
Ibarat pepatah 'Senjata makan tuan', mungkin itu sangat tepat untuk Rafael yang menelan ludah dengan kasar kala mendapatkan kalimat skak mat dari wanita yang tengah menatapnya dengan sayu.
Mana mungkin ia bisa marah pada wanita pucat dengan mata berair itu, sehingga kini hanya bisa mengumpat di dalam hati.
'Sialan! Kenapa aku bertanya padanya tadi? Malah aku yang kena batunya sendiri. Apa ia tidak ingat jika tadi menghambur memelukku saat sakit?' gumam Rafael yang kali ini menelan ludah dengan kasar karena bingung harus menjawab apa.
Hingga ia kembali mendengar suara lirih Alesha yang menatapnya sangat tajam dan memintanya untuk membuka suara.
"Kenapa diam? Tadi bertanya padaku, tapi setelah kujawab, malah diam. Apa kau akan menceraikanku untuk kembali pada Alex?" Alesha sengaja mengulang pertanyaan itu karena ingin tahu respon dari Rafael.
Apakah akan setuju atau tidak karena ia berpikir bahwa itu merupakan perasaan pria itu padanya. 'Jika kau tidak mau menceraikanku, berarti mempunyai perasaanku padaku.'
'Namun, jika kau langsung menceraikanku, itu berarti kau sama sekali tidak punya perasaan apapun padaku dan akan kembali pada mantan istrimu,' gumam Alesha yang saat ini membutuhkan sebuah kepastian dari hubungan rumah tangga yang terjadi atas dasar sebuah perjanjian di atas kertas.
Alesha bahkan tidak mengalihkan perhatian dari pria yang ada di hadapannya tersebut karena ingin segera mendengar jawabannya.
Bahkan saat ini, degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal kala ia mengkhawatirkan jika jawaban yang diberikan Rafael tidak sesuai dengan harapannya.
Sementara di sisi lain, Rafael masih terdiam karena tengah memikirkan bagaimana caranya menghadapi sosok wanita yang tengah tidak enak badan itu. Ia benar-benar sangat bingung harus melakukan apa.
Tentu saja ia iba melihat Alesha yang sakit karena memikirkan pria lain dan ingin segera bercerai dengannya, tapi di satu sisi, ia merasa ada sesuatu yang aneh merambat ke dalam hatinya dan membuatnya bimbang.
Rafael berdehem sejenak sebelum membuka suara demi menjawab pertanyaan dari wanita yang menjadi istrinya tersebut.
"Apa kau sudah tidak sabar ingin bercerai denganku dan kembali pada Alex?"
Seketika Alesha tertawa miris karena bukan itu yang ia ingin dengar. Ia benar-benar sangat kesal karena pertanyaannya malah dijawab dengan pertanyaan serupa.
__ADS_1
"Itu bukan jawaban yang aku minta, Rafael!" sarkas Alesha yang saat ini menaikkan nada suara karena geram pada pria yang dianggap sangat plin plan dan tidak bisa mengambil keputusan mengenai kelanjutan hubungan mereka.
"Aku takkan sudah menjawabnya, tapi kenapa kau kembali bertanya?" Alesha yang masih terbaring di atas ranjang, mengarahkan tatapan sinis karena saking kesalnya.
Merasa semakin terpojok atas kalimat skakmat Alesha, sekaligus terpancing amarah karena mengingat bahwa wanita yang tadi sangat nyaman diperlukannya malah memikirkan pria lain.
"Bukankah sesuai perjanjiannya, Setelah satu bulan kita baru bercerai? Apa kau lupa sudah menandatanganinya?" Hanya alasan itu saja yang membuat Rafael berpikir bisa lari dari keinginan Alesha yang seolah sangat ingin segera mengakhiri pernikahan mereka.
Awalnya, Alesha ingin terus menatap tajam sosok pria yang saat ini membuatnya seperti seorang wanita yang tidak berharga sama sekali untuk suami, tapi akhirnya memilih untuk memejamkan mata karena sudah tidak kuat untuk lebih lama membukanya.
Ia benar-benar sangat pusing dan lelehan air mata yang jatuh tanpa seisinya membasahi wajahnya. Jika dari tadi selalu mengeluarkan lelehan air mata karena efek matanya yang berkaca-kaca akibat sakit kepala, tapi kali ini semuanya terjadi secara alami.
Alesha meneteskan air mata karena sangat terluka pada sikap penuh ketidakpastian dari Rafael yang membuatnya jatuh cinta.
