
Aeleasha yang sudah menduga apa yang akan dikatakan oleh pria dengan tatapan intens tersebut, ia hanya menganggap sebuah hal biasa karena sangat tahu bahwa Arsenio bucin padanya dan sangat khawatir dengan Rafael.
"Enak dari mana? Rasanya sangat nyeri dan membuatku kesakitan. Aku tidak suka kamu melakukan ini! Mengenai Rafael, sepertinya kita harus bersabar sampai pernikahan dilangsungkan. Jangan membuatku malu dengan menunjukkan bekas perbuatanmu."
Mendapatkan kalimat bernada pedas dengan wajah datar, membuat Arsenio kini memilih untuk kembali mengeluarkan suara baritonnya.
"Aku sama sekali tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu."
"Sangat masam hingga membuat wajahmu jelek. Tersenyumlah seperti beberapa saat lalu. Apa kamu mau aku memberikan hukuman yang lain? Kamu harus patuh pada perintah suami karena ini demi kebaikan Rafael, jadi harus menyakiti hati pria itu."
Menyadari kebodohannya yang seperti sengaja membangunkan singa yang tertidur, kini Aeleasha merutuki diri sendiri. "Baiklah, terserah kamu saja. Percuma aku membantah jika mengenai urusan Rafael."
Arsenio refleks langsung mengarahkan kedua tangan pada pipi putih yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut.
"Kenapa wajah istriku sangat menggemaskan seperti ini dan membuatku ingin memakannya."
Kemudian beberapa saat kemudian melepaskan kuasa, lalu kembali berkomentar karena Aeleasha sama sekali tidak bersuara.
"Aku akan tidur dengan memeluk dan mencium aroma tubuhmu, Sayang."
Embusan napas lega yang terdengar dari bibir sensual Aeleasha mengungkapkan bahwa saat ini ia merasa terbebas dari tugas berat.
'Jika anak kecil, diberikan makan yang kenyang, digendong sebentar, akan langsung tertidur.'
'Berbeda dengan bayi tua ini yang mempunyai kelainan, aku harus remuk redam dulu hingga tidak bisa berjalan, baru dia bisa tidur,' gumam Aeleasha yang kini sama sekali tidak ingin menanggapi perkataan dari pria yang mulai meraupnya kembali ke atas lengan kekar tersebut dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Kemudian Arsenio menurunkan tubuh seksi Aeleasha ke atas ranjang. Dua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Aeleasha yang terlihat sudah tidak merasa malu lagi di hadapan pria dengan tubuh tinggi tegap penuh dengan cetakan otot perut yang seksi dan menyilaukan mata tersebut.
Tanpa membuang waktu, Arsenio mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan bersembunyi di balik selimut tebal. Tak lupa ia pun memilih untuk memeluk erat tubuh seksi wanita yang berada dalam satu selimut tersebut.
"Nyamannya," lirih Arsenio yang merasa sangat bahagia saat bisa tidur dengan posisi memeluk sang istri.
Meskipun sosok wanita di hadapannya tersebut tengah memunggungi, ia sama sekali tidak mempermasalahkan karena sangat nyaman saat melingkarkan tangan pada perut rata itu dan sibuk menghirup aroma wangi rambut yang masih basah tersebut.
Sementara itu, Aeleasha hanya mengulas senyuman tipis begitu mendengar suara lirih pria dengan kuasa posesif tersebut.
__ADS_1
"Jangan berbicara lagi karena aku benar-benar sangat mengantuk. Seharusnya aku mengecek koper, apakah tidak ada yang tertinggal, tapi sangat malas mengambilnya." Aeleasha berbicara masih dengan posisi memejamkan kedua mata.
Arsenio yang merasa sangat iba pada Aeleasha karena dari tadi mengeluh mengantuk dan lelah, sehingga membiarkannya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar napas teratur yang menandakan bahwa wanitanya sudah larut dalam bunga tidur, membuatnya melepaskan kuasa dan mengecek apakah benar yang dipikirkan.
Begitu melihat wajah cantik wanitanya terlihat sangat damai saat tertidur, kini membuat Arsenio geleng-geleng kepala dan mengulas senyuman.
"Cepat sekali tidurnya. Sepertinya istriku benar-benar sangat lelah hari ini, Sayang."
Arsenio mendekatkan wajah dan mengecup lembut kening wanita yang saat ini sudah tertidur pulas tersebut.
Tangannya bergerak untuk merapikan anak rambut yang menghalangi pandangan dan menatap intens wajah cantik tersebut dengan tidak berkedip
Seolah membuktikan bahwa ia sangat mengagumi pahatan sempurna yang terlihat di depannya. "Istri kecilku yang sangat cantik."
Arsenio yang berniat untuk membaringkan tubuh kembali dan memeluk erat sang istri, tidak jadi melakukan itu saat mengingat perkataan wanita dengan mata terpejam tersebut.
"Sepertinya kamu berhasil membuatku takluk padamu, Sayang."
Kini, Arsenio menyingkap selimut tebal yang melindungi tubuhnya dan mengambil celana pendek yang teronggok di lantai dan memakainya.
