
Beberapa saat lalu, Rafael diusir oleh Aeleasha karena dikhawatirkan akan membatalkan pernikahan hanya karena mantan istrinya tersebut tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan.
Awalnya ia menolak untuk menjemput Alesha Indira di kampus, tetapi karena mantan istrinya mengetahui telpon dari calon mertuanya, akhirnya memaksa agar memastikan sesuatu.
Apakah Alesha benar ada acara di kampus karena mantan istrinya tersebut berpikir ada sesuatu hal yang tidak beres.
Meskipun itu juga hal yang ia pikirkan karena mengetahui jika kekasih palsunya tersebut tengah melakukan sebuah kebohongan
Akhirnya terpaksa ia menuruti perintah Aeleasha dan seperti sekarang, langsung menjemput di kelas karena tadi sang ibu menelpon jika pihak butik menyuruh untuk fitting gaun pengantin sesi terakhir.
Begitu pertama kali melihat Alesha di kelas, Rafael semakin bertambah kesal karena penampilan wanita yang akan dinikahinya tersebut mengenakan dress di bawah lutut dengan warna mencolok.
Penampilan feminim Alesha sangat tidak disukainya dan merasa marah saat perintahnya tidak dipatuhi oleh wanita itu.
'Ia pasti sedang menggoda dosen sialan itu dengan memakai gaun mencolok dan menampilkan lekukan tubuhnya karena berpikir jika Alex akan senang saat melihat penampilannya.'
'Rasanya aku ingin mengumpat di depan semua orang di kelas ini, tapi itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Tidak, bukan aku yang malu, tetapi pria itulah yang harus merasakannya jika sampai berani mengusikku.'
Rafael masih diam di dekat daun pintu dan menunggu Alesha segera bangkit berdiri.
Sementara itu, Alesha membungkuk hormat pada Alex saat baru saja bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Saya permisi, Mr. Alex."
Dengan perasaan berkecamuk dan berdebar, Alesha berharap jika Alex langsung mengizinkan ia pergi. Hingga saat berjalan menuju ke arah Rafael yang berdiri tepat di depan pintu, ia merasa lega karena Alex hanya mengangguk perlahan tanpa membuka suara.
Seolah sedang menahan kekesalan, sehingga membuat suara Alex tercekat di tenggorokan.
Rafael seketika meraih pergelangan tangan kiri Alesha begitu menghampirinya dan langsung berpamitan pada sang dosen dan para mahasiswa lainnya.
__ADS_1
Meskipun langsung ada suara sorak sorak dari beberapa mahasiswa ketika ia keluar dengan menggenggam erat telapak tangan Alesha.
Langkah kaki mereka terlihat sangat kompak ketika berjalan menyusuri lorong-lorong depan ruangan kelas dengan tanpa membuka mulut. Seolah keduanya tengah larut dalam pikiran masing-masing.
Memang terasa aneh bagi Alesha saat berada pada posisi tidak berbicara apapun dengan Rafael yang masih betah diam. Hingga begitu tiba di depan mobil, pria itu masih tidak mengatakan apapun.
Saat Rafael tidak menyuruhnya masuk ke dalam mobil, Alesha pun hanya diam di sebelah kiri. Ia merasa kesal karena tidak paham
Hingga beberapa saat kemudian, Rafael memicingkan mata karena melihat Alesha tak kunjung masuk ke dalam mobil dan akhirnya ia membuka kaca pintu.
"Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Berdiri. Memangnya apa?" sahut Alesha dengan wajah masam dan sikap ketus.
'Bukankah dia yang mengajakku? Kenapa malah aku diperlakukan seperti seorang pengemis? Aku tidak sudi!' umpat Alesha yang kali ini merasa sangat kesal.
Refleks Rafael memijat pelipis karena bertambah pusing menghadapi sikap kekanakan dari Alesha. "Apa kamu berharap aku membukakan pintu untukmu saat masuk ke dalam mobil? Apakah Alex selalu seperti itu memperlakukanmu?"
Merasa sangat kesal karena apa yang membuatnya marah tidak dimengerti oleh Rafael, refleks Alesha membuka pintu mobil dan langsung masuk.
"Cepat jalan! Aku tidak perlu menjawab apapun padamu karena percuma saja!"
Tanpa berniat untuk menanggapi kemarahan sosok wanita yang duduk di sebelahnya, Rafael memilih untuk menyalakan mesin mobil dan mengemudikan meninggalkan area kampus karena akan langsung menuju ke suatu tempat.
Bukan butik seperti yang ia katakan saat di dalam kelas tadi, tetapi di tempat tertutup yang bisa berbicara tanpa dilihat oleh orang lain
Rafael tidak mungkin mengajak Alesha pulang ke rumahnya maupun tempat tinggal wanita itu karena ingin menegaskan tentang sesuatu yang telah dilanggar.
__ADS_1
Ia sangat marah, tetapi malah mendapatkan kemurkaan dari wanita yang akan dinikahi tersebut.
Selama berada di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan ibu kota, sama sekali tidak ada suara di antara mereka.
Hingga setengah jam kemudian, mereka sudah ada di dalam restoran. Rafael memesan private room karena hari ini ia ingin menjelaskan dan menegaskan pada Alesha tentang pernikahan yang beberapa hari lagi akan digelar dengan pesta sangat mewah dan meriah.
Kini, ia dan Alesha sudah duduk berhadapan dengan hanya berjarak meja kaca berukuran bulat
Alesha hanya diam dan mengikuti apapun yang akan dilakukan oleh Rafael, asalkan tidak menyalahi aturan. Apalagi ia sudah sangat malas menanggapi pria yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya.
Hingga Rafael yang saat ini tengah mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi, mulai membuka suara untuk mengungkapkan hal di pikirannya.
"Jadi, kamu dan mantan sugar daddy-mu itu sudah pada tahap menginap bersama? Hingga kamu rela tidak pulang ke rumah dan membuat ibumu khawatir dengan langsung menelponku agar aku tidak berpikir hal yang buruk mengenaimu."
"Aku merasa sangat iba pada ibumu karena berpikir jika putrinya adalah wanita baik-baik. Padahal hanyalah seorang wanita murahan! Seandainya ibumu tahu jika kamu semalam tidak menginap di kampus, tetapi menghabiskan malam menggairahkan dengan dosenmu, pasti akan merasa malu untuk berbicara denganku."
Alesha merasa sangat terhina karena mendapatkan kalimat penghinaan yang luar biasa dari pria dengan tatapan mengintimidasi tersebut.
Tatapan tajam penuh penghakiman tersebut membuat Alesha merasa dianggap hanyalah seperti seonggok sampah di mata Rafael. Padahal apa yang terlihat oleh mata, terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Ya, ia akui bahwa pekerjaannya memang menjadi seorang sugar baby, tetapi sampai sekarang masih perawan yang belum pernah bercinta dengan pria.
Memang tubuhnya sering diraba, tetapi ia bisa menjaga diri dengan masih perawan sampai sekarang. Pedomannya adalah sugar baby bukanlah seorang pelacur yang melayani nafsu para pria di atas ranjang.
Hal itulah yang membuat Alesha sangat marah karena Rafael tidak bisa membedakannya. Hingga ia pun bangkit berdiri dari posisinya dan mengambil gelas yang berisi air putih tersebut dengan langsung mengarahkan pada wajah pria yang sangat ia benci.
To be continued...
__ADS_1