
"Aku berpikir untuk membiarkan semuanya dan Arsenio mengetahui sendiri karena aku yakin pria itu akan mencari dengan menyuruh detektif. Jadi, sepertinya hanya perlu menunggu keputusan Arsenio. Jika karena kecelakaan itu, membuatnya membenci putriku dan menceraikannya, Aku harap Aeleasha akan baik-baik saja."
Kemudian Cakra menoleh ke arah Rafael. "Jika seandainya hal itu benar-benar terjadi, Apakah kau berniat untuk kembali pada putriku dan meninggalkan calon istrimu?"
Rafael saat ini seperti dihantam batu besar dan merasa sangat bingung dengan jawaban atas pertanyaan mantan mertuanya tersebut. Seolah kembali dipermainkan oleh takdir karena sekian lama memilih untuk menjadi duda dan tidak pernah berniat untuk menikah, tetapi tidak mendengar kabar buruk seperti ini.
Namun, setelah memutuskan untuk menikah karena suruhan dari sang ibu, hingga sudah tersebar di media mengenai kabar pernikahan dengan Alesha, tetapi malah mendengar kabar buruk yang berhubungan dengan mantan istri.
'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa takdir selalu mempermainkanku seperti ini?' gumam Rafael yang masih enggan untuk membuka suara menanggapi pertanyaan mantan mertuanya tersebut.
Melihat Rafael hanya diam saja dan tidak langsung menjawab, Cakra saat ini berpikir bahwa pria itu tengah dilanda kegundahan luar biasa untuk memutuskan pilihan antara dua wanita.
"Lebih baik lupakan perkataanku barusan, Rafael. Aku benar-benar tidak tahu malu karena berbicara seperti ini padamu. Padahal gara-gara putriku yang memilih Arsenio dan meninggalkanmu, sehingga membuat hidupmu menderita selama bertahun-tahun."
Kemudian Cakra menepuk pundak Rafael dan mencoba untuk tersenyum tipis demi membuat mantan menantunya tersebut tidak memikirkan perkataannya.
"Aku akan melindungi putriku dan memastikan ia tidak akan menderita. Kamu tenang saja karena Aeleasha masih mempunyai papa yang hebat sepertiku."
Rafael tahu bahwa saat ini pria itu hanya merasa bersalah dan tidak ingin membebaninya, tapi sudah terlanjur mendengar semuanya dan tidak bisa melupakan begitu saja karena kepalanya benar-benar pusing memikirkan nasib mantan istri.
"Aku Aeleasha dan Arsenio juga mengalami hal yang sama jika sampai mengetahuinya. Sebenarnya aku ...." Rafael tidak melanjutkan perkataan yang ingin mengatakan bahwa sampai saat ini masih mencintai Aeleasha dan pernikahan terjadi atas dasar surat perjanjian.
Bahkan Rafael bisa langsung mengakhiri kontrak perjanjian tersebut dengan Alesha sesuai kemauannya, tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang akan terluka karena perbuatannya, yaitu sang ibu, sehingga berpikir untuk berbicara dengan sang ibu terlebih dahulu.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini, Pa. Namun, aku berjanji bahwa tidak akan membiarkan Aeleasha hidup menderita karena perbuatan Arsenio yang mungkin akan membalas dendam karena kematian orang tuanya."
__ADS_1
"Lagipula ibu Aeleasha sudah menebus dengan hidup menderita hingga ajal menjemput, itu sudah cukup dan sebenarnya tidak perlu diungkit lagi mengenai masa lalu. Apalagi mereka terlihat bahagia karena saling mencintai, tapi jika karena masalah ini, berakhir berpisah, Sepertinya aku juga akan turun tangan."
Saat Rafael baru saja menutup mulut, mendengar suara sang sopir yang mengatakan bahwa telah tiba di bandara.
"Lebih baik kita bersikap biasa di depan mereka. Biarkan waktu yang menjawab semua ini. Apakah cinta Arsenio lebih kuat dari perasaan dendam pada Aeleasha yang merupakan putri dari wanita yang telah menyebabkan orang tuanya meninggal."
Cakra saat ini menganggukkan kepala dan setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rafael. "Aku juga berpikiran yang sama. Lebih baik kita turun untuk mengantarkan mereka."
