
Alesha dan Rafael keluar dari kamar dan langsung menuju ke ruangan makan untuk melihat apa yang disiapkan oleh dua wanita paruh baya yang saat ini bekerja sama memasak.
Alesha sebenarnya merasa sangat malu saat sang ibu serta mertuanya menatap intens, seolah ingin meminta penjelasan darinya apakah sang suami berbuat yang membahayakan calon buah hati mereka.
"Hari ini masak apa, Bu, Ma?" Ia mengalihkan perhatian dari hal yang bersifat intim tersebut dengan cara membuka tudung saji.
Hingga ia seketika berbinar begitu melihat makanan kesukaannya sudah berada di meja makan. Bahkan bisa dibilang ada aneka macam makanan kesukaannya dan tentu saja mengetahui jika itu adalah masakan sang ibu.
"Wah ... banyak sekali makanan kesukaanku yang terhidang di atas meja ini. Ibu dan Mama sangat perhatian padaku karena sudah menyiapkan makanan sebanyak ini untukku."
Bahkan Alesha sudah menelan ludah berkali-kali saat melihat makanan berupa sayur asam Jakarta, pepes pindang serta udang asam manis dan terakhir cumi crispy. Itu adalah menu favoritnya yang selama ini selalu disiapkan sang ibu jika ia sedang sakit.
Itu karena mereka bukanlah berasal dari keluarga yang tidak punya banyak uang dan bisa menghidangkan makanan dengan beberapa menu dalam satu hari.
Jadi 3 menu favorit Alesha itu akan terhidang jika sedang sakit dan tidak berselera untuk makan. Pasti akan menghabiskan banyak makanan saat tidak enak badan jika ada tiga menu tersebut.
Apalagi selama hamil, ia meminta sang ibu selalu memasak sayur berkuah yang tidak pedas. Karena ia ingin selalu makan yang segar-segar semenjak hamil. Ia sengaja menyembunyikan hal itu dari sang ibu dengan alasan tidak enak badan dan ingin makan yang tidak pedas.
Kini, Lia Nuraini hanya tersenyum simpul saat melihat wajah berbinar dari putrinya ketika melihat menu favorit di keluarganya. "Tadi besan mengatakan untuk memasak beberapa menu agar kamu makan banyak."
"Iya, semua demi kebaikan calon cucuku yang saat ini harus mendapatkan semua asupan nutrisi terbaik." Tiana yang baru saja selesai mencuci peralatan memasak karena bagian untuk memasak adalah besannya.
Ia adalah bagian finishing, yaitu mencuci barang-barang setelah memasak. Kemudian duduk di sebelah calon menantunya sambil mengusap lembut perut yang masih datar tersebut.
"Calon cucuku, kamu sehat-sehat di dalam sana, ya! Nanti saat sudah saatnya, bisa ketemu nenek-nenekmu." Tiana melirik ke arah putranya yang dari tadi hanya diam. "Kamu masih ingat pesan dari Mama, bukan?"
Rafael hanya memijat pelipis karena kembali diingatkan seperti ia adalah seorang anak kecil yang tidak paham. "Iya, Ma. Tenang saja karena aku adalah ayahnya dan tidak mungkin menyakiti atau membahayakan anak sendiri."
Bahkan saat ini ia sudah menelan air liur begitu melihat masakan rumahan yang menjadi favoritnya karena daripada makan makanan di restoran, Rafael lebih suka untuk menikmati masakan sang ibu yang sangat lezat.
Bahkan ia tahu jika mertuanya juga selalu memasak makanan yang lezat seperti mamanya. Jadi, kali ini tidak sabar untuk segera mengisi perutnya untuk mengembalikan tenaga.
"Wah ... sepertinya masakan ibu sangat enak." Kemudian ia memberikan piring pada sang istri agar diambilkan nasi.
Itu semua karena ia sudah terbiasa dilayani oleh Alesha saat berada di meja makan dan melupakan jika sang istri tengah mengandung dan menjadi pusat kekhawatiran dari sang ibu serta mertuanya
Refleks Alesha berniat untuk mengambilkan nasi, tapi mendengar suara dari mertuanya yang melarangnya dan membuatnya merasa jika itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Biar Mama saja, Sayang." Tiana tidak ingin menantunya melakukan apapun, sehingga langsung merebut dari tangan menantunya.
