I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Melakukan apapun demi mama


__ADS_3

Beberapa saat lalu, sosok wanita yang masih terbaring di atas ranjang, tak lain adalah Alesha, seketika membuka kelopak mata yang tadinya tertutup rapat.


Begitu mendengar pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut mengucapkan talak padanya, seketika bulir kesedihan membanjiri wajah Alesha dan hatinya serasa mendapatkan banyak panah yang menancap tepat di jantungnya saat ini.


'Ya Allah, kenapa rasanya seberat ini saat suami yang kucintai menceraikan tanpa perasaan karena lebih mementingkan menjaga mantan istrinya?'


'Kuatkan aku, Tuhan. Aku ingin melupakan pria tidak berperasaan ini dan tetap menjalani hidup meski tanpanya. Bukan ini yang kuinginkan, tapi sepertinya suamiku menginginkannya.'


Alesha sebenarnya ingin segera membuka mata untuk melihat ekspresi wajah pria yang baru saja mengucapkan talak saat usia pernikahannya masih tiga minggu.


Namun, saat ini tidak berani membuka mata karena khawatir jika melakukannya dan melihat pria yang membuatnya patah hati sekaligus terluka, akan membuatnya menangis tersedu-sedu dan terlihat sangat lemah.


Hal yang tidak disukai olehnya adalah terlihat lemah di depan seorang pria, jadi saat ini berusaha untuk sekuat tenaga menahan gejolak hatinya yang terasa hampir meledak.


Begitu mendengar suara kenop pintu yang dibuka, seketika Alesha membuka mata dan melihat siluet pria dengan bahu lebar yang baru saja keluar dari ruangan kamar tanpa menoleh ke belakang.


"Kau benar-benar sangat berengsek, Rafael! Aku sangat membencimu! Aku tidak akan pernah memaafkan sampai kapanpun!" seru Alesha yang saat ini merubah posisi dengan meringkuk seperti bayi dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.


Tentu saja ia langsung menangis tersedu-sedu dengan suara tertahan karena tidak ingin didengar oleh orang di luar, seketika menutupi wajah dengan bantal.


Kini, bulir air mata sudah membanjiri sprei. Namun, Alesha sama sekali tidak memperdulikan rasa tidak nyaman pada tempat tidur yang sudah basah karena ulahnya.


"Ya Tuhan, kenapa rasanya bisa sesakit ini? Aku tidak pernah seperti ini saat mengalami cinta sepihak pada Alex yang dulu tidak bisa kugapai. Kenapa aku menyerahkan hatiku pada orang yang salah?"


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus segera pergi dari rumah ini karena sudah bukan lagi menjadi istri pria berengsek itu?"


Menyadari posisinya saat ini yang sudah bukan lagi menjadi anggota keluarga Zafran, Alesha seketika bangkit dari posisinya yang awalnya memeluk guling dan membuka bantal di wajahnya.


Seketika ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar yang sudah hampir satu bulan ditempati olehnya.


Ruangan kamar yang sangat bagus karena berukuran luas dengan segala fasilitas lengkap serta ranjang yang nyaman itu, seolah menjadi saksi atas hubungannya dengan sang suami yang telah kandas.


Hingga ia pun mengingat semua kebaikan yang dilakukan oleh mertuanya. Bahkan tadi melihat wajah yang selalu terlihat seperti Dewi itu tersenyum bahagia melihat interaksinya dengan Rafael saat berakting seperti sangat perhatian dan mencintainya.


"Maafkan aku, Ma. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih setelah banyak memberikan kebahagiaan untukku. Aku tidak ada pilihan lain selain meninggalkan rumah ini."


"Semoga mama tidak bersedih dan aku berharap tidak membenciku setelah mengetahui semuanya. Mama, aku benar-benar sangat menyayangimu dan tidak pernah berakting karena sangat tulus."

__ADS_1


Alesha masih duduk di tepi ranjang dan ia hari ini berharap akan menjadi seorang wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Kini, ia menguatkan mental serta fisiknya ketika bangkit berdiri dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan walk in closet.


