
Pagi-pagi sekali Alesha sudah mendapat pesan dari Rafael yang menyuruhnya untuk datang ke kantornya saat itu juga.
Wanita itu pun mau tak mau segera pulang untuk mengganti pakaiannya agar menjadi lebih rapi seperti saat pertama kali ia datang ke kantor pria yang merupakan CEO tersebut.
Ia mengenakan blus berwarna baby blue, serta rok rajut berwarna navy yang dibelikan Rafael beberapa hari lalu. Rambut hitamnya ia ikat dengan style half ponytail yang memberikan kesan lebih rapi pada penampilannya.
Kemudian Alesha lantas bergegas menaiki bus mini untuk menuju kantor perusahaan Rafael. Untunglah arus jalanan hari ini cukup normal, sehingga ia bisa sedikit lebih santai tanpa mengkhawatirkan macet dan lari-lari mencari ojek seperti perjalanan sebelumnya.
Setelah sampai gerbang kantor, security di sana hendak menghentikannya, tetapi Alesha kemudian tersenyum.
"Saya kekasih tuan Rafael yang kemarin," ucap Alesha sambil memainkan rambutnya, mengisyaratkan rambutnya telah berganti warna.
Security itu kemudian langsung mempersilakan wanita tersebut memasuki pintu depan.
Tanpa membuang waktu, Alesha kemudian memasuki pintu depan dan melangkah menuju meja resepsionis. Wanita yang sama dengan resepsionis yang beberapa hari ia temui.
Resepsionis itu sontak melebarkan matanya ketika Alesha melangkah mendekat. Sedikit terkejut, tetapi juga pangling melihat penampilan wanita yang tiba-tiba saja sudah berubah ketika datang kembali.
"Nona? Ingin menemui presdir Rafael? Mari saya antar ke ruangan." Wanita itu sontak langsung menawarkan diri mengantar Alesha.
Akan tetapi, Alesha mengangkat kedua tangannya ke depan sambil menggelengkan kepala. "Tidak ... tidak. Tidak perlu. Aku akan ke sana sendiri. Terima kasih atas tawarannya." Ia kemudian tersenyum, membuat rasa takjub dan terpana bagi siapa saja yang melihatnya.
Alesha kemudian melangkahkan kakinya dengan percaya diri menuju ruangan Rafael. Melewati ruang kerja para staf perusahaan.
Seperti biasa, Alesha dapat merasakan bisikan-bisikan yang tiba-tiba saja bergemuruh di seisi ruangan.
Alesha hanya tersenyum kecil, merasa fenomena tersebut sangat lucu dan kekanak-kanakan.
Semasa Alesha masih SMA, ia seringkali mendengar berbagai gosip di sekitarnya yang membicarakan orang-orang yang cukup populer di sana.
Akan tetapi, Alesha selalu menjadi pendengar dan mengamati, tidak terlalu tertarik ikut-ikutan membicarakan orang yang tidak terlalu ia kenal.
Ia kira peristiwa seperti itu hanya ada di masa sekolah dan menjadi kebiasaan para remaja yang sedang puber saja, tetapi ternyata orang-orang dewasa pun masih banyak yang melakukannya dan sekarang ia yang menjadi pusat perhatian dan bahan gosip.
Alesha telah sampai di ruangan Rafael. Pemandangannya masih sama seperti terakhir kali ia datang. Ia kemudian mengetuk pintu ruangan itu. Lantas terdengar suara seorang lelaki yang berseru dari dalam.
"Masuk!" kata Rafael dari dalam ruangan.
Mendengar suara Rafael yang sudah mempersilakan, Alesha tanpa ragu langsung membuka pintu kaca yang buram itu dan masuk ke dalam.
Melihat wanita yang dari tadi memang susah ditunggu baru saja masuk, lelaki itu mendongak. Ia kemudian menyodorkan tangannya ke depan, menunjukkan ke arah kursi yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Duduk," perintahnya.
Alesha hanya melirik sekilas, lantas duduk dengan raut tenang. "Ada apa kamu memanggilku kemari?"
Rafael tak langsung menjawab, ia malah mengambil ponsel dan membukanya, lantas menyenderkan tubuhnya pada kursi kerjanya.
"Kamu … hanya perlu menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jujur dan cepat."
Alesha mengernyit, merasa heran dengan sikap Rafael yang tiba-tiba. "Untuk apa? Kita tidak seakrab itu untuk bermain-main."
Rafael berdecak, lantas menatap Alesha cukup tajam. "Siapa yang mau main-main? Ini penting. Jadi, jangan membuang waktuku dan lakukan dengan baik!"
Alesha kini hanya mengerlingkan kedua bola matanya, lantas mengembuskan napas seraya meniup anak rambutnya hingga beterbangan ke atas.
"Apa yang harus aku jawab?"
Meskipun sebenarnya Alesha sangat heran kenapa Rafael menyuruhnya untuk datang lagi ke kantor, tetapi hanya menunggu hingga ia tahu sendiri.
"Kamu baru lulus SMA dua tahun yang lalu, kan?" tanya Rafael yang masih menatap intens wajah sosok wanita di hadapannya.
"Memangnya kenapa?" Alesha menjawab sambil mengerutkan kening karena merasa aneh dengan pertanyaan Rafael.
