I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Posisi saling berhadapan


__ADS_3

Alesha kini tengah duduk di hadapan sang ibu dan juga wanita paruh baya baik hati yang dianggapnya sebagai malaikat baik hati karena sudah melakukan hal yang sangat banyak untuknya. Mulai dari memberikan perawatan terbaik dan memindahkan sang ibu ke ruangan VVIP dan juga malah menyuruh Rafael untuk membiayai kuliahnya.


Ia merasa, semenjak bertemu dengan Rafael, seolah nasibnya telah berubah karena saat ini tidak perlu menjadi sugar baby lagi yang menemani para pria kaya.


Bahkan ia yang dulu meminjam uang dari Rafael untuk biaya operasi, tidak jadi menggunakannya karena pria itu sudah melunasi biaya itu, sehingga menyimpan di bank.


Ia sama sekali tidak memakainya karena berpikir suatu saat akan mengembalikannya setelah hubungannya dengan Rafael berakhir. Namun, Alesha yang saat ini melihat raut wajah berbinar dari wanita paruh baya yang terlihat sangat menyayangi dan mengharapkannya menjadi menantu, membuatnya merasa sangat berdosa.


Aeleasha merasa sangat bersalah karena telah membohongi wanita sebaik itu yang saat ini tengah berbicara panjang lebar padanya.


"Kamu kuliah yang baik, Alesha. Semuanya demi kebaikanmu nanti setelah menjadi istri Rafael. Tidak akan ada yang merendahkanmu jika nanti kamu mendapatkan gelar setelah lulus kuliah. Sebenarnya aku tidak memikirkan gelar maupun kasta karena kami berasal dari keluarga sederhana, bukan terlahir dari keluarga konglomerat."


"Hanya saja, aku tahu dunia orang-orang yang memiliki posisi tinggi itu banyak badai menghantam. Jadi, aku tidak ingin ada orang yang nantinya berusaha mencari celah untuk menghinamu setelah berstatus sebagai istri seorang CEO perusahaan. Kejarlah cita-citamu."


"Meskipun nanti kamu akan menikah saat masih kuliah, aku berharap tidak akan mengganggu kuliahmu nantinya. Aku sangat senang karena putraku memilih wanita yang tepat sepertimu," ucap Tiana kini sambil mengusap lembut punggung tangan Alesha.


Ia yang tadi berbicara panjang lebar dengan ibunya Alesha hingga tertidur, kini beralih berbincang dengan calon menantu.


Tiana kini berencana untuk menikahkan Rafael dengan Aeleasha setelah wanita yang kini tertidur pulas tersebut pulih dan keluar dari rumah sakit. Mungkin beberapa bulan lagi, sambil ia mempersiapkan segalanya.


Sementara itu, Aeleasha yang kini mengulas senyuman pada wanita paruh baya tersebut hanya menganggukkan kepala dan menjawab iya.


Sementara, otaknya saat ini tengah benar-benar kacau hari ini karena ada banyak beban yang dipikirkannya. Mulai dari perasaan bersalah pada wanita paruh baya itu, sikap Rafael yang membuatnya merasa sangat aneh, hingga sosok pria yang merupakan dosen sekaligus mantan sugar daddy-nya menyulitkan di hari pertama kuliah.

__ADS_1


'Maafkan aku karena berbohong. Jika nanti mengetahui semuanya, mungkin tidak akan ada lagi tatapan penuh kasih sayang seperti ini. Semuanya akan berubah dan mungkin hanya tersisa sebuah kebencian.'


'Jadi, aku tidak boleh terlena dan terbuai dengan sikap wanita yang sudah kuanggap seperti ibu kandung sendiri ini,' gumam Alesha yang saat ini tengah menganggukkan kepalanya tanda patuh pada semua perintah dari wanita itu.


Ia yang sama sekali tidak ingin membahas tentang pernikahan karena hanya menganggap palsu, kini memilih mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa Rafael belum juga kembali? Sudah cukup lama pergi ke kantin. Mama pasti lapar. Biar aku menyusulnya. Mama tunggu di sini, ya!"


