
Alesha saat ini merasa sangat malu pada dosen sekaligus mantan sugar daddy-nya atas kata-kata Rafael yang terdengar sangat kasar dan jelas-jelas telah menyindir, serta memfitnah yang pastinya belum tentu benar.
Refleks Alesha mengarahkan tangannya untuk mencubit bagian pinggang belakang Rafael karena merasa perbuatan pria itu terlalu kekanak-kanakan saat berpikir jika Alex tidak mungkin mengikutinya hingga ke rumah sakit seperti orang kurang kerjaan saja.
Ia sangat yakin jika pria itu tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh Rafael karena mengetahui bahwa Alex saat ini sedang hilang ingatan dan sama sekali tidak mengingat akan hal yang berhubungan dengan masa lalu antara ia dan juga sang sugar daddy-nya tersebut.
'Sebenarnya apa yang ia pikirkan saat ini hingga mempermalukan diri sendiri dan juga aku dengan menuduh Alex yang bukan-bukan?'
'Aku benar-benar merasa sangat malu dan bagaimana besok berhadapan dengan Alex di kampus,' gumam Alesha yang saat ini hanya bisa mengeluh sekaligus mengumpat di dalam hati atas perbuatan kekanakan sekaligus memalukan dari Rafael.
Bahkan ia sudah mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang berdiri di sebelahnya agar menghentikan sikap yang menurutnya berlebihan tersebut.
Sementara Rafael sama sekali tidak mempedulikan kode mata dari Alesha yang sebenarnya mengerti bahwa saat ini ingin ia meminta maaf kepada Alex. Namun, ia sama sekali tidak ingin melakukannya.
Rafael mengetahui semua yang terjadi di antara mereka berdua dan membuatnya merasa sangat kesal jika berpikir bahwa akan ada benih-benih perasaan yang muncul saat ingatan dari dosen sekaligus sugar daddy wanita yang terikat kontrak dengannya tersebut telah kembali dan pastinya akan mengusik hubungannya.
Tidak ingin itu terjadi, Rafael saat ini mengarahkan tatapan tajam pada Alex tanpa merasa takut jika pria itu marah padanya. Apalagi ia bukanlah pria yang munafik dan berpura-pura bersikap baik, padahal sangat membenci.
"Lihatlah, dia dari tadi diam dan sama sekali tidak mengeluarkan bantahan sedikit pun. Aku sangat yakin jika dia benar-benar mengikutimu sampai ke rumah sakit karena ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh mahasiswi barunya bersama seorang pria."
"Atau mungkin dia berpikir kamu akan berbuat macam-macam dengan lawan jenis. Bukankah begitu, Pak dosen?"
__ADS_1
Rafael yang saat ini menatap ke arah sosok pria yang membuatnya ingin sekali meninju wajah menyebalkan yang dari tadi sangat datar ketika menatapnya dan belum kunjung membuka suara untuk berkomentar atas tuduhannya.
Sementara Alex yang saat ini masih terlihat sangat tenang karena menganggap bahwa pria yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut sangat kekanakan.
Ia tidak ingin berdebat tentang hal yang menurutnya sangat tidak penting. Apalagi tuduhan itu benar-benar tidak dilakukannya. Jangankan berpikir untuk mengikuti mahasiswinya, bahkan ia hanya mengingat keadaan dari sang ibu yang mengalami kecelakaan.
"Maaf, aku sedang buru-buru dan tidak ada waktu untuk menanggapi tuduhan tidak berdasar darimu. Kamu bisa menuduhku sesuka hati dan aku tidak akan marah atau pun mengajakmu bergulat karena tidak terima. Aku harus menemui seseorang yang dari tadi menungguku."
Alex berniat untuk melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah sebelah kanan, di mana ruangan sang ibu berada. Namun, ia benar-benar diuji kesabaran oleh pria yang kini malah menahan kerah kemejanya, sehingga membuatnya berhenti berjalan.