Tentu saja ia berpikir jika sudah tidak berhak lagi berada di sana dan harus berkemas. Ia sebenarnya tidak tega pada sang ibu dan mertuanya, tapi merasa jika cepat atau lambat juga mereka akan mengetahuinya.


Alesha saat ini mulai memasukkan pakaian miliknya ke dalam koper. Ia tidak berniat untuk membawa pakaian yang dibelikan oleh mertua serta Rafael, tapi hanya memasukkan yang dibeli sendiri dengan uangnya.


"Aku tidak ingin dianggap sebagai wanita materialistis dengan membawa pakaian mahal yang dibelikan si berengsek itu." Dengan menguatkan tubuhnya yang serasa lemah, Alesha berharap akan kuat sampai ia tiba di rumah.


Kini ia memijat pelipis yang terasa pusing. "Semoga aku tidak pingsan sebelum tiba di rumah."


Beberapa saat kemudian, semua pakaian pilihannya sudah berpindah ke dalam koper kecil berwarna hitam berukuran sedang itu. Ia kini tertawa miris melihat hanya ada beberapa di koper.


Sementara di dalam lemari kaca berukuran raksasa tersebut bisa dibilang terlalu banyak. Hingga membuatnya mengerti bahwa ia bukanlah apa-apa setelah statusnya adalah janda dari CEO terkenal.


"Kau sadar pada kastamu sekarang kan, Alesha? Kau hanya seorang wanita miskin yang tidak ada nilainya karena hanyalah seorang mantan sugar baby dan mantan istri."


Saat merasa sangat miris dengan kisah perjalanan hidupnya yang selalu tidak beruntung dalam hal cinta, kini ia seolah berpikir tidak ingin jatuh cinta lagi karena merasa jika hatinya telah mati semenjak tidak mendapatkan balasan dari pria yang dicintai.


Itu adalah pemberian dari sang mertua yang selalu memberikan make up terbaik untuk menunjang penampilannya. Jadi, ia hanya menatap untuk yang terakhir kali dan tidak berniat untuk membawa pergi bersamanya, meskipun itu sudah menjadi miliknya.


Meskipun hatinya terasa sakit, tapi saat ini Alesha menguatkan hati agar saat berpamitan pada mertua, tidak akan menangis tersedu-sedu.


"Aku harus kuat! Jangan menangis di depan mama karena itu akan membuatnya semakin terluka dan bersedih."


Sebelum berjalan melewati pintu keluar, Alesha mencoba mengambil napas teratur untuk menenangkan diri dan menata hati sebaik mungkin.


Setelah dirasa perasaannya sudah agak lebih baik, kini ia membuka suara dengan lirih. "Selamat tinggal, ruangan ternyaman."


Kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu keluar. Akan tetapi, seketika menghentikan langkah begitu melihat pintu terbuka.


Ia tadinya berpikir tidak akan melihat Rafael lagi di kamar, tapi ternyata sekarang pria yang sangat dibenci berdiri tepat di hadapan dan menutup pintu serta menguncinya.


"Apa yang kau lakukan? Aku mau pulang ke rumah. Cepat buka pintunya sekarang juga!" Alesha saat ini menaikkan nada suara dan wajahnya sudah memerah dipenuhi oleh amarah saat melihat pria yang baru saja menceraikannya.


Sementara itu, sosok pria yang berada di balik pintu tersebut menatap ke arah koper yang dibawa oleh wanita yang sudah bukan lagi menjadi istrinya.

__ADS_1


Ada kekecewaan melihat Alesha ingin buru-buru pergi dari rumah dan berpikir bahwa wanita di hadapannya tersebut merasa sangat senang dan ingin segera bertemu dengan sang kekasih.


"Aku sudah menduga jika kamu akan segera pergi dari sini. Jadi, ingin mengatakan sesuatu hal."


