I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kecurigaan


__ADS_3

Alesha saat ini menelan kasar saliva karena mendapatkan pertanyaan yang bahkan ia tidak pernah memikirkan jawabannya dan merasa bingung harus bagaimana ketika dikerjai oleh Rafael.


'Sialan! Sepertinya Rafael ingin menghukumku dengan cara ini karena aku tadi pergi ke rumah sakit dan membohonginya. Daripada ambil pusing dan memikirkan, lebih baik menjawab asal saja,' gumam Alesha yang saat ini tidak lagi memutar otak untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan orang lain.


"Satu saja. Aku hanya ingin memiliki satu anak karena berpikir bisa memberikan semua yang terbaik dan tidak hidup serba kekurangan seperti ibunya di masa lalu."


"Aku terlahir di keluarga kalangan bawah yang untuk makan saja harus bekerja keras dan setiap hari hidup pas-pasan. Jadi, dari dulu memiliki keinginan agar bisa memberikan semua yang dibutuhkan oleh seorang anak, sehingga berpikir hanya ingin memiliki anak tunggal."


Tentu saja jawaban dari Alesha membuat semua orang ingin membantah perkataan yang seolah tidak mempercayai Rafael bisa memberikan semua keinginan seorang anak.


Namun, masih mempertimbangkan agar tidak menyinggung perasaan wanita muda tersebut yang baru saja memasuki keluarga baru.


Sementara itu, Rafael yang ingin sekali memiliki banyak anak karena merasa kesepian dari dulu. Apalagi ia sama halnya seperti Alesha yang hanya merupakan anak tunggal dan tidak punya saudara, sehingga selalu kesepian.


Apalagi sebenarnya dari dulu merasa iri pada teman yang mempunyai saudara saling menyayangi, sedangkan dirinya tidak memiliki saudara karena sang Ayah meninggal dan sang ibu dulu bekerja menjadi pelayan di rumah Aealeasha —mantan istrinya tersebut.


Hingga takdir mengubah segalanya setelah ia dulu membantu wanita itu keluar dari masalah saat hamil diluar nikah. Hingga akhirnya bersatu dengan Arsenio yang merupakan ayah dari janin yang dikandung oleh Aealeasha.


Hingga ia mendapatkan kekuasaan serta perusahaan sebagai balas budi atas semua perbuatannya pada Aealeasha yang dulu hendak bunuh diri dan diselamatkan olehnya.


Nyawa Aealeasha yang berhasil diselamatkan membuat Arsenio menyerahkan perusahaan yang ada di Jakarta dan fokus di luar negeri, tapi satu bulan terakhir ini tetap tidak ada kabar dari pria itu dan berpikir ingin menghabisi karena sama sekali tidak memperdulikan keadaan Aealeasha.


Namun, ia sama sekali tidak bisa melakukan karena dilarang oleh Aealeasha dengan alasan ingin hidup tenang dan membuka lembaran baru. Meskipun ia harus menutupi kehadiran wanita itu dari pria paruh baya yang tak lain merupakan ayah wanita itu.


Aealeasha beralasan masih ingin fokus pada usaha barunya dan setelah ramai pembeli dan semuanya berjalan lancar seperti yang diinginkan, baru akan mengatakan pada pria yang juga merupakan mantan majikan sang ibu.


Rafael yang tidak puas dengan jawaban Alesha mengenai anak, sehingga refleks membantah dan ingin semua orang mengetahui harapannya.


"Satu? Mana mungkin aku bisa terima jika hanya mempunyai satu anak. Kita bahkan masih muda dan kamu bisa melahirkan banyak anak untukku agar bisa menghiasi rumah ini dan tidak sepi seperti rumah hantu karena biasanya hanya ada aku dan ibu."


Rafael kemudian beralih menatap ke arah sang ibu yang diketahui olehnya ingin segera memiliki cucu. "Kalau Mama ingin punya cucu berapa?"

__ADS_1


"Nanti aku akan mengabulkannya." Rafael yang saat ini beralih menatap ke arah ekspresi wajah wanita yang terlihat memerah dan mengejutkan bibir seolah sangat kesal pada perkataannya yang tidak mendukung keinginan tersebut.


Namun, ia sama sekali tidak peduli akan hal itu karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah mengikuti alur yang terjadi ketika semua orang ingin mengetahui mengenai anak.


Sementara itu, Alesha sama sekali tidak menjawab karena jujur saja ia merasa seperti selalu disalahkan dan menjadi bulan-bulanan pria itu yang dianggap melampiaskan semua kekesalan padanya.


'Aku malas sekali meladeni Rafael karena apapun yang kukatakan tidak pernah benar.'


Saat Alesha sibuk mengumpat di dalam hati, kini mendengar suara lembut dari wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Tiana yang saat ini ingin menguraikan aura ketegangan di ruang tamu tersebut, ini memegang lembut telapak tangan Alesha.