Kemudian mengambilkan nasi untuk putranya dan memberikan piring tersebut. "Lain kali jangan menyuruh Alesha untuk melayanimu karena ia sedang hamil dan tidak boleh capek."
Rafael saat ini menatap ke arah sang ibu yang dianggap sangat berlebihan karena tadi berpikir jika mengambilkan nasi untuknya tidak akan membuat sang istri kelelahan.
"Hanya mengambilkan nasi saja, masa tidak boleh, Ma? Apa nanti istriku tidak akan bosan jika hanya diperbolehkan tidur di kamar saja?" Kemudian ia beralih menatap ke arah sang istri yang masih belum membuka suara.
Ia yakin jika sang istri tidak merasa keberatan untuk melayaninya. Apalagi pekerjaan itu sangat ringan dan tidak akan memforsir tenaga. "Menurutmu, bagaimana, Sayang? Kamu lelah jika melayaniku di meja makan?"
Refleks Alesha langsung menggelengkan kepala karena jujur saja ia tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan kehamilan dengan tidak melakukan apapun dan tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang istri yang melayani suami dengan baik.
Namun, tidak ingin membuat mertuanya tersinggung karena tidak menghargai perhatian yang dianggap sangat berlebihan ketika mengkhawatirkannya.
'Aduh! Aku jadi serba salah kan jadinya,' gumam Alesha yang saat ini berniat untuk menyetujui perkataan mertuanya daripada membuat kecewa wanita paruh baya tersebut.
"Tapi kapan lagi aku bisa bermanja-manja pada suami. Nanti, saat sudah melahirkan, setiap hari akan melakukan ritual seperti ini. Jadi, sepertinya tidak masalah jika absen terlebih dulu selama hamil muda. Iya, kan, Ma?"
Alesha tidak mungkin mencari dukungan pada sang ibu yang diketahui pasti tidak akan bersikap berlebihan seperti itu. Hingga ia pun melihat senyuman dari mertuanya yang mengangkat ibu jari untuk membenarkan.
"Iya, Sayang. Kapan lagi menyiksa suamimu yang sangat nakal ini. Mumpung ada kesempatan, manfaatkan sebaik mungkin, oke!" Tiana lupakan berbicara sambil tertawa ketika melihat respon dari putranya yang seperti anak kecil merajuk karena tidak ada yang membela.
Jadi, merasa sangat senang melihat wajah putranya sangat masam seperti anak kecil dan membuatnya merasa terhibur sekaligus merasa terharu atas semua kebahagiaan yang dikirimkan Tuhan pada keluarganya.
Lia Nuraini saat ini hanya menatap interaksi antara besan dan putri serta menantunya. Kehangatan yang tercipta hari ini membuatnya tidak lagi merasa kesepian.
"Rumah ini sekarang terlihat ramai karena kedatangan kalian. Pasti nanti akan sangat sepi setelah kalian pulang." Lia Nuraini awalnya tidak berniat untuk tinggal di rumah besar keluarga Zafran.
Namun, melihat kehangatan yang kini tercipta saat kondisi putrinya yang hamil muda, membuatnya tidak ingin terpisah dengan Alesha. "Apa aku ikut tinggal di rumah besan dan menantu saja?"
Saat Lia Nuraini baru saja menutup mulut, berjenggit kaget begitu mendengar suara teriakan dari putrinya yang terlihat sangat senang dan terlihat wajah berbinar.
Bahkan menantu serta besannya juga mengucapkan kalimat bernada penerimaan dan membuatnya merasa sangat terharu dengan kebaikan ibu dan anak itu.
"Alhamdulillah, Ibu. Akhirnya Ibu berubah pikiran dan ingin tinggal bersamaku di rumah suami." Alesha saat ini beranjak berdiri dari kursi dan berjalan mendekati kursi sang ibu.
Lalu ia langsung memeluk erat tubuh ibunya untuk mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakan hari ini. "Aku benar-benar sangat senang karena ibu akan tinggal bersamaku."
