I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Berusaha tidak gugup


__ADS_3

Keesokan harinya, Alesha yang sudah siap dengan penampilan sangat rapi, yaitu memakai gaun panjang berwarna hitam. Jika biasanya dulu ia selalu berpenampilan feminim dan paling suka memakai gaun seksi, tapi semenjak mengenal Rafael yang tidak suka melihatnya berpenampilan seksi, selera Alesha pun ini menjadi berubah total.


Ia sekarang lebih suka memakai celana jeans panjang dengan kemeja atau kaos casual yang seperti penampilan seorang wanita tomboy. Bahkan pakaian longgar adalah sesuatu yang menurutnya paling nyaman karena tidak menampilkan lekuk tubuhnya.


Alesha pun tidak tahu kenapa seleranya mendadak berubah, tetapi hari ini ingin menyenangkan seseorang yang sebentar lagi akan diputuskan karena tidak ingin menyakiti perasaan seorang pria saat hatinya tidak lagi milik pria itu.


Alesha menatap penampilannya di depan cermin. "Aku bahkan saat ini seperti sedang berkabung saja. Memakai gaun hitam, layaknya hendak pergi melayat."


Sementara itu, sosok wanita yang saat ini berada di atas kasur dan dari tadi mengamati temannya yang terlihat sangat cantik memakai gaun berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.


Ia seketika tertawa mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh sahabatnya. "Apalagi jika kamu sekalian memakai kacamata hitam, sudah dipastikan semua orang akan berpikir bahwa kamu ingin mengucapkan kalimat bela


sungkawa pada orang lain."


Aila juga ingin keluar karena ada urusan, jadi menunggu sahabatnya yang dari tadi merias diri secantik mungkin. "Aku sudah lama tidak melihat penampilanmu yang seksi seperti saat ini."


"Apa kamu akan mewarnai rambutmu lagi seperti dulu? Terbiasa melihatmu dengan rambut berwarna pirang dan sangat cantik serta seksi, tapi beberapa bulan ini melihat penampilan berbeda darimu, sebenarnya terasa aneh."


Aila yang saat ini menyibakkan rambutnya yang tergerai di bawah bahu, untuk menunjukkan pada sahabatnya bahwa warna rambutnya kini meniru Alesha.


"Ternyata mewarnai rambut dengan warna sepertimu dulu, membuat wajahku terlihat jauh lebih muda, bukan?" Aila mengedipkan mata untuk menggoda sahabatnya agar kembali berpenampilan dengan rambut warna-warni seperti dulu.


Alesha yang saat ini menoleh ke arah sahabatnya, hanya terkekeh geli melihat sikap lebay dari Aila. "Iya, kau sangat cantik dengan rambut berwarna pirang. Bahkan jika boleh bertemu denganmu, akan mengira kamu berasal dari luar negeri seperti mereka."


Kemudian tertawa terbahak-bahak saat merasa konyol apa yang baru saja diungkapkan terlalu lebay. Hingga ia pun menyadari bahwa penampilannya dulu terlalu berlebihan karena mewarnai rambut dengan warna mencolok.


Sekarang, ia lebih suka dengan rambutnya yang hitam dan make up natural. "Aku lebih suka dengan penampilanku yang sekarang daripada yang dulu."


"Pantas saja dulu Rafael mengubah penampilanku sebelum bertemu dengan ibunya. Mungkin jika aku bertemu dengan penampilan seperti ini, sudah dipastikan tidak akan direstui karena Ibu mana yang ingin melihat putranya mempunyai seorang istri dengan penampilan aneh-aneh serta metal."


"Pasti akan berpikir bahwa aku adalah wanita kecentilan dan suka menggoda para pria dengan penampilan yang seperti itu." Alesha kini terdiam ketika mengingat sosok wanita paruh baya yang selalu membuatnya merasa sangat disayangi meskipun hanyalah seorang menantu.


Embusan napas kasar mewakili perasaannya saat ini yang sangat merindukan sosok ibu mertua. Semenjak pergi dari rumah mertuanya, tidak pernah sekalipun ia menelpon karena takut menyakiti hati wanita berhati lembut itu.

