I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mencari seseorang


__ADS_3

Aeleasha yang terlihat tengah meneguk minuman, bertanya-tanya mengenai siapa yang sedang berbicara di telepon dengan sang suami. Ia berencana bertanya setelah pria itu selesai berbicara di telepon.


Hingga ia yang saat ini melihat suami sudah mematikan sambungan telepon, langsung mengangkat gelas berisi air hangat yang diminta oleh Arsenio.


"Bukankah kamu haus, Sayang? Ini airnya."


Arsenio yang tadi tidak mengatakan apapun setelah mendengar suara bariton dari seberang telpon karena perasaan berkecamuk dirasakan olehnya setelah mengetahui bahwa ada kemungkinan keluarga sang istri berhubungan dengan pelaku tabrak lari orang tuanya.


Namun, ia berakting tersenyum simpul saat berjalan mendekati sosok wanita di hadapannya tersebut. Ketika ia mendaratkan tubuhnya di dekat Aeleasha, menatap bibir sensual wanita yang kini basah setelah minum.


Ingin membersihkan sisa-sisa minuman yang membuatnya cemburu saat menghiasi bibir sang istri, refleks langsung bergerak cepat dan meraup bibir sensual basah yang terasa manis itu.


Aeleasha yang awalnya sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Arsenio, beberapa kali mengerjapkan kedua mata hingga mengumpat di dalam hati.


'Astaga, apa yang dilakukannya? Aku menyuruhnya minum, tapi malah membungkam bibirku.'


Aeleasha yang awalnya hanya diam, sambil menggenggam erat kedua sisi pakaian, kini mulai terbawa suasana.


Arsenio yang tadinya menikmati bibir Aeleasha, kini bersorak kegirangan begitu merasakan wanitanya itu mulai membalas ciuman.


Sebenarnya, ia tadi hanya ingin mencium sebentar, tetapi mengurungkan niat begitu mendapatkan balasan penuh gairah dan tidak berniat untuk menghentikan.


Keduanya pun saling mengeksplore dan menyesap untuk berbagi saliva dengan penuh bergairah. Bahkan mereka sama sekali tidak memperdulikan apapun lagi karena telah tenggelam dalam hasrat membara dengan tubuh memanas.


Ciuman memabukkan yang kini berubah sangat liar dan membuat keduanya sama-sama tidak ingin melepaskan.


Bahkan degup jantung mereka sama-sama berdebar kencang dengan aliran darah mengalir begitu cepat, seolah membuktikan bahwa saat ini hanya ingin tenggelam dalam gairah untuk meraih puncak kenikmatan sejati.


Arsenio yang awalnya hanya ingin membersihkan air di bibir Aeleasha, kini masih belum puas menikmati bibir yang sudah menjadi candu.


Ia benar-benar menganggap bibir sang istri sebuah candu untuknya. Tanpa membuang waktu, kini tangannya mulai merajalela ke bagian lingerie seksi yang melindungi tubuh sang istri. Tentu saja ia ingin menyingkirkan kain yang menjadi pelindung tubuh seksi itu ke atas.


Sementara itu, Aeleasha yang tadi hanya ingin membalas ciuman dengan niat untuk merayu, kini tersadar dari kebodohan yang selalu terhanyut dalam kolam hasrat membara.


Namun, otaknya kini menangkap sinyal bahaya dari pria yang mulai bergerak untuk makin berbuat lebih jauh padanya.


'Aeleasha, sadarlah! Apa kamu mau tulang-tulangmu terlepas dari tempatnya?'


Sadar dari kebodohannya, refleks Aeleasha langsung mendorong dada bidang Arsenio agar melepaskan kuasa. Sementara tangannya yang satu lagi menahan lingerie yang dikenakan, agar sang suami tidak berhasil mengarahkan ke atas.


Begitu, ia berhasil melepaskan pertautan bibirnya, refleks menggelengkan kepala. "Jangan macam-macam! Kita harus segera bersiap. Aku yakin nanti Rafael akan datang sebentar lagi."

__ADS_1


Tentu saja penolakan dari sosok wanita yang saat ini tengah menatap dengan memelas, selalu saja membuat Arsenio merasa lemah. Apalagi saat Aeleasha menampilkan tatapan tajam, ia sadar tidak bisa berkutik begitu wanita yang sangat dicintai mengancam.


Embusan napas kasar terdengar memenuhi ruangan kamar dan jelas membuktikan bahwa saat ini ia tengah kesal.


"Padahal aku tadi hanya ingin membersihkan bibirmu. Minuman itu berhasil menodai bibirmu. Jadi, aku membersihkannya dengan bibirku."


Saat Arsenio baru selesai mengungkapkan apa yang tadi dipikirkan, malah terkejut saat tiba-tiba mendapatkan sebuah kecupan lembut di pipi.


Refleks ia mengusap bekas kecupan lembut yang baru saja dihadiahkan oleh wanita dengan wajah berbinar tersebut.


"Sekarang kamu berubah menjadi seorang wanita nakal, ya. Apa kamu sedang merayuku?"


Sebenarnya Aeleasha awalnya merasa sangat kesal pada Arsenio, tetapi beralih terkekeh karena merasa perkataan pria itu sangat konyol, tetapi berhasil membuatnya gemas.


Tentu saja ia kali ini kembali merasa senang saat keinginannya dipenuhi oleh pria yang menurutnya makin tampan saat berbuat baik.


"Ini adalah sebuah ucapan terima kasih untuk suamiku yang sangat baik hati. Bukan nakal, ingat itu! Aku belum menyisir rambutku yang seperti Mak lampir."


Dengan jari telunjuk yang mengarah ke atas meja, Aeleasha kembali meminta bantuan pria dengan rahang tegas tersebut. "Tolong ambilkan sisir. Aku tadi ingin bertanya, tapi lupa."