__ADS_1
Rafael yang tadi mengingat perkataan dari sang istri, langsung mengungkapkan agar wanita paruh baya tersebut mengerti seperti apa kasih sayang dari seorang anak pada sang ibu.
"Kebetulan tadi Alesha memaksaku untuk mengatakan pada ibu untuk mencari pelayan yang bisa membersihkan rumah serta menjaga toko karena ia khawatir jika mengatakannya sendiri tidak akan digubris ataupun dimarahi."
Refleks Alesha mengecilkan bibir sambil memasang wajah marah sekaligus kesal karena malah menjadi umpan dari sang suami yang tadi disuruhnya untuk menjaga rahasia.
"Menyebalkan sekali! Kenapa membuka rahasia yang seharusnya tidak boleh dikatakan pada Ibu. Awas saja nanti!" Alesha mengangkat tangan yang mengepal dan menunjukkan pada sang suami.
"Kalau sekali lagi melakukan itu dengan membuka rahasia, akan mendapatkan ini." Alesha yang saat ini masih mengarahkan kepala tangan pada sang suami, seketika meringis kesakitan karena sang ibu malah menjewernya.
"Alesha, tidak boleh berani pada suami. Nanti durhaka lho! Ingat itu!" seru Lia Nuraini yang melepaskan tangannya dari daun telinga putrinya ketika memberikan sebuah hukuman.
Ia sebenarnya tidak menjewer telinga sangat kuat karena hanya sedikit menyentuhnya. Hanya saja, tadi putrinya bersandiwara seolah benar-benar memberikan hukuman pada ibu hamil.
"Ibu, sakit, ini! Nanti dimarahi oleh mertuaku, baru tahu rasa!" Kemudian Alesha berlari menatap ke arah sang mertua karena ingin mencari perlindungan serta pembelaan.
"Bukankah begitu, Ma?" Namun, respon yang ditunjukkan oleh mertuanya sama sekali tidak membantunya.
Tiana yang tidak ingin melawan pemilik rumah utama, seketika mengangkat kedua tangan ke atas. "Alesha, Mama hanya tamu di sini dan tidak boleh melawan perintah pemilik rumah, bukan."
Tiana kemudian mengarahkan jari telunjuk pada putranya. "Jadi, lebih baik cari perlindungan pada suamimu agar ia bisa terlihat berguna."
Bahkan setelah mengungkapkan kalimat bernada mengejek tersebut, seketika membuatnya beralih menatap ke arah besannya. "Aku lebih memilih damai dengan Jeng daripada diusir dari rumah ini."
Sementara itu, Lia Nuraini hanya tertawa karena candaan dari besannya tersebut sangatlah menghibur semua penghuni rumah. "Bisa saja, Jeng. Mana mungkin aku berani melakukannya. Lebih baik segera dimakan makanannya sebelum dingin."
Rafael dan Alesha saling menatap dan membuat mereka tertawa. "Jika semua besan di dunia ini seperti Ibu dan Mama, dunia akan terasa damai karena tidak ada perdebatan di antara para mertua."
"Iya, benar, Sayang," ucap Alesha yang saat ini memberikan sebuah kode pada sang suami agar mengambil sayuran dan menikmati makanan yang nanti akan berkurang kelezatannya jika dingin.
Kemudian ia membuka piring di hadapannya dan mengambil nasi, tapi malah ditahan oleh pria yang saat ini merebut piringnya.
Jadi, ia berpikir akan diambilkan oleh sang suami, sehingga membuatnya tersenyum karena merasa sangat bahagia. Namun, pemikirannya salah ketika piring itu diletakkan di tepi.
"Aku ingin selalu makan sepiring berdua mulai hari ini, Sayang, agar hubungan kita selalu romantis dan makin bucin. Aku pun akan menyuapimu hari ini," ucap Rafael yang saat ini langsung mengambil sayuran dan menambah nasi di atas piring karena untuk porsi dua orang menurutnya kurang.
"Selamat makan, Ibu, Ma," ucapnya sambil menyuapi sang istri dan beralih menyuapkan kepada diri sendiri.
__ADS_1
Melihat pemandangan yang sangat menyejukkan mata itu membuat dua wanita paruh baya tersebut berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia atas kebahagiaan yang diperoleh putra-putri mereka.
To be continued...