
Beberapa menit terlewati, ia merasa kini waktu berjalan begitu lambat. Dirasa akan lebih lama menunggu menuju jam pelajarannya, wanita itu memilih untuk bangkit dari kursinya, lantas pergi memesan minuman untuk melepaskan dahaganya.
Kini, Alesha membaca-baca menu yang ada di depan meja kasir, lantas memilih satu minuman yang paling cocok untuknya saat ini.
"Iced milk tea, satu," ucapnya pada penjaga kasir.
Setelah itu, Alesha diberikan kwitansi dan ia kembali duduk di kursinya untuk menunggu pesanannya jadi.
Sekitar sepuluh menit ia menunggu. Wanita itu tak menyangka rasanya akan jadi sangat membosankan.
Alesha akhirnya memainkan ponselnya sendiri untuk menghilangkan rasa bosan. Sampai tak lama kemudian, terdengar suara yang ia tunggu-tunggu.
"Iced milk tea atas nama Alesha!" Kasir itu berseru.
Alesha yang mendengarnya merasa senang. Tanpa buang-buang waktu, ia kemudian bangkit dari kursinya, menjemput pesanannya dengan antusias.
"Terima kasih!" ucap Alesha sambil tersenyum pada kasir itu. Pesanan itu diterimanya dengan senang hati.
Wanita itu lantas berbalik menuju kursinya. Namun, ketika berjalan pada langkah ketiga, tali sepatunya terlepas lantas terinjak kakinya sendiri. Tubuhnya seketika oleng, ia semakin tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Alesha memutar poros tubuhnya, berusaha agar tak jatuh, tetapi nahas karena kini malah semakin condong ke depan. Ia semakin panik, lalu mengangkat iced milk tea-nya untuk menyelamatkannya.
Akan tetapi, ketika menyadari ada eksistensi seseorang di depannya, wanita itu buru-buru menurunkan minumannya ke bawah.
Tak dapat dihindari, tubuh Alesha lantas ambruk ke lantai. Iced milk tea yang sedari tadi dijaganya kini jatuh ke lantai, dengan keadaan yang terjatuh sampai lututnya menindih minuman dengan kemasan gelas plastik itu hingga pecah dan isinya berserakan ke mana-mana.
Alesha kini terlihat meringis.
Sial. Mengapa hari ini tiba-tiba begitu sial baginya?
Alesha masih dalam posisi terduduk berjongkok. Pandangan matanya kini beralih pada minumannya yang berserakan di lantai kantin. Sedikit lebih jauh di depan, ia melihat sepasang sepatu pantofel yang basah karena tumpahan minumannya.
Alesha terhentak, lantas berdesis tipis, "Astaga! Maaf ... maaf!" ucapnya panik.
Pemilik sepatu itu sontak memundurkan langkahnya. "Bangun!" titahnya.
Alesha yang terlalu panik karena telah mengotori lantai kantin itu tidak memperdulikan. Ia kini berusaha membersihkan tumpahan minumannya dengan tisunya yang masih tersisa.
"Bangun! Kamu tidak punya telinga? Ada petugas kebersihan yang akan membersihkan."
__ADS_1
Pemilik sepatu itu berucap lagi, kini dengan nada yang semakin ketus. Suara bariton yang berbanding lurus dengan ucapannya yang tajam itu membuatnya semakin terdengar bengis.
Alesha sontak menghentikan aktivitasnya. Bukan. Bukan karena ucapan tajam lelaki itu, tetapi otaknya mengingat sesuatu yang aneh. Ia merasa begitu familiar dengan suara lelaki itu. Rasanya seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
Terlampau penasaran, Alesha kemudian mendongak, lantas menyipitkan matanya untuk melihat dengan lebih jelas. Pandangannya dan lelaki itu kini bersitemu. Menyadari apa yang telah dilihatnya, wanita itu seketika melebarkan kedua kelopak matanya.
'Lelaki itu?'
Alesha kini mengerjapkan matanya sekali, berharap penglihatannya melakukan kesalahan teknis dan setelah itu presensi lelaki di hadapannya itu berubah menjadi orang lain.
Akan tetapi, sayangnya tidak. Penglihatannya benar.
Semakin jelas penglihatannya, Alesha kini meneguk salivanya sendiri. Jantungnya seketika berdebar kencang, berpacu dua kali lipat. Tidak salah lagi. Lelaki itu adalah mantan sugar daddy-nya.
"Gawat. Sungguh gawat! Aku bisa mati di hari pertamaku kuliah. Ia pasti akan membuka jati diriku yang buruk,' gumam Alesha di dalam hati dengan perasaan berkecamuk dan membuatnya merasa sangat gugup saat berhadapan dengan seseorang yang berhubungan dengan masa lalu kelamnya sebagai seorang sugar baby.
Khawatir, takut, cemas, kini tidak sanggup mewakili perasaan Alesha saat ini karena merasa seperti telur diujung tanduk dan kapan saja bisa hancur tak bersisa saat pria itu membuka mulut untuk mengungkapkan identitas aslinya.
Padahal Alesha awalnya berpikir bisa hidup normal saat berada di tempat kuliah dengan melupakan identitas sebenarnya sebagai sugar baby.
__ADS_1
Kini, ia memilih untuk membuang impiannya karena menyadari bahwa sebenarnya ditakdirkan hanya untuk menjadi seorang wanita miskin tak berpendidikan.
To be continued...