
Pagi berawal dengan begitu mendebarkan bagi Zafer. Lelaki itu sudah duduk di kursinya menatap sang ibu yang sedang menyiapkan sarapan. Ia bahkan sesekali membantu wanita itu memotong bawang, membawakan air, atau mencuci sayuran.
Tidak seperti hari-hari biasa dimana Zafer selalu sibuk sendiri di meja kerja dalam kamarnya sejak matahari baru saja menyembul dari ufuk timur.
Tiana yang melihat sikap tak biasa anaknya itu hanya membiarkan saja.
Sampai pada akhirnya, ketika semua makanan sudah siap disantap, Tiana menyeletuk, "Apakah hari ini adalah hari spesial?"
Zafer meneguk salivanya, seketika gugup sendiri. Ia pun menahan napasnya kuat. "Ma, bisa kita bicara baik-baik?"
Zafer hanya terkekeh. "Bicara apa? Aneh sekali kamu hari ini."
Zafer menghela napasnya. "Apa lagi? Tentu saja tentang kemarin."
Zafer seketika mengangkat wajahnya. "Apa lagi yang mau dibicarakan? Mama akan menyiapkan pernikahan kalian setelah bertemu dengan orang tua Alesha."
"Tidak bisa begitu, Ma. Kita harus mempertimbangkan pendapat Alesha juga." Zafer kini kembali mendesak sang ibu untuk merubah keputusan.
"Apa yang dipertimbangkan? Kita hanya perlu menunggu orang tua Alesha saja. Kamu ini." Tiana kini menghela napasnya. Terdengar jelas betapa jengahnya ia dengan sikap keras kepala si anak.
"Bukan itu yang kumaksud, Ma. Pernikahan itu mengikat dua orang untuk hidup bersama. Aku masih butuh waktu untuk mengenal Alesha."
Zafer rasanya ingin menampar mulutnya sendiri. Ia berbicara tanpa berpikir dengan matang apakah perkataannya itu akan mempengaruhi ibunya atau tidak dan sekarang ia malah meniru alasan Alesha.
"Sayang, kenapa alasanmu sangat klasik?" Tiana kini memijat kepalanya. "Mama kan sudah bilang, saling mengenal itu bisa kalian lakukan saat sudah menikah. Selain itu, Mama juga bisa melihat keseriusan kamu untuk mengenal Alesha. Bukan begitu?" Tiana tersenyum, memberikan skak mat pada putranya.
Zafer mengatupkan mulutnya. Bingung ingin membalas apa lagi, tetapi ia tidak mungkin menyetujui permintaan ibunya setelah tahu bahwa ibu Alesha sakit. Wanita itu pasti akan sangat kesulitan menjaga ibunya.
Zafer memutar otaknya untuk mencari ide menghentikan ibunya. Memikirkan berbagai macam permasalahan yang bisa saja menjadi kesulitan dari sudut pandang Alesha.
"Ma, Alesha itu masih sangat muda. Dia juga pasti masih menginginkan kebebasan." Rafael akhirnya mengutarakan pendapatnya untuk yang ke sekian kali. Berharap kali ini bisa menggerakkan hati ibunya.
__ADS_1
"Ketika Alesha menikah dengan orang seperti kamu, apa yang tidak bisa kamu jamin?"
Namun, sayangnya Tiana tetap tak mau mempertimbangkan dan mempertahankan pendapatnya.
Baginya, Rafael tentu saja dapat menjadi sosok suami yang sempurna bagi Alesha. Wanita itu benar-benar tidak butuh sangkalan apapun atas pandangannya.
Mengingat dirinya yang telah melihat sendiri bagaimana Radar ketika menikah dengan mantan istrinya.
Kini, Rafael mulai kehabisan kesabaran. Ia lantas menatap ibunya itu dengan serius. "Aku bahkan tidak bisa menjamin diriku sendiri. Aku tidak yakin bisa menjamin bisa membahagiakan Alesha setelah menjadi istriku, Ma."
Rafael benar-benar kehabisan ide untuk menghentikan ibunya. Namun, ia tidak bisa egois memikirkan keadaannya sendiri kali ini.
Selain ketidaksiapannya untuk menikah, Rafael juga mempertimbangkan keadaan Alesha. Meski wanita itu tidak akan bilang butuh bantuannya, tetapi Rafael adalah satu-satunya orang yang bisa mencegah di garis terdepan.