Awalnya, Arsenio enggan bangkit dari posisinya karena masih ingin memanjakan mata dengan menatap intens wajah cantik di hadapannya.


Ia pun kembali menghampiri sang istri dengan tangan kiri kini memegang sisir yang akan digunakan untuk menyisir rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut. Namun, ia sebelumnya berpura-pura untuk menyisir rambutnya sendiri.


"Memangnya kamu mau bertanya apa?"


Aeleasha menunduk menatap ke arah lingerie seksi yang membalut tubuhnya. "Kenapa mengganti wardrobe hangatku dengan ini? Ini seperti tidak berpakaian saja."


Saat Aeleasha melihat Arsenio malah menggunakan sisir yang dimintanya, ia mengerutkan kening.


"Rambutmu pendek dan selalu rapi saat bangun tidur, buat apa menyisirnya lagi? Apa kamu ingin membuat para wanita makin terpesona saat melihatmu?"


Kalimat terakhir yang diartikan sebagai sebuah kecemburuan, hanya membuat sudut bibir Arsenio melengkung ke atas saat tersenyum smirk. Ia pun kini tidak membuang waktu untuk melancarkan niat, yaitu menyisir rambut panjang Aeleasha.


"Sepertinya ada yang sedang merasa cemburu. Kamu tenang saja, Sayang. Aku sama sekali tidak tertarik pada wanita lain karena sangat memujamu. Satu-satunya wanita yang menaklukkan hatiku hanyalah kamu, Istriku. Ingat itu baik-baik di otakmu."


Kemudian ia kembali melanjutkan kegiatan untuk menyisir rambut panjang di depannya.


Ada rasa malu, senang dan hatinya bagaikan berbunga-bunga saat mendengar pria di belakangnya mengeluarkan rayuan maut.


Namun, ia berpura-pura bersikap biasa. Meskipun saat ini hatinya merasa sangat bahagia. Wanita mana yang tidak akan luluh saat ada seorang pria tampan yang berhasil menjadi budak cintanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Aku bisa menyisirnya sendiri," ucap Aeleasha yang berniat untuk meminta sisir di tangan Arsenio.


"Diamlah dan jangan bergerak! Kamu belum menanggapi perkataanku. Jadi, jangan coba-coba untuk mengalihkan pembicaraan. Apakah kamu tadi cemburu padaku hanya karena aku ingin tampil rapi?" tanya Arsenio yang kini sudah mendekatkan wajah ke telinga Aeleasha dan membuat wanita itu seketika menoleh.


Tubuh Aeleasha bergetar dan menegang hanya karena mendengar bisikan pria yang masih berada sangat dekat dengannya.


Bahkan ia merasa perbuatan Arsenio menjadi penyebab utama dari sesuatu yang mengalir cepat dalam aliran darahnya saat ini.


"Aku sama sekali tidak cemburu. Jangan salah paham."


"Aku berharap kamu selamanya akan mencintai dan tidak meninggalkanku. Satu hal lagi, terima kasih karena membantuku untuk menyisir rambut," ujar Aeleasha dengan terkekeh.


Hanya seulas senyuman yang kini terukir di bibir Arsenio saat merasa puas dan senang karena mendapatkan jawaban yang diinginkan.


"Tentu saja aku akan selamanya mencintaimu. Bahkan setelah terbukti, kamu masih juga meragukanku."


"Biarkan rambut indahmu seperti ini karena aku lebih menyukai tergerai menghiasi punggungmu. Rambut panjang indah ini makin membuatmu terlihat sangat cantik, tapi jangan melakukan di depan Rafael nanti karena hari ini kamu harus mengikatnya. Rafael hari ini harus melihat hasil karyaku agar tahu diri dan move on padamu."


Aeleasha hanya geleng-geleng kepala mendengar keinginan dari sang suami. "Aku memang cantik dan berhasil membuatmu dan Rafael tergila-gila. Sebenarnya aku tidak tega melihat wajah muram Rafael jika melihat hasil perbuatanmu, tapi aku benar-benar sangat geram padanya."


"Sepertinya aku memang harus menunjukkan jejak kepemilikanmu, agar Rafael sadar dan segera move on dariku. Rafael harus menikah dengan wanita itu."


Sebenarnya Aeleasha tadi merasa sangat curiga pada tingkah sang suami tadi ketika berbicara di telepon. Saat di dapur tadi tengah memikirkan kenapa Arsenio menyembunyikan ponsel di bawah bantal begitu ia keluar dari kamar mandi dan menyuruhnya pergi untuk mengambil air minum.


Ia berpikir bahwa pria yang saat ini memujanya itu mungkin sedang menyembunyikan sesuatu dan sangat menggangunya.


"Sayang, kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"


Sementara itu, Arsenio yang merasa sangat terkejut dengan pertanyaan bernada kecurigaan dari sang istri, seolah tombak tajam di jantungnya.


Ia sadar tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang istri yang memiliki mata batin sangat tajam itu.


'Aku telah gagal merahasiakan hal ini dari istriku. Sepertinya aku harus menceritakan semua hal tentang musibah yang menimpa orang tuaku. Mungkin dia malah bisa membantuku untuk mencari tahu,' gumam Arsenio yang saat ini menatap penuh keraguan pada sang istri yang ada di hadapannya.


Sebelum membuka suara, Arsenio berdehem sejenak karena tidak ingin terlihat gugup di depan sang istri yang kini mengarahkan tatapan intens padanya.


"Sebenarnya aku sedang mencari seseorang."


"Seseorang? Apakah seseorang yang sedang kamu cari adalah wanita?" tanya Aeleasha dengan tatapan tajam mengintimidasi saat merasa curiga pada pria yang saat ini berada di hadapannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2