
Seketika sudut bibir Arsenio yang saat ini naik ke atas begitu mendengar pengakuan sosok wanita dengan wajah merona karena malu dan masih mengunci tatapannya, kini ia beberapa kali mengerjapkan mata.
Antara rasa senang, bahagia sekaligus tak percaya yang saat ini dirasakan setelah mendengar ungkapan cinta sang istri yang berusia masih sangat muda dan berbeda sepuluh tahun darinya.
Apa yang dari dulu diharapkan dan juga ditunggu, kini telah menjadi kenyataan begitu wanita yang tak lain adalah istrinya itu bilang i love you dengan sangat lancar dan percaya diri.
Bahwa ia saat ini sangat senang begitu mendengar Aeleasha yang biasanya malu-malu itu mengakui perasaan untuknya. Refleks ia menahan lengan wanita yang masih berada di hadapannya tersebut.
"Akhirnya kamu dengan sangat fasih mengungkapkan cintamu, Istriku. Bahwa kamu mencintaiku dan sekarang mengakui hanya milikku seorang tanpa malu yang berlebihan."
"Ini adalah hal yang dari dulu aku tunggu, tetapi setelah mendengar kamu mengakuinya, aku bingung harus berkomentar apa. Astaga, entah mengapa aku sekarang malah terlihat sangat bodoh di hadapan istri sendiri."
Masih dengan raut wajah merona karena saat ini memberanikan diri untuk mengakui cintanya dan membuang rasa malu, Aeleasha pun tidak bisa berkomentar apapun lagi karena rasa bahagia menyeruak di dalam hati.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan dibuai kegilaan atas nama cinta.
'Sikap suamiku hari ini sangat lebay dan terlihat bodoh, tetapi aku sangat menyukainya. Meskipun apa yang dikatakannya sangat konyol, tetapi aku benar-benar merasa terharu melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampannya.'
'Aku seperti sedang menjilat ludah sendiri karena dulu sangat membenci pria ini, tetapi sekarang malah tergila-gila padanya. Aeleasha, kamu memang benar-benar sangat bodoh karena telah jatuh cinta pada seorang pria yang dulu telah memperkosamu, tetapi aku tidak pernah menyesali keputusanku karena bagiku, cinta tak pernah salah.'
Aeleasha kini memilih untuk mendekatkan tubuhnya dan membenamkan wajah di dada bidang pria dengan harum maskulin yang sudah menjadi candu dan seperti aroma terapi yang menenangkan perasaannya saat ini. Bahkan saat ini terlihat makin mengeratkan pelukannya pada pinggang kokoh Arsenio.
"Aku sangat lelah dan ingin cepat tidur. Jadi, jangan macam-macam hari ini."
__ADS_1
Sementara itu, Arsenio yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari wajah cantik sang istri yang menyembunyikan diri dengan memeluknya.
"Aku belum berkomentar apapun, tapi kau sudah banyak permintaan yang terdengar seperti sebuah perintah. Di sini, siapa yang merupakan seorang suami? Kamu atau aku?" Mengarahkan tangannya pada dagu lancip wanita di pelukannya, agar mendongak menatap matanya.
"Tatap aku sekarang, Istriku!"
Kalimat perintah mengintimidasi yang saat ini terdengar dari pria dengan netra pekat yang tengah mengunci pandangannya, hanya membuat Aeleasha gugup dan menelan kasar saliva.
Ia yang tadi berniat untuk menyembunyikan rasa malu setelah mengungkapkan isi hati, tidak bisa lagi kabur dari tatapan tajam pria yang seperti mau memangsanya tersebut.
"Tidak perlu menegaskan bahwa kamu merupakan seorang suami. Aku sangat tahu dan bukanlah wanita bodoh, tapi jangan membuatku merasa kesal padamu saat tidak menuruti perintahku."
"Seharusnya kamu bersikap sangat baik padaku, bukan? Agar aku semakin mencintaimu."
