
Meskipun wanita itu tidak menjelaskan secara detail karena ingin ia mengingatnya sendiri dengan alasan ada sebuah luka menganga yang diciptakan oleh orang-orang terdekatnya.
Alesha seperti mencuri puzzle memori darinya dan menyembunyikan di suatu tempat yang tidak ia ketahui. Jadi, Alex harus mencari kepingan yang hilang itu sendiri. Tanpa ada yang membantu karena orang-orang di sekitar tidak mau menceritakan masa lalunya saat bersama dengan wanita di hadapannya tersebut.
Saat ia bertanya pada kerabat serta sahabat, tidak ada yang mengetahui statusnya dengan wanita yang merupakan mahasiswinya tersebut.
Bahkan ia sudah bertanya pada sang ibu, tetapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Wanita yang telah melahirkannya mengatakan tidak mengenal Alesha.
Meskipun ada kecurigaa dirasakan Alex pada orang tua yang terkesan menutupi masa lalunya tersebut. Kini, perasaannya berkecamuk begitu beberapa hari lagi akan kehilangan Alesha.
Tidak mungkin setelah wanita itu berstatus sebagai istri pria bernama Rafael, ia akan dicap sebagai orang ketiga yang merusak rumah tangga orang lain.
Antara, marah, kesal, bingung, kecewa, itulah yang membuat seorang Alex beberapa hari ini terfosir pikirannya dengan wajah selalu dipenuhi oleh garis kerutan karena malah dan juga mata penuh dengan lingkaran hitam ketika tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Mana mungkin ia bisa tidur nyenyak saat pikirannya sedang dibawa oleh sosok wanita yang saat ini malah berteriak untuk meluapkan kekesalan padanya.
"Pikiran kita selalu berbeda. Bahkan bisa dibilang, bagaikan air dan minyak yang tidak mungkin bisa disatukan. Jika aku ingin memberikan semua yang terbaik untuk ibuku di akhir hayatnya, tetapi kamu menyuruhku untuk egois dengan mengatakan kenyataan yang sebenarnya."
"Aku bukanlah wanita yang menabur garam di atas luka. Apalagi pada ibuku sendiri. Aku tidak akan pernah melakukan itu, Alex. Memang seorang ibu tidak akan pernah menjuruskan anak pada jalan yang buruk."
"Namun, terkadang jalan yang dianggap baik oleh orang tua, tidaklah sama dengan yang dipikirkan oleh anak. Kamu akan mengetahui apa yang kumaksud setelah nanti ingatanmu kembali. Aku masih sadar dan tidak ingin membuatmu berakhir buruk karena masa lalu."
'Aku tidak akan pernah mengatakan jika orang tuamu memberiku cek dan menyuruh untuk menjauhimu. Kamu akan membenci orang tuamu dan malah semakin terluka ketika ingatanmu masih belum pulih,' gumam Alesha yang saat ini memilih untuk bangkit berdiri dari posisinya.
Ia hari ini menghabiskan waktu dengan berkeliling Mall untuk menghibur perasaan yang kacau. Jika biasanya setiap hari ia akan diantar jemput oleh Rafael, tetapi hal yang berbeda saat ini terjadi karena calon suaminya tersebut sudah pergi dari semalam.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun padanya dan membuatnya merasa sangat aneh sekaligus penasaran. Alesha mengetahui jika Rafael dari semalam meninggalkan rumah dengan alasan sedang meeting penting keluar kota.
Bahkan ia sama sekali tidak diberitahu oleh Rafael mengenai ke mana tujuan pria itu pergi. Jadi, hari ini ia merasa bebas dan tidak terkekang oleh keinginan ataupun perintah dari pria yang akan menikahinya atas dasar perjanjian tersebut.
Hal itulah yang membuatnya bisa berada di apartemen Alex ketika dipaksa untuk ikut. Meskipun tadi ia langsung menelpon sang ibu dengan berbohong bahwa ada tugas dengan temannya.
Sang ibu hanya memberikan izin tanpa bertanya macam-macam padanya. Namun, ia merasa sangat bersalah pada wanita yang telah melahirkannya tersebut karena berbohong.
"Aku harus pergi, Alex."