Kemudian keduanya turun dari mobil dan berjalan mendekati pasangan suami istri yang mempunyai hubungan masa lalu kelam yang harusnya dilupakan jika ingin hidup berbahagia.
Aeleasha yang dari tadi mencoba untuk menghibur sang suami agar tidak terlalu memikirkan masalah perusahaan yang mengalami masalah besar, kini beralih melihat ke arah putranya yang digendong oleh Rafael.
Ia tersenyum dan mengulurkan tangan karena berniat untuk menggendong putranya. Namun, dilarang oleh sang suami.
"Biar aku yang menggendong Arza," ucap Arsenio yang saat ini menggendong putranya begitu diserahkan oleh Rafael. "Maafkan aku karena sepertinya tidak bisa datang ke acara pernikahanmu."
Namun, tetap akan melaksanakan rencana untuk membuat Rafael tidak akan berpisah dengan Alesha. Kemudian beralih memeluk erat sang ayah.
"Papa harus jaga kesehatan, agar tidak sakit. Aku sangat menyayangimu,"
Cakra yang berusaha untuk tidak berkaca-kaca karena bersedih dengan perpisahan yang selalu dialami seperti hari ini. "Kamu juga harus jaga kesehatan sana. Papa juga sangat menyayangimu dan akan selalu ada Jika kamu membutuhkan."
Sementara itu, Rafael yang sangat tidak suka jika Aeleasha membahas mengenai pernikahannya dengan Alesha, ada jelas-jelas sudah mengetahui jika yang akan terjadi hanyalah sebuah kontrak pernikahan semata.
Namun, seolah wanita di hadapannya tersebut seperti ingin segera melihat dia menikah dan hidup berbahagia agar bisa melupakannya.
__ADS_1
Rafael sama sekali tidak mengeluarkan suara karena benar-benar merasa pusing saat dikuasai rasa khawatir mengenai nasib dari Aeleasha.
"Namun, menyadari bahwa harus mengucapkan selamat tinggal karena tidak tahu kapan akan bisa bertemu lagi, sehingga memilih untuk menyingkirkan perasaan khawatir.
"Kalian tidak perlu memikirkan pernikahanku. Pikirkan saja hubungan kalian agar bisa langgeng hingga kakek nenek. Hati-hati dan semoga kalian tiba di tempat tujuan dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun."
Kemudian Rafael mengarahkan jari telunjuk pada koper di troli yang tadi didorong oleh pelayan. "Semua oleh-oleh dari mama ada di koper berwarna biru. Itu semua adalah kesukaanmu."
Aeleasha yang menganggukkan kepala dan wajah terlihat berbinar karena merasa sangat senang mendapatkan oleh-oleh dari wanita yang sudah dianggap seperti itu kandung sendiri.
"Sampaikan salamku pada mama. Aku sangat menyayanginya," ucap Aeleasha yang sudah melepaskan pelukan dari sang ayah.
Sebenarnya ingin memeluk Rafael sebagai salam perpisahan karena sudah menganggap pria itu sebagai saudara laki-lakinya, tetapi tidak mungkin melakukan itu karena sang suami pasti akan merasa sangat cemburu.
Bahkan Rafael mungkin akan semakin sulit move on darinya, sehingga memilih hanya menepuk bahu kokoh pria yang berhati malaikat tersebut.
"Jaga dirimu baik-baik, Rafael. Terima kasih atas sambutannya di Jakarta." Kemudian beralih menatap ke arah sang ayah. "Aku pergi, Pa." Aeleasha saat ini menatap ke arah sang suami dan mendorong troli berisi koper-koper mereka.
"Ayo, Sayang."
Arsenio yang menganggukan kepala perlahan, langsung berpamitan pada mertua dan juga Rafael, lalu perjalanan menuju ke terminal pemberangkatan untuk pengecekan kelengkapan dokumen.
Mereka saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan dengan perasaan memuncak yang dirasakan masing-masing karena memikirkan banyak hal mengenai masalah yang terjadi hari ini.
Rafael mengembuskan napas kasar begitu melihat siluet Aeleasha yang sedang berbicara dengan petugas di bandara.
__ADS_1
'Aku akan menunggumu kembali ke Jakarta, Aeleasha. Aku akan menyelesaikan semuanya setelah kamu kembali. Karena aku harus berbicara pada mamaku untuk membicarakan masalah yang menimpamu. Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik.'
To be continued...