
Itu memang bukan ciuman pertama Aeleasha, tapi memang pria itulah yang dulu mencuri ciuman pertamanya saat di hotel ketika baru bertemu.
Ia yang tidak bisa mengimbangi ciuman sang suami, hanya bisa membalas dengan mengikuti permainan pria yang dianggapnya sangat aneh karena tidak kunjung melepaskan penutup matanya.
Beberapa saat kemudian, merasakan tubuhnya sangat mendamba semua yang dilakukan oleh Arsenio karena bibir mereka kini menyatu dan merasakan tubuh memanas dan gelisah, serta menyadari kebodohannya kala menginginkan jauh lebih banyak dari apa yang saat ini didapatkan.
Sementara itu, Arsenio yang kini ingin lebih lama membuai istri dengan ciuman, masih berusaha membuat wanita yang telah masuk dalam perangkapnya tersebut menikmati setiap sensasi kenikmatan yang ia kirimkan agar tergila-gila padanya.
'Tunjukkan padaku seperti apa reaksimu setelah melihat kejutan dariku karena aku ingin melihat ekspresi wajah cantikmu,' gumam Arsenio yang saat ini tersenyum smirk saat ciuman mulai memanas.
Sementara itu, Aeleasha yang tidak bisa hanya diam ketika sang suami makin beringas, sehingga ia pun kini terbawa suasana dengan membalas.
Aeleasha merasakan kombinasi antara panas dan nyeri yang memenuhi sepanjang tubuh dan menginginkan puncak dari kegiatan liar yang dari tadi sudah berhasil membuatnya seperti merasakan bintang-bintang di kepala.
Saat ini, respon tubuh Aeleasha mengatakan hari ini Arsenio kembali melambungkannya begitu tinggi. Seolah antara ia mengidamkan, memerlukan, ingin kembali segera dirasakan olehnya.
Apalagi ia tahu bahwa pria itu sangat bergairah.
Meskipun saat ini ingin sekali mengeluarkan ******* dengan meneriakkan nama pria yang seolah seperti tengah mencicipi dan membawa hasratnya berputar-putar semakin tinggi dan kehilangan akal sehat saat itu juga.
Belum sempat ia menormalkan debaran jantungnya yang tidak beraturan, ia seperti mau meledak atas perbuatan Arsenio.
Aeleasha tentu saja merasa sangat terkejut atas perbuatan Arsenio. Hingga mengirimkan berbagai sensasi menghantamnya.
Berkali-kali Aeleasha menjerit dan tubuhnya semakin menegang.
Hingga Arsenio sudah melihat bukti gairah karena akibat ia masih menyiksa sang istri.
Hingga mendengar Aeleasha mendesah panjang akibat perbuatannya yang masih belum berhenti menyiksa.
Sementara itu, otak Arsenio yang bekerja untuk membuat sang istri mendambanya.
__ADS_1
Bahkan beberapa saat kemudian, Arsenio tersenyum smirk saat berhasil membuat Aeleasha mencapai puncak.
Kemudian Arsenio menghentikan perbuatan dan ingin mengetahui respon dari wanita yang masih tidak diizinkan olehnya untuk membuka mata.
"Apa kamu menyesal telah berani menginginkan ingin masuk ke sini?" tanya Arsenio yang kini menatap intens wajah cantik Aeleasha dengan mata memakai penutup berwarna hitam itu.
Sementara di sisi lain, deru napas Aeleasha yang memburu dan tersengal, kini seolah menunjukkan bahwa ia baru saja menggapai puncak dengan sangat mudah saat sang suami hanya sedikit menyentuhnya.
Ia yang belum sempat menormalkan perasaan, kini mendapatkan pertanyaan yang membuatnya merasa sangat kebingungan untuk menjawab.
"Itu ...."
Terdengar suara serak Aeleasha yang tidak melanjutkan perkataannya karena benar-benar merasa sangat malu untuk menjawab apa.
Mengerti dengan apa yang saat ini dirasakan oleh sang istri, Arsenio tidak melanjutkan pertanyaannya karena ingin melanjutkan kegiatan intim mereka.
"Lebih baik jika kita melanjutkannya, Honey," ucap Arsenio yang kini tersenyum smirk.
