
Alex saat ini menelan ludah dengan kasar dan tangannya bergetar hebat dan ia seketika meremas kedua sisi pakaian yang dikenakan. "Hamil? Alesha hamil?"
Sementara itu, melihat respon dari sosok pria yang diketahuinya adalah suami pasien, membuat sang perawat merasa heran dan ingin memastikan sesuatu.
"Iya, Tuan. Istri Anda hamil? Apakah Anda merasa sangat shock karena tidak percaya dengan kabar baik ini ataukah ...."
Refleks Alex menyadari bahwa sikapnya terlihat mencurigakan dan seketika memotong pembicaraan dari wanita yang seperti tengah mengorek informasi mengenai siapa dirinya.
"Iya, saya benar-benar sangat terkejut dengan kabar baik ini dan merasa sangat bahagia. Terima kasih atas kabar baiknya."
Kini, kini sang perawat tersenyum simple dan merasa lega atas jawaban dari pria yang berstatus sebagai suami tersebut dan hal seperti ini sering dilihatnya, sehingga tadi ingin memastikan apakah ada sesuatu yang salah.
"Selamat, Tuan. Anda bisa mengurus administrasi terlebih dahulu sampai menunggu istri Anda sadar. Mungkin sebentar lagi akan sadar dan diperbolehkan pulang setelah diberikan obat untuk menunjang kehamilan."
"Anda bisa membawa istri ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi atau dikenal juga Obgyn. Bisa di rumah sakit ini jika ingin rawat inap. Tapi keadaan istri Anda tidak perlu ada yang dikhawatirkan dan tidak harus opname."
Perawat yang menjelaskan tentang perihal pasien itu seketika berlalu pergi meninggalkan pria yang jelas terlihat sangat shock tersebut dengan tersenyum simpul dan memaklumi bagaimana seorang pasangan menyikapi kabar baik ketika istri tengah mengandung.
Sementara itu, Alex yang tadinya berdiri di dekat brankar, masih gemetar tangannya dan kini seketika berjongkok untuk menormalkan perasaannya yang benar-benar terguncang begitu mengetahui kabar dari perawat wanita yang baru saja menghilang di balik dinding.
'Alesha hamil? Kenapa semua ini harus kudengar di hari ulang tahunku? Harusnya hari ini aku merasa bahagia karena berpikir bahwa Alesha akan kembali padaku dan menerima lamaranku.'
"Tapi apa ini? Aku malah mendengar kabar buruk bertubi-tubi. Aku diputuskan oleh wanita yang sangat kuharapkan bisa menjadi istriku sekaligus mengetahui bahwa saat ini ia tengah mengandung."
Suara Alex yang terdengar menyayat hati, saat ini memenuhi ruangan penuh yang semula penuh keheningan tersebut, kini dia sih dengan keluh kesahnya yang merasa bahwa dunia tidak adil padanya.
"Bahkan aku bukanlah seorang pria yang mudah jatuh cinta, tapi kenapa saat memutuskan untuk membuka hati dan membina hubungan rumah tangga bersama wanita yang kuyakini bisa menjadi seorang istri yang baik untukku, gini kandas di tengah jalan."
Alex saat ini sangat lemah dan tidak berdaya karena merasa bingung harus melakukan apa saat mengetahui kenyataan yang menimpa Alesha.
Ia berdiam beberapa saat saat mengingat bahwa wanita itu mengatakan sudah ditalak oleh sang suami.
'Alesha sudah berstatus sebagai janda karena ditolak oleh si berengsek itu. Apakah bajingan itu tahu bahwa saat ini Alesha sedang hamil? Siapa lagi bapaknya jika bukan pria sialan itu?'
Seketika Alex bangkit berdiri dan menatap ke arah wanita yang masih betah memejamkan mata itu. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Alesha?"
Alex bahkan saat ini tidak berkedip menatap wajah pucat yang ternyata tengah mengandung itu. Ada hal yang ingin ditanyakan pada Alesha, tapi harus sabar menunggu hingga wanita dengan kelopak mata tertutup tersebut segera sadar.