Alesha memilih bangkit dari kursi dan setelah melihat wanita itu mengiyakan permintaannya, ia sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Sebenarnya, selain beralasan ingin menyusul Rafael, ia ingin mengecek apakah Alex masih berada di dalam ruangan mamanya. Ya, tadi ia sempat melihat mantan sugar daddy-nya itu masuk ke ruangan nomor tiga.


Meskipun ia tidak akan masuk ke sana, tapi berpikir, mungkin Alex Clarkson keluar atau tidak sengaja bertemu dengannya di luar ruangan.


"Tidak ada. Sepertinya Alex masih berada di dalam bersama wanita kejam itu," lirihnya yang saat ini memilih untuk berjalan menuju ke arah lift dan begitu memencet tombol, ia menunggu hingga beberapa saat.


Setelah pintu lift terbuka, langsung masuk ke dalam ruangan kotak besi tersebut dan ia berbalik badan. Namun, ia mengerjapkan kedua mata begitu melihat sosok pria yang berlari dan melambaikan tangan.


Alesha yang merasa bingung untuk melakukan apa karena jujur saja saat ini degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal dan menelan saliva dengan kasar saat melihat Alex seolah meminta untuk menghentikan pintu lift tertutup.


Tentu saja ia yang masih memiliki perasaan pada dosennya tersebut, kini benar-benar gugup jika sampai hanya berdua di dalam lift, sehingga memilih untuk membiarkan pintu tertutup dan membuatnya tidak akan mengalami kejadian yang mendebarkan.


'Sudah, biarkan saja dia naik lift berikutnya,' gumam Alesha yang kini melihat pintu mulai tertutup.

__ADS_1


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu pada detik terakhir melihat tangan dengan buku-buku kuat berhasil menahan hingga pintu lift gagal tertutup dan tentu saja ia tahu itu milik siapa.


Kembali degup jantungnya berdegup kencang dan kali ini jauh lebih cepat begitu melihat sosok pria yang jujur saja sangat dirindukannya.


Bahkan suara bariton yang kini sudah tertangkap indra pendengarannya, kembali membuat buku kuduknya seketika merinding. Ya, bagi seorang Alesha, suara Alex Clarkson adalah suara paling merdu di dunia ini dan semua hal yang berhubungan dengan pria itu membuatnya merasa sangat tidak karuan.


"Sepertinya kamu tidak suka aku masuk ke dalam lift," ucap Alex yang kini menatap intens sosok wanita di hadapannya.


Ia yang tadi menjenguk sang ibu dan cukup lama berbicara, mendapatkan perintah untuk membelikan makanan di kantin. Hingga saat ia baru keluar dari ruangan perawatan sang ibu, melihat siluet belakang sosok wanita yang sangat dihafalnya dan membuatnya langsung berlari hingga terengah.


Ia merasa sangat aneh dengan semua kebetulan yang terjadi di antara mereka dan juga sikap Alesha yang seolah menghindar, semakin membuatnya penasaran.


Sementara itu, Alesha yang masih sibuk menormalkan deru napas dan suaranya seolah tercekat di tenggorokan saat hanya berdua di dalam lift dengan posisi saling berhadapan dengan pria yang ia puja.


'Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengatakan jantungku serasa mau meledak karena berhadapan dengannya. Aku harus beralasan apa?'


Saat Alesha memutar otak untuk mencari alasan yang tepat, ia merasakan nyeri pada keningnya saat mendapatkan sebuah sentilan di keningnya.


Ya, pria yang masih menatapnya dengan intens tersebut baru saja menyentil keningnya hingga membuat sudut bibirnya melengkung karena meringis menahan rasa nyeri akibat perbuatan pria yang merupakan dosen sekaligus mantan sugar daddy-nya.


Bahkan ia kini mengusap keningnya dan merasakan dejavu karena dari dulu pria itu selalu melakukan hal seperti itu padanya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2