Lagi dan lagi Arsenio merasa seperti seorang pria tidak berguna begitu mendengar ancaman dari sang istri. Ia bahkan merasa seperti sedang berhadapan dengan sang ibu yang sudah meninggal karena sikap Aeleasha sama persis saat marah dan selalu mengomel.
Ia adalah anak tunggal dan tidak mempunyai saudara, sehingga dulu memilih untuk pergi ke New York karena tidak mendapatkan restu dari orang tua sang kekasih, yang tak lain menjadi ibu tiri Aeleasha.
Takdir awalnya seolah mempermainkan hidupnya, tetapi ia sadar jika ada hikmah di balik semua kemalangan yang terjadi.
"Rasanya sekarang aku membutuhkan ibuku, agar membelaku saat kamu marahi seperti ini. Pasti ibuku akan memarahimu karena sangat menyayangiku dan tidak akan membiarkan kamu memarahi putra kesayangan ini," ujar Arsenio yang berniat untuk membuat Aeleasha tidak kembali mengomel.
"Bukankah tadi aku bilang sangat mengantuk? Jadi, lebih baik jangan berisik karena aku ingin tidur sekarang," ujar Aeleasha yang saat ini masih memegang lengan kekar sosok pria yang memiliki pahatan sempurna dan membuatnya makin terpesona.
__ADS_1
Aeleasha masih tidak berkedip menatap intens wajah tampan yang sangat dipujanya tersebut dan menunggu respon dari Arsenio. Berharap sang mau mau menuruti perintahnya.
'Suamiku kini malah terlihat seperti anak kecil yang sangat menggemaskan,' gumamnya yang sebenarnya saat ini ingin sekali mencubit pipi Arsenio untuk meluapkan rasa gemasnya, tapi tidak bisa melakukan karena takut akan mendapatkan balasan yang mengerikan.
Ia terganggu dengan yang saat ini dipikirkan olehnya karena sangat yakin jika Arsenio hanya akan memberikan hukuman yang mengacu pada hal-hal berbau intim.
Ia sadar tidak akan bisa menolak jika sang suami menghukum karena hanya pasrah dan menerima semuanya.
Kali ini Arsenio yang masih belum membuka suara untuk menanggapi perkataan dari Aeleasha, kini terlihat hanya memicingkan mata. Ia kini bisa melihat wajah sang istri yang terlihat kusut dan mengantuk.
Aeleasha yang kali ini terlihat beberapa kali menguap, kini memilih menarik selimut yang tadi sempat berantakan.
Niatnya adalah ingin segera pergi tidur karena sudah sangat mengantuk. Namun, ia tiba-tiba mengingat sesuatu yang tadi sempat dilupakannya. Ia mengingat akan kalimat ambigu Arsenio yang tadi sempat membuatnya merasa sangat penasaran.
Arsenio yang merasa iba begitu melihat wajah mengantuk itu, memilih untuk menuruti semua permintaan dari wanita cantik di balik selimut tebal tersebut.
'Lebih baik aku menuruti perintah istriku,' lirih Arsenio di dalam hati.
Saat baru saja ingin kembali memeluk sang istri, ia tersenyum smirk begitu mendengar suara merdu yang baru saja mengungkapkan pertanyaan bernada vulgar. Ia bisa melihat wajah polos sang istri saat bertanya dan ingin sekali langsung diserang di atas ranjang.
"Sayang, aku tadi ingin bertanya, tapi lupa. Kamu tadi mengatakan lidah apa?" tanya Aeleasha dengan tatapan intens, menunggu jawaban atas pertanyaan yang baru saja diungkapkan.
Hal yang tadi sempat dilupakan dan sekarang kembali teringat. Jadi, langsung menanyakan apa maksud dari perkataan beberapa saat yang lalu karena merasa penasaran dan tidak ingin tersiksa dengan rasa ingin tahu.
__ADS_1
Apalagi istilah yang baru saja didengarnya tersebut seolah tidak masuk akal jika dipikirkan secara logika.
To be continued....