
Kini, Arsenio meletakkan ponsel miliknya ke atas ranjang dan berbalik badan untuk memeriksa sang istri yang belum keluar dari kamar mandi. Namun, ia sangat terkejut saat melihat Aeleasha ternyata ada di belakangnya.
"Astaga, kamu membuatku sangat terkejut, Honey. Apakah kamu sudah lama berada di sana?" Arsenio berbicara sambil mengusap dadanya yang masih berdetak sangat kencang karena terkejut tadi.
Sementara Aeleasha yang kini hanya terkekeh geli, kembali berjalan mendekat dan mulai menyahut, "Aku tidak ingin mengganggu pembicaraanmu dengan daddy. Sebenarnya apa maksudmu tadi tentang akan membawa kami ke tempat kelahiran?"
Aeleasha yang tadi merasa sangat senang karena bisa pergi ke tempat sang ayah, tapi masih heran karena tidak tahu tentang rencana sang suami, sehingga langsung menanyakannya.
Kemudian Arsenio meraih ponsel di atas ranjang dan menunjukkan pesan dari Rudi. "Ini alasannya."
Aeleasha yang saat ini fokus membaca pesan tersebut, seketika wajahnya terlihat berbinar karena merasa sangat senang sekaligus lega.
"Syukurlah. Akhirnya Rafael menerima perusahaan. Ini adalah hadiah yang sangat pantas atas kebaikan yang dilakukan olehnya padaku. Aku pun sangat ingin bertemu dengan wanita itu. Sepertinya dia berhasil membuat Rafael berubah pikiran. Aku pun sangat merindukan ayah dan Arka."
Sementara itu, Arsenio yang bisa mengerti akan kebahagiaan sang istri, kini sudah berjalan semakin mendekati wanita dengan wajah penuh binar kebahagiaan itu. Kemudian memeluk dan berbisik di dekat daun telinga sang istri.
"Bahagia tentang masalah Rafael nanti saja. Sekarang lebih baik kamu mempersiapkan perlengkapan putra kita yang akan dibawa ke tempat ayah karena sebentar lagi kepala pelayan tiba di sini untuk menjemput Arza."
"Daddy sangat pengertian sekali karena ingin membantu kita dalam program anak kedua. Jadi, tidak akan ada yang mengganggu saat kita membuat anak."
Arsenio kini menjauhkan wajahnya dari dekat daun telinga sang istri dan ingin melihat ekspresi wajah cantik yang pastinya sudah merona tersebut.
Refleks Aeleasha kembali mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh sang suami yang selalu bersikap mesum padanya.
"Dasar suami mesum! Apa yang ada di otakmu hanya bercinta dan membuat anak? Astaga!"
__ADS_1
Ia hanya geleng-geleng kepala dan berbalik badan untuk meninggalkan sang suami nakal tersebut menuju ke ruangan walk in closet karena akan menyiapkan perlengkapan putranya.
Meskipun saat ini ia sudah sibuk memikirkan apa yang malam ini akan dilakukan oleh Arsenio untuk tidak mengizinkannya tidur nyenyak dan membuat otaknya traveling kemana-mana.
Ia memang sangat mendambakan setiap sentuhan sang suami yang selalu membuatnya gila. Hingga ia tidak bisa berpikir jernih sekarang karena otaknya kini telah terkontaminasi oleh berbagai macam kegiatan intim dan panas mereka setiap malam.
'Bersiaplah untuk habis malam ini,'
Aeleasha hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam sebuah koper kecil milik putranya.
Beberapa saat kemudian, Aeleasha baru saja mengantarkan kepergian putra mereka yang baru saja dijemput oleh kepala pelayan dan membawa ke tempat sang kakek.
Terlihat mereka berdua sedang berpelukan dengan menaiki satu persatu anak tangga. Begitu tiba di dalam kabar, Aeleasha melepaskan tangan dengan buku-buku kuat sang suami dari pinggangnya.
"Aku mau tidur. Jangan mengganggu karena hari ini sangat lelah." Aeleasha naik ke atas ranjang dan langsung meraih selimut tebal berwarna putih yang berada di bawah untuk menyembunyikan diri.
