
Cakra pun mulai menceritakan semua hal mengenai kejadian di masa lalu yang membuat sang istri merasa terpuruk sekaligus tertekan setelah melakukan tabrak lari pada orang tua Arsenio. Ia berbicara tentang kecelakaan itu tanpa ada yang ditutupi sama sekali.
Berharap pria di seberang telpon yang tak lain adalah menantunya tersebut tidak akan memberikan sebuah hukuman pada putrinya yang jelas-jelas sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecelakaan itu.
"Aku tahu pasti kamu sangat shock mendengarkan ini, Arsenio. Tapi jangan membenci Aealeasha karena ia sama sekali tidak bersalah dan tidak berhak mendapatkan sebuah hukuman dari perbuatan istriku yang sudah menebus kesalahan hingga meninggal tak lama setelah kecelakaan itu."
Saat Cakra mengungkapkan poin penting yang sesuai dengan harapannya, terlihat Aealeasha saat ini merasa sangat gugup dengan keputusan yang diambil oleh sang suami yang masih sangat mencintainya dan berharap ia kembali bersama dengan mertua.
Ia berusaha mengerti bahwa suaminya memiliki tanggung jawab besar untuk mengurus perusahaan yang hampir bangkrut karena ulah keponakan dari mertuanya hingga memfitnah Dengan menyebarkan foto-foto palsu hasil rekayasa dari wanita yang dibayar pria itu.
Jadi, sama sekali tidak mempermasalahkan jika bukan sang suami yang menjemputnya untuk kembali ke New York. Paling tidak, pemikirannya selama ini salah karena mengira jika sang suami berselingkuh dengan wanita lain dan mengkhianati ikatan suci pernikahan.
'Apa yang akan dikatakan oleh suamiku? Apakah ia akan marah dan menceraikanku karena orang tuanya meninggal akibat perbuatan mama?' gumam Aealeasha dengan perasaan tidak menentu dan menatap ke arah Rafael yang seolah memberi kode agar ia lebih tenang.
Rafael saat ini berbisik di dekat daun telinga Aealeasha untuk mengungkapkan pendapatnya tentang Arsenio yang ia ketahui mencintainya.
"Jika Arsenio mencintaimu dan juga anakmu, pasti tidak akan mempermasalahkan mengenai masa lalu yang bahkan hanya akan menambah masalah dalam hidupnya."
Rafael lupa menanyakan poin penting yang sempat dipikirkan saat ini. "Oh ya, apa Arsenio sudah mengetahui bahwa kamu saat ini hamil anak kedua?"
__ADS_1
Aealeasha hanya menggelengkan kepala. Saat ini suaranya seperti tercekat di tenggorokan karena efek gugup jika sampai sang suami merespon dengan negatif semua perkataan dari sang ayah.
Hingga ia saat ini mendengar jawaban dari seberang telpon setelah hening beberapa menit, seolah menunjukkan sang suami seperti tengah memikirkan keputusan yang akan diambil.Hingga ia merasa sangat terkejut dan membulatkan kedua matanya.
"Aku sudah lama tahu itu karena telah menyelidiki kematian orang tuaku, Pa. Aku mengetahuinya setelah satu bulan Aealeasha pergi diam-diam meninggalkanku." Arsenio mengambil napas sebelum menceritakan semua yang diketahuinya.
"Saat itu, aku benar-benar sangat marah, terpukul dan frustasi, sehingga menyalahkan diri sendiri saat menjadi anak durhaka bagi orang tuaku saat menikahi putri dari orang yang membunuh mereka."
Arsenio yang berada di ruangan kerjanya, sama sekali tidak menyangka jika hari ini mertuanya akan mengakui semuanya saat ia memang dari dulu menunggu kejujuran pria paruh baya tersebut yang diketahui sangat arogan dan tidak pernah menyukainya.
Ia sudah menduga akan mengetahui secepatnya karena sang ayah datang menjemput Aealeasha agar ia tidak meninggalkan perusahaan yang mengalami masalah besar.
Ia ingin berbicara empat mata dan memilih untuk pergi agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Begitu berada di halaman depan, Aealeasha seketika mengumpat untuk meluapkan semua amarah yang dirasakan olehnya pada pria di balik telpon.
"Apa kamu bilang? Kamu ternyata sudah tahu semuanya dan akulah yang tidak tahu apa-apa karena semua orang menyembunyikan kenyataan buruk ini dariku? Kalian bahkan menganggapku hanyalah seorang wanita lemah."
Aealeasha sibuk menormalkan degup jantungnya yang memburu karena dikuasai oleh api amarah saat dianggap tidak ada karena semua orang menyembunyikan mengenai hal penting itu darinya.
Mulai dari sang ayah, mantan suami serta suami yang ternyata sudah mengetahuinya cukup lama dan membuatnya seperti orang bodoh.
__ADS_1
Hingga ia yang sangat merindukan suaminya, kini mengepalkan tangan kanan untuk menahan amarah yang membuncah di dalam hati.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu tahu bahwa begitu aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya mengenai kematian orang tuaku di saat kamu pergi, rasanya ingin sekali mengakhiri hidup karena diliputi rasa bersalah."
Arsenio sudah berdiri di sebelah jendela kaca raksasa sambil mengamati jalanan lalu lintas kota New yang sangat padat hari ini. Ia akui memang bersalah karena sama sekali tidak berani menghubungi sang istri untuk menanyakan hal itu.
"Aku tahu itu, tapi sepertinya kamu hidup aman dan damai di sana tanpa menelponku sama sekali. Bukankah kamu mempunyai kekuasaan yang bisa dengan mudah mencari keberadaanku serta kontakku? Apa kamu juga sama sekali tidak memikirkan bagaimana Arza?"
Kali ini Aealeasha bisa merasakan tetesan air yang jatuh ke wajahnya dan mendongak ke arah langit yang gelap dan sama sekali tidak ada bintang di sana.
Hingga ia pun berpikir bahwa sebentar lagi pasti akan hujan deras dan tidak ingin tubuhnya basah kuyup, akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke teras samping rumah.
"Sayang, aku sangat merindukan kalian dan rasanya setiap hari seperti berada di neraka dan akan karena hidup sendiri tanpa istri dan anak. Hanya saja, aku sedang menenangkan diri dan berusaha untuk mencari jalan terbaik agar kita tidak sama-sama terluka."
Arsenio berbicara dengan suara serak karena selama ini menahan kerinduan pada wanita yang sangat dicintai dan juga putranya. Hingga ia menyadari jika dirinya tidak bisa hidup tanpa mereka.
Namun, tidak punya nyali untuk menghubungi dan mengatakan tentang penyebab kematian orang tuanya.
"Aku terluka begitu mengetahui yang membuat orang tuaku meninggal adalah mamamu. Tapi aku menyadari bahwa kamu jauh lebih terluka dan pastinya merasa tidak pantas untukku dan takut aku selalu mendengar tentang orang tuaku saat menatapmu."
__ADS_1
To be continued...