"Sayang, aku tahu bahwa untuk memiliki seorang anak butuh perjuangan yang sangat besar dan bahkan mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan. Namun, itu sudah menjadi kodrat seorang wanita yang bergelar malaikat tanpa sayap."


"Jadi, wanita sudah ditakdirkan untuk melahirkan keturunan meskipun itu membutuhkan banyak perjuangan yang penuh dengan banyak hal selama 9 bulan. Namun, jika hanya memiliki satu anak, akan sangat sepi dan seperti putraku yang kesepian karena tidak mempunyai saudara."


Tiana tentunya bisa mengerti bagaimana perasaan sang menantu yang malah diceramahi ketika harusnya berbulan madu dan memanjakan diri bersama suami.


"Mungkin kamu berpikir Mama tidak pantas untuk mengatakan atau menasehati karena hanya bisa melahirkan satu anak dan menuntutmu memiliki lebih dari satu."


Sengaja ia menguraikan rasa bersalah dari sang ibu, agar tidak terbawa suasana sedih ketika mengingat mengenai kejadian-kejadian malang di masa lalu.


Tentu saja saat ini Alesha kembali disudutkan oleh dukungan dari Rafael yang membela ibunya. Akhirnya terpaksa berakting tersenyum seolah menyetujui apapun yang diperintahkan oleh ibu dan anak tersebut.


Padahal sebenarnya iya dari dulu tidak suka patuh pada orang lain selain ibunya dan juga guru yang mengajar. Namun, kali ini kembali ditampar oleh fakta bahwa ia tidak akan bisa berbuat apapun saat belum selesai terikat perjanjian oleh Rafael.


"Baiklah, aku akan menyerahkan sesuai dengan yang ditakdirkan oleh Tuhan. Oh ya, kenapa ibu dari tadi belum terlihat sampai sekarang?" Alesha yang saat ini mengedarkan pandangan untuk mencari sang ibu, sama sekali tidak melihat wanita yang sangat disayanginya tersebut.


Tini menyahut untuk mengungkapkan apa yang tadi dilakukan dan tidak membuahkan hasil sama sekali. "Ibumu pasti sibuk memberikan perintah sekaligus membantu pelayan menyiapkan makan siang."


"Dari tadi aku ajak ke sini tidak mau karena katanya ingin membantu menyiapkan makanan untuk para sanak saudara."

__ADS_1


Kini, Alesha mempunyai inisiatif untuk bisa segera keluar dari interogasi yang menyudutkannya. "Aku ingin mengecek ibuku dulu."


Kemudian bangkit berdiri dari sofa dan berpamitan pada semua orang yang membuatnya merasa sesak dan kesulitan untuk bernapas.


Namun, saat baru berjalan beberapa langkah, suara bariton dari Rafael membuat bulu kuduk Alesha menahan kekesalan.


"Sayang, sekalian buatkan aku kopi. Aku ingin merasakan nikmatnya dibuatkan kopi oleh istri sendiri," seru Rafael yang mencoba untuk terlihat natural ketika berakting menjadi seorang suami yang tergila-gila pada istri.


Tentu saja semua sanak saudara seketika bersorak dan menggoda pasangan pengantin baru itu.


"Cie ... yang pengantin baru."


"Bikin itu aja."


"Jadi pengen punya istri juga biar dibuatkan kopi tiap hari."


Alesha yang tadinya tidak ingin menoleh ke belakang lagi untuk menjawab permintaan Rafael, akhirnya terpaksa mengiyakan dengan memasang wajah semanis mungkin dan tersenyum lebar saat berbalik badan.


"Iya. Aku akan membuatkan kopi untukmu." Kemudian berniat untuk kembali berjalan ke dapur, tapi lagi-lagi, seolah kesabarannya sedang diuji karena kembali mendapatkan pertanyaan.


"Apa kalian sama-sama memanggil sayang untuk panggilan? Apa tidak ingin panggilan berbeda yang memiliki ciri khas tersendiri dan tidak sama dengan yang lain?" tanya sepupu Rafael yang masih belum menikah.


"Aku sudah nyaman manggilnya sayang dari dulu." Rafael menjawab singkat karena malas berpikir.


Sementara Alesha saat ini hanya tersenyum simpul dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Rafael. "Aku juga sudah terlanjur nyaman memanggil seperti itu."


"Kenapa aku merasa kalian seperti pasangan suami istri yang sangat datar dan kaku? Tidak seperti pasangan yang sedang lengket-lengketnya," ucap seorang pria yang tidak lain adalah istri dari Tini.


Merupakan paman dari Rafael dan merasa sangat aneh dengan sikap serta ekspresi wajah pengantin wanita.


Ia selama ini bisa menilai watak seseorang hanya dari menatap wajah dan ketika pertama kali melihat ekspresi istri keponakannya, seperti tengah tertekan.

__ADS_1


Sementara itu, Alesha seketika bersitatap dengan iris tajam berkilat pria yang sangat menyebalkan tersebut.


To be continued...


__ADS_2