I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Jujur pada sang ibu


__ADS_3

Refleks Tiana berbalik sejenak, menyipitkan matanya karena merasa sangat terkejut dengan keputusan tiba-tiba Rafael. Ia mematikan televisi yang riuh menayangkan drama perselingkuhan tokoh utama.


"Apa yang kamu katakan? Katakan sekali lagi." Tiana meminta siaran ulang dari putranya untuk memastikan.


Rafael kini mengendurkan dasinya diiringi irama napas yang coba ia sinkronkan. "Aku akan menikahi Alesha, Ma," katanya dengan nada tegas.


Tiana sekarang mengerjap hampir tak percaya. Senyumnya perlahan mengembang. Wanita itu jelas senang, bahkan bahagia sekali. "Benarkah apa yang kamu katakan, Sayang?" Tiana masih memeriksa lagi dengan senyum di wajahnya.


Tidak perlu jawaban nyata. Cukup itu. Tiana kini membayangkan sebuah resepsi dan hajatan pernikahan yang belum sempat dialami Rafael sebelumnya karena di masa lalu, hanya memiliki pernikahan siri.


Namun, sekarang pernikahan putranya tidak ada hubungannya dengan merahasiakannya.


Melihat wajah ibunya yang begitu bahagia, Rafael kini menghela napas putus asa. Aku benar-benar tidak ingin merusak suasana bahagia. Namun, ia ingat bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengungkap kebohongan Alesha.


Pria itu akhirnya menarik napas, mencoba berbicara dengan tenang. "Ma, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan."


"Hal lain apa?" Tiana kini menatap Rafael dengan tatapan aneh.


"Ini tentang orang tua Alesha," jawab Rafael skeptis.


Mendengar orang tua Alesha disebutkan oleh putranya, rasa ingin tahu wanita itu secara alami meningkat, tapi melihat wajah serius Rafael, membuatnya sedikit khawatir.


"Bagaimana dengan orang tua Alesha?"


"Aku tidak bisa mengatakan situasi ini, tapi ada satu hal yang harus Mama ketahui." Rafael mengeluarkan suara teredam. "Orang tua Alesha sebenarnya tidak sedang dalam perjalanan bisnis." Lanjutnya, membeberkan inti permasalahan.


Ibu Rafael mengerutkan kening bingung. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Jadi, di mana mereka?"


"Sebenarnya ... ayahnya sudah meninggal dan ibunya sedang dirawat di rumah sakit." Rafael kini berani menatap wajah ibunya.


Refleks Tiana membuka kelopak matanya lebar-lebar. "Rumah sakit? Apa maksudmu?"


"Ya, Ma. Dia ... bukannya kami membohongimu." Rafael berbicara dengan terbata.

__ADS_1


"Mengapa?" Tiana bertanya dengan intonasi rendah. Situasi saat ini benar-benar tidak bisa dipahami olehnya.


"Ma, kami sangat menyesal, tapi situasi ini sangat sulit bagi Alesha. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena situasi keuangan keluarganya tidak baik." Rafael menjelaskan.


"Ya Tuhan. Apakah kamu pikir Mama termasuk orang tua materialistis yang akan menghalangi hubungan kalian hanya karena masalah keuangan dan kesehatan keluarganya yang bermasalah?"


Tiana mengerutkan kening. Jelas ada sedikit kekecewaan di matanya pada anggapan ini, tapi ekspresi khawatir juga tidak bisa disembunyikan darinya.


"Jadi kalian benar-benar berbohong hanya karena alasan itu?" Wanita itu menatap putranya tidak percaya.


"Maaf, Ma." Rafael masih mencoba meminta maaf dengan tenang.


"Berhenti meminta maaf!" perintah Tiana. "Besok, kosongkan semua jadwal kerjamu. Aku harus menjenguk ibu Alesha dan kamu harus menemaniku ke rumah sakit."


Wanita itu kemudian berdiri, berjalan pergi meninggalkan Rafael.


Rafael kini hanya bisa mengusap wajahnya dengan marah. Ia hanya bisa menenangkan dirinya sendiri. Semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan diselesaikan. Hanya kata-kata seperti itu yang terlintas di kepalanya sekarang.


Sampai saat itu, ia memutuskan untuk berjalan dengan kaki panjangnya ke kamar. Melakukan rutinitasnya seperti biasa, sambil berharap malam tidak berlalu terlalu cepat.


