
Adelardo awalnya hanya ingin menunggu di depan, yang tak jauh dari ruangan kerja keponakannya, tetapi karena cukup lama menunggu dan membuatnya bosan, akhirnya memilih untuk melihat apa yang dilakukan oleh putranya untuk menghukum Nick.
Hingga ia yang sama sekali tidak pernah menyangka jika Arsenio akan benar-benar luka dengan mencekik leher keponakannya, sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya tersebut.
"Jangan membunuh orang karena merasa marah, Arsenio! Kamu akan menyesal karena jika dipenjara nanti, istri dan anakmu mungkin tidak akan mau menunggumu bebas."
Tentu saja Adelardo saat ini mengetahui bahwa kelemahan dari putranya tersebut adalah anak dan istri, sehingga langsung menyebutkan hal itu. Usahanya berhasil dan membuat Arsenio melepaskan tangan yang berada di leher Nick.
Sementara sosok wanita yang tak lain adalah Zea, merasa sangat ketakutan melihat perkelahian antara Nick dengan pria yang sudah ia jebak di hotel.
Dua pria yang sama-sama memiliki paras rupawan dan juga tubuh sixpack, tetapi berbeda usia dan juga status tersebut. Melihat dua laki-laki di depannya yang terluka parah, membuat Zea tadi ingin menghentikan aksi perkelahian itu.
Ia masih sangat mencintai Nick dan merasa bersalah, melihat pria yang yang sudah terlentang di atas lantai tersebut, hingga membuatnya sangat tidak tega.
Apalagi sampai terluka parah di bagian wajahnya, benar-benar membuatnya merasa iba dan bersalah karena semua itu terjadi gara-gara ia mabuk dan mengatakan hal yang sebenarnya.
'Jika perkelahian ini tidak dihentikan, bisa saja mereka berdua akan sama-sama terluka parah. Aku takut Nick terluka parah dengan wajahnya yang semakin lebam akibat pukulan dari pria bernama Arsenio itu.'
'Sepertinya Arsenio ingin membuat wajah tampan Nick hancur. Pasti dia sangat membenci wajah tampan datar Nick. Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan mereka?' gumam Zea yang mencari ide untuk segera mengobati Nick.'
Adelardo sangat mengerti dengan putranya yang ingin memberikan pelajaran pada keponakannya itu dengan tangan sendiri. Meski itu akan beresiko tinggi karena setahunya, Nick adalah laki-laki yang memiliki keahlian bela diri karena sering mengikuti latihan.
'Aku tahu jika Ini adalah urusan di antara sesama lelaki dan berniat untuk menyelesaikan semuanya secara jantan agar mereka berdua sama-sama merasa puas dan mengetahui kemampuan masing-masing! Namun, jika sampai menghilangkan nyawa salah satu, aku tidak bisa diam.' Adelardo masih tidak mengalihkan pandangannya dari Arsenio.
Ia merasa lega setelah melihat Arsenio bangkit dari posisinya yang dari tadi duduk di atas tubuh kekar Nick.
__ADS_1
Adelardo sama sekali tidak pernah menyangka jika putra angkatnya tersebut bisa mengalahkan keponakannya yang memiliki tubuh lebih besar.
"Pilihan yang tepat, Arsenio." Adelardo kini menepuk pundak kokoh putranya yang baru saja berjalan mendekat dengan tertatih-tatih.
Awalnya tadi, Arsenio dan Nick sama-sama tidak menyerah, meski tubuh mereka sudah sama-sama babak belur dan kehilangan tenaga.
Awalnya, wajah Nick sama sekali tidak terkena pukulan, tetapi karena Arsenio semakin membabi buta, membuat wajah yang semula aman itu menjadi lebam akibat pukulan cukup kuat yang dilayangkan.
Arsenio langsung berjalan tertatih-tatih menghampiri sang ayah karena sadar jika perbuatannya salah dan tidak ingin anak dan istrinya hidup tanpanya jika ia dipenjara.
Hal yang ditakutkannya adalah sang istri kembali bersama Rafael dan ia akan kehilangan Aeleasha dan Arza jika sampai berakhir di penjara.
