
Aealeasha terlihat tengah sibuk mengawasi para pekerja di dapur yang sudah mulai memasak. Ia kini sudah jauh lebih baik dan merasa cukup beristirahat setelah insiden ia pingsan.
Ia memang sudah berniat untuk menghubungi sang ayah, tapi masih memikirkan waktu yang tepat karena jujur saja ia pun tengah menyiapkan hati ketika nanti membahas almarhumah ibunya.
Tadi ia menyuruh pengasuh Arza untuk menjaga putranya. Saat ia tengah memeriksa beberapa menu makanan yang sudah siap, mendengar suara bariton dari seorang pria.
"Nyonya Aealeasha, ada orang mencari Anda."
Aealeasha mengerutkan kening karena merasa heran dengan siapa yang datang mencarinya.
'Apa brother yang datang? Sudah seminggu ia tidak datang. Apa mungkin sedang ada masalah?' gumam Aealeasha yang kini menebak-nebak.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Aealeasha kini melangkah keluar dari dapur dengan pekerja yang menunjukkan tamunya. Hingga seketika ia membulatkan mata begitu melihat pria paruh baya dengan rambut keemasan tengah duduk di salah satu kursi.
"Daddy?"
__ADS_1
Sosok pria yang tak lain adalah pria berkebangsaan Amerika tengah menikmati teh hangat dan begitu melihat menantunya membulatkan mata, seketika langsung bangkit berdiri.
"Aealeasha."
Sebenarnya Aealeasha tidak ingin berbicara dengan pria yang merupakan ayah angkat sang suami, tapi karena merasa itu sangat kejam dan tidak sopan, sehingga terpaksa untuk berjalan mendekat.
"Daddy." Ia mempersilakan pria paruh baya itu duduk. "Dari mana Daddy tahu?"
Sementara itu, Giovanni Adelardo kini langsung memegang punggung tangan Aealeasha dan tidak membuang waktu langsung mengungkapkan tujuannya datang ke Jakarta. "Kembalilah ke New York, Aealeasha. Arsenio membutuhkanmu."
Refleks Aealeasha langsung menarik tangannya dan menggelengkan kepala. "Tidak! Pria itu sudah tidak membutuhkan kami."
Tidak ingin sang menantu salah paham, kini Adelardo mulai menjelaskan semuanya. Bahwa Arsenio benar-benar tengah mengalami kehancuran dan juga dijebak oleh keponakannya. Juga menceritakan jika umurnya sudah tidak lama lagi dan tidak bisa bersama Arsenio selamanya.
"Kembalilah, Aealeasha. Arsenio membutuhkan dukunganmu dari seorang istri. Usia Daddy mungkin hanya tinggal beberapa bulan lagi. Arsenio akan hancur jika tidak punya siapa-siapa yang mendukung."
__ADS_1
Aealeasha merasa sangat terkejut atas semua penjelasan dari pria paruh baya tersebut dan sekaligus merasa sangat bersalah karena telah salah paham pada sang suami.
Namun, saat mengingat jika ada satu hal yang merupakan sebuah rahasia besar dari masa lalunya dengan Arsenio, membuatnya bimbang.
"Aku butuh waktu, Dad. Ada beberapa masalah yang membuatku harus menyelesaikan semuanya terlebih dahulu."
Berharap masalah pribadinya tidak diketahui oleh pria paruh baya tersebut, Aealeasha kini berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mengenai keadaan pria yang dianggapnya sangat malang.
Ia sebagai istri, ingin berada di sisi pria yang masih sangat dicintainya. 'Sayang, maafkan aku karena berada di sampingmu saat menghadap banyak masalah.'
'Mulai dari orang tua kandungmu yang meninggal karena ibuku dan sekarang difitnah oleh keponakan daddy. Belum lagi jika nanti kamu mengetahui semuanya bahwa mamaku yang menjadi penyebab kemalanganmu, apa kamu masih tetap mencintaiku?'
Aealeasha kini berpikir bahwa keputusannya tergantung pada sang suami dan kini menatap ke arah pria paruh baya yang diketahuinya memiliki penyakit parah.
"Aku akan kembali ke New York jika yang menjemput kami adalah dia, bukan Daddy." Aealeasha kini melihat ekspresi wajah tenang dari pria paruh baya di hadapannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menelponnya sekarang agar kamu bisa berbicara dengan putraku." Adelardo kini langsung membuka ponselnya untuk mencari daftar kontak putranya dan menekan tombol panggil.
To be continued...