__ADS_1


Meski sebenarnya ia sangat merindukan kasih sayang mertuanya, tapi tidak mungkin mengungkapkannya karena hanya akan meninggalkan luka mendalam di hati wanita paruh baya tersebut.


Jadi, ia memutuskan hubungan dan tidak lagi berinteraksi dengan wanita yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri karena sangat menyayanginya.


"Aku jadi merindukan mama." Alesha berbicara lirih dengan wajah murung. Namun, ia seketika diejek oleh sahabatnya yang membuatnya kesal.


"Merindukan anaknya juga, bukan? Kamu sama sekali tidak menghubunginya? Atau dia menghubungimu?" tanya Aila yang kini bangkit berdiri dari kasur dan menyemprotkan parfum karena tadi lupa memakainya.


Alesha hanya diam karena merasa hanya tersakiti ketika mendapatkan pertanyaan dari sahabatnya tersebut. "Buat apa aku merindukan orang yang tidak pernah memikirkanku? Lagipula untuk apa menelpon Rafael saat urusan diantara kami sudah selesai."


Aila refleks menepuk pundak sahabatnya karena tidak sependapat. "Selesai bagaimana? Bukankan belum ada panggilan dari pengadilan untuk perceraianmu? Kamu bisa bertanya pada Rafael mengenai apakah ia sudah mengajukan gugatan cerai pada pengadilan?"


"Jika kamu sudah memiliki surat janda, itu baru selesai namanya. Sementara saat ini statusmu hanyalah janda di mata agama saja, bukan di mata yang sah oleh hukum." Aila ingin mengingatkan sahabatnya agar segera mengurus ataupun bertanya pada mantan suami agar status lebih jelas.


Ia pun berbisik di dekat telinga Alesha. "Kamu tahu, kata banyak pria yang selingkuh dengar adalah janda lebih menggoda daripada seorang perawan yang hanyalah status di KTP. Jadi, kamu akan lebih menarik hati para pria dengan statusmu."


Alesha yang sama sekali tidak memikirkan untuk berhubungan dengan pria lain setelah statusnya menjadi janji janda, hanya mengarahkan sebuah pukulan ringan pada lengan sahabatnya tersebut.


Kemudian Alesha mengambil tas jinjing miliknya serta memeriksa kado yang sudah dimasukkan ke dalam sana untuk memastikan tidak ketinggalan. Hingga iya kembali mendapatkan godaan dari sahabatnya yang suka sekali membuatnya kesal.


"Kalau prianya adalah Rafael yang meminta untuk rujuk karena menyadari perasaannya padamu dan tidak ingin kehilanganmu, bagaimana? Apakah kamu tidak akan menolak untuk kembali pada mantan suami?" Aila tahu bagaimana perasaan sahabatnya pada mantan suami.


Ia bahkan lebih mendukung sahabatnya itu bersama Rafael daripada Alex karena menurutnya itu jauh lebih baik karena memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi menantu.


Aila berpikir bahwa sahabatnya tidak akan bahagia saat memiliki mertua yang jahat karena tidak pernah setuju dengan hubungan putranya. "Aku sangat setuju kamu memutuskan hubungan dengan Alex karena tidak ingin melihat hidupmu menderita ketika memiliki seorang mertua jahat."


"Apalagi aku sering mendengar kasus perceraian hanya gara-gara ada campur tangan dari mertua. Jangan sampai itu terjadi padamu dan membuatmu kembali sakit hati." Aila yang baru saja menutup mulut, kini mendengar notifikasi di ponselnya dan langsung membaca bahwa taksi yang dipesan sudah berada di depan.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Taksinya sudah ada di depan. Aku akan mengantarmu ke restoran, baru aku akan pergi menemui sugar daddy." Merangkul sahabatnya yang terlihat menganggukkan kepala tanda setuju dan berjalan keluar dari tempat kos dan langsung mengunci pintunya.


Alesha hanya diam saat melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah taksi karena saat ini telah menyusun kata-kata yang pas dan tidak menyakiti perasaan pria yang pernah dicintai.