"Kakimu terluka, Arsenio. Kamu tidak akan kuat berjalan." Adelardo saat ini menatap ke arah kaki putranya dengan perasaan penuh kekhawatiran.
Ia langsung meraih ponsel dan menghubungi nomor darurat untuk segera mengirimkan ambulans. Apalagi tadi ia sempat melirik ke arah keponakannya yang masih tak berdaya di lantai dengan posisi telentang.
Sementara itu, Arsenio menggeleng perlahan, "Aku tidak apa-apa, Dad. Aku masih kuat untuk berjalan karena bukan merupakan pria lemah." Arsenio yang baru saja menutup mulut, kini melirik sinis pada sosok pria yang sudah bangkit dari posisi telentang dan berubah duduk dengan sesekali meringis menahan rasa sakit sambil meraba wajah.
"Aku ingin wajahmu hancur dan akan banyak orang semakin takut saat menatapmu!" umpat Arsenio yang saat ini tengah menatap ke arah Nick.
Nick yang dari tadi diam mengamati interaksi antara pamannya dengan pria yang ia benci, membuatnya meluncurkan kata-kata pedas.
"Itu tidak akan pernah terjadi." Kemudian ia mengarahkan jari telunjuknya pada Arsenio. "Lebih baik kau bersiap karena mungkin kakimu akan menjadi cacat akibat tendanganku tadi. Kau tidak akan bisa berjalan lagi dan menjadi pria tidak berguna!"
Tidak berhenti sampai di situ saja, Nick beralih menatap ke arah sosok pria paruh baya yang merupakan pamannya. "Kau akan menyesal, Uncle karena lebih mempercayai orang lain daripada keponakan sendiri."
__ADS_1
"Kau akan menangis di neraka nanti saat pria kebanggaanmu itu menghancurkan semua milikmu."
Zea yang dari tadi merasa sangat khawatir pada keadaan Nick, kini seketika membulatkan kedua matanya mendengar kata-kata yang terang saja semakin membuat suasana memanas dan melihat kemurkaan pria yang saat ini berada di sampingnya, yaitu Arsenio.
"Berengsek! Jangan pernah berkata seperti itu pada pamanmu sendiri, Nick!" Arsenio menatap tajam pria yang terlihat terluka parah di area wajahnya.
"Hari ini nasibmu cukup baik karena hanya wajahmu yang aku hancurkan. Lain kali, aku tidak akan membiarkanmu selamat!"
Arsenio langsung berjalan tertatih menuju ke arah pintu keluar bersama sang ayah.
"Biarkan saja keponakan durhakamu itu, Dad!" Sebentar lagi akan diurus oleh pihak kepolisian. Ayo, kita pulang!"
Namun, Adelardo sama sekali tidak menuruti kata-kata dari Arsenio yang dianggapnya sangat keras kepala itu. "Kamu tidak akan pulang karena harus ke rumah sakit. Kalian berdua harus mendapatkan penanganan oleh tim medis."
Baru saja Adelardo menutup mulut, ia mendengar suara derap langkah kaki yang beberapa saat kemudian terlihat matanya, yaitu para polisi dan juga perawat yang membawa dua brankar.
"Mereka berdua pasiennya!"
Kemudian Adelardo berbicara dengan salah satu polisi untuk membiarkan Nick dirawat dulu karena wajah keponakannya terlihat babak belur dan penuh darah.
"Putraku juga sedang tidak baik karena sepertinya, kakinya mengalami luka yang parah. Aku tidak ingin dia cacat jika tidak mendapatkan penanganan segera."
"Astaga! Kakiku tidak apa-apa, Dad!" Arsenio berusaha untuk menggerakkan kakinya dengan menunjukkan pada Adelardo, tetapi rasa sakit luar biasa dirasakan dan membuatnya meringis menahan rasa nyeri.
"Sialan!" umpat Arsenio yang hampir terhuyung ke belakang saat berniat untuk melakukan gerakan menendang.
__ADS_1
Dengan sigap, para perawat mendorong brankar, tepat di belakang pasien dan akhirnya terjatuh tepat di atas ranjang dorong tersebut.
To be continued...