang luar biasa padanya.
"Jadi, kamu khawatir aku berselingkuh darimu setelah berbicara dengan ibu?" tanya Rafael yang akhirnya membuka suara dan bisa mendengar suara penuh dengan nada terkejut dari seberang telpon.
"Sayang, ternyata kamu mendengar semuanya. Aku pikir masih berbicara dengan Aealeasha. Iya, aku sangat takut karena perkataan-perkataan ibuku. Tolong aku untuk mencari tahu semuanya dengan membayar seorang detektif atau apapun itu."
"Aku akan menjelaskannya saat nanti kamu sampai di rumah. Sekarang, Cepat selesaikan urusanmu dan segera pulang karena aku menunggumu di rumah. I love you." Alesha kini memberikan ciuman jarak jauh dari seberang telpon dan langsung mematikan sambungan karena merasa sangat malu.
Rafael yang berniat untuk membalas ciuman dari sang istri, tidak jadi melakukannya karena sambungan telpon sudah terputus.
"Astaga! Dasar istriku yang sangat nakal." Rafael tersenyum simpul sambil melihat ke arah layar ponsel miliknya.
Aealeasha yang ikut merasa bahagia, kini tertawa dan bertepuk tangan sebagai sebuah applause untuk pria yang sangat disayanginya sebagai saudara laki-laki.
"Wah ... selamat, Brother. Nah, gini dong! Akhirnya kamu menyadari bahwa aku bukanlah cinta sejatimu karena istrimulah wanita yang membuatmu membuka hati yang selama ini kamu tutup rapat-rapat."
Kemudian Aealeasha mengeluarkan tangan sebagai ucapan selamat dan mendapatkan balasan dari pria yang kini terlihat berbinar wajahnya karena diliputi kebahagiaan.
"Terima kasih, Aealeasha. Semua ini berkat doa-doa dari kalian semua dan akhirnya aku bisa hidup dengan baik bersama dengan istri dan calon anakku. Akhirnya kita sama-sama merasa lega karena tidak membebani diri masing-masing."
Saat Rafael baru saja menutup mulut, ia mendengar suara bariton dari pemilik rumah yang tak lain adalah ayah dari Aealeasha yang baru saja keluar dari pintu utama
Bahkan terlihat sangat terkejut begitu melihat putrinya berada di hadapannya. "Putriku? Kamu pulang? Kenapa tidak mengabari Papa?"
Pria paruh baya tersebut segera memeluk putrinya untuk mengungkapkan rasa rindu yang selama ini dirasakan dengan mengusap beberapa kali punggung putrinya.
"Ayo, cepat masuk karena cuaca malam sangat dingin."
__ADS_1
"Iya, Pa." Aealeasha saat ini menatap ke arah Rafael dan tidak berniat untuk menceritakannya sebelum masuk ke dalam rumah.
Kemudian mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Rafael saat ini hanya melihat interaksi antara ayah dan anak tersebut yang saling mengungkapkan rasa rindu.
Tadi sengaja tidak mengajak Arza karena ingin berbicara serius dan tidak ingin anak kecil itu mengetahui pembicaraan para orang dewasa.
"Mana barang-barangmu, Sayang? Lalu, di mana cucuku? Apa kamu sendirian dari New York?" tanya Cakra Charlotte yang saat ini merasa ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan.
Aealeasha pun menceritakan semua hal yang menjadi penyebab ia pergi dari rumah suami secara diam-diam dan ditolong oleh Rafael dan beberapa hari lalu mertuanya datang untuk menjemputnya pulang.
"Jadi, seperti itu ceritanya, Pa. Papa jangan marah pada Rafael karena ia tidak bersalah. Akulah yang menyuruhnya untuk merahasiakan semuanya karena ingin menenangkan diri."
Kemudian Aealeasha memberikan kode pada Rafael agar segera mengungkapkan tujuan mereka datang.
Rafael mendapatkan tatapan tajam dari mantan mertuanya dan sama sekali tidak membuatnya takut. Kemudian ia membuka suara untuk membuat pria itu menceritakan semuanya pada putri sendiri.
"Papa, aku sudah menceritakan mengenai masa lalu yang berhubungan dengan penyebab orang tua Arsenio meninggal."
"Apa?" teriak Cakra dengan wajah memerah karena merasa sangat murka pada mantan menantunya karena tidak bisa menjaga rahasia.
"Dasar pengkhianat yang tidak bisa dipercayai!"