Ia masih berdiri di depan lemari kaca yang di dalamnya ada beberapa pakaian sang istri. Kemudian mengambil lingerie seksi berwarna merah menjadi pilihannya dan berjalan keluar dari ruangan walk in closet, menghampiri sosok wanita yang ingin dipakaikan gaun tidur tersebut.
Ia pun melakukannya dengan sangat hati-hati dan melihat sosok wanita yang masih enggan membuka mata tersebut menggeliat karena perbuatannya.
"Seharusnya kamu nanti berterima kasih padaku, Honey."
Ia kini telah selesai memakaikan lingerie seksi tersebut pada tubuh wanita yang masih larut dalam alam bawah sadar.
Meskipun sebenarnya lingerie itu tidak sepenuhnya menutup tubuh dengan kulit putih mulus yang membuat ia tidak berkedip menatapnya. Bahkan, ia bisa melihat hasil karyanya di leher putih itu yang sudah berubah kebiruan.
Sudut bibirnya kini melengkung ke atas saat melihat hasil karyanya. "Lihatlah, kamu sangat cantik dengan banyak kiss mark di lehermu. Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik selain ini dan Rafael besok harus melihatnya."
Sebenarnya, Rafael ingin kembali memeluk erat tubuh ramping wanitanya. Namun, ia yang masih juga belum mengantuk, memilih untuk berjalan keluar menuju ruangan khusus di sebelah sudut kiri lantai yang sama.
Ada beberapa rahasia yang disimpannya di sana, yaitu semua barang-barangnya di masa kecil. Begitu menekan password pada sistem kunci pada pintu, ia kini berjalan masuk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
__ADS_1
Di sudut sebelah kanan, ada lemari berukuran sedang yang membuatnya berjalan mendekat dan membukanya.
Terlihat semua barang-barang milik sang ibu dan ayah yang sudah lama tersimpan rapi di sana. Rumah itu sudah lama dibeli dan ia gunakan untuk menyimpan semua barang-barang peninggalan orang tuanya yang telah meninggal.
"Aku selama ini sangat kesepian, tapi kini telah bahagia dan tidak lagi sendiri. Semoga kalian tenang di surga."
Puas mengobati kerinduan pada orang tuanya, Arsenio kini kembali menutup lemari kaca di hadapannya.
Ada satu lagi kenangan yang ada di sana, yaitu foto keluarga yang diambil sebelum meninggal.
Dengan tidak berkedip menatap foto keluarganya, mulai dari ayah, ibu dan dirinya yang berada di tengah. Bahkan senyuman manis terlihat dari sang ayah dan juga ibunya saat itu, begitu juga dengan ia yang terlihat sangat bahagia.
Embusan napas kasar terdengar sangat jelas dari bibir tebal yang saat ini mengingat momen di masa lalu. Jemari dengan buku-buku kuatnya kini mengusap foto sosok wanita yang telah melahirkannya.
"Maafkan aku, ayah karena sampai sekarang belum bisa menemukan pelaku yang menabrak kalian. Bahkan aku telah membayar detektif mahal untuk menemukan pelaku yang menabrak kalian hingga melarikan diri itu."
"Tetap saja belum menemukan sampai sekarang. Sudah 15 tahun berlalu dan aku belum menemukan pelaku. Meskipun saat ini memiliki banyak uang, tetap saja tidak menemukannya. Padahal aku ingin membunuhnya jika bertemu dengan orang yang menabrak orang tuaku dan kabur tanpa membawa ke rumah sakit."
Lagi-lagi rasa nyeri dirasakan oleh Arsenio yang saat ini merasa sesak dan kesulitan bernapas.
"Sayang, aku membutuhkanmu."
Ia ingin memeluk erat sosok wanita yang berhasil membuatnya jauh lebih tenang saat berkeluh kesah tentang masa lalu. Berharap saat melakukan itu, ia akan jauh lebih tenang.
Beberapa saat kemudian, Arsenio sudah tiba di kamar dan hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah ingin berbaring di atas ranjang dan memeluk erat sang istri.
Namun, ia mendengar suara notifikasi masuk pada ponselnya. Tanpa membuang waktu, Arsenio sudah membukanya dan mulai membaca pesan tersebut.
Namun, ia mengepalkan kedua tangan begitu membaca pesan yang tertulis di sana.
Di saat bersamaan, terlihat sebuah pergerakan dari Aeleasha yang berbalik badan dan menggerakkan tangan untuk memeluk sosok pria yang sangat dirindukan pelukannya.
Saat tidak menemukan apa yang dicari, ia pun perlahan membuka mata dan bersuara.
"Sayang."
Aeleasha mengerutkan kening saat tidak melihat sosok pria yang dicari, sehingga ia menoleh ke kiri untuk mengedarkan pandangan dan merasa lega begitu melihat sang suami tengah berdiri sambil menunduk menatap ke arah ponsel.
__ADS_1
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Aeleasha yang kini mengerutkan kening karena merasa aneh saat melihat ekspresi wajah sang suami yang gelap dengan rahang mengeras.
To be continued...