Tanpa memberikan kesempatan untuk Aeleasha berbicara, Arsenio kini melaksanakan keinginannya.
Meskipun ini bukan pertama kali merasakan karena sang suami sering melakukan hal itu, tetap saja selalu membuat setiap urat syaraf menegang.
Saat teriakannya sama sekali tidak diperdulikan oleh pria yang masih sibuk di sana, hingga membuatnya berkali-kali meluapkan semuanya dengan suara seksinya.
Ia akui bahwa apa yang dilakukan oleh sang suami saat ini terasa sungguh nikmat. Sebuah kenikmatan murni yang seolah membuat jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.
Bahkan saat ini, ia seperti merasakan setiap syaraf yang dimiliki hanya terfokus pada satu titik. Hingga ia sadar bahwa Arsenio sama sekali tidak memberi kesempatan untuk berpikir jernih.
Untuk kesekian kali, ia meneriakkan nama Arsenio dengan mata tertutup saat tubuh kembali gemetar hebat. Saat ini, kaki dan tangannya seperti meleleh dan tubuhnya benar-benar sangat lemas hingga tidak mampu untuk bergerak lagi.
Aeleasha kini seolah merasakan tubuhnya melebur, mengambang di puncak nirwana paling tertinggi yang bisa digapai bersama dengan puncak kenikmatan karena perbuatan pria yang masih sibuk tersebut.
__ADS_1
"Sayang," lirih Arsenio dengan suara serak yang menandakan bahwa saat ini ia benar-benar sudah digulung puncak gairah.
Sementara itu, suara Aeleasha yang menghiasi suasana ruangan kamar dengan nuansa pink tersebut. Seolah sebuah alunan musik paling indah bagi indra pendengaran Arsenio.
Tak lupa ia yang masih sibuk membuai wanitanya agar merasakan puncak kenikmatan, kini bersorak kegirangan.
'Untuk kesekian kalinya, kamu menunjukkan benar-benar milikku seorang, istriku,' lirih Arsenio yang baru saja mengangkat wajah dan ingin melihat raut memerah sang istri yang masih tertutup pada bagian mata.
Saat Arsenio kini merasa puas karena telah berhasil bermain dengan sang istri, kini beranjak dari posisi.
Ia kini bergerak untuk melepaskan penutup mata Aeleasha dan bersiap untuk mengatakan semuanya pada wanita dengan mata yang dari tadi tertutup rapat.
"Buka matamu, Sayang karena pertunjukan utama kita akan dimulai sekarang."
Aeleasha yang tadinya masih menutup kelopak mata dan hanya kegelapan yang membungkus selama beberapa saat.
Hingga saat ini perlahan membuka mata untuk melihat sosok pria yang baru saja membuatnya gila.
Ia kini mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar berukuran luas yang didominasi warna merah tersebut. Jika tadi ia merasa sangat penasaran dengan isi ruangan kamar tersebut, kini seketika membekap mulut begitu membuka mata.
Refleks ia beralih menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya. "Sayang, ini ... kapan kamu menyiapkan ruangan secantik ini? Aku tidak pernah masuk ke sini."
"Aku bahkan sama sekali tidak pernah menyangka jika di dalamnya seindah ini. Bahkan kamar ini sangat cantik dan sangat cocok untuk anak perempuan."
Sementara itu, Arsenio kini bangkit dari posisinya yang tadinya berada di atas ranjang.
"Apa kamu suka, Honey?"
"Tentu saja aku suka, Sayang. Kamu selalu memberikan banyak kejutan luar biasa untukku. Melihat ruangan ini, aku sudah tidak sabar ingin mempunyai seorang anak perempuan."
Aeleasha berbicara sambil berkaca-kaca bola matanya karena dipenuhi rasa haru pada perbuatan sang suami yang menyiapkan kejutan luar biasa dan membuatnya merasa sangat yakin ingin segera memiliki anak perempuan.
__ADS_1
"Kalau begitu, tunjukkan rasa terima kasihmu padaku dengan meneriakkan namaku di ruangan ini, Sayang." Arsenio kini mengedipkan mata dan kembali ingin membuai sang istri dengan kekuatannya.
To be continued...