Mengingat bahwa saat ini ia harus mengurus administrasi, membuatnya melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Namun, merasa sangat terkejut begitu melihat ternyata orang tuanya ada di dekat pintu masuk dan membuatnya merasa heran karena ternyata tidak pulang dari tadi seperti yang diperintahkan olehnya.
"Papa, Mama? Kenapa kalian masih ada di sini?" tanya Alex yang mengerutkan kening dan merasa curiga pada sang ibu jika sampai berbuat macam-macam pada wanita yang saat ini tengah mengandung.
Tanpa berniat untuk menanggapi, wanita paruh baya tersebut hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Mama hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?"
"Apa ia mengidap penyakit kronis ada berpura-pura pingsan?" tanya Ana yang tadi sebenarnya hendak masuk, tapi dilarang oleh sang suami dan membuatnya kesal, sehingga hanya bisa menunggu di depan ruangan IGD.
Alex yang saat ini banyak pikiran dan beban yang ditanggungnya, semakin bertambah kesal setelah mendengar perkataan dari sang ibu yang selalu saja merasa curiga pada Alesha.
"Lebih baik Mama pulang karena Alesha hanya kelelahan dan sebentar lagi diperbolehkan pulang setelah sadar." Kemudian beralih menatap ke arah sang ayah. "Tolong bawa Mama pergi, Pa."
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, kini Alex berlalu pergi meninggalkan orang tuanya untuk mengurus administrasi.
Sementara itu, di dalam ruangan unit gawat darurat, Alesha yang sebenarnya tadi sudah sadar dan bisa mendengar percakapan antara perawat dan Alex, berpura-pura masih pingsan.
Ia bahkan bisa mendengar suara dari Alex yang terdengar sangat menyayat hati dan kala mengungkapkan kekecewaan atas kenyataan mengenai dirinya yang memutuskan hubungan, sekaligus kabar kehamilan yang bahkan tidak diketahui olehnya.
Bahkan kini ia meremas kedua sisi gaun yang dikenakan dengan bola mata berkaca-kaca. "Aku hamil? Tidak mungkin! Kami hanya melakukannya satu kali malam itu. Kenapa bisa hamil?"
Saat Alesha baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dari seorang wanita berseragam. "Syukurlah Anda sudah sadar, Nyonya. Selamat atas kehamilannya uang memasuki lima minggu."
Alesha hanya tersenyum simpul karena bibirnya terasa kelu saat tidak bisa bersuara. Apalagi perasaaan berkecamuk dirasakan olehnya setelah mengetahui kabar kehamilannya saat sudah ditalak oleh Rafael.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Janda tapi hamil? Bukankah suami yang menceraikan istrinya saat hamil itu tidak sah?' Alesha kini menatap ke arah sosok wanita berseragam yang hendak pergi.
"Mbak! Tunggu!"
"Iya, Nyonya."
"Apa Anda tahu bahwa hukum menceraikan istri yang dalam keadaan hamil itu sah atau tidak?" Sebenarnya Alesha merasa sangat konyol bertanya pada wanita yang masih muda dan mungkin tidak tahu mengenai jawaban atas pertanyaannya.
Namun, pikirannya saat ini seolah buntu karena merasa sangat shock dengan apa yang dialami hari ini. Ia tidak pernah menyangka akan mengetahui tengah mengandung benih pria yang sudah menceraikannya saat ingin memutuskan hubungan dengan Alex.
Hingga terdengar jawaban dari sang perawat yang berkata bijak dan membuatnya merasa sedikit ragu.
"Kalau sepengetahuan saya tidak sah, Nyonya. Mengenai penjelasan yang lebih detail, sebaiknya bertanya pada orang yang lebih paham karena saya bukan ahli agama yang mengetahui pasal-pasal mengenai wanita hamil yang diceraikan suami."