Sementara itu, Tiana terdiam. Lantas pikirannya mengawang memikirkan alasan utama ia ingin menikahkan anaknya itu. Tiana pada awalnya memberikan ancaman untuk Rafael karena lelaki itu masih saja tidak bisa melupakan mantan istrinya.
Tiana tidak mau Rafael terus-menerus terjebak masa lalunya, tetapi sepertinya, langkahnya kali ini sedikit lebih sulit dari yang ia duga.
"Rafael."
"Jangan bilang kamu masih belum berniat melepas perasaanmu dari mantan istrimu?"
Rafael seketika menahan napasnya. "Ma, kenapa tiba-tiba membahas dia?"
Tiana tersenyum kecil. "Bagaimana bisa kamu masih bertanya. Bukankah ini semua awalnya berkaitan dengan dia?"
Terlihat kini Rafael memijat kepalanya. Memilih tak membalas. Ia lantas menyuapkan makanan untuk membungkam mulutnya sendiri.
Merasa sangat percuma untuk mengajak sang ibu berbicara lagi ini demi mau merubah keputusannya.
***
__ADS_1
Rafael terus saja memikirkan bagaimana caranya terbebas dari tuntutan ibunya itu. Tadinya ia sempat berpikir bahwa ia akan menyetujui permintaan itu, tetapi setelah melihat hal yang sama sekali tidak disangkanya, semakin yakin untuk menyangkal ibunya kali ini.
Ibu Alesha sedang sakit saat ini. Alesha harus merawat dan menemaninya. Sebagai seorang anak, Rafael sangat mengerti kesulitan Alesha kali ini.
Takut, panik, khawatir. Ia tak mau menjadi penyebab kesulitan wanita itu, sehingga tak bisa menjaga ibunya dengan baik. Rafael menyadari dengan pasti, kalau dirinya egois kali ini, ia pasti akan sangat menyesal.
Rafael tidak mungkin menyuruh Alesha untuk menyetujui permintaan ibunya begitu saja.
Kini, Rafael memijat pelipisnya yang semakin pening. Berharap rasa pusing itu berkurang, sehingga dapat berpikir lebih jernih.
Sedetik kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka. Rafael mendongak, menatap sang empunya dengan tatapan sayunya.
"Apakah kamu tidak punya pekerjaan lain di kantormu sendiri?" Rafael yang sedang frustasi, kini melampiaskan emosinya pada Rudy.
Sementara itu, yang ditodong kini menautkan alisnya dengan ekspresi mencibir. "Jangan terlalu percaya diri. Aku datang ke sini untuk memberikan berkas kasus merk produk perusahaanmu. Kalau tidak ada aku, kepada siapa lagi perusahaan ini bergantung?"
Rafael hanya merespons dengan menyandarkan kepalanya pada kursi seraya melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya benar-benar masam. Rudy hanya menaruh berkas itu di meja, seraya matanya tak henti memperhatikan mimik muka lelaki di depannya itu.
"Astaga, kenapa aku selalu merasa kehidupanmu berat sekali. Ada masalah apa lagi? Bukannya kemarin kamu sudah senang mendapatkan wanita dan menandatangani kontrak?" Rudy mengernyitkan dahinya heran.
Sementara itu, Rafael hanya diam tak merespons apapun.
"Dengar, menurut penilaianku, wanita itu lumayan juga. Wajahnya lumayan cantik. Kamu beruntung mendapat istri palsu seperti itu. Tidak akan memalukan jika kamu pamerkan di depan semua orang."
"Jadi, tidak ada yang perlu disesali." Rudy bersuara mengungkapkan pendapatnya, yang sebenarnya tidak perlu.
"Hanya saja, aku menangkap sebuah aura dari dalam dirinya. Aura petarung. Entah kenapa wanita ini terlihat berbahaya." Rudy lanjut berbicara. "Baru kenal, tetapi sudah berani membuatku repot."
Rafael melirik Rudy dengan tatapan serius, merasa lelaki itu mulai berbicara salah. "Lebih baik tutup mulutmu. Bukannya kamu sendiri setiap hari direpotkan orang lain?"
Rudy berdecak. "Hey, Rafael. Aku sebagai temanmu ini hanya ingin mengingatkanmu agar waspada terhadap orang yang baru kamu kenal kemarin seperti dia."
__ADS_1
"Aku sudah lama mengenalmu, meski sebentar pun, aku tahu kamu itu kadang terlalu baik pada seseorang. Kamu bisa saja akan berakhir ditipu dan dimanfaatkan orang lain."
To be continued...