"Tidak perlu mengatakan apapun karena aku sama sekali tidak ingin mendengarnya!" sarkas Alesha yang saat ini berjalan tanpa memperdulikan bahwa pria tersebut menghalangi jalannya.


"Minggir! Menyingkirlah dari pintu karena aku ingin keluar. Aku sangat muak melihat wajahmu." Alesha bahkan tidak memperdulikan apapun saat mengumpat.


Bahkan tidak merasa takut jika sampai pria di hadapannya marah dan berbuat kasar padanya. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan hanyalah ingin segera pergi dari hadapan mantan suami. Hingga ia mendapatkan penghinaan untuk kesekian kali.


"Sepertinya kau langsung menjadi sehat setelah kuceraikan, sehingga sangat bersemangat karena ingin segera bertemu dengan kekasihmu itu, bukan? Wah ... ternyata benar apa yang dikatakan oleh mantan sugar daddy-mu itu."


Rafael yang tadinya ingin berbicara baik-baik dengan Alesha agar pergi satu minggu lagi karena perjanjian mereka adalah satu bulan dan ini baru tiga minggu, tapi tidak bisa menahan diri begitu mendapatkan umpatan yang menghina harga dirinya sebagai seorang lelaki.


"Apa maksudmu? Apa tidak bisa kau selalu menyangkutpautkan masalah dengan menyebut nama Alex? Apa yang dikatakannya padamu?" Alesha saat ini merasa penasaran karena berpikir ada sesuatu yang tidak beres ketika tatapan Rafael seolah sangat membencinya.


Rafael seketika tertawa terbahak karena berpikir bahwa wanita di hadapannya tersebut tengah berpura-pura saja. Bahkan ia bertepuk tangan sebagai applaus atas akting dari Alesha.


"Memangnya yang menjadi sugar daddy-mu hanyalah Alex? Aaah ... sepertinya, hanya dialah yang berarti bagimu, bukan? Sampai kau melupakan mantan pelangganmu yang bernama Noel Harahap."


Rafael menghentikan perkataannya karena ingin melihat ekspresi dari wajah Alesha yang terlihat membulatkan mata. Seolah terkejut atas apa yang diketahui olehnya. Kemudian ia tersenyum menyeringai dan ingin kembali menjelaskan apa yang terjadi di restoran.


"Sepertinya kau masih sangat mengingat nama Noel Harahap, ya? Entah berapa sugar daddy yang pernah kau layani. Aku tadi meninju wajahnya hingga babak belur karena berani mengungkit nama bayiku sebagai seorang pemimpin perusahaan. Kamu tahu penyebabnya, bukan?"


Alesha tentu saja tidak pernah melupakan pria bernama Noel Harahap yang hampir saja memperkosanya dulu. Semenjak saat itu, ia memblokir nomor pria itu serta tidak lagi ingin bertemu ataupun melayaninya.


Namun, ia tidak pernah berpikir jika Rafael akan bertemu dengan seorang bajingan yang sangat ia benci. "Apa sekarang kau ingin menyalahkanku?"


Alesha ingin tahu kali ini apa lagi yang akan didengarnya dari pria yang selalu saja menghinanya sebagai seorang wanita murahan. Padahal merenggut keperawanannya yang selama ini ia jaga tanpa menyadarinya.


Awalnya Rafael ingin melampiaskan amarah dengan menghina seperti yang dilakukan oleh pria yang membuatnya bapak belur. Namun, mengurungkan niatnya karena tidak tega saat melihat wajah pucat Alesha.


"Lupakan itu! Aku tidak ada waktu membahas hal lain karena ini jauh lebih penting dari apapun. Ini mengenai mama." Rafael ingin melihat reaksi dari Alesha dan saat ini ia menunggu komentar.


Alesha saat ini terdiam dan merasa sangat bersalah ketika mengingat sang ibu. "Katakan saja! Aku akan melakukan apapun untuk mama karena selama ini selalu baik padaku dan menganggapku seperti putri kandungnya sendiri."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2