Sang perawat kini mulai mengerti kenapa wajah pria yang tadi baru saja mengetahui kabar kehamilan istrinya terlihat sangat shock. Jadi, sekarang berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hubungan rumah tangga pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
Ia tidak ingin ikut campur dengan bertanya mengenai masalah privasi tersebut, sehingga kini berniat untuk kembali ke tempat duduknya. Namun, melihat pria yang tak lain adalah suami dari wanita itu baru saja tiba dan berjalan semakin mendekat.
"Suami Anda sudah datang, Nyonya. Saya akan membawakan kursi roda karena sudah boleh pulang setelah mengurus administrasi."
Alesha mengerti arah pembicaraan dari wanita berseragam yang sudah lalu pergi dari ruangan. Hingga ia kemudian melihat sosok pria dengan wajah murung berjalan mendekat ke arahnya, tetapi berusaha untuk tersenyum.
Meskipun ia tahu bahwa senyuman yang ditunjukkan oleh Alex adalah kepalsuan untuk mencoba menghiburnya.
"Alex."
"Syukurlah kamu sudah sadar. Aku benar-benar sangat khawatir ketika melihatmu tadi pingsan di depan pintu. Apa kamu ...." Alex menelan saliva dengan kasar ketika ingin menanyakan sesuatu yang membuat hatinya terluka.
Sementara Alesha kini mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh pria di hadapannya. "Aku pun baru mengetahui hari ini dan sama sekali tidak pernah berpikir bahwa akan ada nyawa di sini."
Alesha saat ini memegang perutnya yang masih datar dan seketika kuliner air mata membasahi pipi putihnya. Bahkan suaranya berubah serak ketika menyadari saat ini nasibnya yang sangat nahas.
"Kenapa aku hamil saat tidak menginginkannya sama sekali? Bahkan aku sekarang adalah seorang janda karena sudah diceraikan."
Alex ingin meledakkan amarah pada wanita yang membuatnya mengukir harapan setinggi mungkin, tapi dengan mudahnya dihancurkan hanya dengan satu kali pertemuan di hari ulang tahunnya.
"Kenapa kamu bisa hamil? Bukankah dulu kamu menyuruhku untuk berjanji agar menunggu dan percaya padamu? Lalu apa yang kudapatkan setelah menuruti perintahmu? Seharusnya aku dulu menculikmu di atas pelaminan dan tidak mendengarkan permohonanmu."
Alex bahkan saat ini mengepalkan tangan untuk menahan gejolak amarah yang membuncah dan seolah ingin meledak saat ini juga.
Sejujurnya ia tidak tega melihat wajah pucat wanita yang masih terlentang di atas ranjang perawatan itu, tapi merasa sangat sakit hati karena kepercayaannya telah dikhianati oleh Alesha.
Alex bahkan kini meninju beberapa kali dadanya. "Apa kamu tahu apa yang kurasakan saat ini? Sakit sekali rasanya dikhianati oleh wanita yang sangat dipercaya dan dicintai. Aku sempat berpikir bahwa kamu tidak akan pernah melakukan itu dengannya."
"Ternyata, semua yang kau katakan palsu dan sepertinya tidak mencintaiku sama sekali." Alex sudah tidak kuasa untuk menahan diri dengan berpura-pura kuat di depan Alesha."
Hingga ia pun dihantui rasa bersalah begitu melihat respon dari wanita di atas ranjang itu sudah menangis tersedu-sedu dengan tubuh bergetar.
"Maafkan aku, Alex,"lirih Alesha yang tidak bisa berbicara panjang lebar karena hanya mengucapkan itu saja sudah membuat perasaan bersalah memenuhi dirinya.
Ia pun tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini karena dulu sangat yakin dengan cintanya pada Alex.
Seolah semesta tidak merestui hubungannya dengan Alex yang terlihat sangat kecewa padanya dan membuat Alesha merasa berdosa pada seorang pria yang tulus mencintainya.
To be continued...
__ADS_1