"Jangan kabur sebelum menjelaskan padaku tentang apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu menjelaskan bahwa tadi mengikuti kami sampai ke sini dan berpura-pura seperti sok sibuk dan bertemu dengan orang yang hanya sebuah karangan semata."
Rafael yang masih dikuasai oleh amarah, semakin merasa kesal atas jawaban dingin dan datar dari dosen tersebut, sehingga ia memilih untuk berjalan menghentikan pria itu.
Kali ini, Alesha yang semakin merasa dipermalukan oleh Rafael di depan Alex, sudah tidak bisa membiarkan pria itu berbuat sesuka hati karena ini menyangkut tentang nama baiknya sebagai seorang mahasiswi di kampus.
Ia berpikir jika dosennya mengungkapkan sikap keterlaluan dari Rafael kepada semua teman-temannya di dalam kelas, pastinya akan merasa sangat malu dan tidak mempunyai muka berhadapan dengan pria tersebut, serta yang lain.
Harapannya adalah ia bisa belajar dengan tenang tanpa ada gangguan, agar bisa berkonsentrasi dan meraih gelar sarjana, sehingga bisa membanggakan.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ia bisa kuliah karena kebaikan dari Rafael, tetap saja hal yang dilakukan oleh pria itu salah.
__ADS_1
Jadi, ia berpikir untuk menghentikan dan sekaligus menyadarkan agar pria yang berprofesi sebagai pemimpin perusahaan tersebut kembali ke sifat aslinya yang selama ini dihormati oleh para staf.
CEO yang selama ini disegani dan pastinya merupakan seorang pria yang bertanggung jawab dan selalu dihormati oleh seluruh staf di perusahaan itu.
Hingga ia semakin bertambah malu dan kesal ketika mendengar suara bariton dari Alex yang saat ini membuka ponsel, serta menunjukkan pesan pada Rafael.
Tidak hanya itu saja karena pria yang merupakan dosennya tersebut sudah berbicara mengenai tujuannya datang ke rumah sakit dan membuatnya seketika membulatkan mata, serta membekap mulut karena sangat terkejut dan tidak pernah menyangka atau pun berpikir bahwa hal itu yang sedang terjadi.
'Mati aku, mau ditaruh di mana mukaku besok saat bertemu dengannya di kampus?' gumam Alesha yang saat ini rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut paling dalam agar tidak bertemu lagi dengan pria itu.
"Ibuku hari ini masuk rumah sakit dan sedang dirawat di kamar ini. Apakah aku tidak boleh datang untuk menjenguk ibuku yang baru saja mengalami kecelakaan? Atau kau berpikir bahwa ibuku saat ini sedang bersandiwara terjatuh dari tangga karena ingin bertemu dengan Alesha?"
Alex Clarkson adalah sosok pria datar yang jarang berbicara dan terlihat sangat dingin pada semua orang. Namun, saat berada di antara keluarganya, semua sifat itu tidak terlihat karena hanya perhatian yang selalu ditunjukkan olehnya.
Kini, ia menatap ekspresi wajah memerah dari pria yang diketahuinya bernama Rafael karena tadi Alesha sempat memanggil dan hanya tersenyum menyeringai karena merasa bahwa keadaan langsung berubah drastis 180 derajat.
"Kenapa diam saja? Apa kau malu padaku sekarang?" tanya Alex yang masih merasa di atas angin karena berhasil mempermalukan pria yang menurutnya kekanak-kanakan tersebut.
Sementara Rafael yang tadi langsung melepaskan tangannya dari kerah kemeja Alex karena pria tersebut berbalik badan untuk menatapnya dan meraih ponsel di dalam saku celana.
'Sial! Kenapa bisa ada kebetulan seperti ini? Seperti Aeleasha dulu yang ingin bekerja di perusahaan dan ternyata CEO di tempat kerjaku adalah pria yang merupakan secret daddy-nya dulu.'
__ADS_1
To be continued...