I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Berubah mellow


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu dan saat ini kehamilan Alesha sudah menginjak sembilan bulan dan menurut dokter, seminggu lagi HPL. Alesha bahkan setiap malam semakin tidak bisa tidur karena memikirkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan melahirkan.


Memasuki trimester ketiga kehamilannya, perasaan Alesha benar-benar campur aduk. Bisa digunakan dibilang antara senang dan khawatir seolah menjadi satu.


Seiring dengan perubahan tubuhnya yang semakin gendut dan pertumbuhan bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Alesha merasakan tubuhnya mengalami ketidaknyamanan setiap kali berbaring di atas ranjang. Ia bahkan setiap malam selalu minta untuk dipijat oleh sang suami yang sangat perhatian padanya karena jika tidak begitu, tidak akan bisa tidur.


Apalagi sering merasakan kembung dan mudah lelah karena efek sulit untuk tidur dengan nyenyak.


Itu karena ia memiliki banyak hal yang dipikirkan sepanjang hari, tapi mengetahui jika itu semua wanita hamil pernah merasakan itu dan ia tidak sendirian, hingga membuatnya berusaha untuk berpikir positif.


"Aku pasti bisa melewati ini semua. Apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan dan bisa melihat bayi yang ku kandung selama 9 bulan."


Alesha yang saat ini pada posisi berbaring miring dan dipeluk oleh sang suami yang sudah tertidur pulas, kini mengajak berbicara bayinya dengan suara lirih.


"Anak Mama, cepat keluar dengan jalan mudah ya. Mama dan papa sudah tidak sabar ingin melihatmu. Kamu pasti sangat tampan seperti papamu ini." Alesha mengusap perutnya beberapa kali sambil menatap ke arah pria yang terlihat sangat lelah.

__ADS_1


"Lihatlah papamu, Sayang. Papamu sudah bekerja keras untuk kita agar bisa memberikan semua yang terbaik. Kamu pasti sangat bangga memiliki papa seperti ini." Alesha saat ini menatap ke arah sang suami.


'Enak banget ya jadi laki-laki. Tidak perlu hamil, tidak merasakan melahirkan, itu membesarkan anak, sedangkan wanita tidak boleh memilih karena sudah menjadi kodratnya.'


Alesha yang baru pertama kali ini mengeluh Saat merasa iri pada sang suami yang bisa tertidur pulas, sedangkan ia semenjak 7 bulan kehamilan sampai 9 bulan ini selalu gelisah setiap malam.


Bahkan saat ia berkonsultasi dengan dokter mengenai kegelisahannya setiap malam, juga dijelaskan bahwa hampir semua ibu hamil mengalami banyak keluhan saat hamil tua. Saat kehamilannya sudah hampir lengkap dan selesai


Merasakan perutnya semakin membesar perutnya dan semakin tidak nyaman.


Meskipun secara fisik ia merasa selesai dengan kehamilan pada trimester terakhir, tapi belum dengan persiapan mental dan emosionalnya.


Seolah bisa merasakan bagaimana susahnya hamil, sehingga membuatnya terkadang merasa bersalah ketika melihat pria yang sangat dicintainya tersebut tidur dalam wajah yang lelah.


Ia tahu bahwa suaminya sudah cukup lelah dengan pekerjaan di perusahaan dan harus sabar menghadapinya ketika di rumah. Alesha tidak berkedip menatap pahatan sempurna di hadapannya.


"Maafkan aku, Sayang. Karena selama ini selalu melampiaskan amarah padamu. Jika nanti aku tidak selamat saat melahirkan, rawat anak kita dengan baik. Apa kamu akan menikah lagi jika aku mati saat melahirkan?" Alesha benar-benar sangat takut jika sampai itu terjadi.

__ADS_1


Ia takut sang suami yang sangat dicintainya tersebut menikah lagi dan putranya akan memiliki ibu tiri yang pastinya tidak akan sepenuhnya bisa menyayangi seperti ibu kandung.


Meskipun ia tahu bahwa tidak semuanya yang jahat pada anak sambung, tapi seperti sudah menjadi dogma dalam masyarakat bahwa semua hal yang berhubungan dengan ibu tiri, pasti akan dianggap negatif.


Saat Alesha sibuk memikirkan tentang melahirkan dan kematian yang bisa saja terjadi pada setiap ibu hamil di trimester akhir, ia seketika berjengkit kakit mendengar suara bariton dari sang suami dan sudah membuka mata.


"Sayang, lama-lama bicaramu ngelantur dan tidak bisa dibiarkan. Aku dari tadi ingin tidur, tapi tidak bisa karena mendengarmu berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kematian." Rafael saat ini mengarahkan tatapan tajam pada sang istri agar tidak lagi berbicara konyol.


Ia sangat tidak suka saat wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu selalu mengaitkan kelahiran dengan kematian. Memang ia sangat mengetahui bahwa wanita yang melahirkan itu mempertaruhkan nyawa dan jika sampai meninggal akan mendapatkan ganjaran surga.


Namun, itu tidak harus dijadikan pedoman oleh semua orang saat merasa khawatir menjelang proses melahirkan. Ia ingin merubah mindset dari sang istri agar tidak terus-menerus memikirkan hal-hal negatif.


"Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, Sayang. Aku pun tidak ingin mati secepat itu karena ingin membesarkan anak yang susah payah aku kandung selama 9 bulan." Alesha tidak menyangka jika sang suami ternyata hanya berpura-pura tidur.


"Hanya saja, bukankah semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan? Jadi, jika nanti aku tidak selamat saat melahirkan, kamu tidak boleh langsung menikah lagi hanya demi mencari ibu untuk anak kita." Bahkan ia seketika berkaca-kaca dan membuatnya langsung menangis.


Alesha mendadak berubah mellow saat membayangkan jika pria yang dicintainya menikah lagi dengan wanita lain dan putranya harus dibesarkan oleh ibu tiri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2