Apalagi putranya selalu merasa betah jika tinggal di tempat sang kakek karena selalu dituruti apapun permintaan. Satu minggu, mendengar waktu itu, seperti sangat lama dan membuatnya akan merasa kesepian.
Tidak akan ada suara menggemaskan dari putranya di istana megah mereka dan pastinya akan merasa sangat kesepian. Sebenarnya ia tidak suka jika Arza lama tinggal di tempat sang kakek—merupakan ayah angkat sang suami.
Pria berkebangsaan Amerika yang menjadikan suaminya sukses hingga seperti ini. Namun, ia juga tidak tega jika pria paruh baya tersebut kecewa saat melarang Arza pergi. Apalagi pria yang selalu dipanggil daddy oleh sang suami tersebut selama ini hanya tinggal bersama para pelayan.
Istri yang meninggal lima tahun lalu, tidak membuat pria itu menikah lagi. Seolah ingin setia sampai ajal menjemput setelah pasangan meninggalkan dunia terlebih dahulu.
Sebenarnya Aeleasha ingin sekali bertanya banyak hal pada suami. Mulai dari tentang masalah Rafael dan rencana untuk pulang ke kampung halaman.
__ADS_1
Namun, ia memilih untuk menunda semua itu karena berpikir jika tidak kunjung tidur, akan kembali remuk tulang-tulangnya karena pria itu sudah mengatakan ingin memuaskan hasrat malam ini ketika putra mereka tidak ada.
'Besok pagi saja bertanya pada suamiku mengenai tentang rencana untuk menemui Rafael karena sudah menerima perusahaan menjadi milik seutuhnya,' gumam Aeleasha yang masih memejamkan kedua mata.
Sementara itu, Arsenio yang masih berdiri di dekat ranjang, hanya bisa berkacak pinggang sambil melihat tingkah sang istri malah tidur.
"Apa benar kamu mau tidur awal, Honey? Padahal aku belum mengantuk dan ingin membicarakan tentang rencanaku pada Rafael."
"Besok saja, aku sangat mengantuk, Sayang." Aeleasha memang menyahut, tetapi ia tidak berniat untuk membuka mata.
Bahkan ia seperti patung karena dari tadi tidak bergerak dari posisinya yang miring ke kiri.
Posisi yang bisa dilihat dengan jelas oleh sang suami dan yakin bahwa saat ini pria itu tengah menampilkan wajah masam sambil menatap intens wajahnya dengan tidak berkedip.
Namun, ia sama sekali tidak perduli dan hanya ingin melemaskan otot-otot yang kaku dengan beristirahat.
Arsenio yang saat ini tengah memutar otak untuk bisa membuat sang istri membuka mata, mendadak mendapatkan sebuah ide dan ada sesuatu yang sebenarnya dari dulu ia sembunyikan.
Hanya sang ayah mengetahui tentang masa-masa saat ia merasa sangat bersalah dulu setelah memperkosa Aeleasha dan menyadari cintanya. Saat itu, ia selalu menghabiskan waktu dengan gila kerja dan berharap bisa melupakan Aeleasha.
Namun, saat malam ketika tidur, ia tidak bisa tidur karena dibayangi rasa bersalah. Hingga ia selalu mengumpat dan merutuki diri sendiri karena menyakiti Aeleasha dan hampir berniat untuk menikahi ibu tiri gadis itu.
Arsenio tersenyum smirk dan saat ini ia mengambil sebuah disk yang dulu diberikan oleh sang ayah sebagai kenang-kenangan karena pernah berada pada masa terpuruk saat dikuasai perasaan bersalah.
Kemudian ia memasang pada laptop di atas meja dan membawa ke hadapan wajah cantik dengan kedua mata tertutup itu.
__ADS_1
Setelah menekan tombol play dan mengeraskan nada suara dari video CCTV di ruangan kamarnya karena ingin membuat Aeleasha mengetahui bahwa dulu ia sangat hancur ketika tidak menemukan wanita yang telah diperkosa.
To be continued...