"Aku belum selesai denganmu, Alesha. Lebih baik kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Maafkan aku jika membuatmu merasa kesal dan marah saat aku bersikap kasar dengan cara memaksamu." Alex yang dari tadi berdiri menjulang di hadapan Alesha, kini memilih untuk meraih pergelangan tangan wanita itu.
Kemudian mengarahkan wanita itu agar kembali duduk di sofa.
"Baiklah. Aku tidak akan pergi asalkan kamu tidak memaksa untuk membatalkan pernikahanku dengan Rafael."
Sebenarnya, Alesha ingin sekali mengatakan pada pria itu. Bahwa antara ia menikah ataupun tidak dengan Rafael, tidak akan mengubah apapun karena pernikahan itu palsu.
Namun, ia tidak mungkin jujur pada Alex karena ada tanggung jawab pada Rafael untuk menjaga nama baik pria yang menjadi dewa penolongnya tersebut.
Ia sudah berjanji bahwa perjanjian mereka tidak boleh ada yang tahu. Jadi, mengunci rapat-rapat mulutnya, agar tidak sampai membocorkan tentang rahasia besar tersebut.
Jika rahasia itu sampai didengar oleh Alex, ia yakin jika pria itu akan memanfaatkan dengan mengancam Rafael. Akhirnya terjadi perang besar antara dua pria yang memang dari awal selalu saja tidak bisa akur. Bahkan seperti seorang musuh besar yang tidak akan pernah bisa berdamai.
'Aku selama ini tidak bisa melawan Alex yang selalu berbuat sesuka hati padaku. Ia benar-benar berubah menjadi pria berbeda saat amnesia disosiatif. Mungkin jika sudah kembali ingatannya, tidak akan seperti ini lagi.'
__ADS_1
'Alex Claire mungkin akan kembali bersikap dingin padaku setelah sembuh dari amnesia yang diderita. Ia yang kukenal dulu adalah pria berwibawa dan dingin yang tidak mudah jatuh cinta. Jangankan marah seperti ini, berbicara saja bisa kuhitung berapa kata yang lolos dari bibirnya.''
'Sementara Alex yang amnesia, terlalu banyak menampilkan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan. Ia bahkan dengan sesuka hati selalu menciumku tanpa izin semenjak melihat Rafael yang memulainya di rumah sakit.'
'Seolah Rafael merupakan provokator yang merubah seorang anak dingin dan tidak suka berbuat sesuka hati pada seorang wanita, seketika berubah total saat melihat kejadian di rumah sakit. Mungkin, aku harus menyalahkan Rafael karena menjadi penyebab utama Alex Claire sering menciumku.'
'Sialnya, aku selalu lemah dan tidak bisa menolak karena terbuai dengan ciuman Alex. Dia ternyata sangat lihai berciuman, sedangkan dulu, tidak pernah melakukannya padaku.'
Wajah Alesha seketika memanas karena mengingat kejadian di ruangan Alex saat tiba-tiba menghambur menciumnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Alex memecahkan keheningan dengan pertanyaan ambigu yang ia tahu telah berhasil membuat wanita di hadapannya penasaran.
"Apa maksudmu?" Alesha memicingkan mata karena tidak memahami pertanyaan bernada membingungkan tersebut.
"Jika kamu tidak mau membatalkan pernikahan demi ibumu, bagaimana dengan hubungan kita? Apakah akan berakhir dan aku patah hati dalam menceburkan diri ke laut dan membiarkan ombak membawaku hingga ke tengah samudra?"
Kalimat yang dianggapnya sangat konyol dan terlihat seperti tidak mengenal sosok pria dingin di hadapannya tersebut, Alesha merasa sangat gemas dan refleks mengarahkan sebuah cubitan kuat pada paha Alex.
"Alex! Jangan membuatku kesal karena sikap yang kamu tunjukkan! Kamu benar-benar menjadi orang lain setelah amnesia." Alesha yang baru saja menutup mulut, kini mengerjapkan mata beberapa kali ketika Alex mengunci posisinya dengan menatap tajam sambil mendekatkan wajah.
"Apa yang kamu lakukan, Alex?"
"Menciummu, atau bila perlu memperkosamu!" sarkas Alex yang saat ini tengah menatap tajam Alesha dan mulai semakin mendekatkan wajahnya pada wanita di hadapan.
To be continued...
__ADS_1