I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menjadi bahan gosip


__ADS_3

Rudy seketika menatap kedua orang di hadapannya secara bergantian.


"Tidak mungkin kalian sama sekali tidak menyentuh. Kalian mau berakting kaku dan rahasia kalian menjadi gosip yang menyebar?"


Rafael melirik Alesha memastikan apa yang dipikirkan wanita itu.


Akhirnya Alesha kemudian menghela napasnya. "Baiklah. Menyentuh saja boleh. Tidak lebih."


Rudi mengangkat kedua alisnya hingga dahinya berkerut.


"Ah, astaga! Kalian ingin benar-benar dianggap pasangan aneh, ya? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa sepasang kekasih berjalan seperti klien proyek gedung."


"Pegangan tangan? Baiklah. Cukup sampai di situ." Alesha mengalihkan pandangannya.


Rafael hanya mengangguk.


"Sebagai pengacara, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah ada jaminan bahwa kamu tidak akan melanggar poin ini?


Apakah kamu bisa mempercayainya tanpa jaminan?" Rudy mengajukan pertanyaan.


Alesha tampak berpikir sejenak. "Jaminan? Karena ini mengenai masa depanku, tentu saja butuh jaminan." Wanita itu berucap tegas.


"Aku menjamin. Jika melanggar, bersedia membayar denda karena telah mengancam masa depannya." Rafael memberi pernyataan tegas.


Alesha membulatkan mulutnya. 'Wah, menarik.' Ia bergumam di dalam hati.


"Satu pertanyaan lagi. Bagaimana kalau kamu sendiri yang melanggar?" Rudy melirik Alesha.


"Tentu saja aku harus membayar denda juga," jawab Alesha pasti.


"Kamu yakin? Bagaimana caramu membayar?" Rafael menatap Alesha ragu.


Alesha yang mendengar pertanyaan itu, seketika tersinggung. Ia kemudian menatap Rafael dengan tajam. "Meski aku tidak bisa membayar langsung, bisa mencatatnya sebagai utang."


Bukan maksud menghina Rafael menanyakan itu, tetapi mengingat permintaan uang Alesha yang begitu besar sebelumnya saja sudah menjadi tanda tanya baginya. Terlebih lagi, pekerjaan Alesha yang menjadi sugar baby itu membuatnya semakin tidak yakin.


Memikirkan tentang hal itu, membuat sesuatu seketika terlintas di kepala Rafael. Pekerjaan itu bukan pekerjaan yang baik dipandang orang-orang bagi seseorang yang sudah menikah.


Bagaimana jika di tengah-tengah pernikahan mereka, ada isu-isu buruk mengenai Alesha yang sedang bekerja menjadi sugar baby dan sampai terdengar di telinga ibunya?


Ia lalu menginterupsi Rudy. "Aku juga ingin menambah persyaratan."

__ADS_1


Rudy lantas mengalihkan pandangannya dari latar laptopnya.


"Ya, silakan."


"Selama kita terikat kontrak pernikahan, kamu tidak boleh melakukan hal apapun yang berpotensi merusak nama baikku."


Rafael menatap Alesha dengan tatapan aneh, membuat wanita itu sedikit merasa terintimidasi. "Oleh karena itu, aku harus menjamin kalau kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang biaya hidupnya."


Beberapa saat kemudian, Alesha teringat akan pertemuan pertama mereka, di mana Rafael memintanya menjadi sugar baby-nya. Wanita itu seketika menganggukkan kepalanya mengerti.


"Baik. Tidak akan pernah aku langgar semua poin penting yang ada di dalam surat perjanjian itu," sahut Alesha yang tadi langsung menganggukkan kepala tanda setuju.


Suara mesin printer mengisi keheningan dalam ruang yang diisi ketiga manusia itu. Setelah selesai dengan urusan perombakan surat perjanjian


Rudy cepat-cepat mencetak isi surat itu yang menjadi tiga lembar kertas. Setelah tiga lembar kertas itu tercetak.


Rudy menerawang kertas-kertas hangat itu, memastikan isinya tidak ada yang rusak.


Setelah memastikan surat itu tercetak dengan sempurna, Rudy menempelkan materai, lantas menyodorkannya ke hadapan Rafael dan Alesha.


"Silakan tandatangani."


Wanita itu kembali membaca, memindai apa saja yang tertulis dalam surat perjanjian, memastikan tidak ada poin yang terlewat. Setelah memastikan bahwa isinya sudah lengkap, barulah ia menandatangani surat itu.


Ia kemudian menyerahkan kertas itu kembali ke tangan Rudy.


Rudy tersenyum kecil sebagai respons. Pria itu kemudian membuka penutup stempelnya. Ia lantas menempelkan pada bagian di sisi tanda tangan itu.