Keesokan harinya, Rafael dibangunkan oleh suara peralatan dapur yang bertabrakan dan begitu aktif. Rafael bangun setengah jam lebih awal dari biasanya. Karena cuaca yang sangat gerah, ia tidak punya pilihan selain segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Adapun Tiana, malam itu meresahkan baginya. Wanita itu benar-benar tidak bisa tidur nyenyak.


Pikirannya terus memikirkan bagaimana keadaan Alesha —calon besan dan calon istri putranya yang berada di rumah sakit sekarang.


Pagi-pagi sekali wanita itu bangun dan mengurus semua barang di dapur. Ia membuat sarapan lebih banyak dari biasanya. Hari ini memutuskan untuk mengunjungi ibu Alesha. Karena itu, berpikir bahwa ia tidak bisa datang dengan tangan kosong begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Rafael berjalan ke meja makan dan melihat sekeliling dapur ibunya. "Ada banyak makanan hari ini," katanya.


"Aku akan membawakan makanan untuk calon besan dan mantu." Tiana hanya menjawab singkat. "Apakah kamu membatalkan semua jadwalmu untuk hari ini?" Ia bertanya kemudian, tangannya masih sibuk memainkan spatula di penggorengan.


Rafael yang sedang membetulkan dasinya kini berhenti menggerakkan tangan. Ia diam menatap ibunya dari belakang dengan tatapan tercengang.

__ADS_1


'Mati aku. Aku benar-benar lupa.' Rafael mengumpat di dalam hati.


Tentu saja, Tiana tidak pernah menyangka jika Rafael akan memutuskan menikah hanya karena Alesha, mantan menantunya yang menyuruh pagi tadi.


Ya, Aeleasha mengatakan sebelumnya bahwa dia menelepon Rafael dan meyakinkannya untuk menikah. Ia juga berterima kasih kepada mantan istri putranya karena mau membantunya.


Hal itulah yang membuat ia begitu heboh pagi ini karena akan mengunjungi besan di rumah sakit bersama putra kebanggaannya.


***


Sementara itu, di rumah sakit, keadaan Alesha berbeda sekarang. Ia harus memberitahu ibunya segalanya tentang Rafael. Bahwa ia akan menikah dengan Rafael —pria yang membantunya. Meskipun itu tidak gratis dan membutuhkan pengorbanan.


Karena ia tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis dan semuanya memiliki konsekuensi dan tanggung jawab.


Sekarang, Alesha menatap ibu yang terbangun dari mimpinya. Mengatakan yang sebenarnya tanpa bertele-tele mengetahui bahwa ia tidak punya banyak waktu.


"Ibu, aku tidak tahu apakah harus memberkati diri sendiri atau tidak, tapi ingin memberitahumu bahwa sebenarnya punya pacar. Dia adalah temanku yang telah banyak membantu."


Alesha memulai percakapan pagi itu sambil mengganti air di ketel kaca lavender di meja nakas ibunya. "Mungkin mereka akan datang menemui Ibu hari ini. Jadi, Ibu harus terlihat cantik."


Alesha membersihkan tubuh ibunya yang masih belum bisa menggerakkan otot-ototnya, sehingga tidak bisa mandi. Ia kemudian melanjutkan menyeka wajahnya dengan kain yang berbeda.


Alesha tidak bisa menebak apa yang dipikirkan ibunya saat ini. Ia tidak berani menatap wajahnya, tapi berharap itu bukan masalah besar.


Ia memutuskan untuk menyembunyikan kontrak pernikahan dengan merahasiakannya dari ibunya juga.


Alesha masih merasa aneh melakukan itu. Sejak kecil adalah gadis yang sangat terbuka dengan ibunya. Ia akan selalu menceritakan hal terkecil karena merasa bahwa ibunya adalah satu-satunya sahabatnya.


Namun, semuanya telah berubah sejak tahun lalu. Alesha bukan lagi anak yang menceritakan segalanya kepada ibunya. Ia mulai menyimpan banyak rahasia.


Seperti saat hampir pingsan saat bekerja di minimarket, pekerjaannya sebagai sugar baby, pengalamannya sebagai pencopet dan berbagai hal buruk yang dihadapinya sebagai orang dewasa.


Alesha tidak ingin membuat ibunya khawatir. Terlebih lagi, sekarang jantungnya dalam kondisi lemah. Ia melakukan yang terbaik untuk tidak mengatakan sesuatu yang mengejutkan ibunya.

__ADS_1


"Bu, aku mau sarapan dulu, ya?" Alesha tersenyum, lalu perlahan meninggalkan ibunya di kamar.


To be continued...


__ADS_2