Ia ingin sekali mendengar Rafael mengatakan tidak akan pernah menceraikannya untuk kembali pada Alex karena mencintainya. Namun, sepertinya semua itu hanyalah angan semu dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.
'Lupakan dia, Alesha. Rafael tidak pernah mencintaimu karena hanya mencintai Aealeasha. Setelah kalian bercerai, pasti ia akan kembali pada mantan istrinya,' lirih Alesha yang saat ini meratapi nasibnya yang malang karena merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.
Rafael merasa bahwa apa yang akan dikatakannya adalah demi kebaikan Alesha. "Baiklah. Jika itu memang keinginanmu, Aku tidak akan menunda hingga satu minggu lagi."
"Kau bisa kembali bersama Alex dan hidup bahagia saat menikah dengan pria idamanmu. Ternyata cintamu sangat besar pada sugar daddy sekaligus dosenmu itu. Pasti kisah cinta seorang mahasiswa dan dosennya akan sangat romantis dan membuat yang lain iri."
Rafael bahkan tertawa miris saat mengatakan kalimat terakhir yang seolah mengejek diri sendiri karena akan menyerahkan sang istri pada pria lain dengan lapang dada.
Saat mendengar suara bariton Rafael yang dianggap seperti memutar balikkan fakta, Alesha saat ini tidak berniat untuk membuka mata.
'Kenapa ia selalu menyalahkanku dengan mengungkit masalah Alex? Apa ia tidak sadar bahwa ia pun memiliki rasa cinta yang teramat besar pada Aealeasha?'
__ADS_1
'Namun, hanya aku yang selalu disalahkan dan di kambing hitamkan oleh si berengsek ini!' Alesha sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Rafael dan memilih hanya mendengarkan tanpa membuka kedua mata karena tidak ingin melihat wajah pria yang membuatnya sakit hati.
Hingga ia merasa tubuhnya lu mulai begitu mendengar kalimat laksana tombak tajam menancap tepat di jantungnya dan meninggalkan luka tak berdarah di sana.
"Alesha Indira, aku menceraikanmu hari ini! Sekarang kau bukan lagi istriku di mata agama dan akan segera melayangkan gugatan cerai pada pengadilan agama agar sah seluruhnya."
Rafael bahkan merasa tubuhnya bergetar hebat ketika mengucapkan talak pada Alesha. Bahkan ia tidak pernah berpikir akan merasa seperti itu ketika menceraikan wanita yang dinikahinya secara agama dan negara.
Selain merasakan Dejavu karena pernah berada pada posisi seperti ini saat dulu menceraikan Aealeasha yang memilih Arsenio, kali ini jauh lebih terasa berat.
Ia kini berbalik badan dan mengangkat tangannya serta membuka telapak tangan yang gemetar hebat setelah mengucapkan talak pada Alesha.
'Ya Allah, kenapa rasanya jauh lebih sakit? Padahal kami hanya berpura-pura menjalani pernikahan palsu? Kenapa seolah aku memiliki perasaan pada wanita yang baru saja kuceraikan ini?'
Rafael yang tidak ingin Alesha melihatnya, kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu dan keluar dari ruangan pribadinya.
Bahkan ketika sudah berada di luar ruangan, merasakan bola mata yang berkaca-kaca. Refleks ia langsung menghapus kasar agar tidak sampai lolos menuruni rahangnya.
"Bodoh! Apa yang kulakukan? Kenapa aku jadi seperti seorang pria yang lemah saat menceraikan wanita yang sudah tidak ingin lagi berstatus sebagai istriku?" lirih Rafael yang saat ini tengah menormalkan degup jantungnya yang tidak beraturan.
Tidak ingin ada yang melihat keadaannya saat ini, Rafael buru-buru masuk ke dalam ruangan kamar sebelah.
"Jangan sampai mama melihatku seperti ini karena pasti akan sangat hancur dan bersedih melihat putranya bercerai dua kali karena sama sekali tidak dicintai oleh seorang wanita yang dinikahi."
Rafael saat ini bersandar pada pintu setelah menguncinya. Ia menatap ke arah ruangan kamar yang biasa digunakan tamu untuk beristirahat.
Rafael kini memikirkan sang ibu yang pasti akan sangat terluka begitu mendengar bahwa ia sudah menceraikan Alesha.
__ADS_1
"Aku harus memikirkan cara untuk memberitahu mama secara perlahan. Maafkan aku, ma karena tidak bisa mewujudkan impian untuk segera menimang cucu."
To be continued...