"Selesai." Pria itu berucap lega. Ia lantas memasukkan kertas itu ke dalam sebuah map. "Selamat bekerja sama. Semoga kontrak kalian berjalan dengan baik sampai akhir."


Rudy memandangi kedua orang di hadapannya secara bergantian. "Karena urusanku di sini sudah selesai, aku pamit pulang." Pria itu kemudian berdiri bersama tasnya, lantas melangkahkan tungkainya keluar ruangan, menyisakan Rafael dan Willy.


"Baiklah, sekarang tinggal satu urusan." Rafael membuka ponselnya. Membuka aplikasi bank online untuk mengirim nominal uang yang Alesha inginkan.


"Sudah masuk?"


Alesha membuka ponselnya. Memeriksa mutasi rekeningnya dengan cara yang sama.


"Sudah. Terima kasih."


"Namun, ingatlah. Ada banyak tugas yang harus kamu lakukan dalam kontrak ini." Rafael kemudian memperingatkan.

__ADS_1


Alesha lantas menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Pertama-tama, karena aku akan menjalankan pernikahan kontrak denganmu, bolehkah mengetahui apa alasanmu terpaksa menikah?"


Rafael menatap wanita itu ragu pada awalnya, tetapi ia berpikir masuk akal jika Alesha menanyakan hal dasar seperti itu. "Hal yang pertama, karena desakan ibuku dan ini adalah sejenis pemberontakan bawah tanah karena aku tidak ingin menikah." Rafael mulai menjelaskan.


Alesha lantas terkekeh, menatap Rafael remeh. "Konyol sekali."


Rafael menatap wanita itu dengan sedikit sengit, tersinggung, tetapi ia memilih tetap melanjutkan penjelasannya.


"Hal yang kedua, karena banyak gosip tidak mengenakkan tentangku. Kalau kamu melewati ruang kerja para staf perusahaan, mungkin bisa merasakannya." Rafael mengarahkan dagunya ke arah di mana ruang kerja karyawan berada.


Alesha melipat kedua tangannya di depan diafragma. "Astaga, pasti sulit hidup dalam omongan orang." Ia menggelengkan kepalanya dengan wajah prihatin.


Rafael lantas menegakkan tubuhnya. "Karena itu, aku tegaskan sekali lagi. Kamu tidak boleh melakukan apapun yang bisa merusak nama baikku. Cukup lakukan saja apa yang kuarahkan."


Alesha memejamkan matanya, lantas mengangguk paham. Sambil menipiskan bibirnya dengan wajah malas, wanita itu menatap Rafael lurus. "Aku mengerti. Tidak perlu kamu ulangi sampai seratus kali."


"Bagus." Lelaki itu mengangguk, setuju untuk tidak membicarakannya lagi. "Aku harap kita bisa bekerja dengan baik mulai sekarang."


"Tentu," pungkas Alesha pasti. "Aku sudah menandatangani suratnya, maka aku harus bisa melakukannya dengan profesional."


Rafael tersenyum kecil, lantas melihat arlojinya yang masih menunjukkan pukul sebelas siang. "Apakah kamu punya waktu hari ini?" Belum sempat Alesha menjawab, ia sudah menimpali lagi. "Kosongkan waktumu hari ini. Ada hal yang perlu kita lakukan."


"Aku punya waktu, tapi tidak dua puluh empat jam." Alesha menjawab dengan tegas. "Apa yang harus kulakukan hari ini?"


"Aku sudah berniat mempercepat pekerjaanku hari ini. Jadi, kita bisa melakukannya lebih awal. Dan karena kita belum punya tempat lain yang sama-sama diketahui. Datanglah ke Mall tempat kita bertemu kemarin jam tiga nanti."


Rafael menatap Alesha lurus. "Jangan sampai terlambat. Untuk urusannya, kamu akan tahu sendiri setelah di sana nanti."


Alesha mengangguk mengerti. "Baik. Kalau begitu, aku pamit dulu." Setelahnya, ia berdiri, lekas beranjak dari tempat duduknya.


Alesha melangkahkan kakinya untuk keluar, ia berbalik sebentar. "Terima kasih." Ia lantas membuka pintu dan meninggalkan Rafael sendiri di sana.


Alesha berjalan melewati ruang kerja para staf. Tiba-tiba saja teringat apa yang telah Rafael katakan. Samar-samar terdengar bisik-bisik ketika ia melewati ruangan itu.


Alesha lantas memberanikan diri untuk menoleh, sontak terkejut melihat para staf perusahaan, khususnya wanita yang sedang memperhatikannya.


Alesha susah payah merilekskan diri sendiri. Ia lantas tersenyum manis dan pelan-pelan mengambil langkah meninggalkan ruangan itu. Samar-samar ruangan yang baru saja ia tinggalkan itu menjadi lebih gaduh dari yang sebelumnya.


'Pasti mereka sedang menggosipkan aku. Bodo amat, aku sama sekali tidak mengenal mereka juga.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2