Makin bertambah bingung, Alesha lagi-lagi mengernyitkan dahinya. "Itu sudah lama. Aku masih ingat tidak, ya?"
Alesha tampak berpikir skeptis. "Namun, aku termasuk murid berprestasi semasa sekolah. Harusnya masih bisa mengingat lagi kalau membaca sedikit."
Ia kemudian menatap pria di hadapannya tersebut, lalu terlihat pupilnya melebar setelah mengingat sesuatu. "Ah, sial. Buku-buku sekolahku sudah kujual!"
Rafael yang melihat Alesha panik hanya tersenyum miring. "Ini sudah zaman digital, untuk apa mengkhawatirkan buku-buku yang sudah dijual. Masih ada buku digital yang bisa diunduh di handphone-mu."
Alesha menyipitkan matanya, lantas menganggukkan kepala. "Ah … benar juga, tapi tunggu dulu."
Wanita itu kemudian memajukan badannya, menatap Rafael dengan alis bertaut. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal-hal ini kepadaku?"
"Sudah kubilang padamu. Duduk dan jawab saja pertanyaanku." Rafael menatapnya dengan pandangan menilik, membuat Alesha perlahan mengembalikan tubuhnya ke posisi semula.
Wanita itu menghela napasnya dengan dahi yang masih terus berkerut. "Aneh," gumamnya.
"Apa cita-citamu?" Rafael kini melanjutkan pertanyaannya karena sedang mencari tahu informasi mengenai Alesha.
"Aku punya banyak cita-cita." Wanita itu menjawab dengan pasti.
__ADS_1
Kemudian tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengeluarkan jawabannya. "Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan elegan, tapi itu terdengar seperti kehidupan nenek-nenek yang memiliki anak-anak kaya dan cucu-cucu yang berkehidupan baik."
"Lalu, aku ingin memiliki toko kue kering dan mengurusnya bersama ibu, tetapi tidak pernah berhasil membuat kue-kue itu. Aku juga ingin menceritakan dongeng-dongeng bagus kepada anak-anak yang tidak bisa mendengar dongeng dari ibunya."
"Jadi, apa cita-citamu yang paling kamu inginkan?" tanya Rafael yang merasa dipusingkan dengan jawaban Alesha.
Rafael ingin meminta kesimpulan dari jawaban-jawaban kompleks yang dilontarkan Alesha.
"Aku ingin ke ujung dunia," jawab Alesha dengan nada skeptis.
Kini, Rafael seketika mengalihkan pandangannya. Ponsel yang sedari tadi ia genggam lantas ditaruh di atas meja, matanya kini fokus menatap wanita yang selalu membuatnya berpikir keras dengan dahi berkerut.
"Bisakah kamu berhenti bermain-main?"
Sementara itu, Alesha kini menyilangkan tangannya di depan dada, balas menatap Rafael tanpa takut sama sekali. "Siapa yang sedang main-main?" balasnya cepat dengan menampilkan wajah datar.
Rafael menghela napas kasar. "Setidaknya jawab pertanyaanku dengan benar," keluhnya.
Di sisi lain, Alesha mengembuskan napasnya, melenguh panjang. "Aku belum selesai menjawabnya." Wanita itu kemudian meregangkan tangannya sampai berbunyi.
"Dengar, apakah kamu tahu apa itu pergi ke ujung dunia? Orang-orang memang tidak mengerti dengan istilah ini. Terkadang terdengar seperti omong kosong, bukan?
"Bahkan terkadang terdengar seperti teka-teki dan juga seperti seseorang yang sedang kehilangan semangat hidup."
Rafael kini menaruh dagunya di atas kepalan kedua tangannya di atas meja. Lagi-lagi mendengarkan perkataan Alesha yang entah kenapa terdengar seperti pendongeng handal yang sudah berpengalaman selama bertahun-tahun dalam acara siaran.
"Namun, dalam pemahamanku, pergi ke ujung dunia itu sama seperti pergi menuju suatu tempat yang tidak diketahui batasnya. Tempat yang misterius, tempat yang penuh teka-teki, tempat yang membuat kita selalu ingin menduga-duga dan tempat yang imajinatif. Namun, tempat itu tidak bisa kugapai karena sangat jauh."
Alesha yang baru saja berbicara panjang lebar, kini mengangkat bahunya sembari menipiskan bibir.
Rafael yang mendengar penjelasan itu, kini hanya mengerutkan dahinya sembari berpikir.
Setelah mengamati Alesha dan mengenalnya selama beberapa waktu, yang ia tahu, wanita itu seringkali meninggalkan pesan tersirat di balik perkataannya yang penuh kiasan dan terdengar rumit.
Kali ini, mungkin sama seperti yang telah ia dengar sebelumnya. Rafael hanya perlu menganalisis dan mengartikannya sedikit.
Namun, setelah beberapa kali mencoba memikirkannya, lelaki itu malah semakin tidak menemukan jawaban dan pusing sendiri. Ia lantas mengembuskan napasnya kasar.
"Katakan dengan jelas," perintahnya kini, terlanjur pusing mengartikan jawaban wanita yang berkata seperti sastrawan.
To be continued...
__ADS_1