"Papa, hentikan!" Aealeasha buru-buru menahan tangan sang ayah agar tidak meninju wajah Rafael yang sama sekali tidak bersalah karena berniat baik untuk tidak selamanya menipunya.
"Aku sangat kecewa pada Papa jika selamanya aku tidak mengetahui kenyataan pahit ini. Aku yakin jika dibalik semua masa lalu kelam akan ada secercah sinar kebahagiaan. Jika Arsenio benar-benar sangat mencintaiku, ia tidak akan pernah membenciku yang merupakan putri dari pembunuh orang tuanya."
Bahkan saat ini Aealeasha sudah bersimbah air mata karena tidak kuasa untuk membayangkan mengenai semua hal yang berhubungan dengan masa lalu sang ibu yang telah menyebabkan luka mendalam di hati seorang Arsenio.
Ia sejujurnya takut jika mendapatkan kebencian dari sang suami, jadi membutuhkan sebuah dukungan dari sang ayah yang saat ini ada di hadapannya.
"Papa, aku ingin meminta maaf pada suamiku atas nama mama. Meski aku tidak tahu apa yang akan menjadi keputusannya, tapi paling tidak, aku tidak hidup dalam sebuah kebohongan yang Papa ciptakan karena menyembunyikan mengenai kejadian sesungguhnya puluhan tahun yang lalu."
__ADS_1
Aealeasha masih tidak melepaskan tangan sang ayah karena khawatir akan benar-benar meninju wajah Rafael yang hanya diam saja seperti patung. Seolah sama sekali tidak takut jika wajahnya yang sudah babak belur itu kembali mendapatkan pukulan.
Sementara itu, Cakra akhirnya terdiam karena menganggap bahwa semua yang baru saja diungkapkan oleh putrinya memang benar. Ia memang salah karena menyembunyikan semua kenyataan itu demi kebahagiaan putri satu-satunya.
Kini, ia mengempaskan tangan karena merasa kehilangan tenaga begitu menyadari dosa-dosanya pada putrinya. Kini, ia mengambil ponsel miliknya di saku celana dan langsung memencet tombol panggil.
Ia tahu jika saat ini di New York memasuki jam kerja karena ingin memastikan sesuatu pada menantunya demi putrinya yang diharapkan akan selamanya berbahagia dan tidak akan hidup menderita.
Rafael dan Aealeasha saat ini saling menatap dan memberikan sebuah kode. Seolah keduanya bertanya-tanya mengenai siapa yang dihubungi oleh pria paruh baya tersebut.
Hingga ia mendengar suara bariton dari seberang telepon yang sangat dihafal karena Cakra sudah memencet tombol loudspeaker agar semua orang yang ada di ruang tamu tersebut mendengar.
"Halo, Pa," sahut Arsenio dari seberang telpon.
Sementara itu, Cakra kini menatap ke arah putrinya dan menunjukkan ponsel, untuk menegaskan jawaban yang dicari oleh putrinya.
"Aku tidak akan bertele-tele padamu, Arsenio karena sudah mengetahui rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja dan Aealeasha sekarang ada bersamaku."
Di sisi lain, Arsenio hanya terdiam karena merasa bersalah menjadi penyebab keretakan rumah tangganya dengan wanita yang sangat dicintai. Ia memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh mertuanya tersebut.
"Iya, Pa, aku mendengarnya."
Saat pertama kali mendengar suara dari sang suami yang sangat dirindukannya, Aealeasha meremas pakaian yang dikenakan. Ia sebenarnya sangat geram dan kesal dengan jawaban singkat dari suaminya yang sama sekali tidak menjelaskan apapun untuk membela diri.
Bahwa pria itu sangat mencintainya dan tidak pernah berselingkuh karena semua foto-foto yang beredar di media sosial itu hanyalah sebuah settingan dari keponakan ayah angkat.
'Seandainya suamiku ada di hadapanku, aku pasti sudah memukul kepalanya untuk memberikan pelajaran,' gumam Aealeasha yang hanya bisa mengumpat di dalam hati karena ingin mendengar pembicaraan selanjutnya ketika sang ayah menyebutkan mengenai masa lalu.
"Aku ingin mengatakan sebuah hal yang sudah puluhan tahun kurahasiakan, Arsenio. Sebenarnya ...."
Cakra tidak langsung menceritakan karena sibuk menelan saliva ketika merasa gugup jika sampai mendapat kemurkaan dari menantunya dan rumah tangga putrinya berakhir dengan sebuah perceraian.
__ADS_1
To be continued ...
Rafael yang baru