Ia bahkan sudah latihan dari semalam agar tidak merasa gugup ketika berhadapan dengan pria yang diketahui sangat menantikan pertemuan mereka hari ini.

__ADS_1


Karena tadi pagi sudah kembali mendapatkan pesan dari Alex yang mengingatkan agar ia tidak lupa akan janji yang satu bulan dulu diungkapkan. Meskipun tidak membalas pesan Alex karena ia khawatir jika pria itu malah menghubunginya.


Alesha tidak ingin berbicara dengan Alex di telpon karena khawatir akan mengungkapkannya tidak secara langsung dan malah semakin menyakiti hati pria itu. Itulah alasannya untuk tidak menghubungi ataupun membalas pesan Alex hari ini dan kemarin.


Kini, keduanya sudah masuk ke dalam taksi dan kendaraan yang ditumpangi melaju meninggalkan area tempat kos tersebut untuk lalu langkah kendaraan di jalan raya utama.


Alesha saat ini menatap ke arah sahabatnya. "Aku titip semua barang-barang aku di tempatmu karena hari ini akan pulang ke rumah. Aku sangat merindukan ibuku dan akan mengatakan bahwa sudah bercerai dengan Rafael."


"Doakan ibuku akan baik-baik saja setelah aku menceritakan semuanya." Alesha rasa bahwa hari ini adalah hari paling berat karena menyakiti hati dua orang yang disayangi.


Namun, berpikir bahwa itu jauh lebih baik karena berbohong juga akan lebih menyakiti perasaan orang-orang yang menyayanginya.


Aila saat ini mengusap tangan sahabat baiknya agar tidak bersedih memikirkan hal itu. "Semuanya akan baik-baik saja. Ibumu akan mengerti bahwa kamu melakukan semua ini juga karena menyayanginya."


"Aku tahu itu, tapi satu hal yang aku takutkan adalah ibuku akan menyalahkan diri sendiri jika aku mengatakan hal yang sebenarnya mengenai pernikahan yang hanyalah sebuah perjanjian di atas kertas." Alesha berniat untuk merahasiakan hal itu dan mengatakan pada Rafael agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


"Lalu, apa kamu akan kembali berbohong pada ibumu bahwa kamu bercerai karena Rafael sudah tidak mencintaimu lagi?" Aila saat ini berpikir bahwa sahabatnya tengah merasa galau untuk mengungkapkan hal paling menyakitkan kepada seorang ibu.


Alesha yang memang akan melakukan hal itu, saat ini menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan sahabatnya. "Iya, aku hanya akan mengatakan pada ibuku bahwa di antara kami sudah tidak ada kecocokan. Jadi, aku akan menelpon Rafael setelah pulang dari restoran."


"Baiklah, menurutku itu juga jauh lebih baik daripada mengatakan hal yang sesungguhnya pada ibumu karena sudah dipastikan ia akan menyalahkan diri sendiri atas nasib putrinya yang melakukan pernikahan palsu hanya demi bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan."


Kemudian Aila mengarahkan tangannya pada posisi untuk memberi semangat agar sahabatnya hari ini bisa melanjutkan hidup dengan baik dan cita-citanya tercapai seperti yang diharapkan.


"Semangatlah, aku akan selalu mendukungmu dan jangan lupa padaku jika sukses nanti." Aila tersenyum setelah memberikan semangat pada sahabatnya.


"Terima kasih, my best friend." Alesha menggambar memeluk sahabatnya dan merasa terharu dengan kebaikan dari wanita yang berprofesi sama sepertinya dulu.


Kemudian ia sekarang mencoba untuk menormalkan perasaan agar bisa berbicara dengan lancar di depan Alex saat mengatakan hal yang sebenarnya bahwa ia sudah tidak mencintai pria itu lagi karena hatinya sekarang dimiliki oleh pihak lain yang tak lain adalah Rafael.


'Semoga Alex mau menerima keputusanku dan tidak menyulitkanku untuk melanjutkan hidup tanpanya,' gumam Alesha yang saat ini tengah berapa doa untuk membuatnya tidak gugup saat mengungkapkan kenyataan pada Alex.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2